
♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️
***
Shani dan Arga langsung memblok musuh agar tidak menyerang para guru dan murid lain.
"langsung hajar kalau cari masalah!" titah Shani.
"Baik Queen," sahut anggota lain lalu berpencar.
"Arga, cari musuh di lantai dua dan kantin! aku yakin dikantin juga disandra."
"Baik."
Aevan menghajar musuh satu-satu karena ingin menyerang dirinya.
"Siapa kalian?" tanya Aevan.
"Tidak ada untungnya menjawabmu, bocah!"
Dor ...
Shani menembak musuh yang ingin menghajar Aevan.
"Akhhhh," ringis musuh itu.
Shani mendekati musuh itu dan menusuknya dengan kerambit.
"Ahhh," teriak Aevan ketika Shani menghabisi nyawa musuh itu tanpa perasaan.
Shani menoleh ke arah Aevan.
Aevan langsung berdiri dan membentengi dirinya dengan tangan kosong.
"Mau apa lu?" kata Aevan yang sudah ketakutan.
Shani terus maju dengan pelan.
Dor ...
"Ikhh," ringis Aevan tapi tidak ada sakit. Saat Aevan membuka matanya, ternyata Shani menembak musuh lagi di belakang Aevan yang ingin menembak Aevan.
Shani tidak memperdulikan Aevan, langsung pergi dan mengejar musuh yang lari itu.
"Perkelahian macam apa ini?" kata Aevan.
Semua guru menunduk saat musuh membentak.
"Diam kalian semua!" bentak musuh itu.
"Bu Sita, bagaimana ini?" tanya Herman.
"Saya gak tahu Pak," sahut Bu Sita.
Dor ...
Dor ...
Dor ...
"Aaaaaaa," teriak para guru karena tembakan yang menggema diruangan.
Shani menembak kembali dan langsung menyerang dengan kerambit.
Bugh ...
Craishhh ...
"A'X sudah bubar, siapa kalian?" tanya Shani.
"King kami memang dipenjara tapi bukan berarti kami bubar!"
"Ouh, cari mati rupanya."
"Bangsat!"
Dor ...
Shani menembak orang yang mengucap bangsat tadi.
"Jangan berkata kasar padaku."
"Dasar Queen laknat!"
"Maju, akan aku bunuh King kalian. Disana daerah kekuasaanku, mati atau pergi dari sini."
"Sial," gumam semua anggota A'X.
Semua anggota Meteor sudah mengepung lapangan dan segala titik sudut sekolah.
"Apa kalian mengenal benda yang ku pegang ini," kata Shani memperlihatkan granat.
"Mau apa kau?"
"Lepaskan para guru itu."
"Tidak bisa!"
"Hahah, tidak masalah juga prok prok prok." Shani menepuk tangannya tiga kali.
Semua anggota A'X kalah telak.
"Hanya kau yang disini, masih berani?" tanya Shani.
"Brengsek!"
Dor ...
"Tangkap," teriak anggota Meteor yang langsung menangkap yang tadi ditembak Shani karena mengucap brengsek.
"Akhhh, lepaskan."
__ADS_1
"Bawa dia."
"Baik Queen."
Semua murid sudah lepas dan diluar lapangan sudah banyak para polisi dan keluarga murid lainnya.
"Queen kita harus pergi," bisik Arga.
"Pergilah."
"Baik."
"Ingat! jika polisi meminta keterangan, tolak saja kalau memaksa bunuh!"
"Baik."
Shani langsung masuk kamar mandi dan mengganti bajunya, Arga menunggu Shani untuk membawa kembali jubah kesayangannya.
Setelah melepas jubah, Shani langsung keluar dan menyerahkan jubah itu pada Arga.
"Pergilah."
Arga mengangguk.
***
Antoni dan Shina celingak-celinguk mencari Shani, ada banyak darah dilapangan.
"Bagaimana ini Pi?" panik Shina.
"Kita tunggu kabar lainnya juga Mi."
"Mami khawatir sama Shani Pi."
"Iya, Papi juga."
Alya dan Zaki juga mondar-mandir didepan.
"Kenapa sekolah elit seperti ini bisa diserang Mafia," kata Zaki.
"Aevan Pa, Aevan gimana."
Rayhan dan Flora juga bolak-balik dari tadi menunggu informasi.
Dor ...
Mereka semua mendengar suara tembakan lagi.
"Apa itu Pi? dari tadi suara tembakan mulu," cemas Shina.
"Eh coba lihat," tunjuk Zaki yang melihat anggota Meteor langsung keluar dan masing-masing membopong senjata dan pergi lewat belakang.
Semua orang tua panik dan para polisi mencoba pagar yang dikunci mafia tadi.
"Kalian tunggu disini," kata polisi.
"Pak, tolong anak kami."
Polisi langsung masuk dan melihat banyak mayat berserakan di lapangan, kelas, kantin, toilet, aula, perpustakaan.
Para polisi harus menangani para mayat itu dan banyak reporter yang mengabadikan mayat yang berserakan itu.
Sifa dari mencari Shani karena khawatir.
"Bim, Shani mana yah."
"Mungkin dia ada ditempat lain," sahut Bima.
"Bima," panggil Boy.
"Kalian gak papa?" tanya Bima.
"Kita gak papa," sahut Boy.
"Syukurlah," sahut Bima.
"Shani mana?" tanya Julia.
"Dari tadi gue nyariin dia Jul," sahut Sifa.
"Astaga, kok kalian bisa kepisah sih!" kata Julia lagi.
"Kejadiannya cepet banget Jul," seru Bima.
Boy melihat Shani turun dari lantai dua.
"Nahh itu orangnya."
"Mana?" sahut Sifa.
"Itu," tunjuk Boy.
Sifa langsung mengelus dadanya dan memanggil Shani.
"Shani," panggil Sifa.
Shani menoleh ke arah yang memanggilnya.
"Itu dia," gumam Shani sambil mendekati mereka semua.
"Shan! lu gak papa, kan?" tanya Sifa.
"Gue gak papa," sahut Shani.
"Syukurlah, gue khawatir banget sama lu."
"Dimohon semua murid ke aula," suara guru terdengar keras karena mic.
"Kalian dengar! sebaiknya kita ke aula," kata Bima.
"Iya, ayo kita ke aula." Boy langsung menarik tangan Julia.
Bima tak mau kalah, dia juga menarik tangan Sifa tapi menarik Shani.
__ADS_1
Para orang tua murid juga masuk aula dan masing-masing mencari anaknya.
"Julia," panggil Flora.
"Mama," kata Julia lalu melepas tangannya dari Boy dan lari memeluk kedua orang tuanya.
Alya memanggil Aevan. "Aevan," panggil Alya.
Aevan dan kedua orang tuanya juga saling berpelukan.
Shina melihat Shani sedang mencari sesuatu.
Shina langsung memeluk Shani tanpa memanggil.
"Sayang," kata Shina. Antoni hanya tersenyum.
"Mami," kata Shani gugup.
"Kamu gak papa, kan?" tanya Shina sambil menangis.
"Shani gak papa Mi," sahut Shani.
"Syukurlah," kata Shina lagi.
Lalu Antoni datang dan memeluk dua wanita kesayangannya.
Sifa langsung dipeluk oleh Bu Mila.
"Sifa gak papa, kan?" Tanya Mila.
"Gak papa kok, Bu. Ini Sifa masih baik-baik aja, gak ada lecet sedikit pun."
"Ish kamu ini."
"Hehe ..."
Boy tersenyum getir karena orang tuanya tidak ada.
Julia merasakan kesedihan Boy dari ekspresi dan matanya.
"Ma, Pa kasihan temen Julia."
Rayhan dan Flora tersenyum.
"Ayo kita rangkul dia," aja Flora.
"Boy," panggil Rayhan.
"Iya Om."
"Sini."
Boy pun mendatangi baru saja sampai, Rayhan sudah memeluknya dengan hangat.
"Kamu harus kuat yah, saya yakin kamu anak yang hebat."
"Makasih Om."
Boy dan Julia saling melirik, curi-curi pandang.
Flora menyadari itu dan ada timbul ide.
"Wah kalian ini kayaknya makin lengket aja, gimana kalau malam ini kita makan malam, gimana Pa?" ajak Flora.
"Papa sih setuju aja," sahut Rayhan.
"Sekalian juga nanti, Mama mau ajak temen-temen Mama. Kamu mau, kan Boy."
"Iya Tante, insya Allah nanti."
"Jadi sepakat yahh," kata Flora.
"Ok."
Karena keadaan darurat, semua murid di pulangkan.
Dalam mobil Shina tidak henti-hentinya memeluk Shani.
"Mami khawatir kamu kenapa-napa Shan," kata Shina sambil menangis.
"Shani gak papa Mi, udah jangan nangis!"
"Tau nih Mami, cengeng banget!" ledek Toni.
"Papi!"
"Heheh iya maaf."
"Nanti dirumah kita panggil dokter Binar ya Pi."
"Untuk apa Mi."
"Buat periksa Shani."
"Shani gak papa Mi, kenapa harus panggil Dokter Binar."
"Mami khawatir psikologis kamu, makanya Mami mau panggil Dokter Binar."
"Tapi Shani gak papa Mi."
"Meskipun bilang gak papa, tetap harus diperiksa Shani."
"Tapi-"
"Mami gak suka dibantah."
Shani menghela nafasnya dengan pasrah sedangkang Toni angkat tangan kalau berurusan dengan Shina.
***
♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️
♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️
__ADS_1
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️