
Megan berjalan menyusuri koridor sebuah mansion yang teramat besar di pandangannya.Matanya melirik sekeliling dengan pandangannya yang tertuju pada barang barang disekitarnya.Sudah sekitar dua tahun lebih ia tidak menginjakan kakinya di mansion ini.Tetapi suasananya masih sama seperti dulu.Dinding berwarna abu abu terang karena masih tampak baru,lukisan lukisan abstrak yang tertempel di dinding,dan beberapa souvenir lainnya yang tersimpan dibeberapa bagian ruangan.Baik tempat dan penataannya,tidak ada yang berubah sedikit pun.Yang berubah hanyalah,orang orang yang berada disini.Semuannya tampak baru. Bahkan Megan sendiri tidak begitu hapal dengan orang orang yang ia lewati sejak memasuki mansion ini.Tetapi,mereka mengetahui siapa Megan.
Megan menaiki puluhan anak tangga yang menuju kelantai dua.Lantai tempat dimana seseorang sedang menunggu kedatangannya diruangan ruangan yang ada disana.
"Ada dimana dia?".Tanya Megan sesampainya dilantai atas pada pria berotot bertubuh tinggi di depannya.Sudah pasti,Megan tidak mengetahui siapa nama orang itu.
"Ruang kerjanya".Ujarnya tanpa menggerakan sedikit pun bagian tubuhnya.Hanya mulutnya sajalah yang bergerak.
Merasa mengerti,Megan melanjutkan langkahnya.Berbelok ke arah kanan dan berhenti di depan pintu berwarna hitam pekat yang didepannya terhias sebuah taring harimau.Megan menghentak hentakan tangannya di depan pintu.Menghasilkan nada nada senada dari ketukannya itu. Ia segera menghentikan aktivitasnya setelah sebuah suara memerintahkannya untuk masuk.Megan mendorong knop pintu setelah ia putar terlebih dahulu.
Seusai tubuhnya benar benar sudah di dalam ruangan,keheningan pun menyelimuti keduannya.Seorang pria duduk di kursi kebesarannya.Duduk dengan membelakangi tubuh Megan sambil menghentak hentakan jari telunjuknya di samping kursinya.
"Terlambat dua belas detik".Ucap suara berat itu.Sedangkan Megan hanya menanggapinya dengan santai.
"Apakah kau tahu,keterlambatanmu itu bisa membuat nyawa orang melayang?".Ujarnya masih dengan nada mengintropeksi.
"Maaf".Kata itulah yang keluar dari bibir seksi Megan.Sedangkan pria disebrangnya langsung diam.Dengan satu gerakan,pria itupun membalikkan tubuhnya dengan memutar kursi yang ia duduki.
Pria itu menatap Megan dingin dengan sedikit memicing.Helaan nafas pun terdengar begitu berat dari arahnya.
"Anak ini!"Gumamnya pelan.Ia tak habis fikir,selama ini ia sudah membimbing Megan dengan sangat tegas dan tanpa belas kasihan.Walaupun gadis kecil itu kini telah berubah dan sudah menjadi salah satu orang kepercayaannya,tetapi tetap saja gadis itu mempunyai sisi lembut dalam dirinya.
"Sudahlah lupakan!".Ujarnya dengan pandangan yang masih tertuju pada Megan. Gadis yang ia pungut dari jalanan sekitar lima tahun yang lalu.Bukan tanpa alasan ia memungut bahkan membawa Megan dengan cara paksa,karena sebenarnya pria itu sudah memperhatikan apa saja kegiatan yang selalu Megan lakukan.Dan yang paling utama ia tahu bahwa gadis itu memiliki bakat!
"Ya,ada apa?".Tanya Megan yang mulai mencoba menatap netra hitam pria di depannya.Pria itu benar benar memiliki kharisma yang sangat besar.Rahang kokoh, alis tebal,hidung mancung,tubuh tegap,dan bulu bulu halus yang menyelimuti dagu hingga batas dadanya.Walaupun usiannya yang tidak lagi dibilang muda,pria di depannya ini masih memiliki wajah tampan. Dengan beberapa uban yang terselip oleh rambut coklatnya.
"Aku punya tugas untukmu".Katanya sambil menyenderkan tubuhnya di senderan kursinya.Nada bicaranya pun tampak tenang tetapi menyimpan sebuah teka teki.
"Dan apa itu?".Tanya Megan yang tidak mau berbasa basi lagi.
"Aku ingin kau menemani Delvin dan Anton ke mafia narkoba besok".Ujarnya yang sudah masuk dalam mode serius.
Megan berfikir,secepat itukah?Besok?! Apakah itu sangat penting?!
"Apa tugasku!".Ujar Megan
"Mereka menjual bahan murah dengan
harga yang sangat tinggi.Aku ingin kau memeriksa barang itu terlebih dahulu sebelum membelinya".Jelasnya
"Baiklah,ada lagi?".Sahut Megan memastikan. Senyuman licik pun tercetak disudut bibir pria itu.Dan Megan tahu arti dari senyuman itu. Karena itu bukan senyuman pertanda kebaikan.
__ADS_1
"Kau tahu harus melakukan apa jika barang itu tidak baik,,,,,Nata!".Tanpa memberikan jawaban,Megan langsung membalikkan tubuhnya.Karena pembicaraan dengan bosnya itu sudah selesai.Ia menarik knop pintu,sebelum benar benar keluar iapun menyunggingkan senyumannya.
"Tentu saja!".Seringainya dan lekas berjalan keluar.Dalam perjalanannya itu,hanya ada satu kalimat yang terus memenuhi isi kepalanya,seseorang akan mati besok!
"Anton,sedang dimana kau sekarang?". Tanya Megan didalam sambungannya.
"Ohh,,,hai baby.Saat ini aku sedang berada diapartemen ku".Balasnya dengan nada menggoda.Megan pun berdecak sebal akan hal itu.
"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.Aku benar benar sangat muak!".Decak Megan
"Baiklah maafkan aku,lagipula aku hanya bercanda".Cengirnya."Dan ada perlu apa kau menelfonku?".Sambungnya
"Besok kita kumpul di tempat biasa.Ada misi yang harus kita kerjakan".Kata Megan yang langsung dimengerti oleh orang yang berada disebrang sana.Dari nada dingin yang terucap dari mulut Megan saja,ia sudah tahu itu perintah dari siapa.
"Baiklah!".Megan langsung saja memutuskan sambungan itu secara sepihak.Dan memulai perjalanannya kembali.Membelah jalanan Kota New York yang malah semakin ramai di waktu yang mulai menjelang senja.
>>>>>>>
'Praangggg,,,!!'
**Suara pecahan beling beling itupun terdengar nyaring di dalam ruangan.Sedangkan seorang gadis yang berdiri di setumpuk pecahan itu hanya bisa menatap sendu pada gadis yang berdiri tak jauh disampingnya.Gadis itu tersenyum penuh kemenangan tak mempedulikan gadis yang tengah bergetar hebat.
"Apakah kau tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar hah?!!".Teriaknya lagi.Wanita itupun berjalan mendekat ke arah Mega dengan penuh amarah.
Sesampainya berdiri di depan Mega, tangannya pun ia layangkan keudara dan langsung menjewer telinga Mega.Masih dengan amarahnya,wanita itu menyeret Mega kecil ke arah gudang.
"Malam ini,kau tidur disini dan tidak akan ikut makan malam dengan kami!".Ujarnya masih dengan jewerannya.
"T--Tapi M--Mah bu--bukan Mega yang pecahin vas itu".Rengeknya sambil menahan rasa nyeri yang menjalar ditelinganya yang sudah berwarna merah itu.
"Kamu mau nuduh orang lain hah?Jelas jelas kamu yang ada disitu!".Mega pun tak berani bersuara lagi.Sekeras apapun dirinya menjelaskan,Mamahnya itu tidak akan percaya.Karena yang memecahkan vas itu adalah kembarannya sendiri,Melan.
Dengan kasar,Mamahnya itu mendorong tubuh Mega dengan sangat keras hingga membuat tubuh Mega membentur sebuah meja usang.Entah kenapa saat itu ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga dahinya membentur meja dengan cukup keras.Sampai sampai,sebuah cairan kental berwarna merah pun keluar dari dahinya.Gadis itu meringis sambil menahan sakit.Mencoba menatap sekitar yang mulai tampak kabur di penglihatannya.Sebelum matanya benar benar tertutup rapat,ia bisa melihat jelas bahwa saat itu Melan sedang menatapnya penuh kemenangan*!
Megan terbangun dari mimpi buruknya dengan nafas terengah engah.Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya yang saat itu terbalut piyama.Detak jantungnya bergerak tak beraturan dengan kerjapan mata yang terus ia lakukan.Lagi dan lagi,mimpi buruknya itu terus saja datang dan menghantuinya. Megan mencoba menenangkan dirinya, menatap sekitar yang terlihat sunyi.Matanya pun terhenti pada jarum jam yang menunjukan pukul 1.45 pagi.
Ia menyadari bahwa baru beberapa jam ia tertidur lelap.Dan sekarang sudah dibangunkan oleh mimpi sial itu!Merasa tidak tenang,Megan bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju walk in closet tangannya mencari cari pakaian yang ingin ia kenakan saat itu.Seusai memakai trop cop dan celana olahraganya,iapun berjalan menuju pintu keluar.Dengan tangannya yang masih bergerak mengikat menjadi satu rambut panjangnya.Setidaknya ia bisa menenangkan pikirannya itu dengan cara berlari.Sebut saja ia gila karena berlari di jam seperti ini.Tapi itulah kebiasaan Megan jika mimpi buruk itu datang.Ia akan melakukan kegiatan yang bisa membuat tubuhnya lelah dan itu semua bisa membuat pikirannya lebih tenang.
Nafas Megan mulai terengah engah karena sudah berlari selama empat puluh menit dengan kecepatan yang tidak biasa tetapi hal itu masih saja tidak bisa melupakan masa lalu yang terus mengiang dikepalanya.Megan mengubah posisi larinya menjadi joging. Menyusuri jalanan sepi yang tidak ada satupun orang melaluinya.Mungkin mereka masih terlelap dalam tidur panjangnya.
Sudah banyak langkah kaki Megan kerahkan untuk menyusuri gang sepi yang hanya diterangi oleh satu lampu itu.Sangat sepi, bahkan tidak ada suara sedikit pun disana. Hanya angin yang menerpa wajahnya. Keadaan ini mengingatkan dirinya pada kejadian masa lalu yang membuat dirinya berubah seperti saat ini.Apakah ada seseorang yang akan datang?Pikir Megan disela sela aktivitasnya.
__ADS_1
"Kau tahu,tidak baik gadis sepertimu berada disini".Ucap sebuah suara yang langsung menghentikan langkah Megan.
"Khusus untuk diriku".Balas Megan sambil menyipitkan kedua matanya.Berusaha mencari cari darimanakah asal suara itu berasal.Megan pun mulai mengaktifkan mode pertarungannya.
Megan segera membalikan tubuhnya saat mendengar derapan langkah kaki seseorang dari arah belakang.Laki laki itu melangkahkan kakinya dengan mantap ke arah Megan.Terus berjalan hingga seorang lelaki bertubuh tegap itupun berada tepat di depan Megan.
Dilihat dari tingginya,mungkin tubuh Megan hanya akan sebatas dagunya saja.Rambut pria itu terlihat sangat acak acakan dengan warna coklat terang yang hampir mendominasi.Celana jeans hitam,sepatu kets putih dan kaos oblong yang berwarna senada dengan sepatunya menambah kesan keren pada dirinya.Matanya yang berwarna kecoklatan memantulkan cahaya jalanan. Hidungnya yang lurus dan rahangnya membuatnya terlihat,,,,sangat seksi di penglihatan Megan.
Entah darimana pikiran itu datang dalam pikirannya.Megan pun menggeleng gelengkan kepalanya berusaha mengusir jauh jauh pikirannya itu.Tetapi satu hal yang membuat pandangan Megan terpaku.Ia bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa lelaki itu memiliki kesedihan yang sangat dalam dan rasa sakit yang tidak bisa ia sembunyikan!
"Ternyata kau ada disini,Kawan?!".Megan ditarik keluar dari pikirannya saat ia mendengar suara lain di belakang lelaki didepannya itu.Megan mencari sumber suara itu dan matanya tertuju pada tiga bocah remaja yang berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan lelaki yang pertama.
"Waahhh!!".Lelaki bertubuh paling kecil dan berambut pirang itupun berseru saat pandangannya tertuju pada Megan.
"Kau berencana menyimpannya untuk dirimu sendiri?".Anak pemilik rambut pirang kecoklatan itu bertanya.
Megan menatap jengah pada para lelaki didepannya itu.Iapun memutar matanya dan mulai melangkah mundur.Tetapi sayang, gerakan kecilnya itu diketahui oleh lelaki yang memiliki rambut paling gelap diantara mereka.Iapun berkata dengan nada yang sangat menjengkelkan bagi Megan.
"Sejak kapan kalian mengerti tentang bisnis seperti itu?".Ujarnya
"Tenanglah kita melakukannya hanya untuk bersenang senang".Balas lelaki berambut pirang.Keriganya terus saja beradu ucapan yang tiada hentinya.Seperti seorang idiot yang sedang memperebutkan barang yang mereka anggap berharga.Mereka benar benar terlarut dalam pembicaraan hingga akhirnya mereka benar benar lupa bahwa Megan yang sedari tadi berdiri di depan mereka sudah berlari menjauh.
"Sial!".Decak Megan saat mendengar suara orang yang mengejarnya.Langkahnya pun terhenti saat sebuah tangan menariknya dengan kasar.Langsung saja tubuh Megan segera berbalik dan hampir menabrak dada bidang lelaki didepannya jika saja dirinya tidak mengahalanginya dengan tangannya.
"Mau lari kemana,nona?".Godanya dengan nada mengejek.Lelaki itupun melonggarkan cengkramannya dan mundur selangkah. Kedua temannya pun mulai membentuk sebuah lingkaran sehingga membuat tubuh Megan lah yang berada ditengah tengah mereka.
"Kalian akan menyesali semua ini!".Sahut Megan tetapi hanya diberi balasan dengan tawaan mereka.Megan pun sudah menyadari bahwa para lelaki itu sedang berada dalam keadaan mabuk!
"Benarkah?Tapi aku sama sekali tidak takut denganmu nona".Ledek lelaki berambut hitam.Ia terlihat berjalan mendekat ke arah Megan dengan santai.Tanpa aba aba,Megan langsung saja melayangkan tinjunya hingga membuat lelaki itu tersungkur diatas aspal yang dingin.
"Shit!".Decaknya sambil memegang perutnya yang terasa nyeri.Lelaki berambut pirang kecoklatan itupun terlihat menyeringai.
Lelaki itu terlihat akan segera menyerang dari arah belakang.Tetapi dengan cepat Megan membalikkan tubuhnya.Megan memblokir gerakan lelaki itu dan langsung menendang tulang keringnya dengan sangat keras. Ditambah dengan pukulan yang ia lemparkan didekat mulutnya.Hingga langsung mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya itu.Megan hendak melayangkan pukulannya itu tetapi kegiatannya terhenti saat sebuah tangan menariknya dengan paksa.
Tubuh Megan sedikit terseret kebelakang. Untunglah ia bisa membalikkan posisinya itu. Megan memutarkan tubuhnya dengan tangan yang masih dalam genggaman lelaki yang memiliki rambut pirang itu.Dengan kasar, Megan menghentakan sikutnya tepat di punggung lelaki itu.Membuat lelaki itu meringis kesakitan ."*****!".Umpatnya.
Merasa tak terima,Megan langsung saja menarik tangannya.Ia melemparkan sebuah pukulan yang lebih keras di perut lawannya itu.Seketika iapun mengerang kesakitan. Baru saja Megan mengangkat kerah lelaki didepannya,aktivitasnya pun terhenti saat netranya terperangkap pada sosok lelaki yang terus memandanginya sedari tadi. Entah ekspresi apa yang ia keluarkan,yang Megan tahu bahwa ia harus menghentikan kegilaannya ini.
Megan pun segera menghentikan aktivitasnya tetapi sebuah cengkraman pun datang dari arah belakang.Menarik rambutnya dengan sangat kasar.Megan langsung saja menendang lelaki yang berani menarik rambutnya itu hingga ia terguling beberapa meter dari tempatnya tadi.
Merasa sudah beres dengan urusannya, Megan melenggang pergi dari tempatnya. Setelah secara bergantian menginjak kaki para lelaki itu.Mata megan menatap geli dengan bibirnya yang berkedut bangga karena berhasil mengalahkan orang yang menyerangnya.Setidaknya,hal ini bisa ia jadikan sebagai pemanasan untuk nanti sebelum ia menjalankan misinya.
__ADS_1