
"Aaaaaaaa!"
Bugh ...
Bugh ...
"Aaaaaaa!"
Shani juga mencabut gigi Arga dengan paksa sampai bersimbah darah begitu banyak.
krashhh ...
Krashhh ...
"Aaaaaaaaa!" teriak Arga.
Bugh ...
Bugh ...
Shani kembali mengambil gunting dan memotong ****** susu milik Arga.
Tes ...
Tes ...
"Aaaaaaaaa!" teriak Arga lagi.
Merebahkan Arga ke meja dan mengikat kedua kaki dan tangannya.
Shani menghidupkan mesin pemotong pohon yang kecil.
Jrommmm ...
Jrommmm ...
Ngeeeeeeeeiiing ...
Memotong tangan Arga sebelah kanan.
Ngeeeeeeeeeiiiiing ...
Memotong tangan Arga sebelah kiri.
Begitu juga seterusnya, kaki dan tubuh yang terbagi dua. Arga, jangan ditanyakan lagi dia sudah tidak ada saat giginya dicabut secara paksa tadi.
Brak ...
Shani melempar alat pemotong itu dan pergi ke kandang peliharaannya yang hanya sama dirinya jinaknya.
"Gweeeen," panggil Shani.
Gween langsung mengaum manja pada Shani seperti biasa.
"Gue rindu sama lu Gween, muachh ..."
Dara sudah membersihkan tubuh Arga tadi dan melemparnya ke kolam ikan piranha.
Anak buah Shani langsung mengambilkan makanan daging khusus Gween.
"Apa Gween lapar?" tanya Shani.
Sebagai jawaban, biasanya Gween akan mengaum manja pada Shani.
"Hihihihi ... lucu sekali, ini ada makanan."
Gween begitu bahagia karena mendapatkan makanan yang lezat.
"Gue pergi dulu ya Gween, lu baik-baik disini."
Shani keluar kandang dan menemui Dara yang tengah membersihkan darah.
"Kak Dara," panggil Dara.
"Iya Dek ada apa?"
"Pindahkan Laras ke ruangan paling ujung!"
"Kalau boleh tahu, untuk apa Dek?"
"Ada sesuatu yang ingin gue tanya sama dia."
"Baiklah."
"Ouh ya malam ini jangan lupa lelang persenjataan kita, Kak Dara yang mewakilinya."
"Iya Dek, serahin aja ke Kakak."
"Gue pergi dulu."
"Baik."
***
Darma mendapatkan suatu fakta yang cukup mengejutkan Malik.
__ADS_1
"Sial," gumam Malik.
"Kita harus awasi mereka berdua Pa," kata Shina.
"Itu sudah pasti, sepertinya Toni tidak tahu kalau Mama sambungnya sangat licik!"
"Kita harus kasih tahu Toni," sambung Ratna.
"Kayaknya mustahil deh Ma," kata Shina lagi.
"Mustahil, maksudnya?"
"Mas Toni itu sangat menghormati Mama sambungnya dan dia sayang banget."
"Iya juga sih."
"Gini aja, kita biarin aja Toni yang penting kita harus melindungi Citra dan Shani. Kamu juga Shina, Papa khawatir sama kamu."
"Papa kamu benar Shin, Mama lihat Mama Cici itu gak suka Toni punya anak."
"Dia tidak suka Toni punya anak karena tidak ingin harta itu jatuh ke tangan anak kamu."
"Kamu bisa lihat sendiri Shani dari dulu bahkan sekarang," kata Malik lagi.
"Shina paham Pa," sahutnya.
"Papa sudah menyiapkan mata-mata untuk melindungi kamu dan Shani dirumah itu."
"Kalau Citra Pa?" tanya Shina lagi.
"Tenang aja, Papa juga sudah menyuruh anak buah Papa untuk mengawasinya."
"Syukurlah," ucap Shina.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Darma.
"Lanjutkan awasi Regan dan Cici tapi untuk kali ini kamu boleh menggunakan kekerasan jika itu menyangkut nyawa kamu," sahut Malik.
"Baik Tuan."
"Lebih baik kamu kembali Darma, saya yakin Regan dan Cici merencanakan sesuatu yang jahat untuk Shani."
"Baik Tuan." Darma pun pergi meninggalkan kediaman Malik dan Ratna.
"Papa, apa sebaiknya Citra tinggald dirumah sini saja. Itu lebih baik Pa," kata Shina.
"Itu yang sedang Papa pikirkan," sahut Malik.
"Kita tanya Citra dulu, apa dia mau!" sambung Ratna.
"Shina sebaiknya kamu awasi Toni, kadang suami kamu bodoh!" ungkap Malik.
"Sayang kamu sangat tidak berperasaan mengejek menantu dihadapan istrinya tapi itu benar," kata Ratna.
"Ikh Mama, kalian nyebeli!" cemberut Shina.
"Hahahah ..." tawa Malik dan Ratna.
***
Boy dan Julia merasa ada yang aneh karena Gea dan Fini tidak masuk sekolah.
"Dou kematian itu mana yah," kata Julia.
"Maksudnya Gea sama Finni Yang," sahut Boy.
"Iya."
"Entahlah, kita gak usah mikirin mereka. Syukur-syukur mereka gak ada, aman juga nih sekolah."
"Hehehe iya juga sih Yang."
Bima dan Sifa langsung ikut gabung ke meja Boy dan Sifa.
"Gimana dinner tadi malam, berhasil gak?" tanya Boy.
"Sukses bro," sahut Bima.
"Kalian janjian?" tanya Julia.
"Iya, kok aku curiga!" sambung Sifa.
"Ini loh Yang. Bima sama Sifa malam tadi dinner," kata Boy.
"Wah yang bener," sahut Julia.
"Iya," kata Bima lagi.
Sifa hanya tersenyum tipis dan itu membuat Julia heran.
"Ini kok yang habis dinner kenapa murung!" tanya Julia.
Bima melirik pacarnya itu dan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Ada masalah bro?" tanya Boy.
__ADS_1
"Gue gak ada masalah, cuma Sifa aja," sahut Bima.
"Lu punya masalah apa Sifa?" tanya Julia.
"Sebenarnya gue itu anak kandung Bu Sita," sahut Sifa.
"Whaaatttt," kaget Boy dan Julia bersamaan.
"Santai aja kali," kata Sifa.
"Gimana-gimana tadi, lu bilang anak kandung Bu Sita kok bisa sih?" kata Julia lagi.
"Kabar mengejutkan ini sih," sahut Boy sambil memakan kentang goreng.
"Itu baru satu, ada lagi." Bima berujar lagi.
"Apa itu?" tanya Julia.
"Sepupunya Sifa," sahut Bima.
"Sepupunya Sifa, siapa? jadi penasaran gue," kata Boy.
"Lu berdua pasti kaget," sahut Bima.
"Siapa anjir," kata Boy lagi.
"Sayang kasih tahu gih," titah Bima.
Fyuhhhh ...
"Sepupu gue, Aevan!" kata Sifa.
"What's the ****!" ucap Boy dan Julia bersamaan.
"Buset, santai aja kali kaya dengar Dajjal mau turun aja," sahut Sifa.
"Ini berita paling mengejutkan," kata Julia.
"Benar banget Yang," sahut Boy.
"Sudah ah, gue mau ke kelas."
"Tunggu Yang," kata Bima.
"Yehh mereka pergi Yang," kata Boy.
"Udahlah lanjut makan aja," sahut Julia.
***
Kazio akhirnya mengetahui jika Shani itu benar-benar anaknya.
"Papa yakin?" tanya Xavier.
"Iya Vier, Papa yakin itu makanya sekarang Papa mau nemuin Shani!" sahut Kazio.
"Xavier rasa jangan dulu Pa."
"Kenapa?"
"Suasananya kurang pas, Mama Citra pasti akan menghalangi Papa."
'Xavier benar,' ucap Kazio dalam hati.
"Lalu, apa yang harus Papa lakukan?"
"Papa harus bisa ambil hati Shani, itu aja kok Pa."
"Tapi gimana caranya, kamu tahu sendiri, 'kan Papa tidak pandai dalam hal itu."
"Itu kekurangan Papa dan harus Papa atasi sendiri."
"Kamu keterlaluan!"
"Lebih keterlaluan lagi Papa, mengusir Shani yang kecil."
"Itu masa lalu Xavier."
"Tetap saja, seharusnya Papa dengarkan dulu penjelasan Shani. Ini Papa malah mendengarkan ucapan Mama Laras!"
"Hahhh, kamu sangat pandai menyinggung yahh."
"Terserah Papa, Xavier balik ke kantor dulu."
"Ya sudah."
***
Tik ...
Tik ...
Air mata Laras jatuh berlinang air mata tanpa suara dan begitu hening.
'Setelah aku melahirkan Xavier, rahimku bermasalah saat hamil kedua bersamaan dengan Citra, anakku tidak selamat! Dia sangat cantik dan mirip sekali dengan Shani, Lalu Citra melahirkan bayi perempuan cantik dan saat itu Citra melemah dan tidak bisa memberikan asi. Hatiku tergugah ingin memberikan asi pada bayi cantik itu akan tetapi rasa benciku pada Citra makin besar dan membuatku gelap mata, Shani dia ... anak susuku, dia anak susuku. Sedangkan Gea hanya anak yang aku ambil di jalanan.'
__ADS_1
***
NEXT