
Saat makan malam di kediaman Anastasia, seperti biasa mereka berkumpul bersama di meja makan. Tapi tdk dgn Damian dkk, Prensais dan Sherly, mereka kembali ke kediaman masing-masing utk mempersiapkan keberangkatan mereka.
" Jadi kita benar-benar berangkat besok, Nana?? " tanya Cavita.
" Iya, benar. Kalian sudah mempersiapkan kebutuhan kalian, kan? "
" Tentu. " all.
Anastasia hanya mengangguk mengiyakan ucapan mereka.
" Ngomong-ngomong, Stev sudah disana kan? " tanya Katania.
" Kami memintanya mengurus cabang di sana, sekalian utk persiapan. " sahut Cassandra.
" Aku sudah tdk sabar melihat kejatuhan mereka. " ucap Veronica antusias.
" Hehe... Itu bukan hal baik, kak. " sahut Kriss.
" Sejak kapan mereka peduli suatu hal baik atau buruk?? " tanya Jeffry.
Perkataan itu di sambut gelak tawa dari mereka, seperti kata Jeffry ' mereka tdk peduli suatu hal baik atau buruk, asalkan itu membuat mereka bisa membalas orang yg sudah menyinggung mereka'. Mereka hanya melakukan hal yg mereka inginkan, mereka tdk peduli dgn orang-orang yg membicarakan mereka di belakang. Mereka hanya mengikuti Anastasia yg merupakan penuntutan bagi mereka.
Setelah makan malam mereka selesai, mereka pun kembali ke kamar masing-masing utk tidur.
** Besoknya, Bandara internasional Negara K, Kota C.
Anastasia pergi menggunakan jet pribadi miliknya. Ketika jet itu mendarat mereka langsung di sambut oleh anak buahnya yg ada di negara K, juga Stev. Mereka menunduk ketika melihat Lady mereka turun dari jet itu.
" Selamat datang, Lady. " ucap Stev yg di balas anggukan dari Anastasia.
" Keluarga Akashia dan juga keluarga Manhave, aku kembali. " batin Anastasia.
Mereka pun mendekati mobil yg sudah di sediakan Stev. Dan dgn sigap anak buahnya langsung membuka kan pintu mobil utk nya dan rombongan nya.
( Tiga mobil Limousine yg di sediakan Stev)
" Jalan." ucap Anastasia. Sang supir pun membawa mereka pergi dari bandara.
" Kak Nana, kita mau ke mana?? " tanya Diana yg duduk di sampingnya.
" Pergi melihat tempat kita tinggal. "
__ADS_1
Anastasia mengelus rambut Diana dgn lembut, memperhatikan wajah antusias gadis kecil itu. Diana benar-benar bersemangat karena pergi dgn nya, meskipun dia merasa tdk nyaman berada di negara ini.
Anastasia menghembus nafas lelah, ketika ingatan-ingatan lama yg tdk menyenangkan kembali muncul di Kepala nya. Ingatan tentang bagaimana kerasnya dia hidup di sana, juga siksaan yg ia terima dari keluarga itu.
" Kenapa kita semakin jauh dari pusat, kak?? " tanya Sherly.
" Aku sengaja menghindari mereka, tdk akan menyenangkan kalau mereka mengetahui niat ku sebelum puncak permainan. " jawab Anastasia.
" Lalu kau mau membawa kita ke mana?? " tanya Damian.
" Coba tebak. "
Anastasia mengembangkan senyuman ketika mengingat kemana ia akan pergi, ke tempat yg selalu ia rindukan. Mobil mereka terus melaju di jalanan kota C, membawa mereka ke sebuah per Komplekan yg tdk terlalu mewah, juga tdk terlalu sederhana.
Awalnya mereka berpikir Anastasia menyewa beberapa rumah sederhana di sana, agar penyamaran mereka lebih bagus. Tapi saat mobil berhenti dan mereka turun, mereka disuguhkan dgn rumah mewah yg ada di sana.
" Bukankah ini.... " Damian sengaja menggantung kata - katanya, ia melihat kearah Anastasia yg mengangguk.
" Rumah kakek, butuh waktu lama memang sebelum sampai kembali ke tanganku. " ucap Anastasia.
Ia terus memandangi rumah itu utk waktu yg cukup lama, sedangkan yg lain sedang sibuk memindahkan barang-barang ke dlm rumah. Anastasia mengumpulkan kembali semua kenangan bersama kakek Lin di rumah itu, saat tertawa, menangis dan juga saat kebersamaan mereka.
Ia benar-benar merindukan sosok kakek Lin yg selalu tersenyum dgn lembut ke kpdnya, yg memanjakan nya, dan memberinya banyak kasih sayang dari kecil. ketika sebuah suara membawanya kembali dari lamunan nya.
" Bibi Rin. " panggil Anastasia dgn senyum merekah dan suara yg lembut.
Air mata mengalir dari mata wanita itu, ia menutup mulutnya menggunakan tangannya. Mencegah dirinya berteriak dan menangis sekeras-kerasnya karena bahagia. Rupa dan suara yg selalu ia rindukan dari gadis itu, membuatnya sangat bahagia karena kembali bertemu dgnnya.
" Nana, kau benar-benar Nana. " suaranya terdengar gemetar, dia masih terkejut melihat kehadiran nya.
Anastasia senang karena wanita itu masih mengingat nya dgn baik, ia pun mendekati nya dan langsung memeluk wanita itu.
" Bibi, jgn menangis. " ucap Anastasia lembut, ia mencoba menenangkan wanita yg ia sebut bibi itu, mengusap punggung nya dgn lembut.
" Kau Nana, Nana kecil kami. Andai tuan Lin masih disini, dia pasti sangat bahagia melihat mu. Kau tumbuh menjadi gadis yg sangat cantik. " ucap bibi Rin.
Anastasia melepaskan pelukan nya dan menatap wajah bahagia bibi Rin, Ia juga sangat berharap pria tua yg sangat ia sayangi itu berada di sisinya. Tapi sebagaimana pun ia berharap, semuanya tetep tdk akan bisa kembali seperti dulu.
" Nana. " panggilan itu membuat Anastasia menoleh, ia melihat Damian dan Cavita berjalan mendekati nya. Mereka pun berdiri di sebelah nya.
" Lama tdk bertemu, bibi. Apa kau masih mengingat ku?? " tanya Damian.
__ADS_1
" Ian, kau Ian kan. Astaga akhirnya kau menemui ku lagi. Cavita juga, ya ampun. Akhirnya anak-anak nakal ini kembali bersama. " ucap bibi Rin.
Ia begitu bahagia dan langsung memeluk mereka bertiga secara bersamaan, tertawa dgn sangat senang karena bisa melihat mereka bersama lagi. Bahkan tawa dan apa yg mereka lakukan sampai membuat orang-orang yg ada di sana berhenti dan melihat mereka.
Ketiganya juga senang karena bisa bertemu dgn bibi Rin lagi, tapi mereka tdk menduga akan kembali di peluk seperti dulu lagi.
" Haha... Bibi, tolong berhenti dulu. Kita di perhatian orang-orang. " ucap Damian.
Bibi Rin pun langsung melepaskan mereka ketika sadar mereka memang di perhatian orang-orang yg lewat.
" Astaga, maaf. Bibi hanya terlalu senang. " ucap bibi Rin.
" Sudahlah, ayo masuk dulu. " ucap Anastasia.
Mereka pun membawa bibi Rin mereka masuk utk di perkenalkan dgn yg lain. Mereka juga mengobrol beberapa hal dgn nya. Cavita pun langsung menarik tangan bibi Rin, Anastasia dan Damian pun mengikuti mereka di belakang.
" Hai, hai, Guys. Kita kedatangan tamu istimewa. " ucap Cavita dgn antusias.
" Hemm... Siapa?? " tanya Cassandra.
" Ini dia, namanya nya bibi Rin. Dia adalah pengasuh Nana dulu, kami sangat akrab dgnnya. "
" Halo semua nya. " sapa bibi Rin.
" Halo bibi. " all.
" Anda yg mengasuh, Nana?? " tanya Prensais.
Bibi Rin beralih memandang seorang pria yg baru saja turun dari atas, pria itu tersenyum dgn sangat ramah dan mendekati nya.
" Benar, Nana kecil sangat lucu dia juga sangat baik. " ucap bibi Rin.
" Kalau begitu aku ingin mengucapkan terima kasih, anda sudah menjaga adikku dgn sangat baik. " ucap Prensais.
" Adik?? Ah, apa kau keluarga kandung Nana?? "
" Iya, bibi. Dia kakak kandung ku, namanya Prensais. " ucap Anastasia.
" Dan aku adiknya kak Nana dan kak Ren, namaku Sherly. Halo bibi. " ucap Sherly dgn senyum yg sangat manis.
Bibi Rin pun menyapa mereka dgn sangat ramah, yg lainnya pun ikut memperkenalkan diri dgn baik. Mereka pun mengobrol banyak hal dgn bibi Rin. Ia juga sempat terkejut mendengar Anastasia yg sudah bertunangan dgn Damian. Tapi ia juga ikut senang karena akhirnya mereka tdk akan berpisah, bibi Rin tahu bagaimana Anastasia yg selalu menunggu Damian menjemput nya sedari dulu.
Sama hal nya dgn Anastasia dan Damian, Cavita pun sama dgn mereka. Cavita bukan hanya tinggal dgn Anastasia, dan masuk ke DA bersama dgn Veronica dan yg lainnya. Tapi hubungan nya dgn Jeffry pun semakin dekat, bahkan mereka sudah menjalin hubungan setahun yg lalu.
__ADS_1
Banyak yg berubah di antara mereka, antara kedua belah pihak Anastasia dan Damian. Yg lainnya pun sama dgn mereka, bahkan Katania dan Ryuzan, serta Veronica dan Adrian. Di antara mereka menjalin hubungan seperti Cavita dan Jeffry.
Akhirnya perbincangan mereka terus melebar ke mana-mana, meski begitu akhirnya rumah itu di penuhi dgn gelak tawa mereka. Saat hari semakin petang, bibi Rin pun pamit karena harus pulang. Dan setelah kepulangan bibi Rin mereka pun beristirahat di kamar masing-masing, bahkan mereka semua melewatkan makan malam.