Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Lebih Tua


__ADS_3

Harajuku Tokyo Jepang


"Kana Kitajima ya?" senyum Hyde. "Hyde Bianchi."


Kana terkejut. "Kamu anak science Todai kan?"


"Yup. Kenapa? Apakah kamu anak Todai?"


"Berarti kamu senpai aku karena aku anak Todai dari fakultas psikologi..." gumam Kana.


"So, umur kamu berapa?" tanya Hyde yang menilai Kana lebih tua darinya.


"Bianchi-kun, sangat tidak sopan menanyakan umur ke seorang wanita" jawab Kana sambil cemberut. "Tapi karena kamu sudah memberikan panda, bagaimana kamu memberikan aku boneka unicorn itu baru aku jawab."


Hyde tertawa. "Dasar ! Deal !"


Kana tersenyum manis sedangkan Shohei melongo melihat bagaimana Bossnya bisa langsung akrab dengan gadis yang baru dikenalnya.


Kemana beruang kutubnya?


Hyde menembak bebek besi itu sekali lagi dan mendapatkan boneka unicorn yanh diberikan ke Kana. Gadis berkimono biru itu tersenyum lebar mendapatkan boneka incarannya.


"Jadi ?! Berapa usiamu?" tanya Hyde sambil bersedekap.


"Aku 23 tahun, sedang menyelesaikan program profesi psikologi anak dan remaja. Kamu?" Kana menatap Hyde dengan tatapan menyelidik.


"Harusnya aku yang memanggil mu senpai, Kana-san. Aku baru 20 tahun..." jawab Hyde.


"Eeeehhhhh? Hontou ( benarkah )?" seru Kana.


"Yup. Tapi aku sudah lulus Todai dan sekarang belajar bisnis keluarga aku..." Hyde mengambil ponselnya. "Boleh minta nomor ponsel kamu, senpai?"


Kana tertawa. "Bianchi-kun, bagaimana tidak usah memanggilku senpai. Aku terlihat tua..."


Hyde tersenyum. "Baiklah, Kana-san."


Kana mengambil ponselnya dari tas bulat yang dibawanya dan keduanya saling bertukar nomor ponsel dan email.


"Kaaannnaaa !"


Kana dan Hyde menoleh melihat seorang gadis memakai kimono hijau berjalan cepat menghampiri mereka.


"Gomen... Aku tadi ketiduran di kereta jadi terlewat stasiun nya. Sumimasen..." ucap gadis itu sambil mengatur nafasnya. "Eh? Kamu kok bawa boneka banyak?"


"Dikasih Bianchi-kun. Ohya perkenalkan, ini Fumi, sahabat aku di Todai tapi dia sangat ceroboh !" senyum Kana ke Hyde yang membungkuk sopan ke Fumi yang juga melakukan hal sama.


"Hajimemashite ( senang bertemu denganmu )" ucap Hyde dan Fumi bersamaan.

__ADS_1


"Hyde-chan..." panggil Shohei membuat ketiga orang itu menoleh ke pria berpakaian santai itu.


"Oh perkenalkan, ini bayangan aku, Shohei Kawaguchi. Shohei ini teman satu kampus beda fakultas, Kana Kitajima dan Fumi..."


"Fumi Souma."


Shohei membungkuk hormat ke kedua gadis itu. "Hyde-chan, kita harus cari Akito-chan dan Nyunyun-chan."


"Ah aku lupa adikku yang tukang reog itu. Maaf aku harus pergi. Senang bertemu kalian." Hyde dan Shohei berpamitan pergi. Setelahnya Kana dan Fumi saling berpandangan.


"Kana, apa kamu sadar. Pria bernama Hyde itu adalah Yakuza?" Fumi menatap sahabatnya.


Kana melongo. "Eeeehhhhh? Benarkah?"


Fumi menepuk jidatnya. "Kamu tidak tahu?"


"Tapi gayanya tidak macam Yakuza..." gumam Kana.


"Ngomong-ngomong, pengawalnya mukanya lucu ya?" senyum Fumi.


Kana menatap Fumi dengan perasaan sebal. "Kamu itu kalau lihat pria lebih tua saja selalu dibilang lucu ! Nih bantu bawa !" Kana menyerahkan boneka panda itu ke Fumi.


***


"Kana-san menarik ya Hyde-chan..." ucap Shohei ke Hyde yang sedang menghabiskan takoyaki nya.


"Hhhmmm..."


"Hhhmmm..."


"Sayang, lebih tua tiga tahun..."


Hyde berhenti melangkah. "Memang kenapa?" ucapnya dingin ke arah Shohei.


"Tidak apa-apa. Cocok kok?" cengir Shohei. "Yang namanya Fumi manis juga."


"Akemi kamu taruh dimana?" sahut Hyde mengingat pacar Shohei sebelumnya.


"Sudah putus ! Dia sudah menemukan yang lain gara-gara aku tinggal ke Brazil dan Italia. Jadi tidak masalah lah kalau aku ditinggal. Cewek banyak !" kekeh Shohei.


Hyde menggelengkan kepalanya karena tahu asistennya mudah mendapatkan cewek yang dia mau. "Semoga kamu nggak bikin perkara, Badut !"


***


Ruang Konseling di Shibuya Junior High School Tokyo keesokan Harinya


Kana menatap salah satu murid perempuannya yang tampak takut dan cemas karena merasa tidak nyaman. Untuk memenuhi kredit kuliahnya dan persyaratan sebagai psikolog anak dan remaja, Kana harus kerja magang di sebuah sekolah. Shibuya Junior High School lah yang dia pilih menjadi tempatnya magang selama setahun ini sebagai konselor yang diperbantukan Bimbingan Konseling.

__ADS_1


"Haru, kamu cerita saja. Sensei akan mendengarkan tanpa menghakimi. Ada apa?" tanya Kana lembut.


"Sensei... Jika seorang guru pria memegang tangan muridnya... Etis tidak?" tanya Haru dengan wajah panik.


"Pegang tangan yang bagaimana dulu?" Dalam hati, kana sudah mendapatkan red flag ( pertanda ) bahwa tidak beres.


"Sensei, kan sensei tahu tangan aku suka basah karena aku memiliki kelenjar keringat yang over. Lalu Ippei-sensei, wali kelas aku, menghampiri dan bertanya kenapa aku menulis dengan dilapisi tissue. Aku mengatakan apa adanya dan Ippei-sensei memegang tanganku... Bukan pegang macam begini..." Haru menirukan menegang tangan sopan ke tangan Kana. "Tapi seperti ini... Sedikit mengelus..." Hana memeragakan saat tangannya dipegang.


Kana tersentak karena itu pegangan macam seorang pria tertarik dengan seorang wanita. Apakah Ippei-senpai calon pedofil?


"Itu sudah tidak benar, Haru. Karena tidak pantas seorang guru melakukan hal seperti itu. Ini sudah berlangsung berapa lama?" tanya Kana.


"Sudah dua Minggu ini, sensei. Saya sampai harus menghindari Ippei-sensei. Dia... Agak genit..." ucap Haru dengan menunduk.


"Kelas kamu kan ada CCTV?"


"Ada Sensei."


"Biar nanti Sensei melihat sendiri bagaimana Ippei-sensei berperilaku. Apakah dengan kamu saja atau juga ke siswa yang lain. Sebab, itu sudah tidak benar !" ucap Kana geram. Gadis itu tahu kalau Haru adalah siswi cerdas dan pendiam, bukan tukang berbuat ulah. Haru hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bekerja sebagai cleaning service sedangkan ayahnya sudah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.


"Sensei, tidak percaya pada saya?" Mata hitam Haru menatap sedih ke Kana.


Kana memegang tangan Haru. "Bukan Sensei tidak percaya, tapi jika ada bukti otentik, Sensei bisa laporkan pasal pelecehan. Karena Haru-chan, pria itu bisa berkelit macam-macam jadi Sensei harus mencari bukti dan saksi semuanya jika kita hendak melapor. Paham ya Haru-chan?"


Haru mengangguk. "Saya kira sensei tidak percaya ..."


"Haru-chan, Sensei bisa menilai kamu berbohong atau tidak. Dan kamu bukan aktris yang bisa berakting supaya dapat Oscar bukan? Sensei percaya padamu, tapi jaman sekarang semuanya harus ada bukti. Bisa dimengerti ya?" Kana memberikan senyuman manisnya.


"Terimakasih Sensei. Saya senang bisa bercerita dengan Sensei karena tidak mau membebani pikiran okasan yang sudah lelah bekerja." Haru berdiri dan membungkuk hormat ke Kana.


"Jika kamu ada masalah, kamu bisa bercerita pada saya" ucap Kana.


"Haik, Sensei."


Sepeninggal Haru, Kana lalu berjalan menuju ruang monitor. Hatinya merasa kesal mendengar siswinya mendapatkan pelecehan.


Awas guru brengseeekkk itu jika terbukti ! Tidak akan aku maafkan ! Bakalan aku hajar dia di lapangan basket !


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


FYI, usai gegeran, kita ke cerita yang bikin diabetes dan ngakak yaaa


__ADS_2