MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
84


__ADS_3

Akhirnya Shani harus di rawat lagi tapi tidak dirumah sakit.


"Apa Mama bilang, hahh. Ngiyel kamu ini," ucap Citra.


"Sudah Cit," sahut Ratna.


"Anak ini gak bisa dibilangin Ma," ucap Citra lagi.


"Iya Mama tahu," sahut Ratna menenangkannya.


"Maaf," ucap Shani.


Shina merasa kasihan lalu menyuruh Shani untuk istirahat.


"Ya udah anak mami istirahat aja yahhh."


"Hemmmm."


"Udah ya Mbak kasihan Shani."


Citra dan Shina pun menemani Shani tidur.


'Kalau kayak begini gue gak bisa keluar nih,' batin Shani.


Zevan langsung menuju rumah Shani.


"Sore," sapa Zevan.


"Siapa kamu?" tanya satpam.


"Temannya Shani Pak."


"Mau apa?"


"Bisa ketemu sama Shani."


"Sebentar saya tanya Nona Shani dulu."


"Iya Pak."


Satpam itu kemudian masuk ke dalam rumah.


"Ada apa?" tanya Ratna.


"Ada tamu datang Nyonya."


"Siapa?"


"Tidak tahu, katanya teman Nona Shani."


"Ya sudah suruh aja masuk, biar saya kasih tahu Shani."


"Baik Nyonya."


Ratna tidak tahu kalau Shani paling tidak suka menerima tamu teman dirumah.


"Silahkan masuk," ucap Satpam itu.


"Terima kasih Pak, yesss!"


Satpam itu melihat tingkah Zevan yang kesenangan dapat bertemu Nona majikannya.


Ratna menunggu Zevan masuk.


"Nek," ucap Zevan.


"Temannya Shani?" tanya Ratna.


"Iya," sahut Zevan.


"Ya sudah ikut saya soalnya Shani lagi sakit."


"Sakit apa Nek."


"Nanti kamu juga tahu." Entah apa yang terjadi kenapa Ratna langsung mengajak Zevan ke kamar Shani.


Shani yang sedang asyik tidur jadi terganggu karena suara Zevan.


"Kamu terbangun sayang," ucap Ratna kaget.


"Kenapa berisik Nek?" tanya Shani.


"Ini ada temen kamu mau jenguk," sahut Ratna.


"Teman," kata Shani lagi.


"Iya teman kamu," sahut Ratna.


"Hay," sapa Zevan.


Shani menata datar Zevan dan langsung meminta Neneknya untuk keluar bersama Zevan.


"Nek bisa keluar bersama Zevan," pinta Shani.


"Kenapa sayang, temen kamu mau ketemu loh. Jarang-jarang temen kamu datang loh," ucap Ratna yang tidak mengerti.


Shani langsung berdiri dan mencabut infusnya.

__ADS_1


"Kenapa infusnya dicabut," ucap Zevan.


"Shani, Shani. Ok, Nenek minta maaf tapi tolong jangan begini. Kamu sebaiknya pulang suasana hati Shani sedang tidak baik."


"Tapi Nek."


"Pulang yahh."


"Iya Nek." / 'Sial,' lanjut Zevan dalam hatinya.


Setelah Zevan pergi Shani langsung marah pada Ratna.


"Nenek kenapa ngajak dia masuk ke kamar Shani?" tanya Shani.


"Kan dia temen kamu," sahut Ratna.


"Shani gak punya teman cowok, ingat itu baik-baik!"


"Kamu jomblo?" tanya Ratna.


Shani langsung mengeluarkan Neneknya keluar.


"Maaf!" ucap Shani lalu pergi menutup pintunya.


Shina yang melihat itu langsung tertawa.


"Hahahaha makanya Ma, jangan asal bawa aja ke kamar Shani. Gimana hah, Ma Shani itu gak pernah bawa temannya ke kamar."


"Aduhh Mama lupa lagi apa dia marah yahh."


"Pasti dia sangat marah."


"Iya Ma."


"Mama harus bicara sama Shani."


"Sebaiknya jangan Ma."


"Kenapa?"


"Shani suasana hatinya lagi buruk, biarin dia tenangin hatinya dulu."


"Ya udah."


Akhirnya Ratna memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


[][][]


Dalam kamar, Zevan sangat geram dengan sikap yang ditunjukkan Shani tadi.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Zevan.


Tok tok tok ...


"Siapa?" tanya Zevan.


"Ini Nenek," sahut orang itu.


Zevan kemudian membuka pintu kamarnya.


"Halo cucu Nenek," ucap wanita paruh baya itu.


"Nenek sudah selesai belanja," sahut Nenek itu.


"Iya sayang memangnya kenapa?" tanya Nenek itu lagi.


"Nek boleh Zevan tanya," sahutnya.


"Tanya apa sayang," ucap Nenek itu sambil meletakkan semua barang belanjanya di lantai.


"Nenek, kan sudah lama mengenal Shani. Gimana sifatnya?" tanya Zevan dengan antusias.


"Kenapa, kamu suka dengan dia."


"Jawab saja!"


"Nenek tidak terlalu tau."


"Kenapa Nek?"


"Tidak dekat."


"Kok bisa sih."


"Kamu tahu sendiri, kan bagaimana Toni dan Shina memperlakukan anak itu seperti emas dan sangat sulit di temui!"


Zevan langsung meninju dinding dengan keras.


"Jangan pukul lagi, sayangi tangan kamu Zevan."


"Zevan hanya tidak terima jika Shani lebih disayang sama Papa Thoni," keluh Zevan William yang selama ini disembunyikan oleh Cici.


"Sabar, Nenek yakin Papa kamu akan menerima kamu nantinya."


"Apa itu bisa Ma," sahut Billa yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Kan kita berusaha sayang," ucap Cici lagi.

__ADS_1


"Maksud Mama," tukas Zevan.


Cici langsung tidak suka dan menarik tangan Billa agar menjauh dari Zevan.


"Ikut Mama dan Zevan Nenek sama Mama kamu mau bicara dulu."


"Iya."


Billa yang tangannya di tarik langsung menepis Cici.


"Apaan sih Ma," dengus Billa.


"Kamu yang apa-apaan," ucap Cici kesal.


"Ma, Zevan itu hanya anak haram dan gak mungkin dapat warisan dari Thoni."


"Mama tahu, makanya Mama memfitnah Shina Ralindra telah berselingkuh dan anak dalam kandungannya itu bukan anak Thoni!"


"Astaga Ma, cukup! Sudah cukup Mama menjadikan Billa sebagai umpan waktu itu, untuk sekarang jangan pernah ajarkan Zevan membenci keluarga Shina atau yang lainnya."


"Kamu itu bodoh!"


"Mama yang bodoh!"


"Berani kamu panggil Mama bodoh."


"Iya Mama bodoh, kegilaan Mama malah menjebak aku dan Toni pada malam itu sehingga aku hamil! Billa benci Mama, sangat membenci Mama!"


"Billa, kamu anak kurang ajarr!"


Billa langsung pergi meninggalkan Cici.


"Hahhh!" teriak Cici yang selama ini punya anak kandung bernama Billa Leonardo.


Billa sengaja disembunyikan oleh Cici saat menikah dengan Regan William.


Karena Regan sudah mati maka Cici sudah berani menemui anaknya itu dan ikut tinggal bersama meskipun pada awalnya Billa merasa berat.


[][][]


Nenek Sandra menyuruh orang untuk menjemput Aevan.


"Ikut kami," ucap anak buah Sandra.


"Siapa kalian?" tanya Aevan.


"Tidak perlu tahu tapi sebaiknya ikut!"


"Bagaimana kalau gue gak mau."


"Kami akan menggunakan kekerasan."


Aevan tersenyum dan sudah menduga jika mereka pasti anak buah Neneknya.


"Aevan," peluk Alya ketakutan.


"Mama mundur dulu," ucap Aevan.


"Tapi Van Mama takut."


"Jangan takut Ma."


"Tapi ..."


Bughh! Bughh! Bughh!


Aevan langsung mendorong Alya dan menghindari pukulan anak buah Sandra.


"Ouhh jadi kalian bermain kekerasan rupanya."


Sita dan Sifa merasa berisik didepan rumah.


"Itu kenapa berisik banget Ma," gumam Sifa.


Sekarang rumah sewaan yang disamping Sita itu ditempati oleh Alya dan Aevan.


Saat Sifa ingin keluar terlebih dahulu dia melihat depannya dan betapa terkejutnya Sifa melihat Aevan berusaha mempertahankan dirinya dari serangan 5 anak buah tersebut.


"Ya ampun Aevan," gumam Shani.


Karena kasihan Sifa langsung menelpon Bima.


“Kamu dimana Yang?“ tanya Sifa dalam telponnya.


"Aku dirumah Yang ada apa, kamu kangen sama aku."


"Ya ampun jangan gombal disaat seperti ini."


“Maksudnya sayang.“


“Tolong kamu ke rumahku yahh.“


“Ok sayang.“


[][][]


NEXT

__ADS_1


__ADS_2