
Istana Brussels Belgia
Zinnia dan Avaro menatap wajah keras Arsyanendra yang sedang memakai backpack nya, hanya bisa terdiam.
"Kamu serius mau ke Turin?" tanya Zinnia.
"Serius mommy. Ini sudah kurang ajar ! Tante Deya salah apa jadi korban penembakan dan percobaan pembunuhan !" jawab Arsya tegas.
"Sayang, terkadang mommy kangen kamu bilang 'Asya pikil-pikil dulu, mommy' supaya kamu tidak ikut gegeran" senyum Zinnia membuat Arsyanendra terbahak.
"Mom, sudah nggak bisa dipakai kalimat itu. Sudah beda jamannya" senyum Arsyanendra sambil mencium Zinnia di pipi. "Dik, jangan sampai dik Alisha tahu ya. Bisa kepikiran tuh anak."
"Aku nggak janji. Sha kan sensitif" jawab Avaro.
"Gimana caramu deh !" Arsyanendra menepuk kepala Avaro sayang. "Jaga mommy dan Daddy."
"Mas Arsya juga hati-hati. Jangan sampai kena tembak kalau memang akhirnya harus gelut" Avaro memeluk kakaknya. Tinggi dua pangeran itu hampir sama membuat Zinnia semakin mungil diantara dua jagoannya.
Sean tampak sedang berbicara serius dengan pengawal Arsy, Isaak Schubert. Entah apa yang dibicarakan tapi raja Belgia itu tampak serius.
"Salam buat semua orang di Turin" ucap Zinnia sambil memeluk putranya.
"I will mom."
Malam itu Arsyanendra dan Isaak Schubert berangkat lewat darat dari Brussels menuju Turin yang membutuhkan waktu hampir 20 jam. Arsyanendra dan Isaak bergantian menyetir agar tidak terlalu lelah. Arsyanendra memang memilih jalan darat karena tidak mau terlihat paparazi di bandara karena berita penembakan Savrinadeya Bianchi, istri pengusaha wine dan anggur Antonio Bianchi, ramai di beritakan.
***
Ospedale Regina Margherita Hospital Turin Italia, ruang ICU
Antonio dan Alano saling berangkulan melihat wanita yang mereka sangat mereka cintai, terbaring lemah diatas tempat tidur dengan banyaknya alat di tubuhnya. Antonio memeluk Alanon yang menangis, sedih melihat mommynya tampak lemah dan tidak berdaya.
Dante Mancini dan Leia Bianchi yang datang dengan pengawalan, langsung menghampiri Antonio dan Alano. Leia tahu rasanya bagaimana melihat pasangan hidupnya terbaring di ruang ICU karena 15 tahun yang lalu, dirinya mengalami hal yang sama. Dante memeluk erat iparnya yang menangis lagi sedangkan Leia memeluk keponakannya.
"Antonio..." panggil Alexis. "Ada pesan dari Luke dan Bayu."
"Bagaimana?" tanya Antonio dengan mata basah dan suara tersendat.
"Apakah ada ruangan yang bisa kita pakai pribadi?" tanya Antonio ke seorang suster.
"Pakai saja ruangan saya."
Semua orang menoleh ke arah dokter yang mengoperasi Savrinadeya. "Signor Mancini, Signora Bianchi... Perkenalkan saya dokter Xavier Del Piero. Putri saya adalah klien Signora Deya Bianchi dengan kondisi yang sama dengan beliau" senyum Dokter itu sambil bersalaman dengan Dante dan Leia. "Anda bisa pakai ruangan saya, biar Signora Deya Bianchi saya temani dengan Signor Bianchi Junior dan Signor Accardi Junior."
__ADS_1
Akhirnya Dante, Leia, Antonio, Raveena dan Alexis meminjam ruang praktek dokter Xavier Del Piero. Disana, Alexis pun menyalakan panggilan video nya ke Bayu dan Luke.
"Bagaimana Deya?" tanya Luke tanpa basa basi.
"Stabil dan masih di ICU" jawab Leia ke saudara kembarnya.
"Syukurlah..." ucap Bayu. "Boys, aku disini di New York sudah berunding dengan semua generasi keenam, dan kita sepakat untuk membuat trik agar penembak Deya bisa muncul."
"Mungkin akan menyakitkan tapi ini demi keselamatan Deya dan kalian semua. Sebab ada kemungkinan orang itu juga mengincar keluarga Turin terutama" sambung Luke.
"Kalian ingin agar kita memberitakan Deya tewas?" tebak Dante.
"Bingo" jawab Luke dan Bayu. "Bukan tanpa alasan karena jika tahu Deya masih hidup, mereka akan melakukan percobaan pembunuhan lagi saat kalian lengah."
"Kita adakan pemakaman gitu? Atau gimana?" tanya Alexis.
"Pemakaman boleh dan private tapi tetap ada berita Deya meninggal dan hanya pengawal pilihan kalian yang tahu !" ucap Luke.
"Kamu bisa bawa Deya ke pondok kami, Tomat" ucap Dante.
"Pondok dekat perbatasan Swiss - Italia kita itu, Inferno?" tanya Leia.
"Yup. Disana aman. Tidak ada yang tahu dan hanya aku, Leia dan Vic serta Sergio dimana lokasinya ... Oh, Alexis juga" cengir Dante mengingat saat dirinya proses pendekatan dengan Leia. ( Baca The Bianchis ).
"Apa maksudmu Bay?" tanya Antonio tidak paham.
"Blaze, Sammy dan Devan sudah terbang ke Turin. Mereka akan membantu mu merawat serta melindungi Deya karena kamu hanya akan berdua bersama istrimu. Mereka akan tinggal di pondok milik Dante" jawab Luke.
***
"Tante Deya bagaimana Al?" tanya Lachlan de Luca, sepupu Alano dan Raul yang tinggal di Palermo Sisilia.
"Masih di ICU. Mommy kan sempat kehilangan banyak darah tapi syukurlah stok darah di rumah sakit ini banyak jadi bisa transfusi cepat" jawab Alano.
"Tapi belum sadar ya Al?" tanya Ashley Moretti, putri Alessandro Moretti dan Sakura Park yang tinggal di Milan. "Daddy dan Okasan ingin ke Turin tapi dilarang Opa. Katanya nunggu dulu..."
"Belum Ash. Semoga saja Mommy cepat sadar. Jujur aku tidak tega melihat mommy seperti itu... " Wajah Alano tampak sendu hingga Raul menepuk bahunya lembut.
"Tante Deya pasti akan cepat sadar. Yakin aku" sambung Asher, adik Ashley.
"I hope so."
"Terus mas Hyde dan mas Vic kemana?" tanya Ashley.
__ADS_1
"Ke TKP bersama Shohei-senpai. Kalau bang Shaun sedang mencari tahu siapa pelakunya" jawab Alano.
"Pasti pakai teknologi Jang deh..." celetuk Lachlan.
***
Ruang IT milik keluarga Mancini
Shaun bersama dengan tim IT yang dibentuk Dante usai kecelakaan pun berusaha mencari tahu siapa pelaku penembakan berdasarkan body cam yang dipakainya. Akhirnya dirinya mendapatkan nama Kefka Guilherme.
Shaun mengerenyitkan dahinya karena tidak mendapatkan cerita apapun tentang Kefka dan semua data keluarga dirinya tidak ada. Hanya nama yang diperoleh berdasarkan paspor Brazil yang dia pegang.
Tunggu, Guilherme... Kenapa nama itu tidak terdengar asing? Shaun pun berusaha mencari tahu tapi lagi-lagi dia terbentur banyaknya tembok yang harus ditembus. Bahkan salah satu laptop anak buahnya terkena virus karena firewall nya kena.
Shaun pun berusaha mencari tahu tapi tetap saja dirinya tidak bisa. "Main server kita kurang kuat jadi aku harus meminta bantuan..." gumam Shaun yang kemudian menghubungi seseorang. "Signor Giordano Smith..."
***
Keesokan Harinya, Sore Hari
Vicenzo dan Hyde tampak ngantuk setelah kemarin seharian mengurus semuanya di Polizia Turin. Meskipun mereka tidak percaya dengan instansi itu tapi untuk kali ini, mau tidak mau, mereka harus bekerjasama.
Keduanya yang baru pulang menjelang subuh, memutuskan untuk tidur hingga hampir seharian. Dante dan Leia sudah pergi entah kemana karena mereka masih tidur.
Saat memasuki ruang makan, keduanya melongo melihat siapa yang datang dan duduk dengan santainya di kursi makan.
"Bagaimana Tante Deya?" tanya pria tampan bermata biru itu.
"Mas Arsya?" seru Hyde dan Vicenzo berbarengan.
Arsyanendra Léopold
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️ ( revised 27 08 23 )
__ADS_1