
Shani mencari kedua sahabatnya.
"Kemana sih mereka," gumam Shani.
"Bhaaaaa!" Julia dan Sifa mengejutkan Shani dari belakang.
"Astaga," kaget Shani.
"Hahaha," tawa mereka berdua.
"Benar-benar menyebalkan kalian berdua."
"Sorry yah Shan," ucap Shani.
"Kalian kemana tadi?" tanya Shani.
"Beli sesuatu tadi," sahut Sifa.
"Beli apa?"
"Rahasia."
"Lu," tunjuk Shani pada Julia.
"Sama dong," sahut Julia.
"Cihh!" dengus Shani.
"Hahahah," tawa mereka berdua.
"Pulang yuk," ajak Shani.
"Iya nihh gue juga udah capek jalan," sahut Sifa.
"Ayo," sambung Julia.
Saat mereka menuju mobil tiba-tiba Julia diserempet motor.
"Jul!" teriak.
"Aaaa!" teriak Julia.
Untungnya Shani dengan cepat menarik tangan Julia.
Huffthhhh ...
Julia memegang dadanya karena shok.
"Lu gak papa?" tanya Shani.
"Iya," angguk Julia.
"Julia," ucap Sifa lalu mendekati Julia.
"Ayo masuk," titah Shani.
Julia dan Sifa pun masuk tapi mata Shani menatap tajam plat motor.
'6725,' batin Shani.
Shani mengantar Julia ke rumahnya.
"Mobil lu nanti di antar sama sopir yahh," ucap Shani.
"Iya," sahut Julia.
"Yakin lu gak papa Jul?" tanya Sifa sekali karena wajah Julia pucat.
"Gak papa kok, gue cuma shok aja tadi."
"Ya udah."
Tuan Rayhan dan Nyonya Flora melihat mobil Shani ada di depan.
"Julia," ucap Nyonya Flora.
"Mama," peluk Julia.
"Eh kenapa sayang," kaget Nyonya Flora.
"Ada apa ini, Julia kamu kenapa sayang?" tanya Tuan Rayhan.
'Haduhhh sae amat nih Julia, kan jadi curiga Om Rayhan. Gimana nih jelasinnya,' batin Sifa.
'Akan sulit lagi nihh,' batin Shani.
"Ya udah Om, Tante. Kita pulang dulu yahh," pamit Shani.
"Sifa juga ya Om."
"Kalian gak mampir dulu," ucap Nyonya Flora.
"Enggak Tante kayaknya kita langsung aja," sahut Shani.
"Ya sudah hati-hati yahh," ucap Nyonya Flora.
"Mari Om, Tante."
Shani dan Sifa langsung pulang, di dalam mobil Sifa seperti kenal motor yang ingin nyerempet Julia tadi.
"Eh Shan lu ngerasa familiar gak sama itu motor."
"Sedikit."
"Nahh iya, kan. Gue juga ngerasa kenal ama itu motor."
"Udah gak usah dipikirin yang penting Julia aman."
"Iya sih."
Shani sekarang mengantar Sifa ke rumahnya.
__ADS_1
Tapi saat sampai dirumah Sifa.
"Lepasin!" teriak Alya dan Sita.
"Ikut kami!" bentak orang itu.
"Mama, Tante!" kaget Sifa.
Sifa langsung keluar dan berteriak.
"Lepasin mereka!" teriak Sifa.
"Jangan Sifa, bahaya Nak."
"Ma, ini sudah keterlaluan!"
"Sudah sayang, pergi kamu selamatkan diri."
"Enggak Ma, Aevan mana Tan?"
"Aevan sudah disekap sama mereka dalam mobil sana."
"Apa!"
Bughh! Bughh! Bughh!
"Shani!" pekik Sifa.
Shani menghajar mereka satu-persatu.
"Jangan ikut campur urusan kami bocah!" geram preman itu.
"Gue gak akan ikut campur selama lu gak ganggu sahabat gue," sahut Shani dengan datar.
"Dasar bocah gemblung!"
Shani sangat marah dikatakan gemblung.
"Ayo maju kalian tua bangka!"
"Dasar bocah!" preman itu mengambil pisau.
"Aaaaa!" teriak Alya dan Sita melihat pisau di tangan preman itu.
"Shani hati-hati," ucap Sifa sangat cemas.
Bughhhh! Bughhhh!
Shani juga menggunakan pisau lipat sebagai senjatanya.
Craishhh ...
"Aaaakhh," ringis preman itu karena berhasil Shani lukai dengan menggores ditelapak tangan.
Bughh!
Shani juga menghajar wajah preman satunya dan menginjak wajahnya.
Bughhh!
Preman yang lain jadi waspada.
"Hati-hati dia bukan bocah biasa," ucapnya lagi.
Shani tersenyum menyeringai.
"Ayo maju kalian," tantang Shani.
"Sombong sekali bocah ini," umpat preman itu.
"Kita bunuh saja!"
Shani dan dua preman itu langsung adu bogeman.
Bughhh! Bughhh! Bughh!
"Akhhh," ringis mereka semua.
Kelima preman itu langsung minta ampun.
Alya langsung mendekati preman itu.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Alya.
Preman itu diam karena dalam perjanjian tidak boleh menyebut nama yang menyewa.
"Tidak mau bicara yahh," sahut Sita lagi.
Sebenarnya Sita dan Alya sudah menduga siapa yang menyewa preman ini tapi kali ini mereka ingin merekam bukti kejahatan Sandra.
"Kalian berdua tenang saja, Shani bisa buat mereka bicara tanpa harus banyak omong dan tenaga."
"Bagaimana caranya Shani?" tanya Sita.
"Iya gimana," sahut Alya.
"Kita cari keluarga kelima preman dan bunuh mereka semua!" ucap Shani dengan datar .
Deghhh!
Jantung Alya, Sita, dan Sifa hampir copot.
"Itu ..." ucap Sifa.
"Jangan libatkan keluarga kami," mohon semua preman itu.
"Maka dari itu cepat katakan!" ucap Shani dengan mata psikopatnya.
"Ba-baik," sahut salah satu preman itu gagap.
"Bagus," ucap Alya.
__ADS_1
"Ma, ponsel."
"Iya Fa ini."
Sifa sudah siap dengan posisi merekam.
"Sekarang mengakulah," ucap Shani.
"Baik, kami disuruh Nyonya Sandra untuk menghabisi Alya dan Sita."
Alya dan Sita tersenyum puas.
"Telpon polisi," ucap Shani.
"Baiklah," sahut Sita.
"Aevan," ucap Alya teringat anaknya.
"Iya Tan, Aevan kemana?" tanya Sifa.
"Dia dalam mobil," sahut Alya.
"Ayo kita tolong Tan," ucap Sifa lagi.
"Iya," sahut Alya.
Mereka kemudian mendekati mobil preman itu dan membuka bagasi nya.
Terlihat Aevan dengan ikatan diseluruh tubuhnya dan lakban di mulut.
"Ya ampun Aevan, ya Allah Nak."
"Tante, kayaknya Aevan pingsan."
"Kamu benar."
"Ayo kita angkat Tante."
"Iya."
Tidak lama kemudian polisi datang.
"Pak polisi tolong tangkap mereka dan yang menyuruhnya, dalam sini ada buktinya."
"Baiklah Bu, bisa tunjuk kami dimana kediamannya."
"Iya Pak, kebetulan yang menyuruh mereka juga mantan mertua saya."
"Baiklah, ayo ikut kami."
Alya dan Sifa membawa Aevan ke rumah sakit karena habis di hajar para preman itu sedangkan Sita dan Shani ikut bersama polisi untuk menangani Sandra.
[][][]
Zaki langsung mendorong Ibunya karena sudah keterlaluan.
"Berani kamu dorong Ibu, Zaki!"
"Karena Ibu seorang penjahat!"
"Ibu melakukan ini karena sayang sama kamu."
"Persetan dengan sayangnya Ibu justru itu awal dari penderitaan Zaki!"
"Dasar anak kurang ajar!" geram Sandra yang ingin menyuntik lumpuh Zaki.
Brakkk!
"Angkat tangan," ucap polisi.
Sandra langsung terperanjat dan mengangkat tangannya lalu berbalik ke belakang.
"Mbak Sita," ucap Zaki.
"Saya melaporkan Ibu kamu ke polisi karena berusaha ingin membunuhku dan Alya," sahut Sita.
"Gak papa Mbak justru saya senang, oh ya Pak polisi saya juga ada laporan tentang dua jasad di dalam gudang."
"Zaki hentikan!" teriak Sandra.
Polisi itu mendekati Zaki dan melepaskan ikatan tali.
"Mari Pak saya antar."
"Iya."
Polisi yang satunya memborgol Sandra.
Zaki membawa para polisi ke dalam gudang.
"Pak, disinilah Ibu saya menyembunyikan jasad kedua anaknya. Oh ya Mbak Sita, satu hal yang ingin Zaki kasih tahu."
"Apa itu."
"Mas Viko tidak bunuh diri tapi dihabisi oleh ibu durjana seperti dia! dan untuk adikku yang perempuan bukan bunuh diri juga tapi dibakar sama Ibu iblis ini dan dia tidak dihamili oleh saudaramu Mbak tapi dihamili oleh anak buah Ibu sendiri!"
"Bagaimana mungkin tapi kenapa dia mengatakan jika saudara saya yang melecehkannya."
"Bohong Mbak, justru saudara Mbak yang menolong adik saya saat dilecehkan tapi dengan jahatnya Ibu menjadikan saudara Mbak untuk memisahkan Mbak dengan Mas Viko. Saudara Mbak juga dia yang membunuh, Pak polisi hukum seberat-beratnya perempuan jahannam ini!"
"Tidakkk!" teriak Sandra.
Sita sangat shok dan hampir terjatuh, untungnya ada Shani yang memegang.
"Bu Sita, Ibu baik-baik saja."
Sita tidak bisa menerima kenyataan jika saudaranya tidak bersalah dan sudah membunuh Kakaknya.
Lalu sekarang dimana jasad Kakaknya.
[][][]
__ADS_1
NEXT