
Turin, Italia... Rabu Malam
Shohei dan Shaun sudah mengenakan pakaian khusus bersama dengan para pengawal dari Mancini sna dan Bianchi. Mereka semua membawa persenjataan lengkap dan begitu juga dengan semua anggota keluarga Bianchi dan Mancini.
Dante yang akan memimpin penyerbuan di pabrik Ferrara menjelang Kamis Subuh. Semuanya sudah memakai baju hitam-hitam lengkap dengan senjata masing-masing. Raveena pun ikut bergabung bersama dengan putra dan suaminya, membuat Bayu serta Luke tidak bisa melarang karena wanita itu memang jago menembak.
"Apa yakin kita langsung merangsek lewat pintu depan?" tanya Alexis.
"Jadi kamu beli Hummer hanya nabrak gerbang? Kenapa nggak tank sekalian?" omel Antonio ke Dante yang memang baru membeli mobil Hummer lengkap dengan besi di depan untuk menabrak.
"Kalau pakai tank, lama jalannya. Pakai Hummer, baru gaya..." jawab Dante cuek membuat semua iparnya sebal mendengar ucapannya.
Vicenzo hanya bisa menatap ayahnya dingin karena kemarin dia mendengar keributan antara Leia dan Dante gara-gara mobil Hummer itu. Meskipun mobil bekas tapi tetap saja termasuk boros di mata Leia kalau hanya untuk menabrak gerbang.
"Sabar ya Zo. Kadangkala orang tua lebih ajaib daripada kita-kita..." kekeh Hyde sambil menepuk pundak sepupunya.
"Signor Mancini, kami sudah siap" ucap Kepala Polisi Turin.
"Good. Tepat pukul tiga pagi, kita serbu mereka !"
***
Menjelang Pukul Tiga Subuh
Shaun dan Shohei bersama anggota kepolisian lainnya sudah merusak kamera CCTV dengan menjamnya dan menembak nya. Pabrik yang luas itu tampak lengang karena semua orang di sana sedang sibuk menyiapkan kokain. Kelompok yang dibagi menjadi lima grup itu segera naik ke atas tembok pabrik dan berjaga di sana untuk membidik jika terjadi kerusuhan. Suatu keuntungan tersendiri jika bisa membidik melalui tempat tinggi.
Shaun dan Shohei bersama dengan Giovanni dan pengawal lainnya menembak penjaga dengan peluru bius. Setelah banyak dari mereka semua tergelak pingsan, Shaun memberikan kode pada Dante.
"Anda bisa masuk, Signor ..." ucap Shaun melalui earpiece.
Dante bersama dengan Sergio segera tancap gas mobil Hummer nya menabrak pintu gerbang pabrik dengan gas penuh. Tentu saja suara keras di pintu gerbang membuat semua orang yang semula berada dalam pabrik, keluar. Dante dan Sergio segera mencari perlindungan dari balik mobilnya karena orang-orang yang keluar langsung menembakkan senjata apinya.
__ADS_1
Bayu, Antonio dan Alessandro yang membawa Mercedez Benz G-CLASS milik Dante pun masuk dari pintu depan guna membantu Dante yang berlindung dari balik mobil Hummer nya. Ketiga pria itu langsung turun dan membantu menembaki orang-orang kartel dan Ferrara yang keluar dari pabrik.
Kepala polisi Turin memerintahkan mobil-mobil polisi segera masuk ke dalam halaman pabrik dan membuat barikade depan hingga belakang agar tidak ada yang bisa kabur dari pabrik itu.
Shaun dan Shohei bersama dengan para polisi dan pengawal yang berada di atas tembok, memembaki orang-orang yang keluar demi melindungi semua orang yang berusaha masuk ke dalam. Sejujurnya mereka semua tidak tahu ada berapa banyak orang yang berada di dalam pabrik.
"Jika peluru bius kalian habis, tembak dengan peluru tajam tapi jangan sampai terbunuh ! Cukup kepala naganya yang tewas pagi ini !" perintah Shaun ke semua orang yang berada di atas tembok pabrik.
Vicenzo dan Hyde ikut menyerbu melalui pintu belakang yang sudah dibuka oleh JJ dan tiga pengawal lainnya. Ada dua pintu keluar di belakang, pintu timur dan barat. Vicenzo dan Hyde dari pintu timur sedangkan Alano, Raul dan Raveena dari pintu barat.
Keluarga Turin yang menyerbu dari belakang masih menggunakan peluru bius terlebih dahulu hingga semua orang disana pun terkapar akibat efek bius yang dibuat Jang Corp.
"Aku dan Antonio akan masuk ke pabrik !" ucap Dante.
"Aku temani !" ucap Bayu dan Alessandro bersamaan. "Bukan apa-apa, bang. Kamu kan tidak bisa lari cepat sekarang."
"Ayo ! Yang penting Raymundo dan Ferrara bagian aku dan Dante !" balas Antonio.
***
Lengan Raveena tadi sempat terserempet peluru karena terlambat untuk menghindar. Beruntung Raul menarik ibunya hingga tidak terkena luka fatal.
"Luka kecil ini, Zo. Masih berat luka batin, tahu nggak?" balas Raveena cuek membuat Raul melengos.
"Duh mommy, seriously !" keluhnya. Raul sudah terbiasa mendengar ucapan asal ibunya tapi ya tidak di saat yang genting begini.
"Kamu tidak apa-apa, Veena?" tanya Alexis dari earpiece nya.
"Sayang, ini sakit banget. Nanti diobati ya?" rengek Raveena manja ke suaminya.
"Oh astagaaaa..." seru putra dan keponakannya gemas mendengar keuwuan pasangan Accardi itu.
***
__ADS_1
Di Dalam Pabrik...
Kepala Polizia Turin menodongkan pistol bersama dengan para anggota keluarga Bianchi dan Mancini. Kelompok itu diikuti oleh Giovanni dan Sergio bersama dengan para pengawal dan polisi.
Perlahan mereka mulai berpencar memeriksa satu persatu ruangan mencari target mereka. Mereka menembak para pegawai pabrik yang tertinggal dengan peluru bius.
"Apakah kalian melihat target?" tanya Dante.
"Tidak Signor..."
"Shaun ! Kemari !" panggil Dante. "Tunjukkan dimana ruang bawah tanah mereka berada !"
"On it Sir !" jawab Shaun.
"Aku tidak menemukannya, Bang" ucap Bayu yang membawa scanner.
"Shaun yang tahu. Entah bagaimana tapi domba satu itu tahu..." balas Dante.
Tak lama Shaun datang dan mencari lokasi tanah bawah yang dia temukan saat mempelajari pabrik itu melalui blue print lama.
"Shohei, kamu berjaga - jaga dengan JJ. Aku rasa mereka segera kabur melalui terowongan yang kita temukan" ucap Shaun.
Dante dan Antonio terkejut. "Terowongan?"
"Sì Signor... Saya sarankan anda ikut dengan Shohei karena takutnya mereka sudah kabur duluan."
Dante menatap Antonio. "Kita pergi Tomat ! Aku rasa insting Domba benar."
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️