Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Iris Kecelakaan


__ADS_3

Markas Mancini Turin Italia


Vicenzo menatap dingin ke arah Agen Tony Jameson yang mulai sadar dari efek obat bius yang disuntikkan oleh Hyde. Pria berusia tiga puluhan tahun itu tampak terkejut melihat Vicenzo berada di hadapannya.


"Vic... Vicenzo? Ini dimana?" Agen Tony Jameson melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba dirinya merasa panik karena tahu ini di markas keluarga Mancini.


"Di neraka!" balas Vicenzo dingin. "Kamu sudah di burn CIA, by the way. Jangan pernah macam-macam dengan keluarga kami, agen Jameson ! Bahkan Direktur CIA pun tunduk dengan Oma Jang Geun-moon karena..." Vicenzo memajukan tubuhnya lalu menyeringai. "Semua aib kalian dari presiden hingga tukang cleaning service pun, kami punya. Tinggal dipilih, kami bongkar semuanya atau... Berhenti ikut campur urusan keluarga kami!"


"Aku... Di burn?"


Istilah di burn artinya dia dipecat dari CIA dan terputus dari segala macam koneksi spionasenya selama ini, seperti riwayat pekerjaan, rekan dan kolega, hingga gaji dan rekening tabungannya.


"Yup. Kejahatan kamu terlalu panjang termasuk menjadi bagian penjualan narkoba kartel Brazil."


Agen Tony Jameson merasa lemas mendengar semua tabungannya selama bekerja di CIA di blokir. "Apa yang kamu inginkan ?"


Vicenzo menyeringai.


***


Pelabuhan Brazil


Iris menunggu di mobil saat mengetahui kapal dari Turin yang membawa peti-peti dari pabrik Ferrara, tiba di pelabuhan. Frederick, Naolin dan beberapa anak buahnya yang lain pun bersiap menyamar menjadi kuli pelabuhan untuk mengangkut semua peti-peti disana.


Gadis itu dengan sabar menunggu di mobil Van yang terparkir di area parkir. Semua anak buahnya sudah mempersiapkan peti-peti yang akan ditukarnya. Mengingat bagaimana bentuk peti yang diperolehnya dari Vicenzo seperti apa wujudnya, Iris pun segera menyuruh orang membuatnya persis.


"Señora Oliviera, kami sudah di dalam kapal dan hendak memindahkan semua peti-peti itu" ucap Naolin. Semenjak tanah keluarga Vega berhasil mereka peroleh kembali dengan bantuan Eduardo Oliviera, Naolin berjanji untuk setia bekerja dengan keluarga Oliviera yang disambut dengan tangan terbuka.


"Bagus. Bersiaplah untuk segera menukar peti-peti itu..." perintah Iris.


Dan siang itu, Iris bersama dengan anak buahnya berhasil menukar 25 peti dari Turin dengan peti buatannya berisikan botol-botol anggur yang jika diekstrak menjadi gula halus bukan kokain.


Gadis itu tersenyum penuh kemenangan saat bersama Lucio, pergi meninggalkan pelabuhan dengan membawa peti-peti itu di dalam mobil Van nya sedangkan anak buahnya yang lain, menggunakan motor dan berpencar namun tetap mengikuti Iris dengan jalan berbeda.


"Señora, kita ke laboratorium sekarang?" tanya Lucio yang diperintahkan Eduardo untuk mengawal putrinya.


"Yes Lucio. Aku penasaran apakah hasilnya akan sama dengan kokain yang diekstrak oleh Enzo..." jawab Iris sambil menyetir mobilnya dengan lincah.

__ADS_1


"Señora suka dengan Señor Mancini?" tanya Lucio sambil tersenyum.


Wajah Iris memerah. "Enzo cerdas dan aku sangat suka pria cerdas... "


"Kalian cocok kok dan saya yakin Señor Oliviera setuju-setuju saja jika anda dengan Señor Mancini."


"Tapi kalau aku dengan Enzo, aku akan meninggalkan Rio de Janeiro... Meninggalkan Daddy dan Mommy..." gumam Iris.


"Señora, sudah sewajarnya seorang anak perempuan pergi mengikuti suaminya. Dan jika Dona ( nona - Portugis ) bersama dengan Señor Mancini, kedua orang tua anda maklum bahkan ikut senang karena dari bersahabat antar kedua orang tua, malah menjadi keluarga..." senyum Lucio.


"Kamu benar Luce... "


Tiba-tiba... BRAAAKKK !!!


Mobil yang dikemudikan oleh Iris ditabrak sebuah truk dari samping belakang. Anak buah Iris yang mengikuti dari belakang bergegas mendekati mobil nona mereka.


Mobil Iris pun terguling dua kali dan sekarang posisinya terbalik. Gadis itu mengerang kesakitan sedangkan Lucio tampak mengrenyitkan dahinya. Darah segar mengalir di pelipis Iris dan Lucio.


Iris yang merasa pusing secara refleks mengambil Glocknya dan bersiap untuk menembak siapapun yang mendekati mobilnya begitu juga dengan Lucio sebagai pengawal terlatih dia harus bersiap dengan kondisi apapun.


"Bongkar mobil Van itu ! Mereka pasti bawa barang berharga."


"Aku melihat mereka keluar dari pelabuhan !"


"Bunuh pengemudinya bila perlu !"


Iris merasa ini waktunya dirinya untuk mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya. Gadis itu berharap mendengar suara sirine polisi tapi tidak ada. Suara langkah mendekati posisi pengemudi dan Iris mengkokang Glocknya begitu juga dengan Lucio yang mendengar langkah di sisi kanannya.


Disaat mereka sudah siap untuk membidik, suara tembakan terdengar di sekitar mobil Iris dan gadis itu terkejut saat seseorang jatuh bersimbah darah di sisi jendela kursinya.


Iris menoleh ke arah Lucio dengan perasaan bingung dan tak lama, suara familiar terdengar di sisi jendela masing-masing.


"Anda tidak apa-apa Señora?" seru Naolin sambil membawa Rugernya.


"Oh thanks God ! Naolin ! Tolong aku !" pinta Iris. Tak lama, para anak buah Eduardo Oliviera datang membantu Iris dan Lucio keluar dari mobil Van dan Frederick memerintahkan memindahkan semua peti-peti itu ke dalam mobil Mercedez G-CLASS milik Iris yang dibawa oleh pria itu dan setelahnya membantu gadis itu masuk ke mobilnya. Frederick menawarkan Iris untuk ke rumah sakit tapi gadis itu menolak dan meminta segera ke laboratorium milik keluarga Oliviera.


Frederick pun segera menyetir mobil mewah buatan Jerman tersebut menuju laboratorium dengan pengawalan Naolin dan empat orang lainnya diatas motor sedang kan Lucio dibawa ke rumah sakit untuk ditangani.

__ADS_1


***


Turin Italia


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Vicenzo saat melihat Iris sedang diperban oleh dokter pribadi keluarga Oliviera.


"Senut-senut Zo... Tapi aku jadi badass karena ada bekas jahitan" senyum Iris cuek.


"Kamu macam Madreku dan Omaku saja ada bekas luka di pelipis...." senyum Vicenzo.


"Memang Tante Leia dan Omamu kenapa bisa pelipisnya ada bekas luka?" tanya Iris sambil mengompres pipinya yang memar.


"Kena pedang Kendo ... " senyum Vicenzo. "Apakah orang-orang yang menyerang kamu dari kartel Brazil?"


"Bukan Zo. Mereka hanyalah begal-begal yang mengincar mobil Van yang keluar dari pelabuhan berharap mendapatkan barang berharga yang bisa dirampok..."


"Tapi mereka sedang sial..." kekeh Vicenzo.


"Yup. Nyawa mereka melayang deh..." balas Iris.


"Bagaimana dengan Polizia Brazil?"


"Sejujurnya? Mereka lebih tenang kalau bukan mereka yang menghabisi begal-begal itu."


Vicenzo tertawa. "Oh my God... Sama saja dengan yang di Turin..."


Iris hanya mengedikkan bahunya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2