
Kali ini edisi khusus after kerusuhan ya, khusus keluarga Bianchi Turin ( Antonio dan Savrinadeya ).
Antonio menatap lantai granit yang bolong akibat emosi dirinya yang main tembak para orang-orang tidak diundang, datang untuk membunuh dirinya dan Alano.
"Daddy kenapa?" tanya Alano yang masih membereskan rumah bersama dengan pengawal dan pelayan.
"Al, mommymu akan pulang Minggu depan ... Nanti kalau melihat lantai pilihan mommymu bolong begini, apa kata dunia? Alamat Daddy bisa disuruh tidur di gudang ini..." rengek Antonio membuat Alano melengos.
Terkadang Alano bingung dengan ayahnya. Katanya beda usia jauh banget, hampir 15 tahun, tapi kelakuan Antonio tidak sesuai dengan usianya kalau sudah berhubungan dengan Savrinadeya.
"Lha Daddy main tembak saja" ucap Alano sambil melihat bagaimana lantai granit sudah bolong akibat tembakan Antonio. "Bilang saja sama mommy apa adanya... Yakin mommy bisa paham."
Antonio tampak semakin memelas wajahnya. "Al, kamu nggak tahu, lantai ini yang milih mommymu... Dan ini limited edition. Duuuhhh, dios Mio... Apa yang sudah aku lakukan..."
Alano memilih meninggalkan Antonio yang masih muring-muring takut kena omel istrinya.
***
"Jadi Daddy membuat lantai bolong?" tanya Savrinadeya saat putranya melakukan panggilan video. Alano berkomunikasi dengan ibunya melalui bahasa isyarat.
"Iya mommy. Sekarang Daddy takut kalau mommy marah. Padahal saat itu Daddy terpaksa melakukan hal itu karena para mercenaries sudah masuk ke rumah. Daddy hanya mempertahankan rumah dan kita agar tidak terbunuh." Alano menatap serius ke wajah ayu ibunya.
Diakui Alano, ibunya memang cantik, kalem dan sangat mencintai dirinya dan Antonio, suaminya, meskipun tidak sebucin ayahnya.
"Minggu depan mommy pulang dijemput oleh kamu dan Oom Alexis kan? Biar mommy yang handle ..."
"Mom, jangan judes sama Daddy ya. Tadi saja sudah panik terus menerus, takut disuruh tidur di gudang..."
Savrinadeya tertawa. "Daddymu dari dulu selalu hiperbola..."
***
Antonio menatap wajah cantik istrinya yang terlihat di layar monitor iMac nya. Seperti biasa, Savrinadeya selalu menatap Antonio lembut dan itu yang membuat pria Italia tersebut jatuh cinta setiap saat pada istri cantiknya. Savrinadeya tidak pernah marah yang heboh macam Raveena atau Leia tapi dengan merubah tatapan saja, sudah pasti membuat Antonio dan Alano kelimpungan, tahu jika wanita kesayangan mereka mode marah.
"Bagaimana lukanya? Sudah bagus hasilnya?" tanya Antonio.
Savrinadeya tidak menjawab tapi membuka pakaiannya dan hanya mengenakan br@, memperlihatkan bekas tembakan di bahu dan perutnya yang sudah sedikit tersamar.
"Mas Sammy sampai pinjam alat laser khusus agar bekas operasi aku cepat segera sembuh dan tidak menjadi bekas."
"Kalau pun bekas, itu tandanya bahwa kamu wanita tangguh, Deya. Aku sangat bangga sama kamu... Meskipun rasanya jantungku hilang dua kali saat tahu hampir kehilanganmu...Twice !" ucap Antonio sambil memperhatikan istrinya mengenakan lagi pakaiannya.
"Rumah baik-baik saja kan bang?" tanya Savrinadeya polos. "Tidak ada yang rusak?"
__ADS_1
"Eeerrrr hanya tembok luar kena peluru terus Raveena terserempet peluru, pohon Cherry blossom mu dahannya ada yang patah kena tembak... So far itu saja sih..." jawab Antonio sedikit berdehem.
"Hanya itu saja?" tanya Savrinadeya.
"Ya sayang."
Savrinadeya tersenyum manis namun entah kenapa Antonio merasa istrinya tidak tulus. Duh, apa Deya tahu sesuatu? Mati kau, Tomat !
***
Hari Penjemputan Savrinadeya di pondok milik Dante Mancini
"Bagaimana nasib Daddymu kalau Tante Deya tahu lantai kesayangannya bolong?" tanya Raul ke Alano yang ikut ayahnya, Alexis, menjemput Savrinadeya.
"Entahlah..." jawab Alano mengambang. "Karena sampai detik ini, Daddy tidak bisa mengakali lantainya dan stoknya juga lagi kosong. Makanya Daddy lagi harap-harap cemas ini..."
Raul menoleh ke arah ayahnya yang menyetir. "Dad, bakalan ramai nggak ini?"
"Mana Daddy tahu" senyum Alexis.
"Duh !"
Tak lama mobil Range Rover tahan peluru itu pun tiba di pondok dan tampak Savrinadeya sudah siap. Sehari sebelumnya, Blaze dan Samuel sudah kembali ke New York, begitu juga Ken Al Jordan kembali ke Dubai karena putranya Keanu sudah mereog.
"Mommy sudah enakan?" tanya Alano sambil memeluk dan mencium ibunya yang terpaksa harus mereka sembunyikan sampai kondisi semua kondusif.
"Alhamdulillah sudah. Yuk pulang."
Alexis menghampiri Savrinadeya dan memeluk iparnya itu. "Alhamdulillah kamu sudah lebih baik..."
"Thank you bang..." balas Savrinadeya.
Raul pun Salim ke tantenya. "Biar Raul bawa kopernya Tante..."
"Tidak usah Signor Accardi, biar kami yang bawa ke dalam mobil kami." Salah satu pengawal itu lalu membawa koper - koper milik Savrinadeya ke dalam mobil BMW milik Antonio.
Savrinadeya pun bergandengan tangan dengan Alano menuju mobil Range Rover bersama dengan Alexis dan Raul. Keempatnya pun pulang ke Turin setelah semua sudah terkunci.
***
Mansion Bianchi Turin Italia
Antonio menyambut hangat kedatangan istrinya dan langsung memeluknya erat. Tanpa malu Antonio menciumi wajah Savrinadeya dan terakhir, bibirnya dengan panas, membuat semua orang melengos dan masuk ke dalam rumah meninggalkan pasangan itu di teras mansion.
__ADS_1
"Yuk masuk, sayangku..." ajak Antonio sambil merangkul pinggang Savrinadeya.
"Ayo" jawab Savrinadeya.
Keduanya pun masuk dan mata jeli Savrinadeya melihat ada yang berbeda dari lantainya meskipun sudah ditutupi sedemikian rupa. Wanita itu melepaskan pelukan suaminya dan berdiri di tempat lokasi peluru Antonio bersarang di sana lalu dia berjongkok kemudian meraba lantai itu. Jarinya bisa merasakan lantainya ada lubang disana.
"Bolong?" Savrinadeya menatap tajam ke Antonio yang sudah panik melihat istrinya mode marah.
"Eeerrrr itu karena aku ... Begini Deya... Biar aku cerita dulu... Jadi ... Ehem... Ada penjahat masuk rumah terus aku hadang... tapi dia ngeyel. Jadi biar dia nggak terus maju, aku tembak lah depan kakinya... Bolong deh lantainya... Tamat..." ucap Antonio kelabakan.
Savrinadeya berdiri dan menatap wajah tampan suaminya meskipun sudah berumur. "Kenapa nggak bilang kalau lantainya kamu tembak?"
"Soalnya aku tahu kamu bakalan marah jadi aku maunya bisa ganti yang baru tapi... Stoknya kosong" jawab Antonio memelas. "Maafkan aku sayang. Aku emosi saat itu..."
Savrinadeya menaikkan sebelah alisnya. "Jadi Abang sudah mau menggantinya tapi stok kosong?"
Antonio mengangguk.
"Terus Abang oret-oret pakai spidol biar tidak kelihatan?"
Antonio mengangguk lagi sambil terus memasang wajah memelas.
"Abang mikir nggak sih waktu nembak akibatnya apa?"
Antonio menggelengkan kepalanya.
Savrinadeya menghela nafas panjang. "Abang tidur di ruang kerja !" Savrinadeya pun pergi meninggalkan suaminya.
Antonio melongo. "AAAPPAAA? Aku tidur di ruang kerja? Deya ! Teganya kamu sama Abang ! Deya !" teriak Antonio sedih lalu menoleh ke arah Alano yang asyik makan gelato. "Al, bagaimana ini?"
Alano hanya tersenyum. "Keluarkan semua jurus merayu mautmu Dad ..."
Antonio memicingkan matanya. "Anak durhakim lu !" Pria Italia itu lalu berlari mengejar Savrinadeya. "Deyaaaa ! Maafkan Abang !"
Alano menggelengkan kepalanya. "Dan mansion ini pun ramai lagi..."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️