Mafia Girl

Mafia Girl
eps 75


__ADS_3

Detik kemudian ia beralih menatap Jeffry dgn tajam, sedangkan yg ditatap malah senyum-senyum sendiri menahan tawa. Itu juga membuat Cavita bingung dgn apa yg terjadi.


" Apa yg kau katakan kpdnya, Jeffry? " tanya Anastasia masih menatapnya tajam.


Akhirnya Jeffry pun tdk bisa lagi menahan tawanya, ia terbahak-bahak ketika mengingat ekspresi lucu yg diperlihatkan oleh Cavita.


" Hahahaha.... Aku hanya mempermainkan nya dgn kata-kata, tdk ku sangka dia benar-benar terlihat seperti itu. Hahaha... " ucapnya sambil tertawa.


" Kau mempermainkan nya? " tanya Anastasia kesal.


" Haha.. Maaf, maaf. Aku cuma bercanda, kau juga jgn terlalu dipikirkan Cavita. " ucap Jeffry sambil mengedipkan salah satu matanya.


" Ba.. Baik. " jawabnya.


Cavita masih bingung dgn apa yg terjadi sekarang, tapi dia jadi berpikir kalau Anastasia adalah atasan pria yg disebut Jeffry itu. Sedangkan Anastasia masih menatap Jeffry dgn kesal.


" Jadi bagaimana keadaan mu, Cavita? " tanyanya lagi sambil tersenyum dan berjalan mendekati nya.


" Berhenti. " ucap nya.


Anastasia menghentikan langkah nya dan menatap Cavita bingung, ia juga terkejut karena melihatnya mulai menangis dan ketakutan.


" A.. Ada apa? Apa kau merasa sakit? Kalau begitu biarkan Jeffry memeriksa mu. " ucap nya panik.


" Tdk, jgn mendekati. " gumamnya pelan.


Anastasia semakin bingung dgn nya, dia bahkan tdk melihat kearah nya. Dia malah tertunduk dan terus menangis, itu membuat Anastasia semakin tdk mengerti dgn apa maksud nya. Ia pun berusaha mendekati nya kembali.


" Cavita, sebenarnya ada apa? kenapa kau... "


" JGN MENDEKATI KU!! "


Anastasia sangat terkejut dgn apa yg dia ucapkan, ia pun otomatis menghentikan langkah nya lagi dan mundur.


" Ah, aku tdk menyukai ini. " batin Jeffry.


Anastasia bergetar, ia tdk mengerti kenapa temannya tdk ingin ia mendekati nya. Pandangan nya berubah suram, wajahnya juga mulai tertunduk dan berubah sedih.


" Be.. Begitu, maaf Cavita. Seharusnya aku lebih peka dgn itu, maaf. " ucap Anastasia lirih.


Cavita melihat kearahnya ketika mendengar itu, suara yg terdengar sedih dan kecewa itu.


" Aku akan pergi jika kau tdk mau aku mendekati mu lagi. "


" Tdk, Nana. Bu.. Bukan itu maksud ku." ucapnya merasa bersalah.


" Aku pergi dulu, aku akan meminta bibi Mei membawakan makanan utkmu. " ucapnya sambil melangkah pergi dari sana.


" Tdk, tunggu Nana. Dengarkan aku sebenarnya..... Nana!. "


Anastasia tdk mendengar itu ia terus berjalan dan akhirnya keluar dari sana, Cavita semakin menangis ketika Anastasia pergi, dia merasa bersalah kpdnya.


" Maaf Nana, maaf." ucapnya sambil menangis.


Jeffry menatap gadis yg sedang menangis di depannya itu, ia merasa kalau ada sesuatu yg disembunyikan nya. Karena itulah dia meminta Anastasia agar tdk mendekati nya, seperti sedang menjaganya dari sesuatu yg buruk.


" Jadi... Bisa kau jelaskan kenapa kau memintanya menjauh? " tanyanya.


Gadis itu berhenti menangis dan menatapnya, meski begitu air matanya tdk berhenti mengalir. Setelah itu Jeffry pun mendengar kan apa yg dimaksud oleh Cavita.


Anastasia sendiri ia merasa sangat sedih dan kecewa, karena teman masa kecil satu-satunya menjauhinya. Ia benar-benar tdk bisa memaafkan keluarga itu, mereka bukan hanya membuat keluarga nya bersedih kehilangan nya, tapi juga menyakiti orang-orang nya.


Ia pergi ke dapur dan meminta bibi Mei membuatkan makanan utk makan malam dan kemudian meminta Cavita utk bergabung, kemudian ia naik dan masuk ke kamarnya. Anastasia mengganti pakaian nya menjadi gaun, ia kembali keluar dan pergi ke garasi.


Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, ia melajukan mobilnya pergi meninggalkan monsion nya.


Saat waktu makan malam tiba, Cavita berjalan bersama Jeffry menuju meja makan. Ia sudah mengganti pakaian nya karena Jeffry bilang Anastasia yg menyuruhnya, ia pun datang ke sana dan melihat banyak orang disana.


Ia sedikit ragu saat mereka menatap kedatangan nya, ia juga berusaha mundur tapi Jeffry menahan punggung nya.

__ADS_1


" Ah, kau sudah sadar? Bagaimana keadaan mu? " tanya Cassandra yg menghampiri nya.


" A.. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena membiarkan ku tinggal di sini. " ucapnya gugup.


" Kenapa kau gugup begitu, lagi pula monsion ini milik Nana, jadi kau bisa bilang itu padanya nanti. Oh, dan perkenalkan, Nama ku Cassandra. "


" Aku Cavita, senang bertemu dgn mu. "


" Kenapa cara bicara mu kaku sekali? " tanya Veronica yg tiba-tiba ada di samping nya.


Cavita terkejut karena Veronica bisa tiba-tiba ada di sisinya, atau lebih tepat nya dia tdk menyadari kalau dia ada di sana.


" Hai, nama ku Veronica, salam kenal Cavita. " ucapnya lagi dgn tersenyum.


" Sa.. Salam kenal. " ucapnya.


" Jgn terlalu gugup begitu, kemana sikap marah-marah mu dulu? " tanya Damian.


Cavita sedikit bingung katika mendengar suara Damian, ia merasa tdk asing tapi dia juga tdk mengenalinya.


" Siapa kau? Apa kau mengenalku? " tanyanya.


" Kau tdk mengingat ku juga? Padahal saat kau bermain di dekat danau dan jatuh ke dlm lumpur aku yg paling keras menertawakan mu. " Damian tersenyum mengejeknya ketika mengingat itu.


Cavita terkejut mendengar itu, bagaimana dia bisa tahu jika dia pernah jatuh ke lumpur di danau itu adalah rahasia gelapnya. Dan juga mentertawakan nya paling keras seingatnya dia pergi hanya bersama Anastasia dan...


" Kau... Kau Ian?! " ucapnya terkejut setelah ingat.


" Oh, Jadi sekarang ingat? dan lagi namaku itu Damian, loh." ucap Damian masih dgn senyum mengejeknya.


Cavita menjadi kesal karena Damian terus menampilkan senyum menyebalkan itu, padahal ia berharap jika bertemu dgn Anastasia dia tdk akan bertemu dgn nya lagi.


Dia dan Damian memang tdk pernah akur sejak dulu, mereka selalu berlomba utk bisa bermain dgn Anastasia. Meski pada akhirnya Anastasia selalu bermain dgn mereka berdua.


" Padahal aku berharap utk tdk bertemu dgn laki-laki menyebalkan seperti mu lagi. " ucapnya.


" Kau kecoa. " ucap Cavita tdk mau kalah.


Itu adalah pengglan mereka sejak kecil, meski terdengar seperti ejek kan tapi karena itulah mereka akrab meski tdk akur. Panggilan yg mereka berikan kpd Anastasia sendiri adalah laba-laba. Meski begitu bukan berarti Anastasia suka, tapi malah dia sangat ketakutan melihatnya.


Damian dan Cavita saling melemparkan tatapan tajam, entah kenapa yg lainnya merasa jika mereka di dekatkan akan terjadi perang dunia.


" Sepertinya mereka tdk bisa akur. " bisik Jordan kpd Zaroon.


" Kau benar. " sahut Ryuzen.


Cavita mengakhiri tatapan tdk suka nya ketika Cassandra tiba-tiba mendorong nya utk duduk di meja makan.


" Sudahlah jgn bertengkar, lebih baik kita makan." ucapnya sambil mendorong Cavita.


" Eh... Aku tdk.. "


" Sstttt... Jgn menolak, ini perintah Nana. " ucap Katania tersenyum manis kepadanya.


Ia juga ikut menarik tangan Cavita utk duduk di sana, Akhirnya Cavita hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yg mereka inginkan.


Disana dia juga mulai berkenalan dgn yg lainnya, ia jika jadi tahu jika Anastasia yg menumpulkan mereka, dan nasib mereka tdk jauh berbeda. Akhirnya mereka makan malam bersama meski Anastasia belum datang ke sana.


" Dimana Nana? " tanya Cavita.


" Paling lagi tidur, kalau kak Nana mh. " ucap Leo.


" Hemm... Kalau begitu tolong bangunkan dia, Nina. " ucap Stev.


" Baik tuan. "


Nina pun langsung pergi membangunkan Anastasia utk makan malam. Saat ia datang kamarnya tdk tertutup rapat, Nina pun langsung masuk dan mencari Anastasia. Dia mencari ke kamar mandi dan juga ruang kerja biasa yg ada di sana, tapi dia tdk menemukan Anastasia. Nina pun mulai panik dan berlari turun.


" Tuan Stev, Tuan Damian. Nona Anastasia tdk ada di kamarnya. " ucap Nina panik.

__ADS_1


Mereka pun langsung bangkit karena terkejut Anastasia tdk ada.


" Bagaimana mungkin? apa kau sudah mencarinya dgn benar? " tanya Adrian.


" Saya sudah mencari nya ke semua tempat yg biasa nona datangi, tapi dia tdk ada. "


" Bagaimana dgn ruang kerja nya yg itu? " tanya Justic.


" Tdk, aku baru saja ke sana sebelum kesini, dia tdk ada di sana. " ucap Jeffry.


Saat itu Cassandra tiba-tiba saja teringat sesuatu, sesuatu yg penting.


" Vero, periksa mobil merah yg sering dibawa Nana. " ucap nya.


" Baiklah. " jawab Veronica.


Veronica pun langsung berlari utk melihat mobil yg dimaksud Cassandra.


" Stev, suruh orang-orang kita periksa di sekitar monsion. Dan Adrian, periksa seluruh CCTV yg ada di sini. " ucap Cassandra lagi.


" Baik. " ucap Stev dan Adrian, mereka pun langsung pergi.


" Sisanya, periksa seluruh kediaman ini. "


Mereka pun langsung berpencar utk mencari Anastasia di monsion, namun mereka tdk menemukan nya. Saat itu, Veronica pun datang dan memberitahu kan apa yg diminta Cassandra.


" Cass, Mobil merah itu tdk ada. " ucap Veronica.


" Sudah ku duga. " ucapnya.


" Ada apa, kak Sandra. Memangnya kenapa dgn mobil itu? " tanya Kriss.


" Dengar, kita harus segera menyusulnya. "


" Memangnya dia pergi ke mana? " tanya Zaroon.


" Dia pasti pergi ke tempat balapan liar. "


" Apa?!! " all.


Mereka tdk percaya Anastasia akan datang ke tempat seperti itu, dan mereka juga tdk pernah lihat dia pergi malam selain utk penyerangan.


" Cassandra, jgn bercanda!." ucap Damian.


" Damian, ini kebenarannya! " ucap Cassandra


" Ini salahku, harusnya aku tdk bilang begitu kpdnya. " ucap Cavita yg kemudian menangis.


" Apa maksud mu? " tanya Katania.


" Kita bahas nanti saja, lagi pula ini bukan salahmu. Jika kau tdk bicara seperti itu pun, Nana pasti akan pergi. " ucap Jeffry.


" Sekarang apa maksud mu? " tanya Leo.


" Kalian tahu kan apa masalah nya. Keluarga itu. "


Mereka pun mengerti dgn apa yg di ucapkan Jeffry, setelah itu mereka pun teralihkan dgn kedatangan Adrian.


" Bagaimana Adrian, kapan dia pergi? " tanya Cassandra.


" Nona pergi sekitar satu jam yg lalu. " ucapnya.


" Kita harus segera berangkat. Bibi Mei pastikan Sherly dan Violetta tetap disini. " ucapnya.


" Baiklah, pastikan kalian membawa nana kembali ya. " ucap bibi Mei.


" Tentu."


Mereka pun segera pergi utk mencari Anastasia. Karena Sherly dan Violetta masih di kamar dan tdk turun, mereka pun tdk memberi tahu mereka, meski mereka sudah tahu pun.

__ADS_1


__ADS_2