MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
94


__ADS_3

Sudah satu Minggu berlalu dan hari ini adalah pernikahan Xavier Arizaya dengan Dara.


Semua kolega bisnis Kazio hadir.


Laras juga sangat bahagia karena Citra dan suami mau datang. "Makasih Cit, kamu sudah mau datang ke acara pernikahan Xavier."


Citra langsung tersenyum dan cipika-cipiki. "Biar bagaimanapun Xavier juga anakku, Ras."


"Terima kasih yahh."


"Sama-sama."


Darma juga memberikan selamat pada Kazio. "Selamat ya Pak Kazio, Xavier sudah menikah semoga langgeng sampai kakek nenek."


"Terima kasih doanya, Pak Darma."


"Sama-sama Pak Kazio."


Kemudian Citra menyusul suaminya dan memberi selamat pada Xavie dan Kazio.


Darma dan Citra turun dari panggung lalu memilih meja untuk duduk.


"Kamu mau makan yang mana sayang?" tanya Darma.


"Samain aja sama Mas," sahut Citra.


"Baiklah kamu duduk disini biar aku yang ambil."


"Makasih Mas."


"Iya sayang."


Kemudian Shani memeluk Xavier dengan erat. "Selamat ya Kak."


Xavier begitu senang dengan kedatangan sang adik. "Kamu udah sembuh?"


"Sudah Kak."


"Beneran."


"Mana ada, dia pagi tadi masih minum obat. Itu pun di paksa, Vier."


"Mami ..."


"Kan benar sayang, kamu pagi tadi juga masih panas makanya Mami minum obat."


"Ya ampun Dek, ya sudah lebih baik adek duduk disitu biar gak capek."


"Gak papa kok Kak."


"Ouh enggak, kamu gak boleh capek hari ini pakai kursi roda yahh."


"Aku gak lumpuh Kak."


"Waspada kamu capek sayang, nurut yahh."


"Tapi ..."


"Mami setuju sayang, kamu aja tadi di jalan hampir jatuh karena gak seimbang dan pusing. Pakai kursi roda aja yahh," bujuk Shina.


"Mami ... Kak ..."


"Emm emm emm," ucap Shina.


Citra yang melihat ke over protektif-an Shina pada Shani hanya tersenyum.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Darma.


"Coba kamu lihat Shani sepertinya cemberut karena di paksa pakai kursi roda," sahut Citra sambil menunjuk ke panggung.


"Itu artinya dia tulus menyayangi Shani."


"Kamu benar Mas, Shina itu tulus banget menyayangi Shani apalagi sejak dia hamil keposesifan dia itu cukup membuat Shani shok."


"Itu aku setuju."


"Hahaha ..."


Sesi pemotretan pun dilaksanakan dengan suka cita dan bahagia.


[][][]


Xavier akan honeymoon di Bali.


"Kalian jadi ke Bali?" tanya Kazio.


"Jadi Pa," sahut Xavier.


"Cieee ke Bali," goda Shani yang memang menginap dirumah Kazio sejak pernikahan Xavier dengan Dara.


"Apa sih anak kecil," ucap Xavier.


"Tau nih masih kecil juga," ucap sang papa yaitu Kazio.


"Shani udah gede tau," sahutnya dengan cemberut.


"Iya anak Mama udah gede kok," sambung Laras.


"Tuh Mama aja bilang Shani udah gede."


"Tetap aja masih kecil," ledek Dara.


"Ishh apaan sihh bentar lagi Shani kuliah tau."


"Iya-iya deh si paling kuliah," ucap Xavier.


"Papa ..." rengek Shani karena terus di katain Xavier.


"Udah-udah Vier kasian adik kamu, Shani makan yang banyak yahh biar sehatnya pulih 100%."

__ADS_1


"Makan sayur juga," sambung Laras mengambil bayam untuk Shani.


"Udah jangan bangak-banyak Ma."


"Iya ini sedikit aja Kok."


[][][]


Hari ini Xavier dan Dara berangkat.


"Kita pergi dulu ya Ma ... Pa ..." ucap Xavier.


"Hati ya Nak," sahut Laras dengan bahagia.


"Iya Kan doain Xavier sama Dara."


"Jangan lupa bawa cucu buat Papa sama Mama juga adik kamu," goda Kazio.


Dara menahan malu dan pipinya sangat merah.


"Pipi Kak Dara kenapa merah?" tanya Shani.


"Gak ada merah kok," kilah Dara.


"Itu merah kayak tomat," ucap Shani.


Dara menyenggol Xavier untuk menjawab Shani.


"Itu karena make up aja Shan," tukas Xavier.


"Ouhh," sahut Shani.


"Ya sudah kita pergi dulu yahh," ucap Xavier pamit pada semuanya.


Setelah mobil Xavier pergi, Kazio mengajak Shani dan Laras jalan-jalan.


"Kita jalan-jalan yuk," ajak Kazio.


"Kemana Mas?" tanya Laras.


"Ke mall aja," usul Shani.


"Ya sudah kita ke mall, ayo kita pergi."


"Ayo Ma ... Pa ..." ucap Shani dengan sumringah.


Kazio dan Laras hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Shani.


[][][]


Beberapa Minggu kemudian Shani sudah kuliah di kampus yang dia mau.


Sesuai kemampuan Shani dia sangat berkualitas.


Saat Shani ingin masuk ke kelas ada cowok yang tidak sengaja menabrak Shani.


Brugh ...


Shani mengambil buku yang jatuh.


"Gak papa," sahut Shani dengan singkat.


Cowok itu langsung mendekati Shani.


"Maaf ya," ucapnya lagi.


Shani hanya berdehem dan cuek bebek.


Cowok itu tersenyum karena sikap dingin Shani.


'Menarik,' batin cowok itu.


Shani kalau diluar rumah akan menjadi pribadi yang dingin apalagi semua sahabatnya pindah.


Dosen pun masuk dan memperkenalkan diri sama seperti mahasiswanya.


"Perkenalkan nama saya, Azka."


"Baik Pak Azka," ucap semua mahasiswa yang ada di kelas itu.


Pelajaran pun dimulai dengan lancar.


Saat ini Shani sedang makan sendiri di kantin sambil memainkan ponselnya.


Cowok yang tadi sangatlah tampan dan membuat mahasiswi yang melihatnya terpana.


"Eh itu, kan Axel Pratama."


"Ah iya betul aaaa ... ganteng banget."


"Samperin yuk."


"Ayo."


Axel ingin mendekati Shani tiba-tiba didekati cewek-cewek.


"Hay Kak Axel."


"Ehh!"


"Kak minta nomor dong."


"Ishhhh minggir dulu ahh."


"Ikh Kak Axel."


Shani yang merasa terganggu dengan kebisingan pada cewek di samping langsung pergi dan mencari tempat yang tenang.


Saat Axel sudah berhasil membuat para cewek itu pergi dia sudah tidak melihat Shani lagi. "Loh cewek itu pergi kemana."

__ADS_1


Shani memilih pergi ke atas atap dan rebahan santai sambil tangannya diletakkan di bawah kepala sebagai bantal.


"Damai sekali dari cewek-cewek centil itu," ucap Shani sambil memejamkan mata.


[][][]


Tiba-tiba Shina merasakan sakit di perutnya.


"Mama ... Papa ... akhhh sakit."


"Pa ..." panggil Ratna.


"Ada apa Ma," sahut Tuan Malik.


"Shina mau melahirkan Pa."


"Ayo kita bawa ke rumah sakit."


"Sakit Ma ... Pa ..."


"Bertahan sayang," ucap Tuan Malik.


Sesampainya di rumah sakit Shina langsung dibawa ke ruang bersalin.


Shani yang pulang ke rumah Malik langsung bertanya pada Bibi.


"Bi kok rumah sepi pada kemana?"


"Nyonya Shina masuk rumah sakit mau melahirkan."


"Apa Bi, emm rumah sakit mana yah."


"Wahh saya gak tau Non."


"Ouh gitu yahh." Shani langsung menelpon Kakek Malik.






Dengan cepat Shani melajukan motornya ke rumah sakit.


"Mami mau melahirkan, selamatkan Mami ya Allah moga Dedek bayi keluar dengan sehat aamiin." Itulah yang selalu Shani ucapkan selama di perjalanan.


Shina menghirup udara agar bisa melahirkan secara normal.


"Terus Bu ... terus Bu ... tarik nafas."


"Aaaaaaaa!"


Terdengar suara bayi menangis dan membuat Tuan Malik dan Nyonya Ratna bahagia.


"Cucu kita Pa."


"Iya Ma cucu kita."


Tuan Malik dan Nyonya Ratna langsunga masuk ke dalam ruangan.


"Cucu saya Dok."


"Ini Tuan."


"Pa azankan."


"Iya Ma."


Tiba-tiba Shani masuk dan tersenyum merekah.


"Adeknya Shani ..."


"Iya sayang adik kamu sudah lahir," ucap Tuan Malik.


"Mami gimana?" tanya Shani.


"Sehat sayang," sahut Shina.


"Kayaknya adek haus Mi ihh lucunya," ucap Shani.


"Sini Mami susuin."


Dokte pun memindahkan Shina dan bayinya ke ruang rawat.


"Mami nama adek siapa?"


"Emm siapa Mami belum cari."


"Shani aja yang kasih Mi."


"Kamu mau sayang."


"Iya Mi."


"Gimana Pa."


"Papa terserah kamu aja yang penting Shani senang."


"Iya sayang Mama juga terserah kamu."


"Adeknya Shani cewek Ma, cantik dan dia harus nurut sama aku."


"Hahaha kamu lucu Shani."


"Hehehe Shani seneng banget punya adek nih kayaknya," goda Tuan Malik.


Shani sangat gemas dengan adiknya sampai tak berkedip memandang wajah adiknya itu, bahkan mencium pipi mulusnya.

__ADS_1


[][][]


NEXT


__ADS_2