
Markas Besar Kartel Brazil
Shohei dan Lucio menoleh ke belakang melihat Hyde dan Vicenzo sudah memakai pakaian hitam-hitam macam ninja.
"Hyde-chan..." bisik Shohei.
"Berapa yang sudah kamu lumpuhkan selain sejumlah 50 shades of grey?" tanya Hyde dingin.
"Total ada 70 orang sudah tidur gara-gara 200 bakpau babi."
"Kamu dapat dari mana ide macam itu?" tanya Vicenzo.
"Filmnya Stephen Chow" jawab Shohei kalem membuat Hyde dan Vicenzo melongo.
"Kamu itu mirip Stephen Chow, Badut!" hardik Shaun gemas.
"Iyakah? Menarik..." gumam Shohei.
"Sudah kalian? Berisik !" hardik Bayu.
"Sudah Oom."
"Bersiap kalian ! Pasti bakalan ada keributan !" pesan Eduardo. "Iris, matikan listriknya."
"Oke Daddy."
Tiba-tiba area daerah itu gelap gulita dan semua orang memakai night vision goggles.
"Biar aku masuk dulu. Kalian hancurkan Genset nya. Lokasinya..." Shohei menoleh ke arah Lucio. "Kasih tahu Luce."
"Ayo Signor !" ajak Lucio. Hyde dan Vicenzo mengikuti Lucio sedangkan Shohei masuk ke dalam.
"Jangan ada yang masuk. Biar aku kasih kode dulu musuh - musuh kita" ucap Shohei.
"Hati-hati badut !" ucap Antonio.
Shohei memakai backpack nya masuk lewat tembok bolong lagi dan mendengar keributan disana.
"Use a luz do celular ( gunakan lampu ponsel )!" perintah Kefka.
Shohei bergegas naik ke salah satu tower pengawas dan mulai memasang senapan sniper nya dan mulai membidik dengan termal serta memasukkan peluru plastik yang berisikan cat. Kondisi hutan yang lembab dan banyaknya binatang malam, wajar jika seseorang merasa digigit nyamuk atau serangga lainnya.
Senapan sniper canggih itu bisa melihat seseorang dalam kondisi gelap sekalipun hingga Shohei tidak kesulitan melihat siapa musuh siapa kawan. Dengan cepat pria menembak ke orang-orang disitu dengan sasaran entah sepatu, ikat pinggang atau pun jaket. Yang penting jangan sampai terkena badan.
Damn Nyunyun-chan... Formulamu benar. Hijaunya macam hijau Nyi Roro Kidul. Shohei memutar badannya dengan cepat karena sinar lampu ponsel menerangi sekitar nya dan dia tidak mau ketahuan berada di tower pengintai.
"Eles estão mortos ( apakah mereka mati )?" tanya Kefka saat melihat semua orang tergeletak.
"Não é velho. Eles estão... drogados ( Tidak. Mereka... Dibius )."
"Acorde-os ( Bangunkan mereka )!" perintah Kefka.
Bangunin saja kalau bisa ! Meskipun kena air pun, mereka tetap tidak bakalan bangun ! - batin Shohei.
Pria Hongkong itu lalu bersembunyi di dalam bilik tembok tower.
"Kalian bersiap-siaplah... Semua sudah berpendar macam di arena dugem..." bisik Shohei.
***
Lucio bersama Hyde dan Vicenzo menuju area genset yang dijaga oleh tiga penjaga. Ketiganya memang tidak ikut makan apalagi area genset berada di luar rumah induk dan CCTV yang mereka lihat, adalah pengulangan yang di setting Shaun dan Iris.
"Kamu bisa membidik?" bisik Vicenzo.
"Bisa !" Hyde menembak peluru bius ke ketiga penjaga itu dari balik pohon dan Vicenzo serta Lucio kagum dengan persisi nya pria berdarah Jepang Italia itu.
"Mereka sudah bobok manis. Sekarang giliran kita merusak genset..." bisik Vicenzo.
__ADS_1
Ketiganya langsung merusak genset bahkan Hyde memotong semua kabel dengan katananya.
"Haruskah pakai Katana?" bisik Vicenzo.
"Hei ! Biar aku jadi Roronoa Zoro bukan Ninja Hatori " seringai Hyde.
"Dasar !"
"Ei! Quem está aí ( Hei ! Siapa disitu )!" teriak seorang penjaga dan ketiganya menoleh.
"Damn it!" umpat Hyde.
"Há um intruso! Há um intruso ( ada penyusup )!" teriak orang itu dan membuat Lucio harus menembak nya.
"Damn it Lucio ! Pakai peredam harusnya !" bentak Vicenzo.
"Oh shoot ! Aku lupa !" Lucio menatap dua pria muda disana
"Sudah ketahuan ! Ganti peluru kalian ke peluru tajam !" ucap Bayu.
Vicenzo dan Hyde mengganti magazine masing-masing dengan peluru tajam yang mereka simpan di ikat pinggang khusus.
"Lari ke arah hutan atau ke tower?" tanya Lucio.
"Kalian berdua ke hutan, aku ke tower Utara membantu badut !" Hyde pun bergegas menuju lubang tembok dan melihat kekacauan di dalam pabrik itu hingga tidak ada yang memperhatikan dirinya. Terbiasa dengan bela diri dan olahraga panjat tebing, dengan mudah Hyde menaiki tembok menuju tower Utara.
"Badut !" panggil Hyde sambil memasang sniper nya. "Itu warnanya kenapa keren banget!"
"Bagus kan?" jawab Shohei sambil menembak. "Desain baru dari Nyunyun-chan!"
Hyde melepaskan night vision goggles nya dan mulai membidik dari atas tower. "Apa warna Kefka ?"
"Pink !"
Hyde melongo. "Seriously?"
"Shocking pink ! Macam Barbie !"
"Yes Bianchi-san."
"Noted !"
"Badut ! Kamu pakai peluru bius atau tajam?" tanya Hyde.
"Masih bius. Hyde-chan?"
"Aku nggak bawa peluru bius untuk M95 !" jawab Hyde yang memegang senapan rifle Barret M95.
"Tembak saja kakinya Hyde !" perintah Alessandro.
"Baik Oom!" Hyde lalu menembak betis para anggota kartel yang dalam kondisi chaos.
"Jangan ada yang menyentuh Kefka !" ucap Antonio.
"Oke ! Kefka milik kamu !" ucap Bayu.
"Vic ! Kamu dimana?" tanya Hyde.
"Hutan belakang ! Aku dan Lucio dikejar lima orang!" jawab Vicenzo terengah-engah.
Hyde membalik kan tubuhnya sambil membidik M95 nya mencari sepupunya. Remaja yang menjelang 20 tahun itu tersenyum smirk lalu menembakan peluru nya tepat di punggung belakang dua dari tiga orang yang mengejar Vicenzo.
Tak lama tiga orang lainnya ditembak oleh Vicenzo dan Lucio.
"Glla Hyde ! Itu jarak berapa meter !" seru Vicenzo.
__ADS_1
"Pendek itu ! Cuma satu kilometer... Masih kalah sama Oma Sabine yang bisa menembak 2,500 meter" jawab Hyde. "Kalian kembali dan bantu disini."
***
Semua anggota kartel menyebar mencari para penyusup dan Eduardo mengatakan ada sekitar 100 orang disana.
"Anggota Kartel Brazil ada sekitar 400 orang hanya di Rio de Janeiro. Ini baru separonya dan kalian tahu sendiri jika sudah obrak Abrik Brazil, kalian akan dimusuhi seumur hidup..." ucap Eduardo.
"Kita tidak obrak Abrik ! Mereka duluan !" ucap Antonio sambil mengendap-endap di balik pohon. Dirinya bersama dengan Alessandro sudah bersiap dengan AR-15 yang berisikan 800 peluru.
"Ada yang melihat Kefka?" tanya Bayu.
"Não e está tão escuro ( Nope dan ini gelap sekali )..." jawab Naolin.
"Jangan jauh-jauh dariku Naolin" ucap Bayu.
Naolin mengangguk.
Dalam kegelapan malam dan lebatnya pepohonan, tim Turin bergerilya dari balik pohon ke pohon lain.
"F*** !" umpat Shaun.
"Ada apa ?" tanya Antonio.
"Kefka kabur dengan Range Rover nya meninggalkan anak buahnya mati disini !"
Antonio menoleh ke Alessandro. "Kita kejar !" Kedua pria Italia itu segera menuju mobil mereka yang diparkir tersembunyi.
"Iris ! Lacak mobil Kefka !" perintah Vicenzo sambil menembak orang kartel.
"Oke !" jawab Iris dari ruang IT keluarga Oliviera.
"Oom, bagaimana ini? Orang-orangnya makin banyak dan peluru bius tinggal sedikit! Aku sudah pakai peluru tajam !" Hyde bertanya ke Bayu.
"Tujuan utama kita adalah Kefka. Kita kabur sekarang ! Mereka tidak penting !" jawab Bayu.
"Aku akan kembali kerja Manuel Raymundo !" ucap Shohei.
"Ngapain ? Kembali sekarang, Shohei !" perintah Bayu.
"Sorry O'Grady-san. Aku menemukan sesuatu yang penting !"
"Aku akan bersamamu Badut ! Kalian semua pulang !" ucap Shaun sambil berlari di kegelapan malam menuju tower barat.
"Vic ! Hyde ! Lucio ! Pulang ! Tinggalkan badut dan domba !" perintah Bayu.
Hdye pun turun dari tower lewat tembok luar dengan tali tambang yang dia temukan di lantai tower itu dan bergabung dengan Vicenzo serta Lucio. Ketiganya pun menuju titik GPS Bayu yang bersama Naolin.
Sementara Shaun sudah bergabung dengan Shohei lewat tali tambang yang dilemparkan pria Hongkong itu.
"Apa hal Badut ? Kamu menemukan apa?" tanya Shaun.
"Lepaskan Earpiece mu!" perintah Shohei.
Shaun melepaskan earpiece nya agar tidak ada yang mendengar.
"Aku menemukan plot pembunuhan keluarga Pratomo ... Dimulai dari Turin. Domba, Manuel Raymundo tidak ada di Rio. Dia ada di Turin dan hendak membunuh tuan Dante Mancini dan Nyonya Leia Bianchi!" Shohei menatap horor ke Shaun.
"F****** !!!!" umpat Shaun.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️