Mafia and Yakuza Brothers

Mafia and Yakuza Brothers
Mau Pilih Yang Mana?


__ADS_3

Ospedale Regina Margherita Hospital Ruang ICU, Turin Italia Malam Hari


Antonio menatap wajah pucat Savrinadeya yang masih terpejam dengan perasaan sendu. Semua hal yang dia lalui bersama Savrinadeya bermunculan di ingatannya seperti sebuah film. Saat pertama kalinya melihat Savrinadeya di usianya 15 tahun, bagaimana dia mengejar hingga ke Gallaudet University, ribut dengan Rama McCloud dan Devan McCloud, berusaha mendapatkan sekutu dari Astuti McCloud dan Bayu O'Grady...


Antonio tersenyum tipis saat diultimatum oleh Rama harus menunggu lima tahun baru boleh menikah dengan Savrinadeya dan sekarang hampir 18 tahun bersama, Antonio sangat berbahagia menikah bersama Deya. Bagi Antonio, lima tahun menunggu sangatlah worth it dengan kehidupan pernikahan nya.


Dan kini, wanita yang sangat ia cintai dan sayangi, harus terbaring lemah tanpa bisa dia menyentuhnya. Antonio sangat-sangat down mentalnya saat ini meskipun bersyukur Savrinadeya selamat dan kemungkinan besar bisa sembuh tapi menunggu istrinya terbangun adalah hal yang paling dia nantikan.


"Bang Tomat... " sebuah suara membuat Antonio berbalik dan melihat Devan datang bersama Samuel dan Blaze. Antonio memeluk adik iparnya yang nyaris tidak pernah akur tapi menyayangi dengan caranya sendiri. Keduanya tampak menangisi wanita yang sama-sama mereka sayangi.


"Bagaimana Deya?" tanya Samuel Prasetyo.


"Masih seperti itu, Sam. Sama seperti tiga hari lalu" jawab Antonio sambil terisak.


"Alano dimana?" tanya Blaze Bianchi.


"Alano menginap di rumah Alexis. Raul yang meminta agar Al disana. Anak itu benar-benar shock mendengar ibunya terluka..."


"Setidaknya Al ada temannya" ucap Blaze sambil menuju meja perawat dan bertanya tentang kondisi sepupunya.


"Kamu kapan terakhir tidur?" tanya Samuel.


"Entah... Aku tidak ingat" jawab Antonio.


"Tidurlah dulu, Tomat. Kamu tampak berantakan dan aku yakin jika Deya bangun, hal pertama yang bakalan dia bilang 'Suamiku, kamu jelek sekali' ... Yakin deh !" cengir Samuel.


Antonio tersenyum. "Yeah, itu kalimat kesukaan Deya kalau aku tidak rapi..."


Devan menepuk bahu iparnya. "Tidurlah dulu bang Tomat. Pulang, istirahat. Nanti kamu jatuh sakit."

__ADS_1


"Aku tidur di kursi panjang itu saja, Van." Antonio menunjuk sebuah kursi panjang buat penunggu pasien.


"Pakai jaketku, Tomat" ucap Samuel sambil melepaskan jaketnya dan meninggalkan sweater turtleneck di tubuh dokter bedah itu. "Tidurlah barang sejenak, biar aku, Bee dan Devan yang menunggui Deya."


"Tapi kalian baru datang..." ucap Antonio.


"Sudah, tidur kamu !" bentak Blaze galak karena gemas sepupunya masih sok maju mundur.


Antonio menatap judes ke Blaze. "Galaknya nggak hilang-hilang !"


"Sudah jadi trademark !" balas Blaze.


***


Akhirnya Antonio bisa tidur di kursi panjang meninggalkan ketiga orang yang sedang berdiskusi tentang kondisi Savrinadeya.


"Jadi livernya terserempet peluru dan bahunya terkena peluru. Yang di perut through and through sedangkan di bahu mengenai tulangnya?" ucap Devan.


"Dante sudah menyiapkan rumah singgahnya yang dekat dengan perbatasan Swiss. Jika orang yang mengejar Deya bisa kesana, kita langsung kabur ke Swiss. Tapi moga-moga hal itu tidak sampai terjadi karena hanya kita-kita yang ada disana. Jangan banyak orang." Samuel menatap Blaze dan Devan.


"Yang penting senjata ada. Aku tidak bawa apa-apa dari New York" ucap Devan.


"Semua sudah disiapkan oleh Dante dan Alexis" timpal Samuel.


***


Menjelang pagi hari, keempat orang disana dikejutkan dengan kehebohan para suster dan dokter di ruang ICU. Antonio yang langsung terbangun, berusaha menghampiri namun dicegah oleh seorang suster.


Pria itu pun berteriak histeris karena melihat istrinya tampak sedang ditangani oleh para dokter hingga Devan dan Samuel menariknya. Blaze berhasil masuk dan melihat kondisi sepupunya. Tampak terjadi komplikasi di hasil operasi bahu Savrinadeya membuat wanita itu mengalami drop akibat infeksi.

__ADS_1


Hari itu juga tanpa memperdulikan prosedur birokasi, Blaze dan Samuel bertindak di ruang operasi untuk menghilangkan infeksi pada bahu Savrinadeya pasca operasi sebelumnya. Dua dokter bedah yang diakui kemampuannya, bekerja keras di dalam ruang operasi.


Antonio hanya bisa memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta dan kedua sepupu serta iparnya.


***


Markas Mancini


Arsyanendra duduk dengan posisi kursi dibalik menatap Fazzio Gennaro yang diikat di kursi. Di belakang Arsyanendra, berdiri Vicenzo Mancini dan Hyde Bianchi dengan wajah dingin.


"Bangunkan dia" perintah Arsyanendra ke Shohei yang sudah siap dengan ember air bercampur es batu.


BYUURRR !


Fazzio gelagapan ketika merasakan air dingin membasahi tubuhnya dan matanya mengerjap-ngerjap untuk fokus ke arah tiga orang yang berada di hadapannya. Wajahnya memucat ketika sadar siapa saja yang di seberang meja.


"Pa...pangeran Arsya?! Signor Mancini? ... Dan..."


"Hyde Bianchi. Akhirnya kita bertemu, Signor Gennaro. Oh, ada yang ingin menghajar mu... Karena kamu membuat ayahnya dan asistennya nyaris tewas" cengir Hyde.


Vicenzo meletakkan pisau, knuckle dan revolver. "Anda memilih yang mana?! Sayatan, permak wajah atau Russian Roulette?" seringai Vicenzo yang membuat Fazzio Gennaro memucat.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2