Mafia Girl

Mafia Girl
eps 95


__ADS_3

Angin malam terus berhembus, dinginnya tdk membuat Anastasia gentar. Ia masih setia dgn posisinya menghadap ke luar, dgn matanya yg tertutup. Masih mengenang mendiang kakek Lin, orang yg paling berharga baginya. Air mata nya terus mengalir membasahi pipi mulusnya, ia menangis dlm diam.


Ketika sebuah lengan kekar merangkulnya dan memeluknya dari belakang, Anastasia tdk perlu berbalik utk melihat siapa yg memeluknya. Ia sudah tahu dari bau parfum yg dikenakannya, dia Damian, orang yg ia selalu tunggu selama ini.


" Kau bisa masuk angin, loh. " ucapnya.


Anastasia membuka matanya perlahan, menikmati pelukan hangat pria itu. Suhu tubuhnya yg hangat, membuatnya merasa sangat nyaman.


" Apa kakek akan senang jika aku melakukan ini?? Orang itu tetap Anaknya. " ucap Anastasia sambil mengusap sisa air matanya.


" Dia pasti mengerti, apa lagi dgn semua dosa yg mereka lakukan, ini sudah sepantasnya. "


Salah satu tangan Damian meraih dan menutup jendela itu, dgn posisi yg masih sama.


" Apa itu yg kau khawatir kan?? Tdk tega kah?? " tanya Damian.


" Aku ingat kakek. Wajah pucat nya, tubuh lemahnya yg terbaring, juga suara lembut yg kian melemah itu. " Air mata Anastasia kemabli mengalir. " Aku merindukan nya. "


Damian membalikkan tubuh Anastasia, menatap wajah sedih gadis itu. Matanya menatap Anastasia dgn lembut, seolah memberikan semangat dan juga ketenangan utk nya.


" Aku tahu, aku juga merindukan nya. Aku belum sempat bertemu dgnnya, padahal aku sangat ingin dipeluk olehnya lagi. " ucap Damian tersenyum.


Damian kambali memeluk Anastasia, kali ini lebih erat dari sebelumnya. Ia tahu bagaimana perasaan Anastasia, apa lagi kakek Lin adalah satu-satunya orang yg menyayangi nya di sini. Jika itu terjadi kpdnya, ia pasti langsung mengamuk dan membantai keluarga itu.


Tapi hati Anastasia lebih kuat dari pada dirinya, ia bisa menahan semua amarahnya selama ini. Bahkan saat mendapatkan perlakuan tdk pantas pun ia tdk melaporkan nya kpd polisi atau orang lain. Entah berapa banyak rasa sakit tdk di dapat gadis di pelukan nya ini, Damian benar-benar tdk bisa memikirkan nya.


Anastasia semakin menangis dipelukan Damian, entah kenapa jika sedang bersama dgn pria itu. Ia tdk pernah bisa mengendalikan emosinya dgn baik, padahal selama ini dia baik-baik saja dan bisa mengendalikan nya. Tapi setiap bersamanya atau hal yg menyangkut dirinya, ia tdk bisa tenang.


Mereka bersama sejak kecil, ia hanya bisa memikirkan hal itu, hanya itu yg masuk akal baginya. Anastasia pikir bagaimana mungkin karena Cinta mereka langsung bisa merasa seperti itu, tapi saat ia pikir-pikir lagi ternyata pemikiran nya salah. Semua hal dari pria itu bisa menggoyahkan semua emosi nya, semua yg tdk bisa ia perlihatkan kpd orang lain.


Setelah Anastasia mulai tenang Damian pun kembali bicara dgnnya.


" Sudah baikkan?? Apa perlu menangis lagi?? godanya.


Anastasia tertawa renyah, iya laki-laki ini benar-benar bisa membuatnya menjadi seperti apapun.


" Iya, dan tdk. " jawab Anastasia.


" Hemmm.... Jadi jawaban nya 'iya' atau 'tdk'?? "


Anastasia kembali tertawa, ia tahu Damian hanya pura-pura tdk mengerti utk membuatnya kembali tertawa.


" Terserah kak Ian. "


" Heeh... Jdi terserah aku, ya. Hmm... kalau begitu, ayo menangis lagi agar aku bisa memelukmu lebih erat lagi. "


" Tdk mau. "


" Katanya terserah aku. "


Anastasia mengangkat wajahnya sehingga menatap Damian, matanya masih sembab karena menangis.

__ADS_1


" Bukankah sekarang kau masih memelukku?? Lagi pula jika kak Ian memelukku lebih erat, aku akan mati karena tdk bisa bernafas. "


" Itu mudah. "


Jawabanya membuat Anastasia mengangkat sebelah alisnya.


" Jika kau kehabisan nafas, aku akan membuat nafas buatan utkmu. "


Anastasia kembali tertawa mendengar itu, sedangkan Damian malah memiringkan kepalanya seoleh-oleh tdk mengerti.


" Kenpa tertawa?? "


" Nafas buatan apanya, bilang saja kak Ian ingin mengambil kesempatan. " Ucap Anastasia sambil terus tertawa. Ia bahkan sampai menangis karena tertawa terbahak-bahak.


Damian hanya tersenyum, akhirnya Anastasia kembali tertawa, Itulah yg ia inginkan. Ia terus memperhatikan Anastasia yg tertawa, melihat wajah cantiknya yg terlihat sangat gembira, dan suaranya yg seperti gemerincing lonceng yg sangat merdu.


Anastasia pun menghentikan tawanya, dan melihat Damian yg menatap nya dgn sangat intens.


" Kenapa kek Ian menatapku seperti itu?? Apa ada sesuatu diwajah ku?? " tanya Anastasia sambil meraba wajah nya.


Senyum Damian semakin lebar ketika melihat tingkah Anastasia, tingkah yg tdk pernah hilang.


" Tdk, tdk ada apapun di wajahmu. "


" Lalu kenapa kak Ian menatap ku seperti itu?? "


" Hemm... Aku sedang memikirkan ucapan mu tadi. "


" Yg mana?? "


" Iya, Lalu?? "


Anastasia memiringkan kepalanya tdk mengerti, ia memang mengatakan itu tapi apa hubungannya dgn Damian yg menatapnya seperti itu.


" Kau tahu, aku tdk perlu membuat mu kehabisan nafas utk itu. "


Anastasia baru menyadari apa maksud Damian, lalu ada apa dgn tatapan nya.


Saat Anastasia hendak bicara, Damian lebih dulu membungkam mulut Anastasia menggunakan mulut nya. Anastasia membelalak kan matanya karena Damian tiba-tiba menciumnya, ia masih belum terbiasa dgn ciuman tiba-tiba seperti itu, tapi ia menikmati setiap ciuman Damian.


Damian merangkul pinggangnya dan menahan tengkuknya, Anastasia sendiri hanya memeluk Damian. Menikmati hisapan dan juga lu****n yg dilakukan nya. Damian baru melepaskan ciuman nya ketika ia mulai merasa kekuatan oksigen.


Dia manatap wajah Anastasia yg memerah di depannya.


" Kenapa wajahmu selalu memerah setiap kali ku cium?? " tanya Damian.


" Mana ku tahu. Lagi pula, jgn cium aku secara mendadak seperti itu. " gerutu Anastasia.


" Hei, kau marah?? "


" Tdk, aku kaget tahu. "

__ADS_1


Damian tertawa mendengar itu, padahal mereka sudah sering berciuman. Dan ia juga sangat gemas dgn wajah Anastasia, entah bagaimana wajahnya selalu saja terlihat menggemaskan saat sedang marah.


" Oke, baiklah. Kita alihkan pembicaraan nya sekarang. Apa kau sudah menelpon bibi Rin?? "


" Iya, sudah. "


" Apa katanya?? "


" Dia bilang akan datang, dia tdk sibuk jadi akan meluangkan waktu utk bermain bersama dgn Diana dan Lucas. "


Damian hanya mengut-mangut mendengar itu, sepertinya Bibi Rin teringat kpd dirimu dan Anastasia saat masih kecil.


" Lalu satu hal lagi. Sahabatmu... Ah, mantan sahabat mu. Dia ditemukan mati, apa kau yg melakukan nya?? "


" Bukan, itu ulah Stella. "


" Hemm... Bukankah dia pion yg di gerakan Stella, kenapa malah di bunuh?? "


" Ya ampun, kak Ian. Jgn pura-pura bodoh, kau tahu apa alasannya kan?? "


" Oke, baiklah iya aku tahu. Tapi apa menurutmu kenapa dia dibunuh?? "


" Ck, pertanyaan nya sama saja dgn yg sebelumnya. Tentu saja karena dia tahu kebenaran tentang Stella. "


Anastasia jadi kesal karena Damian bertanya berputar-putar.


" Dan apa itu?? Aku sudah mencari semua tentang Stella, tapi semuanya hilang tanpa jejek. Kau yg membuat data tentangnya hilangkan?? "


Anastasia merutuki dirinya sendiri, padahal dia ingin menyimpan data tentang Stella sampai pertunjukan utama nya. Ia jadi gugup karena Damian menatapnya dgn serius.


" Eee... itu.. Bagaimana ya... " .


" Jawab aku Nana. "


Damian mengatakan itu dgn nada yg tegas, membuat Anastasia tdk bisa menolak nya, jika ia tolak Damian pasti akan marah, atau menghukum nya. Ia pun terpaksa membisikkan tentang itu, agar tdk ada yg menguping pembicaraan mereka.


Damian membelalak kan matanya ketika mengetahui itu, ia tdk berpikir akan ada hubungan seperti itu. Apa lagi ini hal yg pasti akan membuat keluarga itu langsung hancur meski mereka tdk menerangkan yg lain dgn jelas.


" Jadi bagitu. " ucap Anastasia.


" Hemm... Baiklah, aku mengerti. Dan sekarang tidur ah. " ucapnya sambil menjatuhkan diri ke atas kasur.


" Ehhh... Kak ini kamarku. " gerutu Anastasia.


" Mmmm.... Lalu?? "


" Pergi ke kamar kakak sendiri. Kan di sana.... Kyaa.... "


Anastasia belum menyelesaikan kata-kata nya, tapi Damian malah menarik tangannya, otomatis Anastasia jatuh di atas tubuhnya. Wajah Anastasia kembali memerah karena itu, ia mencoba utk bangkit tapi Damian menahan nya.


" Kak Ian Aku ingin bangun!! "

__ADS_1


" Sssttt... Tidurlah. "


Anastasia mendengus kesal kerena sifat tak ingin di bantah Damian, tapi apa bolah buat. Ia pun mulai terlelap dan tidur dgn posisi Anastasia berada di atas Damian.


__ADS_2