
Setelah mereka sampai di depan monsion Anastasia, mereka langsung disambut oleh Cassandra, Stev dan Adrian beserta dgn mafioso lainnya. Clara langsung dibawa ke ruang pengobatan dan diperiksa oleh Jeffry, Anastasia sendiri pergi kekamar nya dan membersihkan diri. Tdk lama di kamar mandi ia pun keluar dan memakai pakaian nya serta membalut luka ditangannya.
Saat ia keluar dari kamarnya, ia sudah ditunggu oleh Cassandra didepan pintu nya. Mereka pun berjalan kearah ruang perawatan utk melihat Clara dgn Cassandra yg berjalan dibelakang Anastasia.
" Bagaimana keadaan nya? " tanya Anastasia.
" Bibi Clara butuh perawatan utk beberapa hari, luka yg ia dapat cukup banyak. " jawab Cassandra.
" Dimana yg lainnya? "
" Mereka sedang membereskan jarahan dari markas Black Eye dan beberapa beristirahat kekamar mereka. "
Anastasia hanya membalas ucapan Cassandra dgn deheman kecil, ia berpikir apa ia harus memperketat penjagaan kpd setiap anggota keluarga nya. Tapi itu akan membuat mereka terlihat mencolok.
Ia berhenti didepan kemar tempat Clara dirawat, ia menatap ibunya dgn tatapan sendu. Anastasia hanya memperhatikan tubuh lemah Clara dari kaca diluar ruangan itu. Banyak hal yg terjadi selama ini, tapi kejadian kali ini adalah yg terburuk menurutnya, jika ia terlambat menyelamatkan Clara, ia akan kehilangan ibunya selamanya.
Itu membuatnya sedih, mengingat bahwa ia begitu mencari keluarga nya selama ini. Cassandra juga menyadari kesedihan Anastasia, jelas terlihat kalau dia takut jika hal yg lebih buruk kembali terjadi.
" Bagaimana dgn dalangnya? " tanya Anastasia masih memperhatikan Clara.
" Dia sudah kami ikat, kau bisa melakukan apapun kpdnya. " ucap Cassandra.
" Kerja bagus, beristirahat lah. Ini sudah terlalu larut. "
Setelah mengucapkan itu, Anastasia langsung pergi dari sana. Cassandra hanya bisa memandangi punggung Anastasia yg semakin menjauh, ia tdk bisa berbuat apa-apa utk perasaan Anastasia saat ini.
Ketika ia tengah memperhatikan kepergian Anastasia, pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Prensais keluar dari sana dan terkejut karena melihat Cassandra ada disana, Cassandra hanya tersenyum melihat Prensais yg keluar dari sana.
" Cas, kenapa kau tdk masuk? " tanyanya.
" Aku hanya mengantarkan Nana, yah tapi dia malah pergi begitu saja. " ucap Cassandra sambil mengangkat kedua bahunya.
" Benarkah? Sepertinya dia benar-benar tertekan dgn hal ini. "
" Sudah pasti, apa kau akan terus menunggu bibi Clara? "
" Entahlah. "
" Beristirahat lah, Ren. Kau juga membutuhkan itu, jgn sampai Nana melihat mu seperti orang yg lebih tertekan dari pada dia. "
Prensais hanya tertawa kecil mendengar ucapan Cassandra, tapi itu juga benar. Jika dia tdk beristirahat dgn baik, Anastasia pasti akan merasa kalau ini adalah salah nya.
Balik lagi kpd Anastasia... Ia tengah berpikir apa yg harus ia lakukan kpd Ronald Akashia, sudah sangat lama ia ingin membuat pria itu menyesali perbuatannya. Dulu pria itu adalah orang yg paling sering menyiksa nya ketika ia masih tinggal dgn keluarga itu.
Langkah nya terhenti saat melihat pintu kamar Damian sedikit terbuka, ia penasaran dgn apa yg sedang Damian lakukan. Ia pun membuka pintu itu dan mengintip kedalamnya.
__ADS_1
" Kak Ian. " panggil Anastasia.
Damian terlihat sedang membaca sebuah buku dikasurnya, dia bahkan hanya meliriknya sebentar tanpa mengucapkan apapun. Anastasia menjadi kesal karena Damian mengacuhkan nya, apa buku itu terlihat lebih menarik dari pada dirinya. Ia pun masuk kedalam kamar itu dan menghampiri Damian.
" Kak Ian, apa yg kau baca? " tanyanya.
Lagi-lagi Damian tdk menggubris pertanyaan darinya, ia pun mengembangkan pipinya karena kesal. Ia langsung duduk dipangkuan Damian dan memeluk lehernya, sambil menatap nya kesal.
" Kak Ian, kau masih marah? "
Damian masih diam tdk berkata apapun hanya menatap nya.
" Ayolah kak, masalah sudah selesai. Kenapa kau masih marah? Apa kau akan terus mengacuhkan ku seperti ini? " tanya Anastasia semakin kesal.
" Hemm... " jawab Damian.
Anastasia menatapnya tdk percaya, ia sudah bertanya banyak hal tapi jawaban nya hanya itu. Ia pun langsung berdiri dari pangkuan Damian dan menatapnya kesal.
" Terserah kak Ian saja. "
Anastasia hendak pergi karena kesal tapi Damian langsung menarik tangannya, itu membuatnya jatuh keatas kasur itu dan Damian langsung menahannya utk pergi.
Wajah Anastasia seketika memerah, ketika melihat Damian berada didepan.. oh bukan, berasa di atas tubuhnya sambil menatapnya dgn tajam, kedua tanganya pun ditahan oleh Damian.
" Kau hanya mengatakan itu lalu pergi begitu saja? "
" Salah kak Ian mengacuhkan ku. "
Anastasia semakin kesal+malu karena sikap Damian, ia tdk pernah bisa menebak pikiran pria didepannya ini. Damian yg melihat wajah kesal Anastasia merasa sedikit terhibur, apalagi wajah nya yg memerah karena malu membuatnya terlihat lebih lucu.
" Bagaimana kau akan menebusnya? " tanya Damian.
" Apa yg kak Ian mau? " tanya polos Anastasia.
Damian menyeringai melihat wajah polos Anastasia, entah apa gadis itu mengerti dgn apa yg sedang terjadi. Ia juga tdk mengerti dgn gadis yg ia cintai ini, kadang ia terlihat sangat pintar dgn segalanya, tapi kadang ia juga seperti tdk mengerti apapun.
Anastasia masih menunggu apa yg akan Damian katakan, tapi kemudian ia terkejut karena Damian menciumnya secara tiba-tiba. Damian terus me****t bibirnya, tdk lama ia pun mulai mengikuti permainan Damian. Setelah melepaskan ciuman nya, Damian melanjutkan nya keleher Anastasia.
" Akhh... kak Ian. "
Damian terkejut karena Anastasia tiba-tiba saja merasa kesakitan, ia pun langsung manatap Anastasia khawatir.
" Ada apa, Nana? " tanyanya khawatir.
" Kau menekan tangan ku terlalu kuat. " gerutu Anastasia.
__ADS_1
Damian menepuk keningnya karena melupakan tangan Anastasia yg terluka, ia kemudian mendudukkan kembali Anastasia dipangkuan nya dan melihat tangan Anastasia.
" Salahmu karena terluka. " ucap Damian.
" Idih, ko malah di marahin. " ucap Anastasia kesal.
" Iya, memang salahmu. Padahal luka yg sebelum nya belum sembuh, kau sudah melukai tangan mu lagi. "
" Menyebalkan. "
" Apanya? "
" Kau menyebalkan. "
Damian tertawa karena mendengar Anastasia yg terus menggerutu, itu membuatnya ingin mencubit hidungnya karena terlalu lucu saat memperlihatkan ekspresi seperti itu.
" Aww... kak Ian sakit. "
Anastasia melepaskan tangan Damian yg mencubit hidungnya dan mengusap hidungnya karena sakit.
" Haha..Makanya jgn terus menggerutu seperti itu. " ucap Damian.
Anastasia hanya mendengus kesal karena Damian terus saja memperlakukan nya seperti itu jika ia kesal. Ia pun membuang wajahnya karena Damian terus saja mentertawakan nya.
" Ayolah, kenapa sekarang kau yg marah? " tanya Damian.
" Terserah aku. " ucap Anastasia.
" Baiklah, baiklah. Aku tdk akan mentertawakan mu lagi, tapi dgn syarat. "
" Apa? "
Anastasia menjadi antusias karena mendengar Damian tdk akan mentertawakan nya lagu.
" Kau tdk boleh bertarung seperti tadi, kecuali dlm keadaan terdesak. Dan jgn terluka lagi. " ucap Damian.
" Aku tdk janji. " ucap Anastasia memeluk Damian.
" Hei.. "
" Kau kan tahu, kak. Jika kita masuk dunia mafia, kita tdk mungkin selalu baik-baik saja. Bahkan jika tdk pun sama saja." Anastasia memejamkan matanya, menikmati rasa nyaman yg ia dapat ketika memeluk Damian, dan ia pun mulai terlelap.
" Kau benar. Nana? "
Damian bingung karena Anastasia tdk merespon kembali ucapan nya, tapi saat melihat Anastasia yg terlelap sambil memeluk nya ia pun tersenyum. Gadis ini yg selalu membuat nya tdk bisa tenang, tapi ia tdk perlu khawatir lagi karena dia ada disisinya. Tdk lama kemudian Damian pun juga menyusul Anastasia ke alam mimpinya
__ADS_1