
Meanwhile di Van ketiga
Hyde dan Vicenzo menyetir motor Ducati di belakang Bugatti Veyron milik Dante Mancini yang berada di belakang Van yang ditumpangi Alexis, Raul dan Raveena yang berpura-pura menjadi mayat.
"Dua mobil Van sudah dikejar, bagaimana dengan mobil papamu?" tanya Hyde ke Vicenzo.
"Akan lebih karena mobil Padre mengikuti mobil Van itu dan dianggap membawa Tante Deya" jawab Vicenzo yang menengok ke belakang dan tampak empat mobil yang memburu mereka.
Ketiga mobil Van itu memang memilih jalanan utama untuk pergi hanya bedanya mobil kedua menuju Swiss, mobil pertama menuju Milan sedangkan mobil ketiga menuju perbatasan Perancis.
"We got company, Padre" ucap Vicenzo saat melihat empat mobil itu tidak berhenti.
"Kalian berhati-hatilah, padre akan berbalik di U turn depan" ucap Dante karena mereka berada di jalan satu arah yang tidak bisa putar balik.
"Bang, berhati-hatilah" ucap Raul yang berada di dalam mobil Van.
Hyde dan Vicenzo pun memutar balik ke arah mobil itu. Hyde mengambil katananya lalu memindahkan ke tangan kiri sedangkan Vicenzo mengambil Glocknya.
Vicenzo menembak ke arah mobil - mobil itu sedangkan Hyde memacu motornya dan begitu ke bagian penumpang, pria Jepang Italia itu menghunuskan katananya ke penumpang yang memegang pistol ke lengannya.
Setelah melukai mobil pertama, Hyde memasukkan katananya lagi ke sarungnya. Seperti tantenya, Hyde juga ambidextrous yang berarti tangan kiri sama bagusnya dengan tangan kanan.
Vicenzo memacu motornya ke sisi pengemudi dan menembakkan Glocknya membuat si pengemudi tertembak hingga membuat mobilnya oleng dan menabrak pembatas jalan lalu masuk ke dalam jurang.
Hyde menembak mobil kedua tanpa takut karena semua bajunya sudah dilindungi kevlar. Pria itu menembak si pengemudi bagian lengannya membuat mobil itu oleng hingga rangsek ke got sisi kanannya.
Hyde dan Vicenzo memutar balik motornya untuk menyetop mobil ketiga yang tersisa.
"Ferma l'auto ! Ora ! ( hentikan mobilnya ! Sekarang ! )" teriak Vicenzo dari balik helmnya sambil menodongkan pistol sedangkan Hyde melakukan hal yang sama di sisi kanan mobil itu.
Mobil itu terpaksa berhenti dan Vicenzo pun memarkirkan Ducati nya di depan mobil itu. "Fuori ( keluar )!" perintah Vicenzo sambil menodongkan pistol ke arah dua orang di dalam.
Hyde pun menghentikan motornya dan duduk diatas Ducatinya sambil menodongkan pistol nya.
Dua orang di dalam mobil itu pun turun dengan tangan terangkat dan Hyde mengambil ponselnya lalu memotret kedua orang itu untuk dilakukan face recognition.
Vicenzo menghampiri kedua orang itu dan menatap tajam dari balik helmnya yang sudah dibuka kacanya. "Sei italiano o brasiliano ( kamu orang Italia atau orang Brazil )?" tanyanya sambil menodongkan pistol. "Kuso ̄, Haido! Watashi wa Porutogaru-go o hanasemasen ( damn it Hyde ! Aku tidak bisa bahasa Portugis )!"
"Reisei ni naru! Karera wa itariahitodesu ( tenang ! Mereka orang Italia )" jawab Hyde yang sudah mendapatkan hasil face recognition dari Giordano Smith.
__ADS_1
"Mereka dari?"
"Keluarga Ferrara... " Hyde menembak kearah kirinya saat salah satu penumpang mobil yang masuk ke dalam parit menodongkan pistol, membuat orang itu tumbang.
Kedua orang itu tampak terkejut dengan santainya menembak tanpa beban padahal mereka tahu pria di hadapannya baru mau menginjak 20 tahun.
"So, kalian mau cara halus atau kasar?" Hyde membuka kaca helmnya dan menatap tajam. "Aku cacah dengan katana atau cukup aku dor ?"
Kedua pria itu hanya diam. Tak lama sebuah mobil Van hitam datang dan disana turun anak buah Vicenzo.
"Bawa dua orang ini dan orang - orang yang masih hidup ke markas ! Kita hajar mereka disana !" Vicenzo menembak pistolnya dan membuat dua orang itu ambruk akibat peluru bius dosis tinggi.
"Sì Signor Mancini."
Keenam orang itu pun langsung membawa orang-orang yang masih hidup dan memasukkan ke dalam Van hitam. Setelah beres, Vicenzo dan Hyde pun melanjutkan perjalanan mendekati mobil Dante dan Leia.
"Kalian sampai mana?" tanya Vicenzo yang menggeber motornya ke kedua orangtuanya.
"Mendekati Milan. Kami menuju ke rumah Alessandro" ucap Leia. "Bagaimana para stalker ?"
"Sudah beres... Tampaknya tewas beberapa" jawab Vicenzo tanpa beban. "Mereka orang Ferrara, bukan kartel."
"Yes Padre."
Hyde dan Vicenzo akhirnya bisa mendekati mobil Bugatti Veyron milik Dante. Dan iring-iringan itu pun menuju kota Milan.
***
Piedmont Susa Valley
Mobil Van hitam yang membawa Savrinadeya itu pun tiba di pondok milik Dante Mancini. JJ dan Isaak langsung membuat parameter untuk memeriksa sekelilingnya meskipun pengamanan disana sudah lengkap dan canggih.
Bayu dan Ken membantu menurunkan brankar yang membawa Savrinadeya keluar dari mobil Van itu. Mata coklat Savrinadeya tampak senang melihat siapa yang datang.
"Sudah, jangan banyak bergerak. Yang penting mas Bayu dan Ken sudah disini" ucap Bayu lembut sambil menggenggam tangan adiknya. Pria berbadan besar itu mencium kening Savrinadeya saat hendak dibawa masuk ke dalam pondok.
"Bang ... To ..." bisik Savrinadeya.
"Tomat dan Alano selamat sampai mansion... Meskipun harus ada perang cat macam festival Holi India" kekeh Ken Al Jordan.
__ADS_1
Tiga pengawal yang ikut dalam mobil Blaze, ikut membantu JJ dan Isaak.
"Bayu, kapan datang ?" tanya Blaze sambil memeluk sepupunya.
"Tadi pagi tapi tertahan di imigrasi gara-gara PW-10. Jadi aku dan ken agak terlambat masuk Turin dan sampai di mansion Bianchi, langsung saja Ferrari nya Veena aku ambil" cengir Bayu. "Bensinnya full pula."
"Alamat Veena bisa ngomel-ngomel Ferarri nya kamu geber !" gelak Blaze. Samuel dan Ken membantu Savrinadeya untuk turun dari brankar untuk duduk di sofa.
Yang lain gimana? Idris ? tanya Savrinadeya dengan bahasa isyarat.
"Idris sudah dibawa ke mansion Bianchi untuk beristirahat. Kamu tenang saja Deya" ucap Ken sambil mencium pipi sepupunya. "Aku senang kamu selamat."
Savrinadeya membalas dengan memegang pipi Ken sambil tersenyum.
"Sekarang kalian beristirahat. Bee, Ken bawa Deya ke kamarnya sekalian ganti perban, biar aku dan Bayu berjaga disini. JJ, sembunyikan mobil Van dan Ferarri Raveena. Isaak, bawakan cooler box dari dalam mobil Van kemari" perintah Samuel.
Bayu menatap kakak iparnya dengan tatapan heran. "Sejak kapan kamu bisa menjadi decision maker?"
"Sejak kepaksa ..." jawab Samuel lempeng membuat Bayu tertawa.
***
Milan, Italia
Dua mobil dan dua motor Ducati itu masuk ke dalam gerbang mansion di pinggiran kota Milan. Setelah semuanya terparkir rapi, rombongan itu pun berjalan menuju pintu utama yang sudah terbuka dan pemiliknya pun keluar dengan wajah masih mengantuk.
"Sudah acara kejar-kejaran nya?" sapanya.
"Hai, Ale" sapa Dante sambil nyengir.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️