
Hutan Amazon...
Vicenzo merasa terganggu dengan adu ngorok antara Shaun dan Shohei hingga akhirnya terbangun. Dia melihat jam G-Shock nya yang menunjukkan pukul empat pagi. Pria itu menoleh ke arah Hyde yang masih terlelap sambil memakai headset nya.
Vicenzo melihat ke arah kantung tidur Iris dan tidak menemukan gadis itu disana. Kemana gadis itu? Vicenzo menaikkan resleting jaketnya dan keluar dari tendanya. Tampak Iris sedang menikmati pemandangan sambil duduk di balok kayu yang dipakai sebagai kursi.
"Good morning..." sapa Vicenzo.
"Good morning" balas Iris. "Permen karet? Well, kita tidak bisa sikat gigi pagi begini karena dingin sekali... " Gadis itu mengulurkan permen karet mint ke Vicenzo yang mengambil satu lalu membukanya dan mengunyahnya.
"Sebelum sikat gigi dan tidak bau mulut" senyum Vicenzo.
"Touché... "
"Kamu pasti tidak bisa tidur ya. Gara-gara dua pengawal kami" ucap Vicenzo.
"Tidak juga. Aku sudah terbiasa apalagi pengawal Daddy kan juga banyak. Saat kami berjalan - jalan ke hutan ini untuk menjaganya, kami juga kemping seperti ini. Dan..." Iris tertawa. "Ngoroknya jauh lebih parah dari Shaun dan Shohei."
"Apalagi orang banyak..."
"Apalagi orang banyak. You have no idea seperti apa..." kekeh Iris.
"Aku bisa membayangkan" senyum Vicenzo.
"So, kamu sudah selesai kuliah? Ambil apa?" tanya Iris.
"Science. Tapi aku malah memilih menjadi penerus usaha wine Padre" jawab Vicenzo.
"Kamu dan Hyde sepupu kandung?"
"Yup. Madreku adalah saudara kembar otousannya Hyde. Oom ku di Tokyo dan dia seorang Yakuza. Hyde digadang-gadang akan menggantikan Oom Luke sebab adiknya, Yukihiro, tampaknya tidak tertarik dunia Yakuza" jawab Vicenzo.
"Kamu berapa bersaudara Zo?"
"Aku anak tunggal."
"Sama denganku. Terkadang sepi tidak ada saudara tapi kadang senang sendirian..." senyum Iris.
"Apakah usai lulus dari Oxford, kamu akan meneruskan perusahaan Oom Eduardo?"
Iris mengangguk. "Aku sudah mengenal perusahaan Daddy sejak aku kecil dan menurut ku, itu sumber kebahagiaan aku. Seperti kamu, aku sangat suka science dan technologi. Bagiku, perusahaan Daddy harus aku pegang dan aku berusaha membuktikan pada Daddy kalau aku mampu. Bukan apa-apa Zo, aku sangat hapal isinya."
"Biasanya orang tua akan memberikan perusahaan keluarga turun temurun. Macam di keluarga aku... Karena basicnya adalah wine, mau tidak mau aku harus mempelajari varietas anggur, cara penyulingan dan memahami musim yang bagus untuk mendapatkan rasa yang terbaik. Aku juga kursus sommelier sejak aku berusia 17 tahun."
Iris menatap Vicenzo. "Kamu seorang sommelier?"
__ADS_1
"Yup. Wajib hukumnya karena Padre pun sama waktu remaja dulu. Karena bisnis kita kan disana."
Tak lama para wanita dari keluarga Vega keluar dan menyapa Iris serta Vicenzo. Kedua anak muda itu pun membantu membuat kopi dan choco serta sarapan dari bahan makanan yang dibawa dari Rio.
***
Menjelang jam sepuluh pagi, rombongan sudah tiba di landasan pacu dan Naolin, pria berusia 30 tahun itu pun ikut dengan mereka. Frederick sang pilot pun berhasil membuat pesawat itu tinggal landas membuat rombongan Turin mengakui bahwa pilot itu sangat jago.
Naolin menatap pemandangan dari jendela pesawat dan berharap mereka bisa pergi dari hutan Amazon dan kembali ke tanah yang sudah mereka miliki banyak generasi.
"Tenang saja. Kami akan membantu mu mendapatkan tanahmu kembali" ucap Lucio yang menghampiri Naolin duduk. "Keluarga Oliviera dan keluarga Italia ini orang baik."
"Kamu orang Amazon?" tanya Naolin.
"Keturunan terakhir. Aku diselamatkan oleh Nyonya Regina Oliviera dan begitu juga hutanku. Beberapa suku yang sempat bersembunyi bisa hidup dengan tenang di hutan yang juga rumah kami..." senyum pria berwajah dingin itu.
"Berapa lama kamu bekerja dengan mereka?" tanya Naolin.
"Sejak aku berusia 12 tahun. Aku diangkat anak oleh mereka apalagi waktu itu nona Iris masih berusia dua tahun, jadi aku seperti pengawalnya. Aku disekolahkan, diberikan pendidikan etika, lalu aku bekerja dengan mereka. Total hampir dua puluh tahun bersama mereka karena usiaku sekarang mau 32 tahun."
Naolin termenung mendengar cerita Lucio.
"Jangan melanggar kepercayaan mereka, Naolin. Kamu sudah berjanji untuk tidak membuat keonaran."
***
Lucio mengajak Naolin untuk tidur di paviliun khusus para pegawai dan pengawal. Naolin melihat bahwa mereka semua mendapatkan fasilitas yang sangat baik hingga mereka betah.
***
Keesokan Harinya
"Jadi Kefka kembali ke markas kartel?" tanya Eduardo saat melakukan pertemuan dengan anak buahnya yang dia kirim untuk mengikuti Kefka.
"Yes Sir. Menurut informasi, dia akan mengirimkan orang lebih banyak lagi ke Turin karena masih ada Signor Mancini yang belum tewas. Salah seorang anggota kartel merasa muak dengan vendetta Kefka."
Eduardo menatap ke keluarga Turin. "Hancurkan?!"
"Yup. Why not!" jawab Alessandro.
"Giordano sudah mengirim pesan. Kapan kita butuhkan drone penghancur, Jang Corp siap. Sekarang drone itu ada di gudang kantor cabang Jang Corp disini" ucap Bayu sambil membaca pesan ponselnya.
"Oom Bayu, serius tuh Oom Gio?" tanya Hyde.
"Memang kapan Oom Gio nggak serius?" cengir Bayu.
__ADS_1
"Kita berangkat mengintai sambil melihat seberapa kuat mereka. Tonio, kamu pergi denganku. Ale, kamu dengan anak-anak. Bayu, kau bersama Lucio dan dua pengawal mu. Jangan terlalu dekat tapi cukup melihat. Nanti biar Lucio memainkan drone nya."
"Apakah markas mereka masih yang dekat taman nasional?" tanya Bayu.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Eduardo.
"Kami pernah Gegeran disini saat membawa Gabriel pulang" senyum Antonio. ( Baca My Bodyguard is My Boyfriend ).
"Aku lupa..." kekeh Eduardo.
"Setidaknya PW-10 aku bisa berguna disini" cengir Bayu.
***
Taman Nasional Dekat Markas Kartel Brazil
Alessandro bersama dengan Hyde dan Vicenzo tampak duduk di kursi taman seolah mengamati burung tapi mereka menggunakan binoculars yang sangat canggih hingga bisa zoom lokasi itu hingga 200x.
"Ada sepuluh penjaga di atas benteng dan ada dua di pintu Utara. Aku tidak melihat yang lain" ucap Alessandro lewat earpiece nya.
"Berdasarkan blue print yang kami dapat dari foto satelit, ada empat pintu. Utara, Timur, Barat dan Selatan. Masing-masing ada dua penjaga memegang machine gun. Dibalik itu masih ada masing-masing empat orang berjaga jika dua orang di tiap pintu tewas. Mereka juga memegang AR-15" lapor Lucio yang melihat dari drone nya.
"Rata-rata mereka memakai AR-15 ya" gumam Vicenzo sambil melihat hasil pantauan drone.
"Harus mematikan dengan silencer agar tidak mencurigakan..." ucap Hyde.
"Yang harus dihabisi dulu adalah sepuluh orang diatas benteng dan itu harus serentak !" ucap Eduardo.
"Di dalam kita tidak tahu ada berapa jumlahnya..." timpal Antonio.
"Kita harus bisa menyusup ke dalam agar tahu dalamnya..." ucap Bayu.
"Bagaimana?"
"Kita pikirkan nanti..."
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1