Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Menangkap Fazzio Gennaro


__ADS_3

Perfektur Toyama Jepang


Carlo Berzonni bersama istri dan ketiga anaknya serta Emilio Carsini dan putrinya, tampak menatap horor rumah khas Jepang yang cukup luas dengan banyak kamar disana. Rumah kayu yang berusia ratusan tahun itu memang milik keluarga Takara Bianchi sebagai aset serta tempat membuang orang.


Jarak rumah itu ke rumah penduduk sekitar 300 meter namun lokasi rumah itu memang hanya lima kilometer dari lokasi 800 patung yang legendaris itu. Apalagi sekarang hutan di daerah sana semakin lebat membuat suasana horor dan angker makin terasa.


"Signor Bianchi... Apakah kami semua akan tinggal disini?" tanya Carlo yang sedikit seram dengan rumah itu meskipun lampu menyala hampir semua.


"Apa kalian mau aku lempar ke kartel?" balas Luke Bianchi dengan wajah dingin.


Semua orang disana saling berpandangan. Dilempar ke kartel, sama saja mati. Tinggal disini setidaknya masih bisa bernafas daripada dengan kartel maupun Polizia.


"Kami disini saja, Signor Bianchi ... " jawab Emilio Carsini sambil memeluk putrinya Naomi.


"Signor..."


"Soal putramu yang berusia 17 tahun? Apa benar dia disekap oleh Fazzio Gennaro? Atau hanya menghilang dari Turin?" Luke menatap tajam Carlo. "Sebab aku tidak mau mengambil resiko keponakan aku menangkap pria itu dengan gegabah !"


Istri Carlo hanya menunduk. "Putra kami sudah pergi dari Turin seminggu yang lalu. Kami bertengkar...dan dia pergi menuju Los Angeles. Dia ingin menjadi aktor."


Luke menelpon seseorang. "Sya, tidak usah repot-repot cari anaknya Carlo. Dia sudah kabur ke LA."


***


Bar Piñata Turin


"Sudah ke Los Angeles? Ngapain?" tanya Arsya yang mendapatkan telepon dari Oomnya, Luke Bianchi.


"Katanya mau jadi aktor" jawab Luke. "Kalian ganti rencana saja !"


"Baik Oom." Arsyanendra mematikan panggilannya dan menyesap bir nya lalu pria tampan yang mirip dengan Daddy Sean, berdiri dan berjalan mendekati meja bar.


"Shaun, your highness mau kemana itu?" bisik JJ.


"Aku tidak tahu, JJ. Kita awasi dari sini."


Arsya duduk di sebelah Fazzio sambil meminta bir lagi ke bartender. "Una birra, per favore ( bir satu, please )."


Fazzio melirik ke arah Arsyanendra yang menerima segelas besar bir. "Non sei italiana ( kamu bukan orang Italia )?" tanya pria paruh baya itu.

__ADS_1


"No non sono. Sono la Germania ( bukan, aku orang Jerman )" jawab Arsyanendra sambil meminum birnya.


"Nessuna sorpresa ( tidak heran ). Pertama datang ke Turin?" tanya Fazzio. "Bahasa Italia mu bagus."


"Grazie dan ya memang aku baru pertama datang ke Turin. Apa yang bagus disini?" tanya Arsya sambil menatap Fazzio dengan mata birunya.


"Yang jelas, banyak tempat bagus" jawab Fazzio sambil meminum Bourbon nya.


"Apakah disini aman?" tanya Arsya. "Sebab saat aku mendarat disini, bersama dengan kedua temanku yang satu orang Swiss dan satu orang Jepang, kami mendengar ada kasus penembakan yang menimpa seorang wanita."


"Oh itu... Itu semua gara-gara si wanita itu sendiri" kekeh Fazzio. "Dia adalah sumber masalah membuat orang penting marah."


Rahang Arsya tampak mengeras dan wajahnya menjadi dingin. "Apakah wanita yang tertembak itu orang penting?"


"Kamu adalah turis, boy. Jadi kamu tidak tahu apa-apa soal Turin. Wanita itu bukanlah orang penting, yang penting bagi orang penting yang mempunyai dendam padanya, sudah terbalaskan. Aku dengar dia masih dalam kondisi kritis. Jika wanita itu tewas, kota ini akan lebih baik dari orang asing dan cacat !" ucap Fazzio yang agak mabuk.


Arsya menahan dirinya mati-matian untuk tidak menghajar pria itu detik ini juga. "So, siapa yang ingin membunuh wanita tidak penting ini? Siapa memang wanita ini?"


"Pernahkah kamu mendengar wine buatan Bianchi dan Mancini?"


"Wine buatan mereka enak. Di Jerman banyak yang menyukainya meskipun tetap Bir lah yang paling kami sukai. Kenapa?"


"Apakah karena persaingan wine dengan Mancini ?" tanya Arsya.


"No, lebih ke persoalan pribadi. Vendetta." Fazzio mengucapkan itu dengan tatapan serius.


"Vendetta? Balas dendam ?" Arsya memberikan kode untuk memberikan minum terus ke Fazzio. Pria tampan itu bahkan mengeluarkan uang €500 ke bartender untuk minuman Fazzio. Jika pria itu mabuk, maka semuanya akan terkuak.


Shaun dan JJ yang mendengar dari earpiece Arsyanendra hanya bisa menahan nafas saat Fazzio menghina Savrinadeya.


"Your highness benar-benar bisa mengontrol emosi nya. Kalau aku sudah aku habisi dari tadi" ucap Shaun.


"Tapi kita nanti tidak mendapatkan apapun, Shaun" jawab JJ.


"Vendetta masalah apa?" tanya Arsya.


"Hanya dendam masa lalu. Kamu tahu, turis. Wanita yang ditembak kemarin itu adalah penyebab kematian ibu si orang penting ini" Fazzio meminum gelas bourbon nya yang kelima dan sudah tampak sangat mabuk.


Arsyanendra melihat ke sekelilingnya dan tidak ada pengawal seperti yang dilihatnya saat penggerebekan di gudang A-13. Pangeran Belgia itu pun memberikan kode kepada Shaun dan JJ untuk bersiap. Kedua pria itu meletakkan selembar uang €100 di meja untuk membayar bir mereka.

__ADS_1


"Kamu tampaknya mabuk my friend" ucap Arsyanendra. "Aku rasa aku harus kembali ke hotel..."


"Tunggu Turis. Aku ikut padamu. Kamu naik apa kemari?" tanya Fazzio dengan sangat mabuk.


"Uber. Kamu ke daerah mana?" tanya Arsyanendra.


Fazzio menyebutkan daerah rumahnya.


"Satu arah kalau begitu. Mari... " Arsya membantu Fazzio berjalan keluar dari bar. Pangeran tampan itu membawa menuju gang sambil berbicara dengan Shohei.


"Shouhei, kono tōri no kanshi kamera o subete hakkingu shite kure ( Shohei, retas semua kamera CCTV yang ada di jalan sini ). Watashitachi o mienaku suru ( Buat kami tidak terlihat )!" perintah Arsyanendra.


"Yes Your Highness."


Sebuah mobil SUV hitam berhenti dan JJ membantu Arsya membawa Fazzio Gennaro masuk ke dalam mobil itu. Shaun langsung menginjak gas dalam dan melesat menuju markas keluarga Mancini.


***


"Apakah dia terlalu mabuk?" tanya Vicenzo di earpiece Arsyanendra.


"Dua botol Bourbon, Vic. Ini akan dibawa kemana?" tanya Arsyanendra.


"Markas Mancini yang hampir mirip markas Takara. Memang sudah lama tidak dipakai tapi ada saatnya kita pakai kembali" cengir Shaun.


Arsyanendra tersenyum. "Dan setelah ini aku harus mandi. Orang ini bau !" ucapnya.


"Bukannya mas Arsya paling malas mandi ?" gelak Hyde.


"Setidaknya aku tetap wangi meskipun mandi sehari sekali !" ucap Arsyanendra.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2