
Malam ini, Shani pergi ke markas diam-diam saat semua orang tidur.
"Queen," kaget Dara.
"Hemmm ..."
Shani mengkode anak buahnya untuk menangkap Arga.
"Akhhhh apa-apaan ini," pekik Arga.
"Pasung dia!" titah Shani.
"Queen, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dara tidak tahu sama sekali.
"Kamu tanyakan saja pada pengkhianat ini, aku ingin menghajar keluarga bajingan itu!" sahut Shani masuk ke ruang penyiksaan yang satunya.
Bruk
"Lepaskan saya!" teriak Laras.
Shani tersenyum miring dan mendekati Laras lalu menyayat tangannya dengan silet.
"Apa kabar, sampah?" tanya Shani.
"Diam kau anak ingusan!" maki Laras.
"Benar-benar tidak tahu diri," kata Shani lalu mencengkram mulut Laras.
"Aw sakit sialan!"
"Nah, untuk itu sebaiknya diam bukan."
Shani mengambil tank dan mengapitkannya pada paha Laras.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Laras.
"Anda tahu betapa aku sangat menderita," ucap Shani dengan tatapan datar tanpa rasa khawatir dan gugup.
"Brengsek, jangan sakiti istriku sialan!" maki Jhon yang bersusah payah melepaskan ikatan itu tapi tetap tidak bisa.
Shani melirik kearah Jhon dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.
'Anak sialan,' batin Laras.
Brak
Jhon berusaha melepaskan tali yang mengikat dirinya, Dara langsung memukul Jhon.
"Akhhhh," ringis Jhon.
Arga langsung di dorong oleh anak buah Shani tepat di hadapan Jhon.
"Arga," kaget Jhon.
Shani tersenyum.
"Adik Kakak yahhh," ucap Shani.
Arga menunduk.
"Dara, apa kamu bisa melihatnya?" tanya Shani.
"Iya," angguk Dara.
"Lalu, apa jawabannya?" tanya Shani lagi.
Dara menelan salivanya dengan yakin dan mantap lalu menatap Arga.
"Kita batalkan pernikahan kita, Arga."
Degh
"Aku mohon jangan Dara," pinta Arga.
"Kamu membohongiku, tidak kamu membohongi kami semua."
"Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan apa? kamu bilang sama aku kalau kamu gak punya keluarga, lalu Jhon itu siapa?" tanya Dara.
"Ouh mohon maaf bukannya aku tidak peduli dengan hubungan kalian, Arga pantas saja The Meteor sangat lemah mudah kecolongan! rupanya kamu biang keroknya," kata Shani lagi.
"Kenapa tidak dijawab!" bentak Dara.
Shani melirik Dara yang penuh emosi dan kecewa, entahh? perasaan sakit, kecewa, dan benci bercampur jadi satu.
"Dar, aku cinta sama kamu. Jangan batalkan pernikahan kita," pinta Arga.
"Aku ..."
"Kak Dara, aku tidak akan melarangmu untuk menikah dengan siapapun termasuk Arga. Tapi aku tidak akan menahan diri jika Arga mencari masalah denganku, kalau pun kamu ingin melindungi Arga, aku sendiri yang akan membunuhmu."
Degh
Dara menangis, hancur sudah harapannya bersama Arga. Biar bagaimanapun, Dara sangat menyayangi Shani yang sudah menolong hidupnya.
Kali ini Dara tidak ingin menjadi beban lagi, dia ingin berdiri dia atas pendiriannya.
"Tidak, Adek tenang saja. Kakak tidak akan jatuh ke lubang yang sama, karena kamu adik Kakak!" sahut Dara.
"Dara," ucap Arga dengan lirih.
"Pasung dia, aku ingin melihat kebersamaan keluarga mereka!" titah Shani.
__ADS_1
"Dar, aku mohon Dar. Daraaaa!"
"Diamm!" bentak anak buah Shani.
Shani mendekati Gea dan menjambak rambutnya dengan kuat.
"Aaakhhhhh, brengsek sialan!" maki Gea.
"Kak Dara," pinta Shani dengan tangan yang menjulur ke samping.
Dara mengangguk karena sudah mengerti apa yang di inginkan Shani.
"Ini," kata Dara memberikan sebuah cambuk.
Glek
Gea menelan ludahnya dengan kasar karena takut tapi berusaha melawan.
"Lu tahu ini apa?" tanya Shani.
"Diam," sahut Gea.
"Biar lu yang jadi mangsanya dulu," kata Shani lalu melibaskan cambuk itu disekitar tubuh Gea.
Keringat Gea keluar dari sekujur tubuhnya karena merinding mendengar suara cambukan itu.
Clak
Clak
'Cihhh,' decih Laras.
Clak
"Aaaaaaaaqq!" teriak Gea.
"Geaaaaaaaaaaaa! kurang ajar!" kata Jhon sangat murka.
Brak
Jhon mengamuk dengan kondisi terikat karena sangat marah gadis kecilnya disakiti.
Laras hanya diam.
Clak
"Aaaaaaaaaaaa!"
Anak buah Shani langsung memukul Jhon karena berusaha mendekati Gea.
"Pasung dia!" titah Dara.
Akhirnya Jhon di pasung dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Nenek Cici yahh," kata Shani.
"Kau ... darimana tahu?" tanya Jhon.
"Cihhh! jangan mengira aku ini bodoh!"
Dara menyiapkan cairan untuk Shani yang ingin menyuntik Gea.
"Mau kamu apakan anakku, bangsat!" maki Jhon.
"Shuuuut, tenanglah pak tua ini akan baik-baik saja!" sahut Shani dengan santai.
Sebelum menyuntik Gea, tidak seru bagi Shani jika tidak menciptakan gak baru ditubuh Gea.
"Mau apa lu," kata Gea dengan bibir bergetar melihat Shani memegang silet.
"Nanti lu juga akan tahu," sahut Shani lalu memegang tangan Gea dan menyilitnya dengan santai.
"Tangan lu ini mulut banget pasti akan jadi karya indah," kata Shani.
"Psikopat lu aaaaaaaa!" teriak Gea lagi.
Sreeeeiiit
"Aaaaaaaa!"
Shani dengan santainya membelah kecil bagian tubuh Gea dengan silet.
Darah keluar dengan segar, walaupun kecil namun itu yang paling sakit.
"Dara," panggil Shani.
"Iya Queen," sahut Dara.
"Obati Gea dan kembali pasung."
"Baik!"
"Dan kalian, pisah mereka semua dan masukkan dalam sel. Satu lagi, pasung mereka semua dalam sana."
"Baik Queen!"
Laras memandang Shani dengan sendu karena ingat anaknya yang dulu meninggal dan Shani pernah menyusu pada Laras saat Citra sakit dan tak bisa memberikan asi.
'Shani,' batin Laras.
Saat anak buah ingin memindahkan Laras, Shani menahannya.
"Tunggu!"
__ADS_1
"Ada apa Queen?"
"Dia bagian saya, kamu urus dia!" tunjuk Shani pada Arga dan Gea.
"Baik!"
Shani melepas pasungan Laras dan menariknya ke ruang sebelah dengan kurungan yang lebih kokoh.
Brugh
"Akhhhhh," pekik Laras.
Shani melempar kain cukup tebal ke arah Laras sambil membuang muka.
"Kamu memberikan ini sama Mama kamu ini," kata Laras.
"Jangan kegeeran, bukan aku berbaik hati hanya tidak ingin kamu cepat mati dan aku ingin kamu mati perlahan!"
"Tidak masalah," sahut Laras sambil tersenyum.
"Berhenti tersenyum padaku, sialan!"
'Biar bagaimana pun kamu tetap anak saya, meskipun hanya anak sesusu!' batin Laras.
Shani ingin pulang dan memberi pengamanan yang lebih kuat.
"Kita lihat besok, sepanik apa Nenek Cici!"
Brom
Ngeng
***
Besok paginya Citra langsung ke rumah Shina karena sangat rindu dengan Shani.
Tok
Tok
Ceklek
"Citra," kata Shina sangat senang.
"Pagi Shina," sahut Citra.
"Ayo masuk."
"Ya ampun anak mama sayang," sambut Ratna.
"Iya Ma, maaf ya kemarin Citra gak jadi nginap."
"Gak papa sayang, tolong panggilkan Shani yahh."
"Baik Nyonya."
Citra duduk.
"Gimana Shin hasilnya?" tanya Citra yang baru malam tadi keluar dari rumah sakit.
"Hihihi positif," sahut Shina menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Wahh bagus dong, itu artinya Shani bakalan punya adik." Citra ikut senang dan memberi selamat.
"Hehehe makasih ..." tawa Shina.
"Citra kamu udah makan belum?" tanya Malik.
"Belum Pa," sahut Citra.
"Wahh kebetulan, ayo kita makan. Tadi masak banyak iya, 'kan Pa." Shina mengajak Citra makan.
Sedangkan Antoni pagi tadi sudah pergi karena ada jadwal meeting pagi dan sangat padat.
Maid itu turun.
"Loh Shani mana?" tanya Ratna.
"Itu Nyonya Non Shani masih tidur, katanya ngantuk berat!"
"Astaga anak itu," keluh Ratna.
"Biar aja yang bangunin," kata Citra.
"Iya Kak, bangunin aja tuh anak susah banget dibangunin. Biasanya aku tarik dulu telinganya baru bangun," adu Shina.
"Hahahaha ..." tawa Citra.
"Kamu juga sama Shina," kata Ratna.
"Mama," rengek Shina.
Seorang pelayan datang dengan muka bingung, memberitahu jika ada tamu.
"Ada apa?" tanya Malik.
"Itu Tuan Regan dan Nyonya Cici datang, Tuan."
"Ouhh," sahut Malik.
'Akhirnya mereka datang juga,' batin Malik.
***
__ADS_1
NEXT