MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
99


__ADS_3

Setelah acara, Shani dan Leon langsung masuk ke kamar dan memang juga sudah malam.


"Sayang, tolong lepasin ini dong."


"Sini sayang."


Leon menarik rasleting di punggung Shani, setelah dibuka terekspos-lah punggung mulus istrinya itu.


Glek ...


'Mulus banget,' batin Leon.


"Sayang kok lama sih," gerutu Shani.


"Eh maaf sayang."


"Aku dah gerah ini."


"Gak usah pakai baju juga gak papa, Yang."


"Itu mah maunya kamu."


"Ikh pinter keinginan suaminya tau."


"Enggak ahh masuk angin lagi nanti aku."


"Ya ampun istri aku ini, nyoblos yuk."


"Ish pemanasan aja belum gimana mau nyoblos."


"Makanya sini aku bukain bajunya."


"Kamu lama lepasnya, Yang."


"Namanya juga pemanasan Yang, sabar sedikit yah emuuah ..."


"Ikh geli Yang kamu cium-cium begitu."


Leon langsung melepas semua baju Shani, kini sang istri hanya memakai bra dan cd warna biru malam.


"Pemandangan yang sangat sempurna," puji Leon.


Shani tampak malu karena sekarang dia hampir tak memakai baju didepan suaminya sendiri.


"Sayang ahhh sayang ... sini Abang angetin."


Plak!


"Aduhh sayang kenapa dipukul."


"Jijik aku dengarnya."


"Hahaha beda yah kamu sama perempuan lain tapi aku suka, sini aku buat kamu mendesah di bawah kukunganku."


Leon langsung menarik tubuh Shani dan menindihnya di kasur.


Cup ...


Cup ...


Emmuahh Emmuah ...


"Mmmphhhh ahh Leon ahhh ..."


Sruuuup ...


Leon menciumi Shani dengan rakus bahkan tangannya sudah menjalar kemana-mana.


Meremas gundukan bulat dan memilinnya.


"Ahh ahhh ..."


Mengecup dan mengisap belahan dada sang istri adalah bagian terpenting bahkan meninggalkan jejak yang menawan.


"Ahhh Leon ..."


Leon melepaskan ****** ***** Shani dan menjilatnya.


Tubuh Shani menggelinjang seperti cacing panas.


"Ahhh Leon omg ahhh ..."


"Mammmmm ahhh Shani ahh Shani ..."


Sruuuup ...


"Ahhh ahhh ..."


Kemudian Leon membuka celananya dan mengelus sebentar naganya agar berdiri tegak.


"Buka pahanya lebar-lebar sayang," pinta Leon.


Shani tidak fokus karena masih merasakan sengatan listrik itu.


Karena Shani tidak merespon, Leon langsung membuka paha Shani dan memasukkan naganya ke dalam lubang kenikmatan itu.


Jleb ...


"Ahhh ..."


"Ahhh Shaniku sayang ahhh nikmatnya ..."


Leon menggoyangkan pinggulnya naik turun sedangkan Shani hanya mengikuti pinggul suaminya itu.


"Ahh ahhh ..."


"Sayang ahhh ..."


"Punya kamu ahh Leon ahh omg hah hah ahh ..."


"Sempit, punyaku terjepit sayang ahhh ahhh ahhh ..."


"Pengen sayang ..."


"Jangan ditahan sayang ahhh ..."


Leon kemudian melahap bibir Shani dengan rakus sambil pinggulnya bergoyang.


Emmmuah emmuahh ...


"Ahh Leon aku mau keluar ahh ..."


"Keluar sayang ahhh ..."


**** ...


"Ahh sayang huhhh ... hehehehe ... kamu nikmat banget sih emmuahhh capek yahh?" tanya Leon.


"Iya," sahut Shani yang sudah penuh dengan keringat.


"Ya udah sini Bobonya sambil peluk."


"Peluk aja jangan di apa-apain."


"Takut banget di apain Yang."


"Iyalah."


"Maca cihh."


"Ishh nyebelin banget sihh."


"Hihihi sudah-sudah ayo sini peluk kita bobo bareng."


"Emmm."

__ADS_1


'Gemes banget sih istriku ini,' batin Leon kemudian mengecup pipi Shani.


Emmuachhhh ...


"Ayaaaank ..."


"Iya-iya kita bobo."


[][][]


Paginya Citra sudah berkutat di dapur dan Darma sedang minum kopi di meja.


"Sayang," panggil Darma.


"Iya Yang ada apa?" tanya Citra.


"Pagi ini masakin rendang yahh."


"Boleh, ini juga aku mau bikin gulai ayam."


"Tambah sama ayam geprek ya Yang."


"Sip."


Darma memainkan ponselnya sambil membalas satu-persatu karyawan.


"Sayang, aku bawa bekal aja hari ini."


"Nanti aku siapin yahh."


"Iya makasih sayang, aku cuci mobil dulu didepan."


Citra mengangguk dan melanjutkan acara masaknya.


Tiba-tiba Shani memeluk Citra dari belakang.


"Pagi Mam ... ummm ..."


"Pagi juga anak mama udah bangun kamu."


"Iya."


"Udah cuci muka belum kusut banget itu, ayo cuci muka dulu."


"Iya Ma ..."


"Dasar anak itu udah nikah juga."


"Mama ..."


"Apalagi Shan."


"Nanti makan disuapin ya sama Mama."


"Ehh suami kamu Mana."


"Gak usah pikirin dia."


"Kamu gak papa, kan."


"Gak papa Ma."


"Yakin."


"Iya."


"Ya sudah kalau gitu."


"Shani mandi dulu."


"Jangan lupa gosok gigi."


"Iya Shani bukan anak kecil ihh."


"Gak mau di anggap anak kecil tapi minta disuapin, aneh banget anak itu."


"Ikhh kok aku jadi malu gini ketemu sama dia padahal suami sendiri," gumam Shani dalam kamar mandi.


Tok tok tok ...


"Sayang ... kamu ya di dalam," ucap Leon.


"Itu suara Leon hah ya ampun aku harus gimana ini."


"Sayang ..."


"I-iya aku masih mandi."


"Ouh ya udah aku tunggu yahh."


"Hemmm haduhhh jantungku mau copot, anjirrr ..."


Beberapa menit kemudian, Shani keluar dengan perasaan takut.


"Sayang ..."


"Aaaaaaa!" teriak Shani."


"Eh sayang kamu kenapa sihh hahh ... kenapa kamu?" tanya Leon panik.


"Gak papa, cuma refleks aja tadi."


"Beneran kamu gak papa."


"Iya."


"Ouh ya udah."


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bulan berganti bulan, saat ini Shani sedang hamil besar dan siap mau melahirkan.


"Tolong telpon Leon, Mas."


"Iya sayang."


Keluarga besar langsung membawa Shani ke rumah sakit.


"Aduhh Ma ... aduhh Mi ... sakit ..."


"Sabar ya sayang ... sabar ya Nak," ucap Shani.


"Pak cepetan dikit," desak Shina.


"Mi sakit Mi hiks hiks ..."


"Kenapa stop sihh mobilnya," ucap Citra.


"Aduhh macetnya," sahut Pak Sopir.


"Astaga!"


"Aduuuh Maaa ... sakiit ... sakiiit ... sakit Miii ..."


Kazio dan Xavier yang berada di belakang langsung mengatur lalu lintas agar Shani cepat di bawa ke rumah sakit.


"Lewat sana, kiri ... kiri ..."


"Kanan ... kanan ..."


"Lurus ..."


Akhirnya jalan terbuka dan langsung tancap gas.


Leon yang sedang bekerja di telpon Tuan Malik.


«Halo Kek, ada apa?»

__ADS_1


«Istri kamu mau melahirkan, cepat ke rumah sakit Medika.»


«Baik Kek.»


Diruangan bersalin, Shani berjuang melahirkan anak kembarnya yang pertama.


"Terus Bu ... ayo Bu ..."


"Iiiiiiiiiiiiiiiaaaaawkhhh ..."


Oeee oee oeee oeeee ...


"Hahhhh ..." nafas Shani tersengal-sengal dan perutnya kembali sakit.


"Masih ada satu lagi Bu, atur nafas Bu."


"Hah ... hah ... hah ... iiiiiiiieeeeeeeeekhh ekhhhh ..."


Oeee oeee oeeee ...


Semua yang mendengar suara bayi langsung berdiri.


"Sudah lahir," ucap Citra.


"Cucu kita sudah lahir Mbak," sahut Shina.


"Cicit kita Pa," ucap Ratna.


"Iya Ma cicit pertama kita," sahut Tuan Malik.


"Alhamdulillah," ucap Kazio.


"Kita punya cucu lagi Mas," tukas Laras.


"Iya sayang," sambung Kazio.


Akhirnya Leon datang dan melihat keluarga masih di luar.


"Bagaimana keadaan Shani?" tanya Leon panik.


"Masih di dalam tunggu Dokternya keluar yah," sahut Citra.


"Iya Ma."


Dokter pun langsung keluar dan memberitahu jika bayi dan ibunya selamat serta sehat.


"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya Leon.


"Ibu dan bayinya sehat," sahut Dokter itu.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersama.


"Saya boleh masuk Dok, mau azanin anak saya."


"Silahkan Pa, setelah itu kami akan memindahkan ibu dan bayinya ke ruang rawat."


"Terima kasih Dok."


Mereka semua langsung masuk dan melihat Shani terkulai lemas.


"Sayang," ucap Leon.


"Aku hampir saja-"


"Sssss ... jangan dikatakan, maafin aku yahh gak bisa nemenin kamu."


"Gak papa Kok, ada Mama sama Mami dan semuanya."


"Tetap aja aku merasa bersalah sayang."


"Ya lupain aja sekarang kamu azanin anak kita."


"Ouh iya."


Leon langsung mengazankan kedua anaknya laki dan perempuan.


Mereka semua bergembira dengan hadirnya makhluk kecil yang kembar.


Tidak lama kemudian pemindahan pasien ke ruang rawat.


"Ouh ya namanya siapa yahh," ucap Citra.


"Siapa sayang?" tanya Shani.


"Nama anak lelaki kita Abidzarraska Leonardo dan nama anak yang perempuan Adibazzahra Leonardo," sahut Leon.


Semua langsung tersenyum mendengar nama twins.


"Lalu panggilannya apa?" tanya Tuan Malik.


"Raska dan Zahra," sahut Leon.


"Nama yang bagus sayang," puji Shani.


Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Shani boleh pulang.


"Udah lama gak pulang ke rumah," ucap Shani sambil menggendong anaknya yang lelaki sedangkan satunya di gendong oleh Citra.


Semua orang berkumpul menyambut baby twins.


"Woahh meriah banget sayang," ucap Shani.


"Demi anak kita," sahut Leon.


"Mana cucuku," ucap Mamahnya Leon.


"Cucuku yang tampan dan cantik," sahut Papahnya Leon.


Semua langsung tertawa karena berebut cucu.


Sifa dan Julia juga langsung melihat anaknya Shani.


"Gila si Shani sekali hamil dapat dua," ucap Bima.


"Aku kapan yahh," sahut Boy.


"Aevan dan Karin langsung memberi kado baby twins.


Semuanya memberikan kado untuk baby twins-nya Shani dan Leon, belum lagi dari teman-teman Dokter Shani dan beberapa kolega bisnis Tuan Malik, Tuan Kazio, Tuan Darma, Tuan Xavier.


Bahkan kado dari anggota The Meteor juga hampir satu truk.


Shani begitu bahagia dengan kehadiran sang anak ini.


5 Tahun kemudian anak Shani dan Leon beserta yang lain juga sudah besar.


David suka sekali menjahili Zahra, saat Zahra menangis Raska-lah yang pertama membela.


Meskipun pertengkaran kecil membuat mereka sering menangis tapi itu tidak mengurangi rasa bahagia Shani dan Leon.


Shiana juga sangat memanjakan Raska perbedaan umur yang membuat Ana menjaga Raska Zahra.


Kali ini Toni diterima baik oleh Shina dan mereka berdua kembali rujuk.


Ana bahkan membuat diary sendiri di sekolahnya tentang keluarga.


Toni berjanji dan membuktikannya sendiri jika dirinya berubah dan akan lebih tegas jika ada hama yang mendekat.


Tuan Malik dan Nyonya Ratna kini tidak segagah dulu, mereka harus menggunakan jasa rawat untuk mengurus mereka dan bertemu lalu bermain dengan cucu bahkan cicit.


Tamat.


[][][]


NEXT

__ADS_1


PROMOSI NOVEL BARU DENGAN JUDUL " BENCI ANDA!!! "


__ADS_2