Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Be Strong Savrinadeya ( Revisi )


__ADS_3

Ospedale Regina Margherita Hospital Turin Italia


Shaun memarkirkan mobilnya sembarangan di depan lobby rumah sakit Ospedale Regina Margherita dan bergegas berteriak ke para petugas untuk membawa Idris dan Savrinadeya.


"Veloce ! Ha perso molto sangue ! ( cepat ! Dia kehilangan banyak darah )" teriak Shaun. Bergegas para dokter dan perawat membawa dua brankar untuk Savrinadeya dan Idris.


"La signora è stata colpita alla spalla sinistra e allo stomaco destro! ( nyonya tertembak di bahu kiri dan perut sebelah kanan )" sambung Shohei sambil mengendong Savrinadeya untuk diletakkan diatas brankar yang disiapkan.


"Veloce ! Veloce !" seru Dokter itu untuk membawa Savrinadeya ke ruang operasi. "È la moglie del Sig. Antonio Bianchi ! ( Dia istri Signor Antonio Bianchi ."


Shaun dan Shohei merasa tenang setelah Savrinadeya ditangani oleh dokter. Giliran Idris yang dibawa ke ruang IGD untuk ditangani.


"Domba, kita hubungi mereka?" tanya Shohei tanpa memperdulikan bajunya terkena darah Savrinadeya.


"Ya. Dan aku tidak membayangkan bagaimana ngamuknya Signor Bianchi dan Signor Bianchi Junior ... Belum Signor McCloud di New York." Shaun pun mengambil ponselnya. "Signor Antonio..."


***


Antonio, Alano dan Alexis bergegas datang ke rumah sakit. Tampak wajah pria paruh baya itu memucat dan menahan tangis saat tahu istrinya terkena tembak.


"Shaun, apa yang terjadi?" tanya Antonio dengan nada tercekat. Dirinya sudah tidak bisa memikirkan apapun karena yang di benak nya, nyawa Savrinadeya.


Alano berdiri di depan kamar operasi dan wajahnya tampak gusar begitu juga dengan Alexis yang sibuk menerima telepon dari Devan McCloud.


Shaun dan Shohei bergantian menceritakan apa yang terjadi dan Antonio terkejut karena salah satu tembakan menewaskan Mikaela yang juga asisten Savrinadeya di biro psikologi itu.


"Apakah kamu tahu siapa?" tanya Antonio dengan nada geram menahan amarah. Bagaimana tidak, wanita yang dia cintai sejak masih usia belasan hingga sekarang menjadi istrinya, sedang berjuang dengan nyawanya.


"Kami tidak tahu Signor Bianchi tapi kami tahu dia blasteran..." jawab Shaun. "Aku sudah mendapatkan wajahnya."


"Kamu Shaun, cari siapa orang itu ! Shohei, kamu bantu Polizia Italia mencari bukti di TKP. Bawa Vicenzo dan Hyde bersamamu. Aku tidak mau dua keponakan aku datang kemari dan mereog apalagi Alano sedang dalam keadaan seperti itu" perintah Alexis yang tahu Antonio tidak bisa berpikir karena memikirkan Savrinadeya.


"Baik Signor Accardi. Yuk Badut !" Kedua orang yang tidak pernah akur itu akhirnya pergi dari rumah sakit.


"She's gonna make it, Antonio. Deya wanita yang kuat..." ucap Alexis sambil menepuk bahu Antonio.


Pria yang biasa dipanggil Tomat oleh para sepupunya, tidak bisa menahan emosinya dan menangis di pelukan Alexis iparnya.


"Apa salah Deya, Al. Deya tidak pernah ikut macam-macam..." isak Antonio. "Siapa yang berani menembak Deya... Bagaimana kalau Deya..."


"Ssshhh... Deya akan selamat, Antonio. She's tough! Ingat, dia seorang McCloud..."

__ADS_1


Alano menatap lampu kamar operasi dengan perasaan cemas luar biasa. Bagaimana pun, dia tidak menyangka akan ada orang yang berani menyakiti ibunya. Savrinadeya adalah ibu yang selalu lembut dan tidak sebrutal tantenya, Raveena atau Gemini atau Sakura. Bagi Alano, Savrinadeya adalah ibu idaman setiap anak bahkan Raul sempat ingin bertukar posisi gara-gara dirinya kena jewer Raveena sedangkan Savrinadeya hanya menatap tajam Alano tanpa jepitan telinga tapi sudah membuat remaja tampan itu keder.


"Al..." suara Raul membuat Alano menoleh dan memeluk sepupunya. Alano menangis di dalam pelukan Raul sedangkan putra Raveena itu mengelus punggungnya. "Tante Deya akan selamat Al. Don't worry..."


"Mereka menembak mommyku, Raul ! Apa salah mommyku?" isak Alano.


"Aku tidak tahu... Tapi kita akan mencari tahu."


Raveena yang datang bersama Raul, ikut memeluk keponakannya. "Be strong, Al. Mommy mu butuh doamu dan kekuatan kamu."


"Tante ... " Al menatap Raveena. "Mommy akan selamat kan?"


"Insyaallah. Deya kuat meskipun tidak pernah menjewer kamu" ucap Raveena.


Suara ponsel Alexis berbunyi dan pria itu menerimanya. "Ya Dante ? Kami sudah ada di sini... No, kalian nanti saja datangnya... Masih dioperasi. Idris? ... Damn it aku melupakan pengawal Deya..."


"Idris tidak apa-apa. Pelurunya tembus dagingnya dan tidak kena organ vital di dalam perutnya" sahut Raveena. "Aku sudah menanyakan ke dokternya."


"Oh syukurlah... "


Lampu di ruang operasi pun padam, membuat semua orang di sana harap-harap cemas dengan hasil operasi Savrinadeya.


Dokter yang mengoperasi Savrinadeya pun keluar dan menatap anggota keluarga Bianchi dan Accardi. Wajahnya tampak tidak bisa terbaca membuat semua orang sudah pasrah dengan hasilnya.


"Syukurlah, terimakasih Tuhan ..." ucap semua orang dan Antonio langsung terduduk lemas saat mengetahui istrinya selamat.


"Syukurlah... Syukurlah... Terima kasih" ucap Antonio berulang begitu juga dengan Alano yang menangis bahagia di pelukan Raul.


Raveena memeluk Alexis, ikut lega karena sepupunya selamat dari percobaan pembunuhan. "Ya ampun Deya... Kamu itu punya banyak nyawa..."


***


Gedung Klinik kesehatan di Vallete, TKP penembakan Savrinadeya


Vicenzo dan Hyde datang bersama dengan Sergio untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Mereka bertiga menuju ruang kerja Savrinadeya untuk mencari bukti siapa di balik semua ini.


"Apakah ada klien yang tidak suka dengan Tante Deya?" tanya Hyde yang sudah mengenakan sarung tangan lakteks nya.


"Tante Deya hanya menangani kasus anak-anak disabilitas, Hyde. Tidak pernah orang dewasa dan selama yang aku tahu, semua orang tua kliennya suka dengan Tante Deya" jawab Vicenzo. "Paman Sergio, mobil Tante Deya ada dashcam nya kan?"


"Ada. Dan itu tersambung dengan cloud keluarga Bianchi" jawab Sergio.

__ADS_1


"Hyde-chan..." panggil Shohei melalui earpiece. "Aku sudah kembali ke TKP dan kemungkinan besar mobil Nyonya Savrinadeya akan dijadikan barang bukti. Tadi Polizia sudah memintanya."


"Aku akan keluar" jawab Hyde sambil mengedikkan kepalanya mengajak Vicenzo dan Sergio ke area parkiran.


Di area parkiran, ketiganya melihat baju pengawal Hyde itu terdapat darah disana yang mereka tahu itu darah Savrinadeya. Pria berdarah Hongkong itu sedang dimintai keterangan oleh seorang petugas polisi.


"Apakah sudah ada kabar dari rumah sakit?" tanya Shohei cemas.


"Belum. Signora Bianchi masih di operasi" jawab Sergio.


Shohei langsung lemas. "Semoga nyonya Savrinadeya selamat..."


"Agente, voglio vedere la dashcam dell'auto. Posso io? ( officer, saya mau lihat dashcam di mobil. Boleh )" tanya Vicenzo.


"Per favore signor Mancini ( silahkan tuan Mancini )."


Vicenzo pun masuk ke dalam mobil dan tangannya yang sudah memakai sarung tangan lakteks itu mulai mencari gambar saat Tante dan pengawalnya ditembak. Rahangnya mengeras karena wajah pria itu tidak terlihat karena memakai topeng.


"Damn it !" umpatnya.


***


Meanwhile di Brussels Belgia


Arsyanendra memasukkan baju-bajunya ke dalam duffle bag Louis Vuitton nya dan bersiap untuk pergi.


"Yakin kamu mau ke Turin?" tanya Sean yang melihat putra sulungnya tampak marah saat mendengar tantenya nyaris jadi korban pembunuhan.


"Yakin. Arsya tidak membawa nama pangeran Belgia tapi bawa nama Arsya sendiri !" jawab Arsya tegas.


"Berhati-hatilah. Jangan sampai heboh seorang pangeran Belgia datang merusuhi Turin." Mata biru Sean menatap serius ke mata biru putranya.


"Bien sûr ( tentu saja )" jawab Arsyanendra dengan bahasa Perancis. "Aku lewat darat, Daddy. Paman Isaak akan menemaniku." Isaak Schubert adalah pengawal Arsyanendra saat ini.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️ ( revised 24 08 23 )


__ADS_2