
Turin Italia, Mansion Mancini 4 jam sebelum penyerbuan ke Kartel Brazil
"Leiaaa..." panggil Dante dengan jalan sedikit dengklang akibat kecelakaan hampir 16 tahun lalu.
"Apa sayang?" jawab istrinya.
"Yang namanya Iris cantik juga ya..."
Leia mendelik. "Kamu berani selingkuh?"
"Eh? Bukan sayang... Ini lho anaknya Eduardo Oliviera... Cocok sama Vic." Dante memperlihatkan foto Iris yang diambil dari body cam Vicenzo saat hendak ke hutan Amazon.
"Terus?"
"Kita jodohkan?" kerling Dante.
"Dengar Inferno, aku tidak mau jodoh-jodohkan anak. Kalau memang Vic suka sama Iris dan Iris suka sama Vic, ya bagus. Tapi biarlah mereka mendapatkan jalannya macam aku sama kamu..." Leia mencium pipi Dante.
"Aku suka gadis ini. Cerdas dan tidak takut laba-laba macam Vicenzo" kekeh Dante.
"Dante, kamu mau ke pabrik?" tanya Leia sambil menyiapkan bekal makan untuk suaminya. Sejak Dante kecelakaan, dia lebih suka jika Leia yang membawakan makan siang dan camilan untuknya. Ada rasa trauma tersendiri saat pergi untuk makan siang karena saat kecelakaan, dia dan Sergio dalam perjalanan untuk makan siang.
"Ya Leia. Aku mau ke pabrik."
"Pakai mobil apa?" tanya Leia sambil memasukkan kotak makan ke dalam tas bekal.
"G-Class saja Leia. Bullet proof juga."
Leia mengangguk karena dirinya lebih aman jika suaminya memakai mobil gagah itu daripada Bugatti Veyron nya.
"Kamu sama Sergio?" tanya Leia.
"Yup. Sama Giovanni juga."
Leia lalu menyiapkan dua tas bekal lagi. "Yang hitam punyamu, yang biru milik Sergio dan Giovanni."
"Kamu masak banyak?" tanya Dante.
"Yup." Leia memberikan tas bekal itu ke Dante.
"Sergio !" panggil Dante. "Bekal makanmu..."
"Sì Signor. Grazie Signora" ucap Sergio sambil menerima tas makanan biru.
"Kalian sudah persiapan?" tanya Leia. "Mengingat kata Bayu ada kemungkinan Kartel akan kemari."
__ADS_1
"Sudah sayang. Aku berangkat dulu" senyum Dante sambil mencium bibir Leia.
Leia hendak mengantarkan Dante tapi suara ponselnya membuat wanita itu masuk. Dante pun keluar bersama Sergio tapi saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba sebuah mobil melintas di depan pagar mansion dan menembakkan peluru dari dalam mobil yang berjalan itu.
Penjaga yang berada di depan pintu pagar tidak siap, menjadi korban dan Dante beserta Sergio langsung bersembunyi dibalik mobil G-Class nya. Setelahnya mobil itu pergi kencang.
"Danttteeee !!!" teriak Leia dari dalam rumah.
"I'm okay, darling ! I'm okay !" teriak Dante dan Leia bisa melihat suaminya berada di balik mobil mewah itu dan dia juga melihat empat penjaga tergeletak bersimbah darah.
Leia langsung menghambur ke suaminya yang terduduk di tanah. "Dios mio... Dios mio..." ucapnya berulang sambil menciumi wajah Dante.
"Jangan bilang ke Vic... Dia bisa ngamuk" pinta Dante. "Bisa berantakan rencana Bayu dan Antonio nanti." Pria itu langsung memeluk istrinya erat dan mencium pelipisnya.
***
Markas Kartel Brazil Present Time
"Bagaimana kita kesana Badut?" tanya Shaun.
"Menyisir tembok. Kita punya kelebihan, ada night vision goggles dan cat yang aku berikan ke para orang-orang itu."
Shohei dan Shaun meninggalkan senapan sniper nya di tower dan hanya membawa Beretta 92 berkapasitas 15 peluru 9mm lengkap dengan peredam. Mereka memakai backpack dan bergegas menuju ruang kerja Manuel Raymundo.
Keduanya memilih lewat jalan belakang melalui dapur. Kegelapan akibat listriknya belum dinyalakan oleh Iris, membuat mereka leluasa.
"Siapa bilang aku kunci rapat?" Shohei menunjuk pintunya tidak tertutup rapat karena diganjal permen karet
"Seriously?" Shaun menatap judes ke Shohei.
"Old trick but effective. Thank you Mission Impossible..." kekeh Shohei sambil masuk ke dalam bersama dengan Shaun.
Mereka mulai menuju meja dan melihat tumpukan berkas. Shaun memang tidak bisa bahasa Portugis tapi membaca semua nama anggota keluarga Italia disana, dia tahu tidak beres. Segera berkas itu dia masukkan ke dalam tas dan Shohei masih mencari berkas lainnya.
"Kamu cari apa?" bisik Shaun.
"Lemari besi. Aku ingin mencari surat tanah keluarga Vega."
"Badut, listrik mati begini, pasti lemari besinya disimpan di tempat tersembunyi."
Namun bukan Shohei yang mudah menyerah dan benar dia menemukan di balik lukisan Degas. Dengan alat canggih nya, dia berhasil membuka lemari besi itu dan mulai mencari surat tanah milik keluarga Vega.
"Bingo ! Aku dapat ! Ayo kita keluar !" bisik Shohei sembari menutup pintu brankas lalu berjalan perlahan untuk menutup pintu ruang kerja Manuel. Shohei memasukkan surat itu ke dalam backpack yang dibawa Shaun.
"Kita lewat mana?"
__ADS_1
"Jendela. Aku dan Lucio tadi lewat sana... "
Shohei dan Shaun keluar dari jendela ruang kerja yang terletak di lantai satu. Perlahan Shohei menutup jendelanya kembali seolah tidak ada apapun.
Suara ramai - ramai lampu senter ponsel dan senter biasa mulai terlihat masuk ke dalam rumah itu.
"Ayo !" Keduanya naik ke tangga arah tower utara dan mulai menyusuri dengan cepat menuju tower barat. Sesampainya disana, Shohei mengalungkan M92 nya dan keduanya turun melalui tali tambang.
"Dimana motornya?" tanya Shohei sambil berlari masuk hutan bersama Shaun.
"Sebelah sini !" jawab Shaun yang memang datang dengan motor Vins Duecinquanta yang tidak berisik bersama dengan Lucio tadi.
Vins Duecinquanta
"Kunci motornya nempel plus helm. Ayo pulang !" ajak Shaun sembari memakai helmnya dan memasang GPS dari kaca helm.
Kedua pengawal itu pun bergegas meninggalkan markas kartel Brazil itu.
***
Sementara itu...
Range Rover milik Eduardo mengejar Range Rover Kefka. Alessandro yang menyetir dengan kecepatan tinggi hanya menoleh saat Antonio mempersiapkan AR-15 nya.
"Kamu habisi sekarang?" tanya Alessandro dengan bahasa Italia.
"Sì. Aku tidak mau dia kembali ke Turin! Salip Ale !" perintah Antonio.
Alessandro pun mengambil sisi kiri mobil Kefka dan Antonio membuka jendelanya lalu langsung dirinya menembakkan peluru dari senapan semi otomatis nya ke mobil Kefka hingga akhirnya kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan hingga terpental. Mobil mewah itu berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di depan mobil Alessandro.
Pria bertattoo banyak itu menghentikan mobilnya lalu keluar dengan menodongkan SIG nya sedangkan Antonio masih memegang AR-15 nya. Keduanya menghampiri mobil Kefka yang sudah terbalik dan melihat melalui kaca mobil yang pecah tampak tubuh Kefka terbalik tapi masih mengenakan sabuk pengaman.
Alessandro bisa melihat sopir dan pengawal Kefka tewas. Keduanya tertegun saat mendengar suara era*Ngan Kefka dan Antonio melongok ke dalam.
"Halo Kefka..." seringai Antonio.
Wajah Kefka yang bersimbah darah tampak terkejut melihat siapa di depannya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂 ( revised 25 08 23 )