MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
41


__ADS_3

♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️


♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️


♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️


***


Bugh ...


Bugh ...


Bugh ...


Bugh ...


"Dasar gak berguna lu udah hancurin perusahaan, sekarang gue tanya sama lu dimana anak gue!" teriak Kazio bahkan menggunakan bahasa kasar lu dan gue.


Uhuk ...


Huk ...


"Minggir brengsek! jangan harap lu bisa ketemu sama Shani hahahah ..."


"Apa maksud lu bangsat!"


"Hihihi ... Shani sudah mati hahaha!"


"Bajingaaan!"


Bugh ...


Bugh ...


Bugh ...


"Lepasin gue sialan!" teriak Ken lalu Kazio menindih Ken dan menamparnya dengan brutal.


"Brengsek! seharusnya gue sadar kalau cinta gue gak akan pernah dibalas oleh Laras!"


Bugh ...


Bugh ...


"Gue laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan istri dan anak yang baik!"


Bugh ...


Bugh ...


Bugh ...


"Padahal gue tahu Laras itu berselingkuh tapi dengan bodohnya gue masih menyayanginya!"


Bugh ...


Bugh ...


"Sekarang gue kehilangan dua wanita yang paling berharga sekaligus."


Brak ...


Ken langsung mendorong Kazio dengan kuat dan langsung berdiri.


"Cuih! jangan nyalahin orang bangsat, itu kebodohan lu sendiri." Ken pun pergi meninggalkan Kazio dengan tertatih-tatih.


"Jangan kabur lu, bangsat!" teriak Kazio lalu mengejar Ken dan mereka saling mengejar.


"Woy, berhenti lu!" teriak Kazio.


"Hah hah hah, sialan Kazio dia masih ngejar lagi."


Ken mengambil bebatuan dijalan dan melempar ke belakang.


Bugh ...


Bugh ...


"Akhhh, sialan!" ringis Kazio kena lemparan batu.


"Bagus, gue harus pergi dari sini sekarang."


Kazio sampai dan tidak melihat Ken sama sekali.


"Akhh, dia kabur. Kurang ajar, lihat saja akan aku habisi dia nanti!" kata Kazio sambil mengepalkan tangannya tapi untuk saat ini dia ingin bertemu Citra dan minta maaf karena sudah menyakiti hatinya.


"Sebaiknya aku perbaiki hubunganku dengan Citra," gumam Kazio.


***


Flora baru sampai ke restoran.


"Flo, sini!" teriak Shina.


"Haishh jangan teriak-teriak kaya gitu, malu-maluin!" cibir Alya.


"Serah guelah," ketus Shina.


"Dikasih tahu juga."


Flora pun sampai di meja.


"Hay," sapa Flora.


"Duduk Flo," kata Shina.


"Makasih Shin," sahut Flo.


"Kenalin, Nyonya Arsenio."


"Ouh, istri Tuan Zaki Arsenio yah ya ampun cantik yah." Flora memuji Alya dan Alya pun rasanya senang dipuji.


"Makasih loh udah muji aku, emang sih aku cantik."


"Blueeeek," kata Shina.


Citra hanya tersenyum kikuk.


"Oh iya, emang cantik kok."


"Nah kalau yang ini namanya Citra Wijaya Flo," kata Shina memperkenalkan Citra.


Citra kemudian tersenyum dan menjulurkan tangannya.


"Citra."


"Flora."


"Wah gak nyangka aja ya kita bisa ngumpul," kata Shina.


"Iya cuma satu aja sih yang kurang," sahut Alya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Flora.


"Laras!" sahut Alya.


Uhuk ...


Shina batuk mendengar nama Laras.


"Kenapa kamu Shin?" tanya Citra.


"Keselek denger nama hantu," sahut Shina.


"Hantu, mana ada hantu Shin ngaco ah kamu." Citra menatap Shina lalu melirik Alya.


Alya hanya diam tapi hatinya mengerti jika Shina tidak suka ada nama Laras.


"Aku pulang dulu yah," kata Shina.


"Loh Shin, kok pulang aku baru sampai ih," tukas Flora.


"Gak ah, udah gak selera balik dulu bye!" kata Shina yang sudah bete dengan Alya.


Citra hanya menghela nafas lalu menatap tajam Alya.


Alya hanya cengar-cengir tapi hatinya juga merasa bersalah.


"Kenapa sih aneh banget," gumam Flora.


"Udah lanjut makan aja kita," seru Citra.


"Iya," sahut Flora.


'Duh, kayaknya Shina marah beneran deh gimana nih?' batin Alya.


***


Sifa mengajak Shani ke belakang sekolah.


"Lu mau ngomong apa?" tanya Shani.


"Emm gue ... tapi janji yah jangan ngetawain."


"Tergantung cerita lu."


"Ish, Shani ..."


"Jadi cerita gak nih."


"Iya jadi."


"Ceritakan."


Sifa pun menceritakan kejadian tadi pagi.


"Jadi gue mau minta tolong sama lu buat bantu gue."


"Cari ibu kandung lu."


"Iya."


"Nanti gue cari," kata Shani.


"Sama gue aja carinya."


"Gak usah."


"Loh, kok gitu sih?"


"Serahin aja ke gue, ok."


"Tapi-"


"Mau dibantu apa enggak nih," kata Shani lagi.


"Ya mau dong."


"Ya sudah, ikutin peraturan gue."


"Umm ok deh, terus sekarang gue ngapain."


"Makan bakso."


"Ish, Shani."


"Hihi, ya udah kita ruang basket."


"Latihan basket ya."


"Iya."


"Gaskeun, lah kalau gitu Shan."


Shani hanya tersenyum.


Aevan dapat kabar dari anak buahnya jika BS sudah luluh lantah dihabisi Meteor.


"Kenapa bisa begini sih," gumam Aevan yang langsung pergi ke markas.


Boy dan Bima melihat Aevan pergi terburu-buru.


"Cecunguk itu kenapa terburu-buru begitu," kata Bima.


"Gak tahu, udahlah gak usah dipikirin."


"Ouh iya bener juga."


"Ini gebetan kita mana sih," kata Boy lagi.


"Tau ahhh, kok gue jadi gini ya Boy."


"Kenapa?"


"Sifa terus yang muncul dipikirin gue," kata Bima dengan jujur.


"Suka kali lu sama Sifa, udah jujur aja tembak Sifanya biar gak di embat orang."


"Emang Sifa mau nerima gue."


"Ya mana gue tahu, coba aja dulu."


"Gue takut Boy, takut ditolak gue."


"Ah cemen lu."


"Cemen-cemen, terus lu apaan Bambang!"


"Ye ... gue mah gampang udah dapat lampu Hijau juga dari Tuan Rayhan sama Nyonya Flora."


"Yang bener lu."


"Iya dong, buktinya malam ini gue sama keluarganya bertemu, cakep gak tuh."

__ADS_1


"Gercep juga lu yeh."


"Iya dong, masa gak gercep."


"Ok gue doain deh nanti malam sukses acaranya."


"Makasih yeh."


Baru saja Julia keluar dari kamar mandi langsung dipanggil Sifa.


"Jul."


"Eh Sifa, ada apa?"


"Ke lapangan yuk."


"Ngapain."


"Latihan basket, Shani udah nunggu tuh."


"Ouh ya, ikut dong."


"Makanya, ayo."


Akhirnya Julia dan Sifa ke lapangan.


Saat Shani memainkan bola basket tanpa sengaja guru olahraga melihat.


"Wehh jago banget lu Shan," puji Julia.


"Biasa aja kok."


"Ajarin dong," kata Sifa.


"Iya nih ajarin kita dong," sambung Julia.


"Boleh, tapi pemanasan dulu yah."


"Yahh, males banget pemanasan."


"Sama Fa, gue juga males harus pemanasan."


"Katanya mau di ajarin."


"Iya, ajarin langsung tekniknya aja." Sifa berujar sambil menggoyangkan kakinya.


"Ya gak bisalah, nanti kram lagi." Shani menyahut sambil memantulkan bola ke lapangan.


Guru olahraga itu menatap kagum cara main Shani.


"Ini yang saya cari," kata guru olahraga itu sambil senyum.


Julia meminta Shani untuk memperagakan cara memasukkan bola ke ring.


"Contohin cara masukin bola dong Shan."


"Ok," kata Shani lalu mencontohkan beberapa teknik.


"Woahhh," kagum Julia dan Sifa.


Bahkan lapangan yang tadi sepi jadi ramai karena permainan basket Shani yang mengagumkan.


"Gila tuh Shani, jago banget main basketnya!" puji Bima.


"Gue aja masih belum bisa taktik smash," tukas Boy.


"Bisa tuh kita ajak duel sama sekolahan lain."


"Yoi bro."


Saat memasukkan bola dengan jarak yang jauh dan berhasil, tepuk tangan bergemuruh sampai Shani kaget.


Prok ...


Prok ...


Prok ...


"Eh," kaget Shani.


Sifa dan Julia langsung melambai.


"Shani," kata Sifa dan Julia.


Shani yang malu dilihat banyak orang langsung mengajak Sifa dan Julia ke tempat sepi.


"Fyuhh, kalian kenapa gak kasih tahu gue kalau banyak orang yang nonton."


"Ya kita juga gak tahulah, tiba-tiba aja udah banyak bener gak Jul."


"Iya Shan."


"Ouh, fyuuuhhh ... hah hah capek."


"Nih, minum buat lu. Baik, kan gue." Sifa berujar.


"Heh, thanks."


"Sama-sama."


Ponsel Shani tiba-tiba berbunyi.


Tring ...


Tring ...


"Bentar yah," kata Shani sama Sifa dan Julia.


Shani membuka pesan dari Arga.


”Queen, Aevan membawa bala bantuan kita sedang terpojok!”


Shani langsung kaget dan pergi begitu saja.


"Eh Shan mau kemana?" kata Sifa.


"Tuh anak mau kemana Fa?" tanya Julia.


"Gak tahu cepet banget jalannya, kejar yuk."


"Ayo."


***


...NEXT...


♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️


♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️


♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️

__ADS_1


__ADS_2