Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
They Messed Up With The Wrong Family ( Revisi )


__ADS_3

Ospedale Regina Margherita Hospital Turin Italia


Samuel dan Blaze keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah. Keduanya bersyukur infeksi yang dialami Savrinadeya bisa dibersihkan dan nyawa wanita ayu itu bisa diselamatkan.


"Bagaimana Bee? Sammy?" tanya Antonio.


"So far prognosis nya bagus. Deya selamat, Tomat. Itu yang jelas" jawab Blaze.


"Apa yang menyebabkan Deya sampai seperti itu?" tanya Dante yang datang bersama Leia setelah Devan menelpon. Alexis dan Raveena akan menyusul bersama Raul dan Alano.


"Ada satu pecahan proyektil peluru yang tidak terlihat saat operasi pertama dan itu yang menyebabkan infeksi, ditambah kondisi fisik Deya drop. Tapi bersyukur, semuanya belum terlambat" jawab Samuel.


Semua anggota keluarga melihat bagaimana Deya didorong keluar dari ruang operasi dan Antonio mengikuti kemana istrinya dibawa.


"Signora Bianchi, Signor Prasetyo. Bisa saya bicara dengan anda berdua?" Kepala rumah sakit mendatangi pasangan suami istri itu dengan wajah penuh amarah.


"Tentu saja" jawab Blaze sambil menatap tajam ke arah pria yang lebih muda darinya. "Ayo, Sammy. Kita adu debat di dalam !" ajak putri Joey Bianchi itu sambil melepaskan pakaian operasinya.


"Aku tidak yakin kepala rumah sakit itu bisa menang debat sama Bee" gumam Leia mengingat sepupunya jauh lebih galak dan judes darinya.


"Kita tunggu keributan di dalam sana" cengir Dante sambil memeluk Leia.


Antonio dan Devan memilih melihat kondisi Savrinadeya yang masih lemah dan pucat pasca operasi mendadak. Kedua pria itu mengucapkan banyak doa untuk wanita yang sama-sama mereka kasihi dan sayangi.


Suara getar ponsel Devan terasa dan pria itu mengangkatnya. "Halo Daddy... Mbak Deya sudah dioperasi mbak Bee dan mas Bebek... Semuanya berjalan lancar... Mbak Deya sudah lebih baik... Iya Daddy... Alano? Masih perjalanan... Iya Daddy... Doanya saja Dad... Nanti saja Daddy kesininya kalau sudah sadar... Iya rencananya memang begitu ... Nanti biar aku koordinasi sama Bang Tomat dan Bang Dante... Bang Tomat? Ini di sebelah aku..." Devan memberikan ponselnya ke Antonio. "Daddy... Ponselmu mati ya bang?"


Antonio menerima ponsel Devan. "Aku sampai lupa nge-charge. Halo Daddy..."


"Tomat, bagaimana Deya ?" tanya Rama dari seberang.


"Masih di ICU, Dad tapi sudah membaik daripada tadi subuh ..." jawab Antonio.


"Infeksi apa Tonio?"


"Ada serpihan proyektil peluru yang belum dikeluarkan karena tidak ditemukan saat operasi pertama ..." Antonio bisa mendengar suara Rama terisak. "Maaf Daddy, aku tidak bisa menjaga Deya..."

__ADS_1


"Bukan salahmu Tomat... Kamu tidak ada disana, Daddy tidak ada disana ... Kabari Daddy jika Deya sudah sadar" ucap Rama.


"Baik Daddy" jawab Antonio patuh.


***


Ruang Kerja Kepala Rumah Sakit Ospedale Regina Margherita Turin


"Saya tidak meragukan kinerja dokter Xavier Del Piero tapi pada saat sepupu saya drop, dokter Del Piero tidak ada di tempat ! Apa saya salah jika saya bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa Savrinadeya ? Apa gunanya sumpah kita sebagai dokter kalau tidaj kita terapkan !" bentak Blaze galak dengan bahasa Italia yang sangat cepat membuat Samuel hanya bisa melongo karena tidak paham.


Intinya Bee buat selamatin Savrinadeya. Batin Samuel yang paham sifat istrinya. Sudah mengenal Blaze dari jaman kuliah, Samuel sudah hapal bagaimana karakteristik Blaze. Bertindak dulu, ribut belakangan.


"Tapi harus ada proses dan prosedur nya..."


"Che cosa ? Finché non aspetti che Deya muoia? Nuovo processo in esecuzione? Dov'è il tuo cervello? ( Apa? Sampai menunggu Deya meninggal ? Baru proses turun ? Kemana otak kamu ? )" balas Blaze galak.


"Dokter Falk, tadi itu memang Desperate Times Call for Desperate Measures ( waktu kami sempit jadi harus dilakukan tindakan nekad )" ucap Samuel untuk menengahi keributan antara istrinya dan Kepala Rumah sakit.


Dokter Falk menatap pria Asia yang wajahnya lebih lembut dari Blaze tapi matanya menyorotkan ketegasan disana.


"Akan tetap kami ulangi jika Deya masih belum membaik ! Capiche ( jelas )?" Mata biru Blaze menatap galak.


***


Markas Mancini


Fazzio Gennaro gemetaran karena selain dia terkena guyur air dingin yang membuatnya hipotermia, tapi juga tatapan dingin ketiga pria muda di hadapannya.


Tidak pernah dia bayangkan, bocah laki-laki yang menatapnya penuh harap agar dirinya bisa menemukan pelaku penabrakan ayahnya, berubah menjadi pria muda yang sadisnya melebihi ayahnya sendiri.


"Apa kamu ingat Signor Gennaro, bagaimana aku, bocah kecil berusia tujuh tahun, meminta padamu untuk mencari orang yang mencelakakan Padre ku dan paman Sergio... " ucap Vicenzo sambil membuka cylinder ( tempat peluru di pistol revolver ) dan mengeluarkan pelurunya lalu mengambil satu, memutar nya dan menodongkan ke Fazzio.


Vicenzo memang menyiapkan pistol itu untuk Russian Roulette.


Rolet Rusia ( Bahasa Rusia: русская рулетка, russkaya ruletka ) adalah permainan gambling yang dapat mematikan di mana seorang pemain menempatkan satu putaran dalam sebuah revolver, memutar silinder, menempatkan moncongnya ke kepala mereka, dan menarik pelatuknya dengan harapan bahwa ruang yang dimuat tidak sejajar dengan mekanisme perkusi primer dan laras , menyebabkan senjata terlepas. ( Sumber Wikipedia )

__ADS_1


Fazzio menatap ngeri saat Vicenzo mengenakan knuckles di buku tangannya. "Signor Mancini..."


Vicenzo menaikkan telunjuknya pertanda dia tidak mau mendengar apapun. "Cukup kamu menjawab semua pertanyaan dariku... atau tidak hanya wajahmu kena permak, tapi katana Hyde Bianchi bisa mengenai dirimu" ucap Vicenzo sambil menunjuk ke arah Hyde yang memperlihatkan katana terselip di pinggangnya. "Kamu tahu, Hyde adalah juara Kendo di Jepang... "


"So, Signor Gennaro... Scegli di parlare o scegli di morire oggi ( anda berbicara atau anda pilih cara untuk mati )?" Mata biru Arsyanendra menatap dingin ke arah Fazzio Gennaro.


"Par... Palare... ( berbicara )" jawab Fazzio gemetaran.


"Bene ( Bagus )! Sekarang jawab, dimana Kefka Guilherme sekarang? Apakah benar dia sudah kembali ke Rio de Janeiro atau masih berada di Italia atau Eropa?" tanya Arsyanendra.


"Your... Highness ... Vostra Altezza il Principe... non lo so ( yang mulia pangeran, saya tidak tahu... )" ucap Fazzio dengan nada gugup.


Vicenzo memutar lagi revolvernya dan menodongkan ke kepala Fazzio.


"I... Itu benar ! Sa... Saya tidak tahu... Di... Dia memang ... Setahu saya... Sudah kembali ke Rio de Janeiro... Jangan tembak saya..." pinta Fazzio.


KLIK !


Fazzio terkejut bukan kepalang saat pelatuknya berbunyi tanpa ada peluru keluar dari moncong senjata api itu. Jantungnya berdebar sangat kencang dan dia merasakan bakalan bisa mengompol lama-lama.


Revolver itu menembak kosong dan Vicenzo tersenyum smirk. "Kamu beruntung... Tapi keberuntungan kamu seperti nya akan cepat habis" ucap putra Dante Mancini dan Leia Bianchi itu sambil memutar lagi cylinder nya.


"Penembak Tante Savrinadeya... Apakah Kefka?" tanya Hdye sambil meletakkan katana diatas meja.


"Iya... Dengar keluarga kalian semua dalam bahaya karena semua masuk daftar pembunuhan kartel Brazil..." ucap Fazzio.


Arsyanendra tersenyum. "They messed up with the wrong family ( mereka menantang keluarga yang salah )."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️ ( revised 25 08 23 )


__ADS_2