MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
89


__ADS_3

Xavier meminta nomor Dara karena akan memberitahu jika mobilnya nanti di antar.


"Kalau gitu saya minta nomor kamu boleh, buat antar mobil nanti."


"Boleh, nihh ..."


"Iya."


Dara memberikan nomor telponnya pada Xavier.


"Terima kasih sudah mau menolong dan mengantar saya," ucap Dara.


"Sama-sama, kami pergi dulu."


"Iya."


Dara kemudian masuk ke kantornya sambil tersenyum.


"Ya ampun ganteng banget sih dia, mau gak yah Shani jadi adik ipar hihihi ..." gumam Dara.


Xavier dan Shani masih jalan-jalan.


[][][]


Billa menangis karena Zevan tidak ada.


"Laporkan saja ke polisi, apa susahnya sih."


"Ma, Zevan sering menghilang loh gak sekali dua kali. Ujung-ujungnya nanti dia balik lagi, Billa capek mau istirahat."


"Ibu macam apa kamu Billa."


"Zevan itu anak haram hasil jebakan Mama, buat apa Billa harus sedih."


"Billa!" bentak Cici.


Brakk!


Billa menutup pintu kamarnya sangat keras.


"Dasar anak kurang ajar!" geram Cici.


Cici sangat marah pada Billa yang tak pernah mau mengikuti kemauannya.


"Lebih baik aku keluar," ucap Cici.


Shina dan Citra memutuskan untuk jalan-jalan bersama kedua orang tua mereka dan juga janjian sama Kazio.


"Katanya Shani lagi sama keluarga Kazio yahh," ucap Shina.


"Iya Shin," sahut Citra.


"Syukur dehhh jadi gak ada musuh lagi."


"Nahh itu mereka," tunjuk Malik.


"Ouh iya benar," sahut Ratna.


Kazio langsung menjabat tangan Tuan Malik.


"Tuan," ucap Kazio.


"Santai aja Kazio, ayo duduk."


Ratna membantu Shina untuk duduk.


Sedangkan Citra duduk disamping Shani.


Lalu Xavier duduk bersebelahan dengan Laras dan sebelahnya lagi Kazio dan Tuan Malik.


"Gimana Kaz toko kamu?" tanya Malik.


"Alhamdulillah Tuan makin laris," sahut Kazio.


"Syukurlah," ucap Malik.


"Kita pesan makanan ahh udah lapar nihh," ucap Shani.


"Hahahah kamu kayaknya laper banget yah," ucap Citra.


"Kan kita ke restoran Ma," sahut Shani.


"Ya sudah kita pesan sekarang," ucap Shina.


Xavier dan Laras hanya tersenyum.


'Kamu lucu banget Shani,' batin Laras.


"Adiknya Xavier emang beda," ucap Xavier.


"Pantesan dari tadi mukanya masam orang nahan lapar," ledek Malik.


"Hehehe," tawa Shani cengengesan.


Saat mereka makan bersama, tanpa sengaja Cici melihat momen itu.


"Sialan mereka malah makan-makan!" geram Cici dan ingin merencanakan jahat.


Tiba-tiba Shina minta izin ke toilet.


"Ma, Shina ke toilet dulu yah."


"Mau di temani Nak."


"Gak usah Ma."


Cici tersenyum jahat dan mengikuti Shina.


Shani melihat nenek jahat itu.


'Nenek Cici,' batin Shani.


Shani langsung berdiri karena khawatir.


"Mau kemana sayang?" tanya Citra.


"Ke toilet Ma," sahut Shani.

__ADS_1


"Ya udah."


Sedangkan Shina baru saja selesai pipis.


"Ahh enak banget," gumam Shina.


Cici menepuk pundak Shina.


"Astaga!"


"Shina."


"Andaa?"


"Hebat yah udah seneng sekarang."


"Maksud anda apa yahh."


"Anak saya menderita kamu malah bahagia disini."


"Maaf itu bukan urusan saya."


"Tapi saya tidak suka lihat kamu bahagia."


"Anda begitu syirik."


"Cihh, sekarang kamu ikut saya."


"Jangan pernah paksa saya, lepaskan!"


"Berani kamu melawan saya hahh!"


Bughh!


"Jangan pernah menyentuh Mami atau saya akan membunuh anda!" ucap Shani.


"Shani ..."


"Mami berdiri dibelakang Shani."


"Iya."


"Sudah punya pengawal kamu Shina, hebat."


"Itu karena Mami punya mantan mertua jahat seperti anda!" sarkas Shani.


"Dasar bocah tengik kurang ajar kamu!" geram Cici lalu menampar Shani.


Plak!


Shani sangat terkejut karena pipinya ditampar nenek laknat itu.


"Apa yang and lakukan sama anak saya!" teriak Shina.


Malik mendengar teriakan Shina.


"Shina!"


"Ada apa Pa?" tanya Ratna.


"Citra ikut ya Pa."


"Jangan."


"Tapi-"


"Nurut sama Papa, ok."


Malik langsung menyusul Shina ke toilet.


Shani menggenggam tangannya dengan kuat lalu matanya menatap tajam ke arah Cici.


Cici mendorong dan memegang wajah Shani.


"Bocah jalanan yang di pungut sekarang udah mulai kurang ajar yahh," ucap Cici.


Shani tidak melawan karena mata Shani menatap dengan tajam, untuk sekarang membiarkan Cici menyentuh wajahnya tapi tidak untuk besok jangan harap melihat matahari lagi.


"Lepaskan anak saya!" ucap Shina menarik tubuh Cici ajar tidak memukul wajah Shani.


"Dasar bocah kurang ajar kamu," maki Cici memukul seluruh tubuh Shani dengan tas yang sama sekali tidak terasa sakit.


Brakkk!


"Cici!" ucap Malik.


"Papa, tolong Pa."


Cici langsung mendorong Shani sampai kepalanya terbentur dinding.


Brughh ...


"Shani!" pekik Shina.


Cici langsung menangkap Shina.


"Akhh lepaskan," ucap Shina.


"Apa yang kamu lakukan Ci, jangan macam-macam kamu."


"Beri aku jalan atau aku akan membunuh anak dan calon cucumu Malik."


Shani menyunggingkan senyumnya.


'Mati kau nenek peot, aku pastikan tidak akan melihat matahari besok!' batin Shani.


Shani kemudian menghubungi Dada untuk melenyapkan Cici di mall sesegera mungkin.


Ke mall, Kak. Ada tugas, bunuh Nenek Cici!


Dara yang berada di markas melihat pesan dari Shani tersenyum tipis.


"Kalian semua, kita punya misi. Ayo."


Semua anggota The Meteor tampak bersemangat.


"Kita bersenang-senang lagi."

__ADS_1


"Iya."


"Udah lama nih gak bunuh orang."


[][][]


Shina hampir jatuh karena di dorong oleh Cici.


"Shina!" teriak Malik


Toni langsung menangkap tubuh Shina dengan cepat.


"Hah ... hahh ..."


"Kamu gak papa?" tanya Toni.


"Mas Toni," sahut Shina.


"Iya ini aku."


Cici langsung kabur begitu cepat.


"Jangan kabur kamu Ci," ucap Malik ikut mengejar.


Shani langsung pergi untuk memasang topeng.


"Kali ini kamu tidak akan aku lepaskan nenek peot," gumam Shani menyeringai.


Dara yang tidak memakai topeng hanya mengawasi sedikit.


Tanpa sengaja Xavier melihat Dara.


"Bukannya itu Dara," gumam Xavier.


"Gak bakalan selamat tuh nenek peot," ucap Dara.


Xavier mendekati Dara dan itu dilihat langsung oleh Laras.


"Dar," panggil Xavier.


"Eh Xavier," ucap Dara.


"Lagi apa?"


"Jalan-jalan aja."


"Ouhhh."


Kazio dan Laras langsung mendekati Xavier dan Dara.


"Xavier, Papa sama Mama mau nyusul Tuan Malik dulu. Kamu cari Shani dari tadi Papa gak lihat dia sejak ke toilet."


"Iya Pa."


"Kita pergi dulu yahh Vier," ucap Laras.


"Ayo Ma."


"Iya Mas."


Setelah Kazio dan Laras Pergi Dada menanyakan pada Xavier.


"Itu orang tua kamu?"


"Iya Dar, saya mau cari adik saya dulu."


"Aku ikut yahh."


"Boleh."


'Gak akan ketemu Vier, adik kamu lagi menggila.'


[][][]


Malik memukul setirnya karena kehilangan jejak.


"Sial, kemana nenek peot itu. Semoga Darma bisa mengejarnya," ucap Malik.


Tiba-tiba Darma menelpon Malik.


"Tuan Malik."


"Ada apa Darma?" tanya Tuan Malik.


"Nyonya Cici ..."


"Kenapa dengan perempuan itu."


"Saya kirim fotonya Tuan, sebaiknya cepat datang kesini."


Darma kemudian mengirim foto Cici yang sudah bersimbah darah.


Malik yang melihat foto itu membelalakkan matanya.


"Cici."


"Ada apa Pa?" tanya Ratna.


"Kamu lihat," sahut Tuan Malik memperlihatkan foto Cici.


"Astaga, Cici!"


Shani dan anggotanya mengawasi Darma.


"Queen, siapa dia?"


"Anak buah Tuan Malik dan Mama saya."


"Ouhh."


"Sepertinya Kakek saya sebentar lagi sampai, jangan lupa beri peringatan."


"Baik Queen."


[][][]


NEXT

__ADS_1


__ADS_2