
Kazio dan Laras berusaha melerai anak buah Tuan Endras yang ingin menghajar salah satu guru.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kazio kemudian mendorong musuh.
"Siapa kalian hah! berani sekali mendorongku," sahut musuh itu.
Xavier melihat Mamanya ingin dipukul dengan tongkat baseball.
Xavier langsung berlari dan melompat ke arah Mamanya dan menendang orang itu.
"Astaghfirullah," ucap Laras.
Xavier langsung menghajar orang itu dan memukulnya dengan brutal.
"Laras, kamu gak papa?" tanya Kazio.
"Aku gak papa," sahut Laras.
"Disini bahaya, sebaiknya kamu kembali berkumpul didepan."
"Enggak Mas, disini ada Shani. Aku takut terjadi apa-apa."
"Justru aku lebih takut kalau kamu terluka."
"Tapi Mas-"
"Ma, Xavier antar ke depan yahh. Disini terlalu berbahaya buat Mama."
Laras mengangguk pasrah, sedangkan Kazio terus mencari Shani.
"Shani!" teriak Kazio.
Sedangkan Xavier menuntun Mamanya kembali ke depan.
"Mama tunggu disini yahh."
"Hati-hati ya Nak."
"Iya Ma, doain Xavier."
"Iya sayang."
Alya tidak sengaja melihat Laras, penampilannya saat ini benar-benar berbeda.
"Itu ... hahh Laras, apa aku gak salah lihat." Alya langsung mendekati Laras dan menyentuh pundaknya.
Laras langsung menoleh saat pundaknya disentuh.
"Alya," kata Laras.
"Kamu Laras," sahut Alya.
"Iya."
"Ya ampun penampilan kamu beda banget."
"Hemm makasih."
"Kamu cari siapa disini."
"Anak suamiku lagi mencari anaknya yang sekolah disini."
"Suami kamu, kan sudah meninggal."
"Alhamdulillah aku dinikahi sama Mas Kazio."
Alya langsung membekap mulutnya sendiri karena terkejut.
"Serius."
"Iya."
"Ini sangat mengejutkan."
"Emmmm."
Tiba-tiba ada terdengar ledakan dari lantai dua.
Semua orang menjerit histeris.
Para orang tua memohon kepada polisi untuk menyelamatkan anak mereka.
"Selamatkan anak kami."
"Kenapa ini bisa terjadi, kemana keamanannya."
Salah satu polisi datang melapor.
"Lapor komandan, situasi dalam sekolah semakin buruk."
"Ada apa didalam sana?" tanya komandan.
"Didalam sana terjadi bentrok dan pertarungan."
"Hah."
"Lapor komandan, diduga saat ini yang bertarung adalah Mafia Meteor dengan kelompok perdagangan manusia dari Meksiko."
"Lapor komandan, sebagian siswa dan guru di sandra."
"Kita pakai formasi B, ayo cepat!"
"Siap komandan!"
__ADS_1
[][][]
Citra langsung ke sekolah El karena mkhat live dari beberapa netizen.
"Ya Allah Nak, jangan sampai terjadi."
Citra terus mengeluarkan air matanya karena melihat sekolah yang kini hampir rusak.
Ratna yang melihat itu langsung diperingati Malik dari telponnya.
Papa minta pada Mama jangan sampai Shina tahu.
Maksud Papa?
Saat ini Papa dan yang lainnya ada di sekolah.
Ya ampun.
Pastikan Shina tidak melihat tv dan sosmed, ajak dia ngobrol.
Baik Pa.
"Aku harus bawa Shina kemana?"
Sedangkan Shina merasa bosan dan ingin jalan-jalan.
"Ma," panggil Shina.
"Iya sayang," sahut Ratna.
"Kita jalan-jalan yuk."
"Kemana?"
"Emmm gimana kalau ke taman."
"Ya sudah."
"Jangan lupa makanannya."
"Iya sayang."
Saat mereka keluar dari rumah sudah ada Toni yang menunggu.
"Kamu, ngapain kamu kesini?" tanya Shina dengan ketus.
"Aku minta maaf," sahut Toni dengan lirih.
"Halahhhh, hus minggir!"
"Shin, aku mau minta maaf."
"Udah pergi sana aku gak mood ngomong sama kamu!"
"Sakit," ringis Shina.
Ratna langsung memukul lengan Toni dengan sepatu.
"Jangan sentuh anak saya!" ketus Ratna.
"Ma," kata Toni dengan mata yang sendu.
"Apa?"
"Toni mau minta maaf sama kalian."
"Ngapain minta maaf hah, ngapain?"
"Ma udahlah, kita jalan-jalan aja yuk."
"Iya sayang kamu masuk mobil gih."
"Ma, Toni mohon."
"Jangan panggil saya Mama, gak sudi saya punya mantu pengecut kaya kamu."
Kemudian Ratna menyuruh anak buah yang berjaga dirumah untuk mengusir Toni.
"Silahkan anda pergi atau babak belur," ucap anak buah Tuan Malik.
Toni tidak akan bisa melawan anak buah mertuanya ini.
"Baiklah saya akan pulang."
Kemudian Toni mendekati mobil yang di tumpangi Shina.
"Shin, aku pulang dulu kalau kamu butuh aku jangan lupa telpon. Nomorku masih yang dulu."
Shina memalingkan mukanya karena tidak ingin melihat lelaki yang pernah menampar pipinya itu.
"Jalan Pak," ucap Shina kemudian.
Toni menatap sendu mobil yang membawa istrinya itu.
"Maafin aku," gumamnya dengan penuh penyesalan.
Tiba-tiba ada notifikasi dari anak buah Toni.
"Hah, sekolah Shani diserang."
Toni langsung bergegas setelah melihat isi pesan itu.
Dari kemarin Toni menyuruh orang untuk mengawasi Shani.
__ADS_1
"Kenapa sekolah elit itu sering diserang," ucap Toni dalam mobilnya.
[][][]
Shani langsung menendang wajah orang yang ingin mencelakai salah satu guru.
"Aaaaaa!" teriak guru itu lalu yang ingin memukul terpental.
"Siapa mereka?" ucap semua orang yang melihat ada kelompok bertopeng.
Shani langsung menembak musuh yang ingin melancarkan tembakan pada gerombolan murid.
"Maaaa!" teriak semua murid histeris.
"Gue gak mau mati disini!"
"Diam kalian semua!"
Sekitar 50 anggota Meteor masuk ke ruangan aula dimana semua guru ditahan.
"Apa-apaan ini," ucap Endras yang melihat orang bertopeng makin banyak dan brutal.
"Ikuti kami," ucap Dara.
"Tapi-"
"Cepat!" maki Dara kembali.
"Iya."
Dara sambil menembak musuh, disekeliling tahanan yang disandra sudah dalam area lingkaran kelompok Shani.
"Sial, kemana anak yang bernama Shani itu. Apa Regan mencoba menipuku," ucap Endras.
"Yo, dimana partnermu?" tanya Shani.
"Apa maksudmu," sahut Endras.
"Partnermu," ulang Shani dengan suara berat dan serak sampai yang mendengar merinding.
"Cihhhh!"
"Jangan membuatku menunggu atau aku akan membunuhmu!" ancam Shani yang sudah menarik pelatuk.
Tiba-tiba anak buah Endras melempar granat ke arah Dara.
"Awaaaaas!" teriak anggota Meteor.
Sebelum granat itu sampai Shani langsung menembaknya.
"Apaaa!" kaget anak buah Endras.
Anggota Meteor menambah personilnya diluar.
Para polisinya terdiam karena kedatangan anggota Mafia.
"Tangkap mereka!" ucap Shani.
Semua anggota yang datang mencapai 1000 orang langsung menyerbu anak buah Endras.
Shani mengejar Endras yang kabur.
Dara sudah menuntut semua sandra keluar dari area sekolah dan disambut oleh polisi secara langsung.
"Hormat kami bisa bertemu dengan kalian," ucap komandan dan itu membuat personil polisi ikut hormat.
"Jangan masuk, kami akan menyelesaikannya."
Semua yang mendengar suara Dara melongo.
"Anda seorang perempuan?" tanya komandan itu.
"Apa perlu saya beritahu, saya rasa tidak perlu!"
"Maaf!"
"Hemmm."
Endras lari terbirit-birit dari belakang sekolah dan langsung di tendang oleh Shani.
"Bagus sekali setelah melempar korek, mau kabur rupanya."
"Brengsek!"
"Mau kabur rupanya."
Saat detik-detik Shani ingin menembak Endras, Regan menembak tangan Shani dan itu membuat Endras terkekeh dan langsung kabur bersama Regan.
Shani yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya.
"Licik sekali," ucap Shani sambil memegang tangan.
Shani langsung memanggil Dara dan menyerahkan topeng dan jubahnya.
"Tangan lu terluka," kata Dara khawatir.
"Tidak usah khawatir, cepat kejar Regan dan Endras. Mereka pergi ke arah timur di arah jam 2."
"Baiklah, cepat obati luka lu."
"Hemm."
[][][]
__ADS_1
NEXT