
Turin Italia...
Shaun dan Shohei memutuskan untuk pergi ke pondok yang disewa oleh Luke Bianchi dekat dengan kediaman Ferrara. Bersama dengan JJ dan Giovanni, mereka pun menginap di pondok yang jaraknya hanya dipisahkan bukit.
"Lumayan ketat penjagaan nya Badut..." gumam Shaun sambil melihat tanah milik keluarga Ferrara. "Sepertinya Raymundo memilih tinggal disana setelah dia tidak ada tempat berlindung." Keduanya berada di bukit sebelah tanah keluarga Ferrara sambil piknik.
"Kita tidak bisa pasang penyadap disana ya?" Shohei yang juga memakai binoculars yang sama canggihnya yang dipakai Shaun, berusaha mencari celah untuk bisa masuk.
"Ini bukan macam rumah yang kamu panjat dengan soang disana..." sahut Shaun.
"Eh iya ... Ngomong-ngomong soal soang. Itu gimana nasib soang disana ya... Mati nggak ya?" Tiba-tiba Shohei teringat soang yang berhasil menyosor betisnya.
"Diambil Nobu." Suara JJ terdengar di earpiece Shaun dan Shohei.
"Lho kok diambil Nobu?" tanya Shohei. "Mau dimakan?"
"Bukan. Buat jaga di Okutama biar ramai" jawab JJ kalem. "Heads up boys, ada mobil keluar dari gerbang rumah keluarga Ferrara."
"Apakah kamu bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil?" tanya Shaun.
"Kaca mobilnya gelap Shaun-senpai. Aku tidak bisa melihatnya" jawab JJ.
"Biar aku ikuti" usul Giovanni. "Kan aku bawa Vespa aku jadi tidak dicurigai." Pengawal Dante itu memang memilih pergi menggunakan Vespa miliknya agar mudah jika dibutuhkan.
"Hati-hati Gio. Kamu hampir mati kemarin" ucap Shaun.
"Iya. Aku juga punya vendetta sendiri...." jawab Giovanni dingin.
"Aku paham maksud mu ..." Shaun menatap ke arah pondok dan melihat Giovanni memakai helmnya dan naik ke Vespa biru tuanya lalu mengikuti mobil itu.
"Sahabatnya tewas kan kemarin?" tanya Shohei.
"Yup. Gio dan Tomasso dari desa yang sama, datang ke Turin untuk mengadu nasib dan menjadi pengawal Mancini." Shaun kembali mengawasi markas Ferrara. "Tomasso orangnya pendiam tapi sangat bertanggungjawab."
***
Mansion Mancini Turin Italia
"Giovanni mengikuti mobil yang keluar dari rumah Ferrara?" tanya Dante saat mendapatkan laporan dari Shaun. Vicenzo yang mendengar itu tampak tertarik lalu dirinya melirik ke arah Hyde.
"Oke. Kita tunggu hasil stalking Giovanni" ucap Dante. Pria berwajah dingin itu menoleh ke arah Vicenzo dan Hyde. "Kalian mau berjalan - jalan?"
__ADS_1
"Hell yeah ! Aku dan Hyde bosan disini" jawab Vicenzo.
"Bawa mobil Range Rover yang hitam. Itu sudah bullet proof" ucap Leia yang tahu putranya tidak bisa diam.
"Oke Madre." Vicenzo mencium pipi Leia dan Dante lalu mengambil kunci mobil yang dimaksud.
"Oom Dante, Tante Leia, kami pergi dulu" pamit Hyde.
"Hati-hati. Ada Glock di dalam dashboard ya" ucap Dante.
***
"Kita kemana Vic?" tanya Hyde yang sudah di dalam mobil bersama Vicenzo.
"Membuntuti Giovanni. Seperti halnya kita, semua pengawal di keluarga Mancini juga memiliki GPS hanya saja beda line." Vicenzo memencet layar monitor di mobil mewah itu dan menemukan GPS Giovanni.
"Dia kemana Vic?" tanya Hyde bingung.
"Sepertinya ke arah pabrik anggur Ferrara." Vicenzo tampak berpikir. "Bukankah pabrik itu sudah jarang beroperasi..."
"Jarang bukan berarti tidak Vic" sahut Hyde.
"Damn it ! Kita tidak melihat the big picture, Hyde. Pabrik anggur Ferrara adalah pabrik narkoba milik kartel Brazil !! Pantas Manuel Raymundo memilih pergi ke Turin karena dia masih ada pabrik nya disini ! How stupid I am !" Vicenzo memukul setirnya.
"You're right Hyde." Vicenzo melihat Giovanni berjalan lurus melewati pabrik wine itu seolah memang berjalan santai sementara mobil yang diikuti masuk ke dalam pabrik itu.
Vicenzo pun melakukan hal yang sama tapi Hyde menyempatkan memotret dengan kamera ponselnya situasi di dalam pabrik sebelum pintunya tertutup.
"Sepertinya itu Michael Ferrara." Hyde melihat hasil bidikannya. "Tidak ada wajah Manuel Raymundo."
"Kamu ingat kan apa kata Emilio, Carlos dan polisi itu. Menyimpan narkoba dalam botol-botol anggur dan pabrik Ferrara memiliki pabrik botol anggur sendiri. Kamu ingat itu kan Hyde ?" Vicenzo melirik ke arah Hyde.
"Damn it ! Kita terlalu fokus situasi yang luas tapi kita tidak melihat sesuatu yang di depan mata !" Hyde menoleh ke arah Vicenzo. "Coba kamu pikir Vic, kenapa mereka mengirimkan banyak orang ke Tokyo, Sisilia, Dubai dan kemungkinan New York..."
"Mereka memecah konsentrasi kita, sedangkan mereka mempersiapkan untuk menjual narkoba kembali. Meskipun pabrik di Brazil sudah rata dengan tanah, mereka masih memiliki disini !" Vicenzo merasa ngeri sendiri dengan teorinya.
"Kita kembali Vic. Harus segera dibahas bersama semua orang !" ucap Hyde yang membuat Vicenzo menginjak gas mobilnya dalam.
***
Mansion Mancini Turin Italia
__ADS_1
Semua orang menatap dua pria muda itu memberikan hipotesis dan teori setelah merangkai semua kejadian yang membuat mereka seperti diserang di setiap negara.
"New York belum ada pergerakan tapi bukan tidak mungkin mereka segera melakukan tindakan menyerang kita disana..." gumam Alessandro.
"Milan bagaimana, Ale?" tanya Bayu.
"Milan so far aman. New York kita ada dua agen FBI dan aku yakin Gio dan Tante Moon sudah mempersiapkan perlindungan... Benar?" Alessandro menatap Bayu.
"Of course. Dubai juga high alert tapi aku rasa Oom Ayrton dan Oom Direndra sudah mempersiapkan semuanya..."
"So far kita aman" ucap Luke. "Jika teori anakku dan Vicenzo benar, sudah seharusnya kita hentikan sekarang juga ! Aku tidak mau ada peristiwa yang membuat kita semua harus hadapi seperti Deya dan Arsya.."
"Semoga..."
***
Sementara Itu Di Yas Marinas Circuit Abu Dhabi
Radhi Blair sedang melihat layar monitor guna memperhatikan posisi pembalap Ferrari yang menjadi penerusnya. Sebagai salah satu manajer teknik Ferrari, Radhi memang dikenal sangat disiplin dan teliti dalam memperhatikan semua detail termasuk mesin mobil itu sendiri.
Tidak banyak yang tahu jika Radhi adalah seorang sarjan teknik mesin yang berkuliah di sela-sela balapan nya secara online. Pria yang masih gagah itu tampak puas saat anak didiknya bisa bermanuver dengan baik saat pemanasan sebelum babak kualifikasi.
"Bagaimana Mr Blair?" tanya Andre Bianchi, asistennya yang merupakan anggota keluarga Bianchi yang berdomisili di New York.
"Bagus. Aku suka setelan mesinnya yang ini. Lihat bagaimana Max bisa bermanuver dengan smooth seperti itu" tunjuk Radhi di layar. "Sudah bagus mesinnya dan jangan di ganti setelannya."
"Noted Mr Blair." Andre memberitahukan tim lapangan untuk tidak merubah segala sesuatunya.
Radhi berjalan bersama dengan dua teknisi ketika seseorang memanggilnya.
"Radhi Blair..."
Radhi pun berbalik. "Yes?"
DOR !
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️