
* Di markas Black Eye.
Clara menringkuk di dlm kurungannya, sekujur tubuhnya terasa sakit dan dipenuhi luka. Setelah kedatangan Ronald sebelum nya, ia mulai mendapatkan siksaan dari orang yg bersama nya itu. Pikiran nya terus saja khawatir kpd putri kecilnya, bagaimana jika pria itu menyakitinya, bagaimana jika dia mambawa pergi putrinya lagi?
Rasa khawatir tdk pernah hilang darinya, tapi bukan karena ia ada di sana sekarang tapi karena keadaan putrinya. Ia percaya kalau suaminya akan menemukannya, karena itu ia tdk terlalu khawatir tentang dirinya. Setidaknya, jika ia tdk selamat pun putrinya masih bisa bersama dgn ayahnya.
" Nana, sayang. kau harus baik-baik saja. " batinnya.
* Tdk jauh dari markas Black Eye.
Anastasia sudah sampai disana dgn semua pasukannya, ia sedang menyusun rencana untuk membebaskan ibunya. Saat itu seseorang yg ia tugas kan utk mengawasi datang, dan memberitahu kan posisi Clara.
" Lady, nyonya Clara berada dibangunan sebelah timur. Disana ada dua penjaga di depan dan dua lagi di dalam, sepertinya mereka tdk tahu jika kita sudah menemukan mereka. " ucapnya.
" Kalau begitu kita bagi rencananya, papah, ayah, kak Ren dan Vero. Kalian pergi ke bangunan itu dan bebaskan mamah. "
" Baiklah. " Albert, Aria, Vero, dan Prensais.
" Katania, Leo dan Jordan, pimpinan pasukan sniper dan bantu kami. "
" Dimengerti. " Katania, Leo dan Jordan.
" Sisanya ikut aku utk membuat keributan. "
" Baik. " all.
Mereka pun langsung melaksanakan rencana mereka. Pertama-tama Anastasia dan yg lainnya pergi utk membuat keributan di markas utama mereka. Kali ini dia tdk bergerak diam-diam, apalagi memakai topeng. Ia akan menunjukkan wajah aslinya utk musuhnya kali ini, menunjukan bahwa putri dari Clara bukanlah gadis yg lemah.
Ia berjalan dgn santai kearah dua penjaga pintu markas mereka, meski begitu para mafioso dan yg lainnya menunggu sampai mendapatkan kode dari Damian. Damian tahu apa yg akan Anastasia lakukan, jadi ia tdk akan terburu-buru utk muncul bersama dgn anggota DA atau BDK.
" Hei, gadis kecil. kenapa kau bisa sampai disini? " tanya salah satu dari mereka.
Anastasia tdk menjawab pertanyaan mereka dan terus berjalan kearah mereka, dgn seringai yg terlihat diwajahnya. Para penjaga itu langsung waspada dan mengarahkan senjata mereka kpd Anastasia.
" Berhenti disana, atau kami akan menembak mu. "
Anastasia tetap tdk mempedulikan nya, saat mereka akan menarik peletuk nya. Anastasia langsung mengeluarkan katananya dan seperti bisa, ia langsung menebas kepala kedua penjaga itu.
Darah menetes dari katana yg ia bawa, bahkan darah itu sampai mengenai wajahnya. Ia kemudian ia beralih menatap pintu markas itu dan menendangnya. Semua orang yg ada disana terkejut dgn suara pintu yg terbuka dgn keras, mereka menjadi waspada tapi tdk mengeluarkan senjata mereka.
Mereka hanya melihat Anastasia dgn heran, siapa gadis itu? apa yg dia lakukan disini? Kira-kira seperti itu pikiran mereka. Anastasia berjalan melewati mereka semua dgn tenang, beberapa diantara mereka merasa terpukau dgn kecantikan Anastasia, tapi Anastasia tdk mempedulikan mereka.
Ia terus berjalan kearah sebuah kursi yg ada disana, yg pasti kursi Leader mereka dan duduk disana begitu saja.
" Hei, dimana Leader kalian? " tanya Anastasia dingin.
" Hei gadis kecil, kau sebaiknya tdk bertingkah disini. Apa kau tahu tempat apa ini? " ucap salah satu dari mereka.
" Aku tahu. Tapi aku bertanya dimana Leader kalian? "
Anastasia kembali bertanya kpd mereka dan menatap mereka dgn tajam, beberapa dari mereka mulai merasakan tekanan saat melihat tatapan mengintimidasi dari Anastasia.
" Kenapa kau mencari bos kami? "
" Aku punya urusan dgnnya. " ucapan Anastasia semakin dingin.
__ADS_1
" Jgn terlalu sombong kau, gadis kecil. Sebaiknya kau jaga tingkah mu sebelum bertemu dgn bos kami. "
Anastasia menyeringai mendengar bentak kan seorang dari mereka, ia berdiri dan kemudian tertawa sangat keras dgn suara yg terdengar menyeramkan.
" Hahahahha..... kalian ingin aku utk menjaga tingkah ku, tapi kalian sendiri tdk menjaga tingkah kalian. Hahahha..... Dasar TO**L. " ucap Anastasia.
Mereka mulai gugup setelah mendengar tawa mengartikan Anastasia, tapi mereka juga kesal karena ucapan Anastasia yg merendahkan mereka.
" Kurang ajar, beraninya kau menghina kami. "
Saat salah satu dari mereka maju utk memukul Anastasia, tiba-tiba saja ia terjatuh dgn kepala yg sudah terpenggal. Mereka terkejut ketika melihat Anastasia mengeluarkan sebuah katana, apalagi gerakan nya yg sangat cepat.
Mereka mulai menduga-duga siapa gadis yg ada didepan mereka. Tapi sesaat kemudian mereka kembali dikejutkan dgn sebuah pasukan yg menyerang markas mereka.
" SERANG!! " ucap Damian mengerahkan para mafioso.
Perkelahian pun mulai terjadi antara mafioso Black Eye dan mafioso Anastasia dan Damian. Jelas sekali jika para mafioso Black Eye kewalahan dgn kedua mafia itu, dan para sniper yg ditempatkan oleh Anastasia, apalagi Anastasia dan juga para pemimpin dari kedua mafia itu ikut bertarung.
Disaat yg sama, Veronica, Prensais, Aria dan Albert pergi menuju tempat Clara. Mereka berjalan dgn mengendap-endap karena dua penjaga tetap disana meski mereka mendengar jika markas utama diserang. Sepertinya mereka yakin sekali jika mereka tdk akan kalah.
" Kak Ren, kau tembak orang disebelah kanan, setelah aku membereskan orang yg di sebelah kiri. " ucap Veronica.
" Baiklah. " jawab Prensais.
Veronica pun langsung berjalan kebelakang pria itu tanpa disadari oleh mereka, menyusup dan bersembunyi adalah keahlian Veronica, tentu saja dia ahli dalam menyembunyikan keberadaan nya.
Setelah ia sampai dibelakang orang yg ia maksud, ia langsung memberikan kode utk Prensais menembak. Prensais yg melihat kode itu langsung menembakkan senjata nya ke orang yg satu lagi dgn tepat sasaran.
Saat melihat temannya mati begitu saja, pria yg satunya sempat terkejut. Veronica memanfaatkan itu utk mengalahkannya, ia langsung memegangi kepada pria itu dan menyayat leher pria itu menggunakan belati. Utk memastikan pria itu sudah mati, ia juga menembak tepat ke jantung pria itu.
" Sepertinya kau terlalu berlebihan, kenapa kau tdk menembaknya dari awal saja? " tanya Prensais.
" Itu tdk menyenangkan kak Ren, kau harus melihat bagaimana Nana memperlakukan orang yg disiksa nya. Ia selalu mengeluarkan isi perut mereka jika dia sedang marah. " ucap Veronica,
Saat ia sadar jika Albert dan Aria ada disana ia langsung menutup mulut nya, begitu juga dgn Prensais ia langsung menatap keduanya setelah Veronica mengatakan itu. Aria dan Albert sendiri sangat terkejut mendengar itu, tapi Albert bisa memaklumi nya. Anastasia sama seperti Damian yg selalu melakukan itu, apalagi Damian lebih parah.
" Apa maksud mu Nana selalu melakukan itu? " tanya Aria.
" Argghhh.... dasar mulut sialan, kenapa bisa keceplosan begini sih. " batin Veronica.
" Ya ampun, bagaimana ini. " batin Prensais.
Mereka berdua mematung setelah mendengar pertanyaan dari Aria, apa yg harus mereka jawab, mereka sangat bingung. Aria sendiri menatap mereka dgn tajam karena meminta jawaban mereka.
" Haha... sudahlah Aria, itu hal biasa di dunia mafia. " ucap Albert.
" Tapi dia itu perempuan, Albert. " ucap Aria.
" Iya selama dia baik-baik saja, tdk apa-apa kan. Damian sendiri lebih parah dari pada itu. "
" Benar juga, sih. "
" Ka.. Kalau begitu, ayo kita segera bebaskan nyonya Clara terlebih dahulu. " Veronica mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Ucapan Veronica diangguki oleh mereka bertiga, mereka pun langsung masuk kesana. Saat mereka masuk mereka melihat Clara yg terbaring dgn luka di sekujur tubuhnya, Prensais dan Aria pun langsung berlari kearah Clara dan mencoba membangunkannya.
__ADS_1
" Mah, mamah bangun, mah. " Prensais terlihat sangat khawatir dgn keadaan ibunya saat ini.
" Clara, bangunlah. " ucap Aria.
Saat mendengar suara putra dan suaminya, Clara langsung membuka matanya dan melihat mereka berdua.
" Ren, Aria. " ucap Clara terkejut.
Mereka berdua pun langsung memeluk Clara karena sangat bahagia, Clara pun sama bahagia nya dgn mereka berdua.
" Bagaimana kalian bisa ada disini? Bagaimana dgn Nana? " tanya Clara.
" Dia juga disini, nyonya. " ucap Veronica.
" Veronica, kau juga disini? "
" Tentu saja, nyonya. Dimana Nana akan melakukan hal seperti ini, disana pasti ada kami. "
" Bukankah sudah kubilang utk memanggil ku bibi, Vero. "
" Maaf bibi. "
Veronica hanya cengengesan sambil mengisap tengkuknya yg tak gatal. Clara sangat senang karena dia bisa bertemu dgn keluarga nya lagi, tapi dia juga agak khawatir dgn Anastasia. Meski ia tahu jika Anastasia adalah mafia, tapi tetap saja perasaan khawatir seorang ibu kpd putrinya tdk akan hilang.
" Syukurlah kau baik-baik saja, sebaiknya kita cepat pergi dari sini. " ucap Albert.
" Tapi aku ingin menemui, Nana. " ucap Clara.
" Emmm... Sebaiknya jgn, bibi. Disana pasti ada.... ya.. kau pasti mengerti. " ucap Veronica gugup.
" Tdk, apapun yg ada disana aku ingin menemui putriku. "
" Clara, jgn memaksakan diri seperti itu. Keadaan mu saat ini juga tdk memungkinkan, apalagi disana adalah markas utama mereka. " ucap Aria.
" Tapi... "
Clara terlihat sedih karena tdk bisa langsung melihat putrinya, padahal ia sangat ingin bertemu dgnnya. Prensais mengerti perasaan ibunya, sebenarnya ia takut jika Clara akan ketakutan jika melihat apa yg Anastasia lakukan, tapi ia juga tdk bisa membuat Clara sedih.
" Vero, bagaimana situasi disana? " tanya Prensais.
" Hmmm... coba kutanya kan dulu. "
Veronica pun bertanya kpd seseorang disana menggunakan alat komunikasi yg terpasang di telinganya. Setelah mendapat kan info situasi disana ia pun mengangguk dan kembali memutuskan sambungan alat itu.
" Mereka menang, saat ini Nana sedang menunggu Leader mereka. " ucap Veronica.
" Ayo mah, kita ketempat Nana. " ajak Prensais.
Clara terlihat sangat senang mendengar apa yg diucapkan oleh Prensais, akhirnya ia bisa menemui putrinya.
" Kau yakin Ren? " tanya Albert.
" Aku yakin, lagi pula disana juga ada Damian. " ucap Prensais.
" Kalau begitu kita semua akan pergi kesana. " ucap Aria.
__ADS_1
Mereka pun langsung pergi dari sana dan menuju ke tempat Anastasia berada.