Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Iris Oliviera ( Revisi )


__ADS_3

Hanggar Pribadi milik keluarga Oliviera


Antonio, Bayu dan Alessandro menatap pesawat terbaru milik Eduardo dengan tatapan kagum. Pesawat Gulfstream G-550 milik Eduardo Oliviera adalah pesawat yang lebih baru dibandingkan milik Antonio namun mereka tahu pesawat ini sudah dimodifikasi.


"Berapa penumpang ini mampu menampung?" tanya Bayu.


"19 penumpang dan dua awak. Karena kita hanya berdelapan, jadi sisanya bisa membawa keperluan berada di hutan Amazon. Anak buahku akan berangkat via darat dengan membawa perlengkapan lainnya" jawab Eduardo sambil mengajak mereka semua masuk ke dalam pesawat.


Vicenzo dan Hyde sudah membawa backpack dan duffle bag berisikan berbagai senjata dan baju ganti termasuk katana milik Hyde. Kedua pria itu menoleh melihat Iris berpamitan dengan Regina, lalu berjalan menuju pesawat yang akan membawa mereka ke hutan Amazon.


"Kamu ngapain?" tanya Hyde ke gadis cantik yang sudah memakai pakaian kamuflase bewarna hijau dan hitam ala tentara.


"Ikut kalian lah !" jawab Iris cuek.


"Tapi... Kamu kan..."


"Cewek, Zo? So, memangnya cewek tidak bisa tangguh? Lagipula kalian berdua kan tidak ada yang bisa bahasa Portugis jadi kalian pasti membutuhkan penerjemah. Tenang, aku jago menembak dan menggunakan senjata lainnya" potong Iris membuat Vicenzo dan Hyde melongo. "Aku bisa krav maga, boys ! Ayo naik !"


Iris pun masuk ke dalam pesawat dengan backpack di punggung dan duffle bag di tangannya membuat dua sepupu itu menatap gadis itu kagum.


Ternyata nggak jauh-jauh dari cewek badass !!


Dan malam itu, mereka semua terbang menuju hutan Amazon tempat dua pengawal yang tersesat disana.


***


Sementara itu di hutan Amazon


Shaun dan Shohei pun melihat peta yang digelar oleh Benicio untuk melihat detail dibandingkan yang terlihat dari jam tangan pintarnya.


"Kalau melihat dari jarak yang kami tempuh dari rumah si kampret, lokasinya berada disini" ucap Shohei sambll menunjukkan sebuah lokasi yang seperti tanah kosong.


"Di peta memang terlihat seperti tanah kosong tapi ini kan peta kertas yang tidak bisa terlihat secara akurat..." gumam Benicio. "Apakah kalian akan menyerang mereka?"


"Kami menunggu boss kami. Lihat, kami hanya membawa smart watch dan scapel yang berguna berkelahi jarak dekat tapi kami tidak memiliki senapan atau pistol" jawab Shaun. "Mereka ada banyak dan kami tidak mau membuat kalian celaka."


"Não temos medo ( kami tidak takut )!" ucap pria yang diketahui Shaun dan Shohei adalah keponakan Benicio.


Benicio pun menerjemahkan ucapan pria itu dan Shaun menatap serius.

__ADS_1


"Aku tahu kamu tidak takut tapi percayalah, aku lebih suka kamu melindungi keluarga kamu disini sebab jika kami berhasil mengalahkan Guilherme, semua tanah kalian akan kami serahkan. Pekerjaan berat akan menanti kalian apalagi tanah kalian dibuat pabrik narkoba kan?" jawab Shaun.


"Apalagi udara di tanah kalian sudah tercemar bahan narkoba ... Sangatlah pelik masalah yang kalian hadapi usai mendapatkan tanah..." sambung Shohei.


Benicio menatap dua orang yang tampak serius dan bukan tipe penjahat meskipun wajah mereka dingin. Namun sebagai pemimpin keluarga Vega, Benicio bisa menilai seseorang apakah baik atau tidak dan dua orang yang mengatakan bahwa mereka adalah pengawal pribadi, bukanlah orang jahat dan oportunis.


"Kita sebaiknya berisitirahat dulu. Hari sudah menjelang tengah malam. Dan aku harap, kalian tidak apa-apa kan tidur dibawah bintang?" senyum Benicio.


"Apakah ada ular?" tanya Shaun dengan bergidik namun hanya dijawab senyuman keluarga Vega membuat pria tampan itu bergidik. "Matilah aku...."


"Tabah kan hatimu, domba..." Shohei hanya menepuk pundak Shaun dengan wajah prihatin membuat pengawal Vicenzo itu menatap judes.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh jam, pesawat milik Eduardo Oliviera mendarat di sebuah landasan pacu darurat yang memang dibuat untuk para peneliti dan touris yang hendak meneliti dan melihat salah satu paru-paru dunia. Keluarga Oliviera adalah salah satu pengusaha yang mendukung perlindungan konservasi hutan Amazon dan menentang keras pembalakan liar.


Tak heran jika Eduardo dan Regina berteman baik dengan Zinnia Léopold sejak bertemu pada saat summit lingkungan hidup di Jenewa karena memiliki pandangan yang sama tentang perlindungan hutan sebagai paru paru bumi dan hewan-hewan langka.


"Kita tidak terdeteksi kan Frederick?" tanya Eduardo ke pilotnya.


"Tidak Señor Oliveira. Aman. Kami akan memasang pelindung kamuflase pesawat ini dan akan menunggu anda sampai selesai" jawab pria berambut pirang yang berprofesi sebagai pilot.


Semua orang sudah siap dengan bawaan masing-masing dan mengikuti Eduardo bersama pengawalnya Lucio yang memang hapal hutan Amazon karena dia keturunan suku Guaja yang merupakan suku terakhir di hutan itu sebelum orang tuanya keluar dan pergi ke kota terdekat.


"Kamu tidak apa-apa ikut kami?" tanya Vicenzo ke Iris.


"Enzo, aku anak Brazil. Hutan Amazon adalah kebanggaan papa dan mamaku yang begitu semangat dilindungi jadi wajar jika aku ikut sambil melihat seperti apa." Iris memegang machete atau parang untuk menghalangi semua akar dan juga senjata.


Eduardo sudah meminta agar mereka tidak menggunakan pistol atau apapun tanpa peredam, dan memilih masing-masing orang memegang parang.


"Kamu harusnya ikut ke hutan kami di Aokigahara..." ucap Hyde.


"No way, Hyde. Aku tidak mau. Disana banyak orang bunuh diri kan?" cengir Iris. "Tidak banyak orang yang bunuh diri disini karena jauh darimanapun beda dengan Aokigahara..."


"Whoah.. Kamu juga tahu?" Hyde menatap Iris dengan wajah terkejut ke gadis cantik itu. Mereka bertiga berjalan di belakang para orang-orang dewasa sambil memperhatikan hutan yang rimbun itu.


"Aku sangat suka cerita penuh misteri. Macam X-Files, greatest mysteries around the world... " ucap Iris sambil menoleh namun seketika dirinya terdiam. "Don't move !"


Vicenzo merasa sesuatu merayap di bahunya dan pria itu memejamkan matanya saat parang Iris mendekati bahunya dan pelan-pelan parang itu menjauh dengan adanya tarantula yang cukup besar disana.

__ADS_1


Iris meletakkan tarantula itu ke semak - semak hingga pergi meninggalkan mereka bertiga.


Hyde hanya bisa menahan nafas saat melihat laba-laba hitam besar itu berada di machete Iris.


"Zo, itu macam tarantula yang ada di film The Lords of the ring..." bisik Hyde.


Vicenzo menggerakkan tubuhnya seolah untuk menghilangkan semua bekas tarantula itu. "I hate spiders ! Except Spiderman and Venom... Well technically, Venom bukan laba-laba..."


"Enzo, sudah?" senyum Iris geli.


"Sorry, aku bakalan ngelantur kalau ketemu laba-laba..." ucap Vicenzo.


"Berarti kamu pengidap arachnophobia, phobia akan laba-laba" ucap Iris dan mereka melanjutkan perjalanan mengikuti kelima orang di depan mereka.


***


Di Kamp Keluarga Vega


Shaun terbangun dengan bau kopi dan melihat Shohei mengajari salah satu cucu Benicio kode morse dengan terjemahan dari kakeknya.


"Good morning" sapa Shaun.


"Nyenyak tidurnya ?" senyum Benicio.


"Thanks God tidak ada ular yang mendatangi diriku..." jawab Shaun sambil menerima kopi. "Gracias."


"Aku rasa kalian berdua harus membersihkan diri dan berganti pakaian. Baju kalian sudah sangat berantakan... Apakah kalian tidak masalah menjadi Gaucho?" ucap Benicio.


"Tidak masalah... " Suara Shaun terhenti saat mendengar suara gemerisik semak-semak dan pria itu melihat wajah - wajah yang dikenalnya.


"Kamu tampak berantakan, Domba" ucap pria itu.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️ ( revised 25 08 23 )


__ADS_2