
Tok tok ...
"Aku buka pintu dulu Shin," ucap Citra.
Ceklek ...
"Ehh Tante," kata Julia tampak canggung karena baru pertama kali bertemu.
"Sahabatnya Shani yah," sahut Citra.
"Iya Tante."
"Ya sudah ayo masuk."
Shina lagi telponan dengan Toni membicarakan kepindahan Shani ke mansion.
“Iya Pi, ini Mami juga mau siap-siap ini.“
Boy dan Julia saling menatap karena merasa heran dengan Tante Shina.
Tut ...
Shina menutup telponnya.
"Tante, Shani mau dibawa kemana?" tanya Julia.
"Shani mau dibawa ke mansion biar lebih aman," sahut Shina.
"Iya, karena ada yang mengincar Shani." Citra ikut menimpali.
"Ya ampun," kata Julia lagi ikut prihatin.
"Oh ya Tante, ini kami ada buah buat Shani." Boy memberikan buah-buahan yang segar.
"Terima kasih dengan nama siapa yah?" tanya Shina.
"Boy Tante."
"Ah iya Boy, makasih yah."
"Ya sudah Tante, kita pulang dulu." Julia kemudian berdiri dan salim pada Citra dan Shina.
"Makasih yah udah jenguk Shani," kata Citra lagi.
"Iya gak masalah kok Tan, Shani itu sahabat kita. Moga Shani cepat sadar ya Tan," kata Julia.
"Aaamiiin," ucap Shina dan Citra bersamaan.
***
Sita dan Sifa langsung pulang ke rumah, walaupun hati Sita sangat cemas tidak mungkin dia perlihatkan pada Sifa.
"Mama kenapa?" tanya Sifa.
"Enggak papa kok sayang, oh ya sebaiknya kamu istirahat."
"Iya Ma."
Sita berkali-kali menelpon Galih namun tak kunjung di angkat, apalagi harinya sudah mulai malam. "Kenapa sih gak di angkat."
Sifa menata makan malam di meja sambil berfikir, siapa musuh Shani apa itu ulah Gea sama Finni lagi.
"Kasihan Shani, padahal dia baik."
Drrrt drrt ...
Tidak di angkat oleh Galih.
"Akhhhh ..." kesal Sita.
Sifa memanggil Mamanya.
"Ma, makan yuk."
"Iya sayang, duluan aja nanti Mama nyusul."
"Kita bareng aja Ma."
"Ya sudah."
Sita dan Sifa akhirnya makan malam dengan khidmat walau hati Sita memikirkan keselamatan Galih.
__ADS_1
***
Boy dan Julia pamit pulang karena sudah malam juga.
"Ya sudah Tante kami pamit pulang dulu," kata Boy.
"Terima kasih sudah mau menjenguk Shani yah," sahut Shina.
"Sama-sama Tante," sahut Julia.
Citra menggenggam tangan Shani dengan erat sambil menitikkan air mata.
'Shani ini Mama Nak, tolong sadar.' Citra membatin dengan air mata yang berderai.
Setelah Boy dan Julia pulang, Shina duduk disamping Citra.
"Cit, Besok Shani mau dipindah."
"Apapun demi kebaikan Shani aku setuju aja," sahut Citra.
"Makasih ya Cit, kamu sudah mau menemani aku."
"Gak papa Shin aku ikhlas kok," sahut Citra sambil tersenyum hangat. 'Karena dia anak kandung aku Shin,' batin Citra.
Huft ...
"Aku seneng banget kamu jadi saudara aku," kata Shina memeluk Citra.
***
Pagi ini Alya bertengkar hebat dengan Zaki karena sang ibu.
"Sedikit pun aku gak pernah mau nyelakain Ibu, Mas."
"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu dorong ibu sampai jatuh."
"Ya Tuhan, aku gak pernah lakukan itu sama Ibu."
"Jangan bohong kamu!"
"Aku gak bohong, Ibu kamu itu cuma pura-pura jatuh dekat aku Mas. Seolah-olah aku yang dorong padahal Ibu sendiri yang jatuhin."
"Papa!" teriak Aevan lalu mendekati Mamanya yang habis ditampar.
"Akhhh ..." ringis Alya memegang pipinya.
"Mama gak papa?" tanya Aevan khawatir karena pipi Mamanya merah.
"Kamu nampar aku Mas," kata Alya menatap tajam Zaki.
"Perempuan seperti kamu itu pantas ditampar karena sudah berani sama Ibu," sahut Zaki dengan perasaan menggebu-gebu.
"Cukup Mas! aku capek sama kamu dan aku gak sudi lagi tinggal di rumah ini," kata Alya.
"Apa maksud kamu Alya, jangan macam-macam kamu!" bentak Zaki.
Tapi Alya tidak peduli dia langsung naik ke atas dan mengambil koper lalu memasukkan semua baju.
"Alya kamu mau kemana?" tanya Zaki panik dan menahan tangan Alya.
"Lepas, jangan halangi aku!" bentak Alya.
"Aku gak akan izinin kamu pergi, kamu harus disini!"
Bugh ...
"Jangan sentuh Mama saya," kata Aevan setelah memukul wajah Papanya sendiri.
"Bawa Mama pergi dari sini Van," pinta Alya sambil menangis.
"Mama tenang aja, Aevan pasti akan membawa Mama pergi dari rumah neraka ini."
"Jangan macam-macam kalian berdua!" teriak Sandra.
"Ayo Ma, jangan dengerin nenek tua itu."
Aevan langsung menarik tangan Mamanya keluar dan membawa mobil.
"Alya, Aevan!" teriak Zaki memanggil. "Akhhhh ..." teriak Zaki sambil mengacak rambutnya lalu mengejar mobil Aevan.
"Aevan, Papa kamu kejar kita."
__ADS_1
"Gak usah dipedulikan Ma, ini saat yang tepat untuk keluar dari rumah itu."
"Kalau gitu anterin Mama ke rumah Mama yang dulu."
"Iya Ma."
***
Gea dan Finni kembali membully di sekolah dengan memaksa salah satu murid memakan bangkai tikus.
"Ayo makan," desak Gea sambil menginjak punggung korban.
"Hiks hiks hiks ..." tangis si korban.
"Makan bangsat!" bentak Finni.
Julia dan Boy sangat geram dengan tindakan Finni dan juga Gea.
"Cukup," ucap Boy lalu menarik si korban dan menyuruh Julia untuk membawa korban ke uks. "Jul, bawa ke uks."
"Ok."
"Berani banget loh," kata Gea.
"Cihhh, ngapain gue harus takut sama lu."
"Hahahaha ... besar juga nyali lu hemmm," ucap Gea.
"Kenapa gue harus takut hemmm ... lu cuma anak Jhon, kan."
"Apa maksud lu?" tanya Gea mengepalkan tangannya.
"Gue tahu siapa Jhon, palingan juga Mafia yang tidak punya harga diri. Jadi lu gak usah sok hebat disini, donatur utama juga bakalan turun tangan kok. Kamu ingat gak sama perusahaan PT.Miziana Group, Bokap gue kerja sama dengan PT itu. Tahu, kan resikonya. Aww kasihan yahh miskin," kata Boy dengan sengaja.
"Brengsek lu!" maki Gini tidak terima.
"Jangan Fin," tahan Gea.
"Kenapa Ge, dia udah hina lu."
"Ayo kita pergi."
"Hah, kenapa."
"Ayo pergi dan untuk lu ..." kata Gea menunjuk Boy. "Hari ini lu selamat."
"Suh suh suh ... pergi sana," usir Boy sambil tersenyum. "Lu pikir gue takut," gumam Boy.
Sedangkan si korban sangat berterima kasih karena sudah ditolong.
"Terima kasih," kata si korban.
"Ya sama-sama lain kali kalau dibully itu lawan, jangan diam aja."
"Iya aku usahain."
"Harus bisa dong jangan lemah, aku dan yang lainnya pasti dukung kok."
cewek itu hanya tersenyum sambil menunduk.
***
Sandra sangat puas bisa mengendalikan Zaki, anaknya itu.
'Hahahaha ... akhirnya, aku bisa juga melakukan ini tanpa mereka.' Sandra membatin.
Zaki sangat sedih karena harus berpisah dengan Alya, padahal dirinya sangat menyukai Alya.
"Van, kita harus hati-hati setelah lolos dari Nenek Sandra!" ucap Alya.
"Mama tenang aja, itu gak akan terjadi kok."
Alya dan Aevan langsung sampai didepan rumah yang cukup luas.
"Nah kita sampai," kata Alya.
"Mari kita masuk Ma," sahut Aevan.
***
NEXT
__ADS_1