MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
67


__ADS_3

HAY GUYS, KALAU MAU LIHAT VISUAL MEREKA INI BISA MELIHAT DI INSTAGRAM GUE YAH @SWAHY18.


() () ()


Shani terus merengek dihadapan Shina agar di izinkan sekolah lagi.


"Please Mi, boleh ya ..."


"Gak boleh!"


"Kenapa gak boleh?"


"Kamu home schooling sampai lulus."


"Gak mau!"


"Bandel yahhh."


"Shani gak bandel."


"Buktinya ini kamu bandel."


"Tapi Shani cuma mau masuk sekolah dengan nyata bukan online."


"Ini keputusan Mami dan Papi."


"Tetap aja Shani gak mau."


"Ikhh dasar bandel!"


"Aduh Mami, lepas sakit."


Tiba-tiba ...


"Nona awas," kata anak buah Malik.


Prank ...


"Apa itu," Malik mendengar suara kaca pecah.


"Kalian berdua tidak papa?" tanya anak buah Malik.


"Ada apa?" tanya Malik.


"Sepertinya ada yang menyerang? kita akan cari Tuan?"


"Shina, Shani!"


Shina cukup kaget karena diserang langsung dari rumah sedangkan Shani sudah mengantisipasi musuh dari jauh.


"Ayo," kata Malik membantu Shani dan Shina berdiri.


"Mami kayaknya shok Kek," sahut Shani.


"Ayo bawa Mami ke kamar," titah Malik.


"Kakek mau kemana?" tanya Shani.


"Bawa saja Mami kamu ke kamar Shan, kamu gak perlu tahu!" tegas Malik. / 'Akan sangat berbahaya kalau Shani tahu,' batin Malik.


"Baiklah," sahut Shani. / 'Maaf Kek, tapi Shani akan buat perhitungan.'


"Mi ayo kita ke kamar," ajak Shani lalu menggandeng Shina.


Ratna langsung ke kamar Shina karena khawatir, apalagi ada Shani.


"Shani, apa yang terjadi?" tanya Ratna.


"Ada yang nyerang Nek," sahut Shani.


"Di rumah ini sendiri," kata Ratna lagi.


"Iya," sahut Shani lagi sambil menyelimuti Maminya.


"Kakek kamu mana?"


"Kakek tadi pergi sama bodyguard gak tahu mau kemana."


"Ya sudah, kamu sama Mami kamu tetap di kamar yah."


"Emang kenapa Nek?"


"Sudah kamu jangan banyak tanya, nurut aja!" / 'Aku sangat yakin Mas Malik pasti mengejar musuh itu,' batin Ratna.


"Iya." / 'Maaf ya Nek, untuk kali ini Shani gak bisa janji.'


Ratna langsung menutup pintu kamar dan turun karena ingin menelpon suaminya.


Drrt ...


Drrt ...


“Halo Mas, dimana?“


“Mas ada di markas sekarang, kamu jaga mereka berdua yah.“


“Iya Mas.“


Tut!


"Sepertinya harus memperketat penjagaan," gumam Ratna.


() () ()


Darma menemani Citra ke mall.

__ADS_1


"Apa ini cantik Dar?" tanya Citra.


"Apa itu untuk Nona Shani," sahut Darma.


"Iya, dia pasti senang memakai gelang ini," kata Citra.


"Iya Nyonya, itu sangat cantik." / 'Yang membelinya pun juga cantik.'


Ponsel Citra berdering.


"Siapa yah yang nelpon, Mama Ratna." / “ Halo Ma ada apa?“ tanya Citra dalam telponnya.


“Halo juga sayang, kamu ada dimana?“


“Emm lagi di mall sih Ma, ada apa?“


“Ouh kamu belanja, udah selesai belum.“


“Udah selesai sih Ma ini.“


“Ya sudah kamu ke rumah yah sekarang.“


“Iya Ma.“


Tut!


"Aneh," gumam Citra.


"Ada apa Nyonya?" tanya Darma.


"Kita ke rumah Mama Ratna yah,"sahut Citra.


"Baik Nyonya."


"Ayo."


() () ()


Sedangkan Antoni sedang berdebat dengan Papanya masalah Shani.


"Toni tidak suka dengan sikap Papa tadi pagi!"


"Apa ada yang salah Ton, jangan bicara seperti itu dengan Papa kamu!" kata Cici.


"Mama dan Papa yang seharusnya jaga sikap, kita sudah bahas ini sebelumnya. Jangan pernah membicarakan ini dihadapan Shani, itu kesepakatannya!"


"Shani itu bukan anak kamu," kata Regan.


"Tapi Toni sudah anggap Shani itu anak Pa," sahut Toni.


"Shina itu perempuan mandul, tinggalkan dia!" bentak Regan.


"Toni tidak akan tinggalkan Shina karena dia saat sedang meng-"


"Tuan," kata anak buah Regan langsung memotong pembicaraan Toni tanpa sengaja.


"Anak buah Tuan Malik mulai menggeledah tempat bisnis kita."


"Apa!"


"Iya, apa yang harus kita lakukan?"


"Singkirkan barang itu jangan sampai mereka tahu."


"Baik!"


"Barang apa Pa?" tanya Toni.


"Bukan urusan kamu," sahut Regan.


"Ayo kita pergi Pa, percuma bicara sama anak ini!" cibir Cici.


"Iya Ma, ayo!"


Regan dan Cici meninggalkan Toni yang masih berdiri di ruang tengah.


'Papa dan Mama benar-benar berubah,' batin Toni.


() () ()


Shani menelpon Dara untuk mengikuti Kakek Malik karena ingin tahu juga.


Drrt ...


Drrt ...


“Halo Kak Dara, ada misi.“


“Baik!“


Tut!


"Gue harus keluar tapi gimana caranya," gumam Shani.


"Jangan ada niat keluar dari sini, Shani!" ucap Shina bersedekap dada.


"Eh Mami!" kaget Shani sampai ponselnya jatuh.


"Apa, kamu kenapa kaget hemm mencurigakan."


"Ehh enggak kok."


"Masa?"


"Iya."

__ADS_1


"Ayo balik ke kamar, ngapain dibalkon."


"Iya Mi." / 'Bakalan susah nih.'


() () ()


Alya sekarang makin akrab dengan Sita bahkan kali ini mereka akan menginap dirumah Sita.


"Mama aja yang nginep, Aevan di apartemen aja."


"Loh kok gitu sih, gak asyik ah."


"Ma, please!"


"Ya udah deh tapi ingat yahh terus kabarin Mama."


"Iya."


"Gimana Al, udah siap?" tanya Sita.


"Siapa Mbak," sahut Alya.


"Ya sudah."


"Iya."


"Aevan, Mama kamu Tante bawa dulu yah."


"Iya Tan, jagain Mama yahh. Kalau ada apa-apa kabarin Aevan."


"Iya."


Setelah Alya dan Sita pergi, Aevan ingin masuk ke apartemennya tapi ada suara motor yang datang.


Brom!


Aevan menoleh.


"Lu," ucap Aevan.


"Gue boleh masuk," sahut Bima.


"Ngapain, bukannya lu benci banget sama gue."


"Iya, makanya gue kesini."


"Ngapain?"


"Ada yang ingin gue omongin."


"Ouh, masuk!"


Mereka berdua pun masuk.


"Nih ..." Aevan melempar minuman kaleng suprite.


"Makasih bro," kata Bima.


"Lu mau bicara apa? waktu gue gak banyak!" sahut Aevan.


"Santai aja bro, jangan terlalu kaku begitu. Ada yang ingin datang kesini."


"Maksudnya?"


"Tunggu aja dulu."


Ting tong ...


"Nah itu mereka pasti ada didepan," kata Bima kemudian membuka pintu.


"Maaf telat," kata Boy sedang menggandeng Julia.


"Kalian berdua ..." Aevan tidak menyangka siapa yang datang ke apartemennya.


"Sorry Van kita datang gak ngabarin lu," sahut Boy.


"Mau ngapain kalian kesini, jangan ganggu gue!" tegas Aevan.


"Santai Van, buat diri lu rileks. Kita disini mau minta maaf, apa kita bisa bersahabat lagi?" tanya Bima.


"Maksud lu apa? jangan mempermainkan gue," sahut Aevan.


"Kita udah tahu, lu sepupuan sama Sifa. Iya, 'kan." Boy berujar dengan tatapan mata yang tajam.


"Iya, kita semua udah tahu. Mungkin lu punya masalah Van, kalau lu mau cerita kita bisa bantuin lu." Bima ikut menimpali supaya persahabatan mereka tidak hancur.


"Huh, gue gak ada pilihan lain. Ok, gue maafin dan gue juga mau minta maaf sama kalian. Mungkin sifat gue selama ini terlalu kekanakan," sahut Aevan menunduk. / 'Sampai membuat dia gak suka sama gue.'


Mereka bertiga tersenyum.


"Kayaknya masalah kalian bisa diselesaikan dengan baik," kata Julia.


"Iya sayang, makasih yah udah ngeyakinin aku. Coba aja kamu gak nasehatin, aku gak tahu apa yang terjadi ke depannya." Boy memegang tangan Julia.


"Udah kali bucinya," keluh Bima.


"Lu juga bucin sama Sifa," sahut Boy.


"Gue tahu tempat anjirr," kata Bima lagi.


"Ya tetap aja sama!"


"Beda pea!"


"Berisik kalian," lerai Julia dengan kesal.

__ADS_1


Aevan hanya tersenyum melihat kerusuhan mereka yang kini kembali menjalin persahabatan.


() () ()


__ADS_2