
Malamnya, Anastasia meminta semua temannya berkumpul di ruang kerja nya. Ruangan itu kedap suara, jadi ia tdk terlalu khawatir jika ada yg mendengar pembicaraan mereka. Anastasia berencana utk membagi-bagi tugas mereka.
" 2 Hari lagi, kita akan melakukan balas dandam kpd dua keluarga itu. Dan sekarang aku akan menjelaskan rencana nya. "
" Apa kita akan menghajar seseorang?? " tanya Leo.
" Tdk, tapi kita aku ingin orang-orang kita mengganti setiap keamanan yg ada di sana. "
Mereka hanya mengangguk dan kemudian kembali mendengar kan rencana Anastasia.
" Baiklah mulai dari stasiun tv yg di undang ke sana. Mereka akan menayangkan nya secara live, jadi aku ingin Jordan utk mencegah agar jgn ada yg memutuskan siaran itu. Jeffry dan Stev akan ikut dgn mu. "
" Oke. " Sahut mereka.
" Selanjutnya, kamera mereka. Jgn biarkan mereka mematikan nya, Sherly, Cavita. Bawa beberapa anak buah utk memastikan itu. "
" Baik. " Sherly dan Cavita.
" Leo, kau yg mengurus Penyiaran rekaman CCTV dan bukti yg akan ku tunjuk an di sana, ambil alih kendali layar panggung di sana. Kriss dan Adrian yg akan menjaga mu. "
Dibalas anggukan mereka.
" Justic dan Zaroon, kalian yg pastikan keamanan."
" Siap. " Justic, Zaroon.
" Bagaimana dgn kami?? " tanya Katania.
" Vero dan Katania, kalian bersamaku. Cassandra dgn kak Ren, dan Ryu bersama dgn kak Ian. Utk Vio, Diana dan Lucas. Aku akan meminta bibi Rin menjaga mereka di sini, aku juga akan menempatkan beberapa pengawal. "
Mereka mengangguk setuju dgn keputusan Anastasia, iya mereka tdk mungkin dilibatkan dgn ini. Apalagi Diana dan Lucas, meski sekarang mereka berumur 11 tahun. Mereka tdk perlu ikut campur dlm urusan ini.
" Lalu, aku ingin tahu kenapa aktris itu ikut hancur?? " tanya Veronica.
" Siapa?? " tanya balik Anastasia sambil mengangkat sebelah alisnya.
" Itu, Lady. Yg Vero maksud aktris bernama Lolita. " sahut Stev.
" Ah... Si ja***g itu. Bagaimana iya.... Dia ikut terlibat sih. " ucap Anastasia dgn santai.
Ia terlihat malas utk menerjemahkan maksud 'ikut terlibat' dgn jelas, tapi mereka tetap penasaran.
" Perempuan itu menjebak, Nana. Dia yg memasukkan Nana ke kamar pria tua yg mesum. Tapi akhirnya pria tua itu yg pingsan karena Nana memukul nya dgn sangat keras dan mengikat nya. " jelas Cavita.
Anastasia menjentikkan jarinya dan menunjuk Cavita setelah mendengar penjelasan itu. " Tepat. " katanya.
" Lalu?? Bagaimana nasib pria itu?? " tanya Zaroon.
" Kabur. " Anastasia dan Cavita serempak.
Mendengar itu membuat orang-orang yg ada di sana mentap tdk percaya, bukan karena mereka membiarkan pria itu kabur. Bukakah mereka bisa lapor polisi saja, dan lagi mereka mengatakan itu dgn wajah datar. Biasanya mereka tdk akan melepaskan siapapun yg mencoba mengganggu, lalu kenapa dulu tdk.
" Lalu?? " All.
" Kami berhasil menemukan nya baru-baru ini. " ucap Cavita.
" Dan dia kami lemparan ke laut. " sahut Anastasia.
Mereka pun tos dan kemudian tertawa dgn sangat keras, sedangkan sekarang giliran yg lain yg menunjukkan wajah datar mereka.
" Baiklah, baiklah... Kami serius, jgn menatap kami seperti itu. " ucap Cavita.
__ADS_1
" Jadi artinya, kalian membiarkan nya pergi dulu. Kemudian kembali dan membalasnya, begitu?? " tanya Ryuzan.
Anastasia dan Cavita mengangguk-anggukan kepala sebagai pertanda iya, tapi kemudian ekspresi Anastasia berubah tdk menyenangkan.
" Ngomong-ngomong, siang tadi aku juga melihat penampakan yg tdk ku sukai. " ucapnya.
" Wah, apa itu?? Kapan?? dimana?? " tanya Justic.
" Waktu pergi bersama kak Ian. Masa kak Ian gak lihat sih. " gerutu Anastasia.
" Ah, yg itu. Iya aku juga lihat. " sahut Damian.
Dan itu kembali membuat yg lainnya penasaran setengah hidup.
" Arghh.. Kalian menyebalkan, katakan saja apa yg kalian lihat. " gerutu Vero.
" Tau nih, orang penasaran juga. " sahut Leo ikut kesal.
" Kami melihat Michael. " ucap Damian datar.
" Siapa?? " tanya Adrian.
" Ouh, mantan tunangan kak Nana. " ucap Jordan.
" Mantan tunangan, palamu. Orang aku di kurung terus, mana tau di tunangin. " sahut Anastasia kesal.
" WTF, lah setuju tunangan nya kapan?? " tanya Cassandra.
" Meneketehe, orang kenal aja nggak. "
Anastasia malah kesal sendiri karena pembahasan itu, ia menyesali kenapa dia malah membahas tentang orang itu. Apa lagi ketika melihat mata Vero dan Leo yg berbinar ketika mendapatkan gosip darinya, sedangkan yg lain malah berpikir keras karena jawaban nya tadi.
" Set dah, kenapa ini malah mikirin hal kaya gitu. " batin Anastasia.
Mereka melihat Jeffry dan Kriss sedang..... Main game online.
" Eh, eh. Kriss, tembak noh itu. Ngapa diem aja sih?? " ucap Jeffry.
" Lah, kak Jef sendiri napa malah sembunyi mulu. Gak bantuin pula. " sahut Kriss.
" Iyah, kan lagi cari mangsa yg pas. "
" Mangsa palamu, bantuin napa. "
" Iya, iya. Cerewet amat sih. "
Mereka sangat asik dgn game mereka, sampai-sampai tdk menyadari kalau seisi ruangan menatap mereka datar. Anastasia pun memilih keluar dari sana, dan diikuti yg lainnya saat mereka masih fokus dgn game mereka.
Dan saat mereka tdk mendengar apapun lagi, Jeffry merasa ada yg aneh di sana. Soalnya dia tdk mendengar suara teman-teman nya yg sedang berdiskusi. Dan benar saja, saat ia menoleh ke arah mereka berkumpul tadi di sana sudah kosong melompong.
Ia pun langsung berdiri dari tempatnya dan membuat Kriss kaget.
" Ada apa, kak?? " tanya Kriss yg masih belum menyadari keadaan.
" Lah, kita di tinggalin coba. " gerutu Jeffry.
Kriss pun melihat sekeliling nya dan ia baru sadar, tinggal mereka berdua di ruangan itu.
" Yah, ko mereka tega banget sih. " ucap Kriss.
" Dah ah, yok kita lanjut di ruang TV aja. " ajak Jeffry.
__ADS_1
" Oke. " sahut kriss.
Mereka pun ikut pergi meninggalkan tempat itu dan beralih tempat ke ruang TV.
Di kamar kamar Anastasia memutuskan utk menelpon bibi Rin nya sekarang, ia tdk mau mengganggu nya karena hal mendadak. Karena itu ia memutuskan utk memberitahunya sekarang.
" Halo bibi. "
" Iya ada apa, Nana?? "
" Bibi, apa dua hari lagi bibi sibuk?? "
" Hemm... Tdk juga, bibi tdk punya kegiatan. Kak Gilang mu juga akan pergi bersama dgn istrinya. "
Gilang, anak bibi Mei. Anastasia memanggilnya kakak karena dia lebih tua dari Anastasia. Mereka dekat sejak kecil, karena itu dia juga tahu tentang Cavita dan Damian.
" Kalau bibi tdk keberatan, bisakah bibi menjaga Vio, Diana dan Lucas. Meski Vio sudah besar, aku tetap khawatir jika meninggalkan mereka begitu saja. "
" Oh, tentu. Bibi pasti akan datang, bibi sangat menyukai Diana dan Lucas, mereka anak-anak yg sangat lucu. Vio juga katanya mau menceritakan sesuatu kpd bibi, jadi jika bibi datang dia pasti akan senang. "
" Bagus lah, jika begitu aku minta bantuan bibi, ya. "
" Tentu sayang, bibi dgn senang hati membantumu. Memangnya kau mau ke mana?? "
" Balas dendam, utk penghinaan kpdku. Kesedihan orang tua ku, juga utk kematian kakek. "
Anastasia berubah dingin ketika mengatakan itu, bibi Rin juga bisa merasakan nya. Tapi ia tahu apa yg terjadi kpd Anastasia sehingga tdk terlalu memikirkan nya.
" Tapi bukankah dua hari lagi adalah pesta Stella dan juga Michael?? "
" Aku tahu, karena itu aku akan membuat mereka hancur. Mereka merenggut semua kebahagiaan ku, aku tdk bisa menahannya lagi bibi. Jika terus seperti ini aku..... Aku bisa gila. "
" Nana.... "
Bibi Rin jadi khawatir ketika mendengar itu dari Anastasia, ia pasti sangat membenci keluarga itu. Dia hanya berharap Anastasia tdk akan gegabah di hadapan orang-orang disana, tapi juga khawatir dgn keselamatan nya.
" Bibi Rin, kau akan mendukung ku kan?? "
" Tentu sayang, bibi akan selalu mendukung mu. Hanya saja pastikan kau tdk terluka. "
" Aku tahu, bi. Bibi bisa melihat acara langsung yg akan ku lakukan nantinya. "
" Baiklah sayang, pastikan kau menjaga kesehatan mu juga. Dan ingat.... Jgn sampai terluka. "
" Baik, bibi. Aku tutup dulu. "
Anastasia pun mematikan ponsel nya dan melemparkan nya ke kasur. Ia bangkit dari duduk nya di sisi ranjang dan berjalan menghampiri jendela. Ia termenung sendirian di sana, melihat langit malam yg di penuhi dgn bintang yg kelap kelip.
" Akhirnya, setelah sekian lama aku akan... Aku akan membuat mereka membayar semuanya. Mereka tdk akan ku biarkan bahagia lebih lama lagi, akan ku balas setiap tetes darah yg ku tumpahan di sana dgn lebih menyakitkan. Akan ku buat mereka memohon di bawah kakiku. " batin Anastasia.
Ia membuka jendelanya, membiarkan angin berhembus menerpa wajahnya. Ia menutup matanya menikmati semua ketenangan yg ada di sana, mengingat kembali kata-kata terakhir yg di ucapkan kakek Lin sebelum pergi selamanya.
" *Nana sayang, ingatlah. Kau harus jadi gadis yg kuat, kau harus bisa hidup utk mencari kebahagiaan mu sendiri. Kau masih percaya Ian akan datang menjemput mu kan??
Maka jgn menyerah meski kau mendapatkan hal yg buruk, anggap saja itu cobaan yg harus kau lewati. Selama ini kau sudah menguasai semua beladiri seorang diri, aku tdk menuntut banyak hanya ingin kau bahagia. Suatu hari nanti, kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya. Tapi jgn berkecil hati, jadilah lebih kuat dari sekarng.
Kau harus percaya dgn kemampuan mu sendiri, jgn pedulikan omongan orang lain. Karena, tdk peduli apapun yg kau lakukan, baik itu benar atau salah. Orang lain selalu mencari alasan utk menghakimi mu. Aku percaya padamu, Nanaku sayang*. " Ucapan kakek Lin sebelum tiada.
Ucapan itu terus terngiang di kepala nya, terus ada di sana utk membantunya dgn segala keraguan. Ketika mengingat tubuh lemah pria tua itu di rumah sakit, ketika mendengar suara lemahnya. Hati Anastasia benar-benar terasa sakit, ia belum sempat menghadiahkan kadonya utk ulang tahun kakek Lin.
Setiap mengingat kejadian itu, air mata Anastasia selalu mengalir dgn deras, bahkan saat ini pun begitu. Setiap mengingat senyuman ramah pria itu Anastasia dilanda banyak rasa rindu. Pria tua itu yg merawat nya sejak bayi, dia yg paling Anastasia cintai. Ia selalu melamun saat mengenang kematian kakek Lin bukan tanpa alasan, tapi ia berusaha utk tdk melupakan senyuman terakhir diwajah pria itu, juga belayan lembut tangan itu.
__ADS_1
" Sebentar lagi.... Tinggal sebentar lagi, kek. Aku akan membalas orang-orang yg menyakiti mu, juga yg membuat ku dan orang-orang ku menderita. Setelah itu, kau bisa terus tersenyum seperti dulu kpdku, kan? " batin Anastasia.