MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
77


__ADS_3

Malam ini seperti biasa Shani akan pergi ke markas.


"Queen," ucap Dara.


"Kak, sepertinya rencana lu yang itu dibatalkan saja."


"Kenapa?"


"Gue punya rencana yang lain."


"Bisa kasih tahu gue."


"Kakak tidak perlu tahu."


"kok gitu sih."


"Maaf ya Kak, ini keputusan gue."


"Gue gak setuju!"


"Kenapa gak setuju?"


"Gue ini Kakak lu berhak ngelindungin seorang Adik."


"Gue tahu lu sayang sama gue tapi gue juga gak bisa terus-terusan kayak gini."


"Bisa kasih tahu rencana lu apa?" tanya Dara sekali lagi.


"Pertama-tama gue bakalan habisi Tuan Endras secepatnya baru bongkar kejahatan Regan dan Cici didepan Papi Toni."


"Gimana caranya lu ngalahin Tuan Endras, Shan."


"Gue punya cara buat ngalahin Tuan Endras."


"Lu yakin itu."


"Kalau gak percaya lu bisa ikut dan lihat gimana cara gue ngalahin si tua bangka itu."


"Ok, gue bakalan lihat cara lu."


"Gimana tahanan?"


"Mereka masih tidur."


"Enak sekali tidur."


"Hehe lu mau bermain sama mereka."


"Sedikit."


"Ya sudah mumpung mereka tidur."


"Gue ke bawah dulu."


"Selamat bersenang-senang."


"Hemmm."


Shani kemudian turun ke ruang bawah tanah sambil membawa dildo.


"Sepertinya kalian tidur nyenyak," ucap Shani membangunkan mereka.


"Ka-kau," ucap salah satu tahanan.


"Aku ingat wajahmu," sahut Shani.


Wajah pria itu ketakutan saat melihat Shani.


"Gue punya banyak pertanyaan sama lu."


"lu jangan macam-macam sama gue!"


"Ouhh ya!" Shani langsung mendekati laki-laki itu.


"Lu hanya sampah dimata gue, siapa yang menyuruh lu?"


"Gua gak akan kasih tahu lu, ingat itu baik-baik!"


"Ouhh begitu yahhh, baik tapi jangan salahkan gue." Shani menarik laki-laki itu dari teman-temannya dan membawanya ke ruangan kecil.


"Lu mau bawa gue kemana, bangsat!"

__ADS_1


Orang itu meneriaki Shani dengan kalimat kasar sehingga membuat otak Shani mendidih.


Shani langsung mendorong laki-laki itu dengan sangat keras hingga terjungkal.


Lalu kembali menariknya dan memegang kepala laki-laki itu.


"Akhhh apa yang ingin lu lakuin ha!?"


Shani tersenyum menyeringai lalu membenturkan kepalanya ke tembok.


Serasa sudah cukup, Shani merobek baju yang dipakai laki-laki itu.


Melepas celananya dan memasukkan dildo di lubang belakang.


Laki-laki itu berteriak dengan histeris tanpa henti.


Setelah puas melakukan itu, Shani kembali bertanya siapa yang menyuruh.


"Gue tanya sekali lagi siapa yang suruh lu?"


"Gue akan kasih tau lu tapi tolong berhenti melakukan ini, gue mohon sama lu."


"Tergantung."


"Gue ini laki-laki bukan cewek gak pantes diperlakukan kayak gini!"


"Siapa yang menyuruh lu, cepat katakan!"


"Apa ada jaminannya?"


"Ya, ada jaminan buat lu."


Laki-laki itu terdiam sebentar karena mencari sebuah kejujuran diwajah Shani.


"Ck, lama sekali atau gue bunuh lu!" bentak Shani.


"Gue disuruh Tuan Regan dan Nyonya Cici," ucapnya.


Shani tersenyum lalu kembali memasukkan dildo itu.


Laki-laki itu berteriak histeris bahkan sudah tidak berdaya lagi.


"Gimana rasanya dirudal paksa hemmmm?$l"


"Gue ingat wajah lu yang dulu memperkosa temen SMP gue, cihhh akhirnya gue bisa balas ini semua. Lu tahu kalau gue bakalan bikin adik kesayangan lu juga dirudal paksa, bagaimana?"


"Gue mohon, jangan."


"Kenapa lu memohon sama gue?"


"Gue mohon sama lu jangan apa-apain dia!"


"Ouh ya! Lalu bagaimana dengan teman gue yang memohon sama lu saat dirudal paksa, apa lu berhenti?"


Laki-laki itu terdiam membisu saat ditanya Shani.


"Gue pikir lu bakalan berhenti berbuat kejahatan setelah teman gue depresi dan bunuh diri tapi kayaknya lu gak bakalan sadar dan terus berbuat kejahatan jadi buat apa gue ampuni lu, apalagi sekarang lu kerja sama dengan Tuan Regan dan Cici. Itu cuma buat gue muak dan ingi segera bunuh lu!"


"Sialan!" ucapnya lagi dengan air mata yang menetes.


Shani tidak akan peduli dengan air mata yang sudah melukai harga diri temannya sekaligus penyerangan di mall itu.


Shani mengambil kapak lalu memandang laki-laki itu dengan amarah yang luar biasa!


"Kali ini berakhir sudah!" teriak Shani lalu mengarahkan kapak itu pada lelaki tersebut tepat dileher, tangan, dan kaki.


Lalu pergi ke teman-temannya, mencoba bertanya kembali siapa yang menyuruh mereka.


"Teman kalian sudah tenang jadi gue minta kalian jujur, siapa yang menyuruh kalian dan motifnya apa?" tanya Shani.


"Lu hanya bocah ingusan yang kebetulan menang dari kita," sahut seseorang paling belakang.


"Apa lu bilang tadi hemmm."


"Lu cuma bocah ingusan, bocah ingusan!"


Shani langsung menembak orang itu dengan brutal.


"Berisik sekali," ucap Shani lalu kembali bertanya.


"Apa disini tidak ada orang yang jujur," ucap Shani.

__ADS_1


"Meskipun kami kasih tahu, lu pasti bakalan bunuh kami."


"Pikiran yang pintar lalu kenapa kalian mau saja disuruh, perlu uang?"


"Ya, kami perlu uang."


"Perlu uang atau ingin kekuasaan? Gue tahu kalian ada segerombolan preman yang sering buat rusuh dipasar, memeras para pedagang, suka cari masalah dengan sopir bus!"


"Cih jangan mengada-ada."


"Gue gak perlu debat sama kalian, jujur atau tidak, gue udah tahu siapa yang suruh kalian tapi yang pasti kalian tidak akan bisa keluar dari sini! mungkin juga akan mati!" ucap Shani dengan senyum devilnya lalu menyuruh anggota lain untuk menyetrum mereka.


"kalian boleh bermain-main sebentar sebelum mereka mati."


"Baik Queen."


Shani kemudian keluar sedangkan anggota tadi langsung tertawa jahat karena diberi kesempatan untuk menyiksa tahanan.


"Kita hari ini ada mainan baru."


"Iya."


Tahanan itu berteriak minta dilepaskan.


"Lepaskan kami!" teriaknya.


"Hey jangan berteriak memohon sama kami."


"Tadi saja berani mengejek Queen kami dan sekarang minta dilepaskan, jangan harap!"


Semua tahanan hanya bisa menumpahkan air matanya karena takut dan sangat takut.


"Seharusnya gue gak ikut sama kalian?"


"Gak usah banyak bacot lu!"


"Ini semua gara-gara lu."


"Lu nyalahin gue."


"Iya, gue salahin lu karena lu yang ngajak kita!"


"Gue cuma ngajak bukan maksa kalian, seharusnya kalian yang pilih sendiri dasar bodoh!"


"Lu!"


"Apa?"


Semua tahanan ribut karena mereka berakhir menyedihkan.


"Diam!" bentak anggota Meteor.


"Kalian semua akan mati jadi jangan berisik!"


Sedangkan Shani menghampiri Dara.


"Gue mau pulang, Kak."


"Hati-hati ya."


"Iya, bye!"


Shani diam-diam pergi ke rumah Regan dan Cici untuk memasang kamera tersembunyi dan beberapa penyadap suara. Saat ingin masuk, Shani mematikan semua cctv dalam rumah itu dan menggantinya sedikit untuk dihubungkan dengan komputernya.


Kali ini gue bakalan bikin kalian berlutut sama Mami, Kakek, dan Nenek.


Shani berhasil masuk ke rumah itu tanpa ketahuan penjaga yang agak mengantuk.


Shani memasang cctv di ruang tamu, kamar Regan dan Cici, gudang, dapur, depan, belakang, samping, dan balkon begitu juga dengan penyadap suaranya di bawah meja ruang tamu.


Lalu Shani pergi ke dapur mencari teko yang berisi air. Shani memasukkan serbuk tanpa warna dan bau tapi bisa membuat seluruh otot melemas secara perlahan.


Shani kemudian keluar dari rumah itu dan kembali pulang.


Semoga saja gue gak ketahuan.


Karena takut ketahuan, Shani mengganti bajunya dengan baju tidur lalu masuk lewat dapur.


Karena haus, Shani menuang air lalu minum saat berbalik.


"Mama!" jerit Shani karena sang Mama tiba-tiba ada dibelakang.

__ADS_1


[][][]


NEXT


__ADS_2