MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
81


__ADS_3

Kazio melihat Shani sedang memegang tangannya dibelakang sekolah.


"Astaghfirullah," ucap Kazio langsung berlari ke arah Shani.


Shani sangat terkejut dengan kedatangan Kazio.


"Hahhhh."


Kazio langsung memeluk Shani dan menangis.


"Tangan kamu, ayo kita ke rumah sakit."


Shani hanya diam karena pikirannya bleng.


"Eeee ini ..."


"Ayo kita ke rumah sakit, sini Papa gendong."


Kazio langsung berlari dan saat keluar dari sekolah Citra langsung histeris melihat darah di baju Shani.


"Shaniii!" panik Citra.


"Shani gak papa kok," sahut Shani.


"Gak papa gimana?" tanya Malik tiba-tiba.


"Kakek," sahut Shani kaget.


"Ayo bawa ke rumah sakit, itu darahnya banyak keluar cepat!" titah Malik.


Kazio langsung membawa ke mobilnya tapi Citra langsung mencegah.


"Shani biar sama aku," ucap Citra lalu mengambil Shani dari gendongan Kazio.


Kazio hanya diam karena tidak ingin berdebat.


Laras menepuk pelan pundak Kazio.


"Keselamatan Shani lebih utama."


"Terima kasih."


Xavier langsung mengajak Kazio dan Laras masuk ke mobil.


"Ayo Ma, Pa, kita ke rumah sakit juga."


"Iya Vier," sahut Kazio.


"Ayo," sambung Laras.


Sesampainya di rumah sakit, Shani langsung masuk ke ruangan.


"Regan dan Endras sudah tertangkap," ucap anak buah Malik keceplosan.


"Regan," ucap Citra.


"Siapa Regan?" tanya Laras.


"Mertua Shina, calon mantan besan!" sahut Malik dengan tegas.


"Keterlaluan! kenapa anakku Shani yang ingin mereka celaka Pa," ucap Citra sambil menangis.


"Itu karena ... Regan tahu Shina sangat sayang dengan Shani dan dia tidak mau Toni membagi hartanya untuk Shani."


"Maksudnya?"


"Itu ..."


Dokter pun keluar dan melihat banyak keluarga pasien.


"Dokter gimana anak saya?" tanya Citra.


"Anak anda baik-baik saja," sahut Dokter.


"Saya boleh masuk."


"Silahkan."


Citra langsung masuk tanpa mengajak yang lain.


"Astaga," ucap Malik menggeleng kepalanya.


"Kita juga mau masuk," gumam Kazio.


"Tenanglah dulu," sahut Malik.


Laras mengajak Kazio duduk sambil menunggu Citra keluar.


"Mas, duduk."


"Iya."


Xavier menawarkan Mama dan Papanya untuk beli minuman.


"Ma, Pa, Xavier keluar dulu mau beli makanan."


"Ya sudah, emm jangan lupa belikan makanan untuk yang lain."


"Iya."

__ADS_1


Sedangkan Citra langsung memeluk Shani.


"Kamu gak papa sayang?" tanya Citra.


"Emmm Shani gak papa," sahut Shani.


"Apa yang sakit Nak, ya ampun tangan kamu. Nanti Mama suapin yahh kalau makan."


"Iya Ma, Shani gak papa."


Malik dari luar mau masuk dan itu didengar langsung oleh Shani.


"Shani gak mau nginep Kek, kita pulang aja."


"Enggak," larang Citra.


"Kenapa sihh Ma?" tanya Shani.


Malik dan yang lainnya langsung masuk.


"Kenapa Shani, kamu itu harus dirawat!"


"Tapi Kek, yang sakit itu tangan Shani bukan badan."


"Tapi kamu harus tetap dirawat," ucap Kazio.


Shani hanya diam lalu matanya melirik ke arah Laras.


Laras tersenyum dengan hangat.


"Kamu gak papa, kan?" tanya Laras.


Shani hanya tersenyum lalu menjawab.


"Gak papa Tan," sahut Shani.


Xavier datang dan menanyakan keadaan Shani.


"Kamu gak papa Dek?" tanya Xavier.


"Kak Xavier," sahut Shani kaget.


"Iya ini Kakak," kata Xavier lagi lalu memeluk Shani.


Shani hanya diam tapi air matanya berderai.


"Sudah jangan nangis, kamu hebat Dek."


"Kak Xavier, Shani ..."


"Lupakan saja!"


Karena beban didada Shani baru saja dikeluarkan membuatnya pingsan.


"Shani, astaga heyy, Shani!"


Citra dan yang lainnya langsung panik.


"Shani."


"Cepat panggil Dokter!" teriak Shani.


[][][]


Regan dan Endras bertengkar karena masalah penyerangan sekolah.


"Anda jangan menyalahkan saya, disini yang bodoh itu anda!"


"Diam kamu Regan, jangan cuma bisa menyalahkan saya. Kenapa kamu tidak bilang kalau musuh kita itu ada Mafia Meteor."


"Kamu jangan lupa Regan, siapa yang bodoh hah?"


Anggota Meteor langsung menendang pintu saat ingin masuk.


"Jangan saling menyalahkan, sebentar lagi kalian akan mati."


Endras langsung ingin berdiri mau menyerang anak buah Meteor.


"Brengsek!" maki Endras.


Sebuah tembakan mengenai kakinya.


"Akhh," ringis Endras.


"Tenanglah, jangan gegabah atau kami akan memasukkan kalian ke lubang buaya."


"Bajingan kalian semua, siapa bos kalian hahh?" tanya Regan dengan emosi yang memuncak.


Anak buah Meteor langsung menghajar mereka berdua tanpa ampun.


"Pasung mereka berdua, kita tunggu Queen datang."


Regan dan Endras langsung dipasung anak buah Shani dengan sangat sadis.


Kaki di atas dan kepala dibawa sepertinya ayam yang di gantung di pasar.


[][][]


Dengan rengekan akhirnya Shani diperbolehkan pulang.

__ADS_1


"Makasih ya Kek udah perbolehkan Shani pulang."


"Lain kali kamu jangan nekat, Kakek gak suka!" sahut Malik dengan tajam.


"Hehehe," tawa Shani cengengesan. / 'Gue harus ke markas secepatnya biar bisa menghabisi dua laki-laki brengsek itu.' Shani membatin.


Kazio dan yang lainnya di ajak untuk ke rumah.


"Semoga saja keluarga kita makin erat yahh," ucap Laras.


"Aaamiiim," sahut Xavier dan Kazio mengaminkan ucapan Laras.


[][][]


Sesampainya di mansion, Malik langsung mengusut penyerangan sekolahan itu.


Ada banyak keluhan dari orang tua murid mengenai sekolah itu dan Malik memutuskan untuk mengambil alih sekolah itu.


"Kalian mengobrollah, aku ada urusan."


"Iya Pa," kata Citra.


Sedangkan Shina dan Ratna baru pulang dari mall.


Sedikit bingung dengan kedatangan banyak orang terlebih lagi dengan Alya dan Laras.


"Kalian," ucap Shina.


"Shina," sahut Alya lalu berdiri dan Shina pun ikut mendekati Alya.


"Kok kalian ada disini?" tanya Shina.


"Kayaknya kamu gak tahu yahh," ucap Alya.


Semua sahabat Shani berada di mansion ini, termasuk Sita dan yang lainnya.


"Tante," sapa Bima, Julia, Sifa, dan Boy.


"Iya, agak sedikit heran aja sih kalian semua ada disini. Apalagi Tuan Rayhan dan Nyonya Flora ada juga," kata Shina.


"Kamu duduk dulu," ucap Ratna.


"Iya Ma," sahut Shina sambil memegang perutnya.


"Kamu hamil Shin?" tanya Laras.


"Iya," sahut Shina.


"Udah berapa bulan?" tanya Laras lagi.


"Udah 3 bulan," sahut Shina lagi.


"Semoga lancar yah nanti persalinannya."


"Terima kasih doanya," ucap Shina yang sedikit bingung dengan sikap Laras yang berubah drasti. / 'Penampilannya


Sih berubah,' batin Shina.


Laras kemudian tersenyum dan menatap Citra lalu mendekatinya.


"Cit, aku mau bicara empat mata boleh."


"Boleh, aku juga mau bicara sama kamu."


"Ayo."


Xavier dan Kazio menatap kepergian dua wanita itu.


'Semoga Citra bisa memaafkan Laras,' batin Kazio.


'Xavier harap kalian berdua tetap jadi wanita yang saat ini dipanggil Mama.'


[][][]


Shani yang masuk kamar langsung mengunci pintunya.


"Sebaiknya aku telpon Kak Dara," ucap Shani.


[][][]


Ponsel Dara kemudian berdering.


"Adek Shani," ucap Dara lalu mengangkatnya.


“Halo Kak Dara, gimana dua tua bangka itu?“ tanya Shani.


“Tenang aja Dek mereka sudah meringis minta tolong dibawah pasungan,“ sahut Dara.


“Bagus, malam ini kita eksekusi!“ ucap Shani dengan tatapan devilnya.


“Kami tunggu.“


Shani langsung mematikan teleponnya.


"Hehehehe hal yang mengerikan akan menantikan kalian Endras, Regan!" gumam Shani sambil tersenyum menyeringai.


[][][]


HEHE MAAF YAHH, 17 AGUSTUSAN JADI LUPA BUKA APLIKASI WARNA BIRU. 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


NEXT


__ADS_2