Mafia Girl

Mafia Girl
eps 88


__ADS_3

Malam ini adalah malam pesta di Royal Garden, beberapa hari sebelumnya Anastasia mempersiapkan hal utk menyerang balik Merlia dkk. Ia bersandar di tembok dekat pintu, memperhatikan setiap tamu yg ia undang dgn pandangan dingin.


Beberapa mencoba bicara dgnnya, yg ia tanggapi seadanya. Beberapa dari tamunya itu adalah beberapa pengusaha yg ingin atau sudah bekerja sama dgn perusahaan nya. Ia sengaja mengundang beberapa pengusaha yg merupakan orang tua dari para murid yg belajar di sana.


Damian juga hadir di sana dlm rangka reuni sekolah, ia juga mengundang beberapa taman lama nya kesana. Vero dkk dan yg lain juga menyebar di setiap sudut aula pesta, Anastasia meminta mereka utk mengawasi gerak gerik yg mencurigakan dari Merlia dkk.


" Nana!." ucap seorang pria~prensais~ yg berjalan kearahnya.


" Ada apa kak??" tanya Anastasia.


" Sebenarnya apa yg kau incar, kau tahukah biasanya ulang tahun sekolah hanya dirayakan oleh murid-murid di sini. Dan sekarang kau tiba-tiba...." ucap Prensais menggantung kata-katanya.


Mata Anastasia sama sekali tdk teralih, ia masih saja menatap lurus ke depan. Memperhatikan setiap orang yg ada di sana, Anastasia pun meneguk minuman yg ada di tangannya dgn mata yg masih sama..


" Aku tdk mengincar apapun. " jawab Anastasia. " Aku hanya membalas seseorang."


Alis Prensais berkerut, ia tdk mengerti apa yg di maksud adiknya itu. Belum sempat ia kembali bertanya, ia sudah lebih dulu dipanggil oleh temannya.


" Hai, Ren. Senang bisa bertemu dgn mu lagi. " sapa orang itu.


Prensais tersenyum melihat teman lamanya itu masih saja ceria seperti biasanya.


" Senang bertemu dgn mu lagi, Riyan. Bagaimana dgn bisnis mu?" tanya Prensais.


" Iya, cukup baik. Kau tahu, sangat sulit utk menjalankan bisnis restoran. " pria bernama Riyan itu melirik Anastasia. " Siapa dia, Ren. Apa dia pacarmu? "


Pria itu menyinggung kan senyuman bersiap menggoda Prensais, tapi ucapan yg di lontar kan sahabat nya itu segera di tepis oleh Prensais.


" Sembarangan, dia adik perempuan ku. Kau tahu kan, yg selama ini ku cari. Namanya Anastasia. Dan Nana, dia Riyan."


" Ya ampun, maaf kan aku. Kau seharusnya memberi tahu ku terlebih dahulu sebelum nya. "


" Tdk masalah, tuan Riyan. Aku sama sekali tdk tersinggung, sangat wajar bagi orang yg belum tahu berpikiran seperti itu ketika melihat kami akrab. " ucap Anastasia.


" Terima kasih, dan tolong jgn terlalu formal dgn ku. Kau adik Ren, berarti adikku juga. "


Anastasia mengangguk mengiyakan ucapan Riyan.


" Kau tdk menemani kakak iparku, kak. " ucap Anastasia kpd Prensais.


Mendengar itu Prensais langsung terbatuk-batuk karena tersedak minuman nya. Sedangkan Riyan yg masih bersama dgn mereka hanya bersiul karena mendengar Prensais mendapatkan calon istri.

__ADS_1


" Wow, kau sudah mendapatkan calon, tapi tdk memberitahu ku. " ucap nya antusias.


" Nana, sudah ku bilang jgn bicara sembarangan. " ucap Prensais.


" Apa?? Bukankah benar dia calon kakak ipar ku?? "


" Kau sendiri, kanapa kau tdk menemani tunangan mu disana. "


Anastasia tdk menyahut lagi apa yg di ucapkan Prensais, ia menyipitkan matanya ketika merasa tempat itu kekurangan seseorang. Ia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut aula, menyadari hal itu membuat Prensais penasaran apa yg ia cari.


" Ada apa, Nana?? "


Lagi-lagi Anastasia tdk menjawabnya, pandangan nya terpaku ketika melihat Merlia dkk masuk ke sana bersama dgn satu orang lagi yg kelihatan sangat takut~Layla~dari arah pintu lain di aula. Wajah ke empat orang itu terlihat sangat puas akan sesuatu, Anastasia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


" Vero, cari Sherly. " ucap nya.


" Hah, kenapa harus di cari. Paling dia ke toilet."


" Lakukan saja. "


" Ck. Oke, Oke. "


Anastasia pun langsung menutup panggilan itu dan kembali mengedarkan pandangan nya. Ia melihat Cavita yg sedang bicara dgn Katania, merasa dirinya di perhatian Cavita pun mencari orang itu.


" Sebenarnya ada apa?? Kenapa kau menyuruh Vero mencari Sherly?? " tanya Prensais lagi.


" Sebentar lagi ada pertunjukan bagus, kak. Kau akan tahu nanti. " jawab Anastasia.


Jawaban itu semakin membuat Prensais bingung, bagitu juga dgn Riyan yg mendengar apa yg mereka ucapkan.


Diluar aula Veronica sedang mencari-cari keberadaan Sherly sambil terus menggerutu, ia kesal kenapa bukan yg lain saja yg melakukan nya. Tapi ia juga tdk bisa membantah apa yg diinginkan Anastasia.


Ia pun memutuskan pergi ke toilet terdekat dulu, dan saat ia membuka pintu betapa terkejut nya dia ketika melihat Sherly yg terduduk di lantai.


" Sherly?!! " Ia pun langsung berjalan mendekati Sherly.


" Sherly, Sherly. Katakan apa yg terjadi?? " tanyanya panik.


Ketika Sherly membuka matanya ia juga terkejut mendapati Veronica yg berada di depannya dgn wajah panik.


" Ka.. Kak Vero, apa yg kakak..... "

__ADS_1


" Aku yg bertanya di sini. " potong Veronica cepat. " Apa yg terjadi kpdmu?? "


" A... Aku baik-baik saja. Hanya terpeleset dan jatuh. " dusta Sherly.


" Aku antar ke UKS. "


" Tdk. " Tolak Sherly cepat, dan memegangi tangan Veronica. Ia khawatir jika dia tdk muncul di aula Anastasia akan khawatir, dan bagaimana jika dia tahu nantinya.


" Aku baik, kak. Ayo kita kembali, jgn sampai kak Nana khawatir. "


Ketika Sherly mencoba utk bediri dia merasa sangat kesakitan di kakinya, tapi itu tdk menghalangi nya utk berdiri atau berjalan. Ia sudah terbiasa dgn rasa sakit seperti itu saat berlatih bersama dgn Cassandra.


Veronica hanya mengikuti Sherly dari belakang, bersiap jika saja Sherly tiba-tiba jatuh. Ia tdk bisa memaksa Sherly utk pergi ke UKS, meski ia khawatir karena beberapa luka lebam di kaki dan lengan Sherly, bahkan pipinya memerah seperti nya mendapatkan tamparan meski tdk membengkak.


Saat mereka membuka pintu aula, mereka sudah di sambut wajah-wajah khawatir lainnya. Cavita, Cassandra, Katania, dll. Berdiri menunggu mereka di depan pintu. Mereka langsung berhambur katika melihat Sherly yg masuk ke sana.


" Sherly!. Ya ampun, aku benar-benar khawatir. " ucap Katania.


" Apa yg terjadi padamu?? Kenapa kau memiliki banyak luka?? " tanya Cassandra khawatir.


Cavita mencari-cari Merlia dkk sebentar, katika ia melihat mereka berdiri dari mereka tdk terlalu jauh dari nya, berada di dekat dinding sebelah kanan. Ia pun memulai apa yg Anastasia katakan.


" Ini pasti karena kalian kan!! kalian yg membuat Sherly seperti ini!! " Teriak Cavita sambil menunjuk Merlia dkk.


Teriakan itu juga membuat tamu yg lain melihat kearah mereka, beberapa mulai bergosip dgn keadaan yg saat ini terjadi. Mendengar nama Sherly di ucapkan Cavita, Vero dkk yg lain juga Damian dkk pun menghampiri mereka dan melihat Sherly yg terluka.


" Sherly, ada apa dgn mu?? " tanya Prensais yg menghampiri Sherly dgn khawatir.


Sherly sendiri masih terkejut karena Cavita berteriak kpd Merlia dkk, dan membuat para tamu melihat mereka. Tapi ia juga terkejut karena melihat keluarga nya menghampiri nya dgn raut khawatir. Sedangkan Merlia dkk menahan kesal karena sekarang mereka menjadi pusat perhatian.


" Apa maksud mu?? Kau menuduh kami?? " tanya Yuna.


" Hanya kalian yg keluar dari sini setelah Sherly keluar, dan kalian yg bertanggung jawab saat Sherly jatuh dari tangga beberapa hari yg lalu. " ucap Cavita.


" Jgn sembarangan!! Kami tdk pernah melakukan apapun kpd nya!! " bantah Serena.


" Jgn pura-pura tdk melakukan, aku juga tahu bahwa kalian yg membully nya setiap hari di sekolah. Iya kan?!! "


" Buktinya mana?? Jika banar kami yg lakukan, mana buktinya?? " ucap Merlia.


Cavita menggeram marah ketika mendengar itu, jelas dia tdk bisa melakukan nya. Tapi apa yg ia katakan benar-benar terjadi. Ia muak melihat Merlia dkk tersenyum licik di depannya, mereka terlihat sangat puas ketika melihat dirinya tdk memiliki bukti utk membenarkan ucapannya.

__ADS_1


Ia hanya melakukan hal ini karena Anastasia memintanya, ia akan bertaruh sepenuhnya kpd Anastasia saat ini.


" Ayo Nana, jika kau tdk memberi bukti mereka akan kabur. " batin Cavita.


__ADS_2