MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
58


__ADS_3

Tangan Shani perlahan bergerak dan itu membuat Shina langsung berteriak memanggil Dokter.


"Dokter!" panggil Shina berteriak.


Para Dokter pun datang.


Shina dan yang lainnya menunggu di luar kamar karena Dokter sedang memeriksa Shani.


"Semoga saja Shani tidak papa," ucap Ratna sambil menenangkan Shina yang sudah gelisah.


"Tadi Shina lihat tangan Shani bergerak Ma," sahut Shina sambil memainkan jarinya.


"Kamu tenang dulu Shin," seru Tuan Malik.


"Iya Pa," sahut Shina.


Dokter pun keluar.


Ceklek ...


"Bagaimana Dok?" tanya Shina yang langsung berdiri juga di ikuti yang lainnya.


"Syukur Alhamdulillah, pasien sudah sadar!" ucap Dokter itu.


"Benarkah itu Dok," sahut Shina sumringah.


"Benar sekali Nyonya," kata Dokter itu lagi.


"Kalu begitu kami boleh menjenguknya?" tanya Malik.


"Boleh, tapi jangan ribut pasien masih dalam pasca koma."


"Terima kasih Dok."


"Sama-sama."


Shina dan orang tuanya langsung masuk ke dalam kamar Shani.


Shani menelisik semua ruangan sepertinya ruangan ini sangat detail.


"Halo sayang," sapa Shina.


Shani menoleh.


"Mami," kata Shani.


"Iya sayang ada apa Nak?" tanya Shina dengan sigap memegang tangan Shani.


"Haus," sahut Shani.


"Haus yah, Mami ambilin dulu." Shina membantu Shani bangun untuk minum.


Gluk gluk gluk ...


"Haus sekali anak mami ini kayaknya," ucap Shina dengan sendu.


"Ahhhh ..." ucap Shani setelah minum dengan tandas.


"Ada yang ingin diminta lagi sayang?" tanya Shina.


"Gak ada Mi," sahut Shani.


"Ya sudah sebaiknya cucu Nenek yang cantik ini istirahat yah," kata Ratna menimpali.


"Itu benar baru sadar juga, kan!" tukas Kakek Malik.


Shina menyelimuti Shani yang tadi berantakan dan langsung mencium kening Shani.


Cup ...


"Tidur ya sayang," kata Shina lagi.


"Iya Mi," sahut Shani.


"Ouh iya aku belum kasih tahu Citra kalau Shani udah sadar," gumam Shina lalu membuka ponselnya dan mengirim pesan. ”Cit, Shani sudah sadar kamu kesini yah!” pesan Shina.


Setelah Shani tertidur barulah Shina dan orang tuanya keluar dari kamar, Tuan Malik menyuruh penjaga untuk berjaga depan kamar.


"Kalian jaga kamar cucu saya!" titah Tuan Malik.


"Baik Tuan," sahut Bodyguard.


***


Ting ...


Ponsel Citra dapat pesan baru.


"Ini," gumam Citra sumringah dan langsung pergi ke kediaman William.


Brom brom ...

__ADS_1


"Sepertinya Citra ingin pergi ke rumah William," gumam Kazio yang sudah mengawasi Citra. "Aku harus mengikutinya."


Brom brom ...


Ngeinghh ...


***


Gea punya rencana untuk mencelakai Julia dan Boy nantinya.


"Apa rencana lu?" tanya Finni.


Gea pun berbisik.


"Bagus juga rencana lu," kata Finni lagi.


"Iya dong, Gea!" ucap Gea dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ayo kita lihat mereka lagi di posisi mana," sahut Fini.


"Ok," kata Gea lagi.


Boy dan Julia lagi jalan-jalan setelah pulang sekolah, karena ingin pergi ke restoran untuk makan siang.


"Boy, kayaknya ada yang ngikutin kita deh."


Boy melihat dari kaca spion.


"Pegangan yang kuat Jul," kata Boy.


"Iya."


Boy pun melajukan jalan motornya agar bisa menghindari kejaran motor lainnya.


'Siapa mereka?' batin Boy.


Ngeng ngeng ...


"Kejar mereka!" teriak


"Boy mereka makin kencang," panik Julia.


"Tenang Jul," ucap Boy.


Sifa yang tidak sengaja melihat Boy dan Julia seperti dikejar orang langsung memberitahu Bima.


"Bim, itu Boy sama Julia kayaknya dikejar orang."


"Mana!"


Bima langsung mengejar Boy dan Sifa dan berusaha mengulur waktu.


"Woy, minggir lu!" teriak orang yang mengejar Boy dan Julia.


"**** brengsek awas aja kalian," ucap teman satunya lagi.


"Bima," gumam Boy.


"Syukurlah, mereka dah gak ngejar kita lagi." Julia ikut senang dan Boy mencari tempat untuk singgah.


Bima dan Sifa langsung tancap gas karena ingin cepat sampai.


Brom ...


"Kamu gak papa, kan?" tanya Boy pada Julia.


"Aku gak papa kok Boy," sahut Julia.


Bima dan Sifa datang, Bima melepas helm sedangkan Sifa turun dari motor.


"Kalian gak papa?" tanya Bima.


"Kita gak papa kok," sahut Boy.


"Siapa yah mereka," pungkas Sifa.


"Kita aja gak tahu Fa," sahut Julia.


"Kalian punya musuh?" tanya Bima.


"Gue gak pernah cari masalah sama orang," sahut Boy.


"Gue juga gak pernah setelah keluar dari The Angel," seru Julia.


"Kayaknya ada yang ingin mencelakai kalian deh," ucap Sifa.


"Gue rasa sih gitu," sahut Julia.


"Ya sudah, kita ngumpul di basecamp!" ajak Bima.


"Ok, sekarang aja."

__ADS_1


"Ayo Sif," kata Bima memasang kembali helmnya begitu juga dengan Boy.


"Iya," sahut Sifa sambil menaiki motor bersamaan dengan Julia yang naik juga.


Brom brom ngeng ...


***


Shani tampak berfikir sudah berapa lama dia koma dan tertidur di atas kasur yang menyebalkan ini.


Shani langsung menghubungi Arga.


Drrrt drrrt ...


“Ha-halo,“ ucap Arga gugup.


“Ini aku, Shani!“ sahut Shani dengan datar.


“Queen!" kaget Arga.


“Jangan terkejut, ada yang ingin aku bicarakan malam ini. Tolong siapkan mobil seperti biasa,“ pinta Shani.


“Baik Queen,“ sahut Arga.


Tut ...


Dengan cepat Shani mematikan ponselnya karena pintu ada yang membuka.


Ceklek ...


Dengan cepat Shani pura-tidur dengan lelap, karena ingin tahu siapa yang datang dan apa yang akan dilakukannya.


"Shani lagi tidur Cit," ucap Shina.


"Ya gak papa Shin yang penting aku bisa lihat sendiri," sahut Citra.


"Kalau kamu mau nemenin Shani boleh cuma 15 menit aja yahh," kata Shina lagi.


"Itu lebih dari cukup Shin," sahut Citra.


"Ya sudah aku keluar dulu," kata Shina kemudian keluar.


Citra memandang Shina yang sudah keluar lalu menutup pintunya.


Citra mendekati Shani dan duduk disamping tubuh Shani.


Dengan pelan dan lembut Citra membelai Shani penuh kasih sayang sambil bermonolog.


"Entah apa yang membuat kamu melupakan Mama, Nak."


Deg ...


Jantung Shani berdetak kencang.


'Apa Mama sudah tahu ya,' batin Shani.


"Shani sayang, kamu tau gak kalau Mama udah berhasil jeblosin Om Ken karena dia sudah buat kamu celaka! tapi ... Mama gagal jeblosin Laras sialan itu, dia sangat licik!"


'Sudah gue duga, Laras sialan itu sangat licik.' Shani membatin.


"Mama kangen banget sama kamu Shan," ucap Citra semakin menggenggam erat tangan Shani dan mencium keningnya. "Maafin Mama waktu itu yahh, ternyata Xavier itu bukan anak Mama hiks hiks hiks ... Papa kamu selingkuh dengan Laras!"


Perlahan tapi pasti, Shani membuka matanya dan membelai rambut Citra.


"Sudah jangan menangis," ucap Shani dengan suara seraknya.


Citra langsung bangun dan melihat Shani sudah terbangun.


"Ahh maaf, Tante gak sengak membangunkan kamu."


"Tidak papa, kenapa menangis."


"Gak papa, Tante cuma senang aja kamu akhirnya sadar."


"Hanya itu?"


"Iya Shani."


"Tante," panggil Shani.


"Iya sayang," sahut Citra.


"Aku minta Tante jangan menangis lagi, Shani tahu hidup Tante makin buruk tapi akan lebih buruk jika Tante terus menangis! Shani yakin, Tante akan menemui kebahagiaan tersendiri."


Citra semakin menangis dan Shani tidak tega lalu memeluknya.


"Terima kasih Nak," ucap Citra sambil terisak.


Ternyata pembicaraan mereka berdua tanpa sadar didengar oleh Shina.


Dengan cepat Shina meninggalkan kamar Shani dan memilih masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


***


NEXT


__ADS_2