Mafia Girl

Mafia Girl
#Misi 2


__ADS_3

Megan POV


Paginya aku seperti biasa.Melakukan aktivitasku dan pergi ke kantor.Baru saja aku memanggil Ariel masuk keruanganku dan berbincang bincang.Sebuah suara melengking tiba tiba saja datang dari arah pintu.Dan menampakan sesosok lelaki yang tak kalah tampan dari para lelaki lainnya yang sering aku temui.Dia adalah Anton.


"Ariel kau bisa pergi sebentar".Kataku yang langsung diangguki oleh sekretarisku itu. Anton pun melenggang menghampiriku. Dengan kedua tangannya yang ia selipkan disaku celananya.


"Apa?!".Tanyaku semakin parah setelah Ariel benar benar keluar ruangan.Aku benar benar jengah pada para Kakak angkatku itu. Setiap harinya ada saja yang menemui dan mengganggu waktu kerjaku.Tentunya para karyawan menganggap hal yang tidak tidak tentangku.Terutama kata yang sering aku dengar dari Ariel yaitu 'playgirl' ouh,,,yang benar saja!Bahkan para karyawanku sendiri menganggapku seperti itu!Lalu dimana sapaan dan senyuman ramah mereka yang selalu mereka lontarkan setiap bertemu denganku!


"Bersiaplah,dalam satu jam kita akan pergi". Balasnya seolah tak menanggapi kejengkelan ku saat ini.


"Secepat ini?Apakah kau tidak sedang membohongiku?".Tanyaku memastikan.


"Hei aku serius Nata,ini perintah dari bos". Ucapnya lagi.Tapi aku benar benar tidak mempercayai orang yang sekarang tengah duduk di atas meja kantorku itu.


"Bagaimana aku bisa percaya?".Tantangku. Terlihat jelas,Anton memutar matanya malas. Ia mengeluarkan sebuah benda pipih persegi panjang dari saku celananya.Menggerak gerakan jarinya diatas benda pipih itu dan berhenti setelah beberapa detik lamanya.


Anton menyerahkan handphone nya padaku. Akupun mengambilnya dengan senang hati. Aku memutar sebuah clip suara yang berada disana.Karena hanya itulah pesan yang terakhir dikirim oleh pria itu.Siapa lagi kalau bukan bos kami!


Aku memutarnya dan mendengarkannya secara seksama.Ternyata benar saja,bos memerintahkan kami untuk menjalankan misi lebih awal dari waktu yang telah di tentukan sebelumnya.


"Oke,cepatlah kita pergi".Ajakku yang memang sudah sangat percaya.


"Sudah kubilang aku tidak berbohong!". Cibir Anton yang sedang mengekor di belakangku.Aku tidak menanggapinya sama sekali.

__ADS_1


Seusai keluar dari ruanganku,aku bisa melihat Ariel tengah berbincang bincang dengan salah satu teman kantornya.Yang aku sendiri tahu namanya,dia adalah Nazila.


"Ariel,batalkan semua jadwalku hari ini". Kataku saat melewati Ariel.Tentu aku tak perlu menunggu jawaban yang keluar darinya karena setiap harinya saja semua kegiatanku dilakukan olehnya.Aku langsung saja berjalan menuju ke arah lift.Tak lama kemudian,aku keluar dari gedung dan berjalan menuju parkiran.Dimana BMW milikku yang sudah menunggu sejak tadi.Untuk Anton,ia mengendarai mobilnya sendiri.


>>>>>


"Dimana barangnya?".Tanya Megan dengan suaranya yang memenuhi seluruh ruangan.


"Wah,,,,Wah,,,,Wah,,,,lihat siapa yang datang". Kata seorang pria berkumis tebal.Dengan sebuah topi koboi yang ia pakai diatas kepalanya."Lama sudah tidak bertemu,,,,,, Nata!".Uajarnya.


Merasa malas untuk menanggapi,Nata (Megan) pun memutar matanya jengah. Ia edarkan penglihatannya itu sebentar. Ia bisa melihat dengan jelas dua penjaga berdiri disamping pria berkumis tebal itu dengan sebuah senapan mesin ditangan mereka.Disebelah kiri ruangan,ia bisa melihat belasan orang pria dengan senjata mereka masing masing.Sedangkan disebelah kanan ruangan adalah tempat para partner Nata sekarang.Untuk Delvin dan Anton,ia berdiri dibelakang Nata.


Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya minim dari pantulan cahaya yang berasal dari luar.Sehingga mereka semua tidak bisa melihat dengan jelas mana kawan mana lawan jika pertarungan sengit terjadi.


Pria itupun meminta salah seorang pria yang berjaga untuk datang kearahnya.Dengan patuh,pria itupun menghampiri meja bundar didepan mereka.Meletakkan sebuah karton besar yang setelah dibuka,isianya adalah plastik plastik kecil yang didalamnya berisi serbuk serbuk putih dengan jumlah yang bisa dikatakan cukup banyak.


"Ini baru setengahnya,dan setengahnya lagi kami simpan dibelakang kami".Ujarnya sambil menunjuk pada sebuah box yang berada di belakang pria itu.


Nata tak terlalu menghiraukan,ia langsung saja menunjuk salah seorang pria bertato untuk datang ke arahnya."Buka dan hirup". Kata Nata dengan tangannya yang menunjuk pada salah satu plastik itu.


"Hei apakah kau kehabisan bawahan sampai sampai menyuruh orang ku untuk memeriksa barang ini!".Pria itu bertanya dengan menekan kalimat 'orang ku' disela sela ucapannya.


"Aku tidak mau jika bawahanku yang akan terkena imbasnya nanti.Lebih baik aku pakai orangmu saja.Lagipula barangnya kan masih berada ditanganmu!".Jelas Nata tak mau kalah.

__ADS_1


"Kau tak mempercayaiku?".Tanyanya lagi mencoba memberanikan diri.Tetapi ketakutan terlihat sangat jelas di matanya.


"Apakah hanya satu?".Tanya pria berotot yang sudah siap membuka plastik itu.Daripada kedua belah pihak terus saja berdebat,lebih baik ia mengorbankan dirinya.


Megan mengangguk.Pria itu langsung saja membuka salah satu plastik yang ada disana. Pria itu menaburkan setengah dari bubuk itu kedalam kotak.Nata menyeringai,sedari tadi ia terus saja mengamati setiap gerakan yang dilakukan pria bertato itu.Dan dua kenyataan yang ia ketahui.Yang pertama lelaki itu tidak nampak bingung sama sekali dan yang kedua tidak ada bau bau tembakau yang keluar.


"Lagi".Perintah Nata.Pria itupun melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya.Dan tidak ada yang terjadi sedikit perubahan pun dalam dirinya.Nata mengalihkan pandangannya pada sekelompok bawahannya yang berkumpul di sudut ruangan sebelah kanan. Memberikan sebuah kode untuk segera menyerang.Sedangkan untuk Delvin dan Anton,ia menggerakan tangannya sebagai isyarat.Dengan tergesa gesa,Nata bersama dengan para bawahannya pun mengangkat senjata mereka dan membidiknya ke arah lawan.


Nata mengarahkan tembakannya pada dua orang lelaki yang berada di depannya.Delvin dan Anton pun bekerja sama menembakan peluru peluru mereka.Seketika,ruangan yang tadinya senyap pun kini sudah berubah dengan suara tembakan senjata.


Nata POV


"Nata awas,,!".Teriak Delvin dari arah


samping saat pria berkumis tebal itu meraih senjatanya dan langsung menembakan sebuah peluru ke arahku.Aku bergulir dengan cepat untuk menghindari peluru itu dan berjalan mundur.Aku mengisi peluruku kembali dan membidik dua pria yang hendak melayangkan pelurunya ke arahku.Dan mereka pun terjatuh menyentuh lantai saat bidikanku itu menembus kepala mereka.


Aku mengalihkan pandanganku untuk memastikan kedua rekanku yaitu Delvin dan Anton.Sebelum aku menggerakan tubuhku kembali,sebuah logam panas pun menyentuh lengangku sehingga membuatku meringis seketika.Aku menatap kearah dari mana datangnya peluru itu.Sebuah senyuman penuh kemenangan pun terlihat jelas diwajah pria yang berada disebrang sana.Aku benar benar sangat tidak menyukai senyuman itu!Karena senyuman itu selalu membawaku pada kenangan masa lalu!Gumamku dalam hati.


"Jatuhkan pistolnya atau kau akan mati!". Teriaknya kasar.Dengan terpaksa akupun mengikuti perintahnya dan melempar pistol yang aku pegang ke arah depan.Biarkanlah mereka bersenang senang terlebih dahulu sebelum nyawa mereka benar benar melayang.


"Angkat tanganmu diudara".Teriaknya lagi. Dibalik topeng,aku memutar kepalaku malas. Dan lagi lagi dengan keterpaksaan,aku menyimpan kedua tangaku diatas dibelakang kepalaku.Pri itu mulai berajalan mendekat dan langsung menodongkan pistolnya di pelipis kananku.


"Kau tahu,sudah lama aku menantikan ini. Dan akhirnya aku bisa melihat siapa yang berada di balik topeng ini".Girangnya dengan tawa menggelegar.Sedangkan Aku hanya menyeringai dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Kita lihat saja pria tua".Gumamkudibalik topeng.


__ADS_2