
" Dua pilihan, ikut dgn kami secara suka rela atau dgn paksaan. " ucap Cassandra.
Haikal menjadi sedikit terkejut melihat mereka, sekarang situasinya berbeda. Mereka tdk yakin bisa menang melawan orang-orang Anastasia dan Damian, meski jumlah mereka lebih banyak sekali pun, bahkan sekarang dia tdk memiliki Anastasia utk menjadikan nya sandra lagi.
Cavita sendiri yg melihat teman masa kecilnya itu babak belur segera menghampiri nya, ia tdk menyangka akan membuat Anastasia menjadi seperti ini, ia sangat menyesal.
" Laba-laba manis, kenapa kau jadi seperti ini? " tanya nya dgn air mata yg berderai.
Anastasia menatapnya terkejut tapi kemudian tersenyum senang mendengar itu.
" Sudah lama tdk mendengar panggilan menyebalkan itu. " ucapnya.
" Jaga dia selagi kami membereskan sampah itu. " ucap Damian menyerahkan Anastasia.
" Tentu saja. " jawab Cavita.
Ia langsung memeluk Anastasia dgn erat sambil terus menangis, ia tdk bisa melihat nya seperti itu. Jika saja dia tahu kalau keadaan Anastasia tdk stabil mungkin dia akan lebih memperhatikan nya.
" Maaf, Maafkan aku laba-laba manis. " ucap Cavita.
" Utk apa? " tanya Anastasia dgn bingung.
" Utk apa yg aku ucapkan, seharusnya aku lebih memperhatikan mu. "
" Itu bukan salahmu. "
" Biarkan aku melihat luka mu. " ucap Jeffry yg menghampiri mereka sambil membawa kotak obat.
Ia langsung memeriksa nya dan mengobati luka-luka yg diterima Anastasia. Di sisi lainnya, suasana di sana benar-benar tegang. Saat ini bukan Damian dan yg lainnya lah yg di kepung, tapi orang-orang yg mengejar Anastasia lah yg terkepung.
Meski mereka hanya berjumlah 12 orang, tapi mereka tetap orang-orang yg paling di takuti di dunia bawah. Kondisi Haikal dan bawahan nya benar-benar tersudut sekarang, namun ia tdk mungkin menyerah dgn mudah begitu saja.
" Apa pilihan mu? " tanya Cassandra.
" Cih, utk apa aku menyerah kpd kalian. Sekumpulan orang-orang yg hanya bisa menindas orang lain. " ucap Haikal.
" Apa kau bilang?!! " ucap Veronica emosi.
Ia sudah ingin maju dan memukul pria itu, tapi ia di hentikan Cassandra, karena itu ia kembali ke posisi nya.
" Oh, begitu. Bagaimana? Apa perintahMu Damian? " tanya Cassandra kpd Damian.
" Tangkap mereka semua, pastikan tdk ada yg mati sampai di kediaman. " jawabnya dingin.
__ADS_1
" Oke. " sahut yg lain.
Haikal mulai memerintah kan anak buahnya utk menyerang, begitu pula dgn Damian dkk. Pertarungan di sana terbilang cukup sengit, itu karena Haikal dan anak buahnya tdk mudah menyerah begitu saja. Iya meski sudah di ketahui siapa yg akan memenangkan perkelahian itu.
Sekitar 30 menit, akhirnya Haikal dan orang-orang nya tumbang. Damian dkk memenangkan itu tanpa adanya luka serius atau luka senjata, iya mereka cukup baik menghindari semua serangan yg di berikan oleh mereka. Begitu juga dgn Kriss yg ikut dlm perkelahian itu.
" Aku tdk tahu kau bisa bertarung seperti itu. " ucap Leo kpd Kriss.
" Aku cukup lama bekerja di kedai yg melayani orang-orang dunia bawah, tentu saja aku harus bisa melakukan hal itu. " jawab Kriss.
" Benarkah, kau seperti orang yg sudah berlatih sejak kecil. " ucap Jordan pula.
" Iya itu tdk sepenuhnya salah, sih. " jawabnya.
Kriss memang pernah belajar beladiri dan beberapa senjata saat masih kecil, hanya utk jaga-jaga saja. Dulu ayahnya adalah salah satu pemimpin perusahaan yg ada di negara S, tentu banyak orang yg ingin menjatuhkan nya.
Karena itulah ia diajari itu oleh orang tuanya, namun saat itu ia berpikir pasti tdk akan ada yg berani melakukan itu. Karena itulah ia tdk meneruskan latihan nya, namun saat kajadian orang tuanya di bantai kelompok Black Eye dia kembali memulai latihanya.
" Terus, mereka mau di apakan? " tanya Zaroon.
" Bagaimana jika melemparkan mereka ke bawah sana, seperti saat kak Nana melakukan nya. " usul Leo.
" Bawa saja ke markas, kita urus mereka di sana. " usul Veronica.
" Itu ide bagus, kau bisa menyiksa mereka sampai puas Damian. " ucap Ryuzen.
Mereka pun membiarkan Stev yg melakukan nya, dan mereka pulang bersama dgn membawa Anastasia. Saat mereka sampai di monsion lagi, Sherly dan Violetta sudah menunggu mereka dgn cemas. Bahkan Sherly menghubungi Prensais karena Damian dan yg lainnya sangat lama.
Mendengar itu Prensais pun juga menghubungi Ryuzen utk menanyakan hal itu, karena Ryuzen bilang mereka yg akan melakukan nya jadi Prensais hanya pergi ke monsion Anastasia utk menjaga Sherly dan Violetta. Ia juga sengaja tdk memberitahukan nya kpd orang tuanya karena mereka bisa panik jika mendengar itu.
Mereka pun turun dari mobil masing-masing, dan Damian yg menggendong Anastasia ala bridal style, karena Anastasia tertidur selama di perjalanan pulang dan Damian tdk mau membangunkan nya.
" Kak Nana!! " panggil Violetta.
" Sttt.... " ucap Katania sambil menempelkan jari di bibirnya.
Violetta pun langsung menutup mulutnya karena hal itu, mereka yg ada di sana hanya tersenyum karena melihat tingkah Violetta.
" Kak Nana baik-baik saja, kan? " tanya Sherly khawatir.
" Dia baik, hanya terluka karena di kejar beberapa anjing liar. " ucap Veronica.
" Mungkin aku harus mengurung nya agar tdk terluka lagi, ya. " ucap Damian.
__ADS_1
" Jika kau melakukan nya dia akan marah, loh. " ucap Prensais
Ia terkekeh karena mendengar ucapan Damian yg terkesan posesif.
" Dimana bibi Mei? " tanya Cassandra.
" Bibi sedang menemani Lucas dan Diana. " jawab Violetta.
Cassandra hanya mengangguk mengiyakan ucapan Violetta, mereka pun masuk ke dlm utk pergi beristirahat. Mereka harus sekolah besok dan beberapa harus pergi ke kantor.
Damian pun membawa Anastasia ke kamarnya, saat ia membaringkan tubuh Anastasia. Gadis itu terbangun karena merasa dirinya berada di tempat yg berbeda dari mobil.
" Kak Ian. " panggilnya.
" Maaf, apa aku membangunkan mu? " tanya Damian yg duduk di sebelah nya.
Anastasia pun ikut duduk di atas kasur itu dan menggalang kan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Damian.
" Apa tubuhmu sakit? " tanya Damian lagi.
" Sakit. " rengek Anastasia.
Ia pun menarik Anastasia kedalam dekapan nya dan membelai rambutnya dgn sayang.
" Lalu kenapa kau pergi ke tempat itu, bahkan kau tdk bilang kalau kau mau pergi? " tanya Damian.
" Mana ku tahu kalau mereka ada di bar milik Len, aku kan kesana menenangkan pikiran ku. " gerutu Anastasia.
" Hemm... Begitu kah. "
" Kak, aku benci mereka. " ucap Anastasia meneteskan air mata.
Damian yg menyadari itu langsung mengangkat wajah Anastasia dan menatapnya, tentu saja ia melihat Anastasia menangis.
" Mereka membuat Cavita menjauhi ku. " ucapnya lagi dgn air mata yg terus mengalir.
Damian segera mengusap air mata nya dgn lembut, ia tdk suka jika melihat Anastasia menangis, itu membuatnya ikut sedih.
" Hei, kau tahu. Jeffry bilang jika itu bukan keinginan Belalang itu yg sebenarnya, dia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa membawa kesialan kpd orang-orang terdekat nya. " ucap Damian menenangkan.
" Tapi itu salah mereka, mereka yg membuat Cavita menyalahkan dirinya sendiri. Mereka membuatnya menjauhi ku. " ucap Anastasia.
" Aku tahu, kau hanya perlu membuatnya kembali berpikir kalau dia tdk seperti yg ada di pikiran nya selama ini. "
__ADS_1
Anastasia hanya mengangguki ucapan Damian, ia pun membenamkan wajahnya di dada bilang Damian. Malam itu Anastasia benar-benar tdk bisa menahan rasa kecewa dan kesedihan nya, Cavita adalah teman pertama yg ia dapatkan. Sejak kecil mereka selalu bersama dan kemudian orang-orang dari keluarga itu membuatnya menjauhinya.
Anastasia benar-benar tdk bisa memaafkan apa yg telah mereka lakukan, dgn banyaknya mereka membuat kesalahan kpdnya dan orang-orang terdekat nya.