MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
83


__ADS_3

Shani mengambil kerambit lalu mendekati Regan.


"Kau ..." ucap Regan menatap dengan nyalang.


"Anda menginginkan jantungku di ambil bukan," sahut Shani dengan datar.


"Cihhhh!" decih Regan.


Dengan cepat Shani menendang muka Regan dan menyabit perutnya dengan kerambit sampai ususnya keluar.


Teriakan Regan benar-benar menyedihkan.


"Aaaaaa!" teriak Regan.


"Katakan padaku apa yang terjadi dengan istri pertamamu?" tanya Shani lebih dingin dengan penekanan.


"Maksud kamu itu apa hah, sampai kapan pun saya tidak akan mengakui bayi dalam kandungan Shina itu cucu saya!" teriak Regan.


Shani tersenyum dan langsung meninju muka Regan.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Kau sangat kotor, Tuan Regan!"


"Bajingan!"


Shani menancapkan mata kerambit itu ke wajah Regan.


"Aaaaaaa!" teriak Regan kembali kesakitan.


Shani langsung menarik kerambit yang masih menancap diwajah Regan sampai robek.


Sreeeeeeit!


"Aaaaaaaa aaaa aaa!" teriak Regan bahkan darah begitu membasahi tubuh Shani.


Sosok lembut dalam diri Shani sudah tidak ada, dirinya muak dengan Regan dan juga istrinya yang selalu menyalahkan Shina.


Shani mengambil palu dan memukul kepala Regan.


Bugh! Bugh! Bugh!


Regan langsung terhempas ke belakang dengan muka yang sudah hancur dan tubuh banyak darah.


Dengan santainya Shani membuang noda darah di bajunya hingga terlihatlah perut sixpack Shani.


Kemudian menatap Tuan Regan.


"Giliran kau selanjutnya," ucap Shani dengan senyum devilnya.


Sedangkan Endras sudah mulai ketakutan, wajahnya yang pucat dan keringat membasahi tubuhnya.


Shani sangat senang melihat musuh ketakutan seperti itu.


"Lihatlah wajah ketakutan itu sangat menggemaskan," ucap Shani yang sudah seperti psikopat.


"Pergi! Pergi! Pergi!" usir Endras.


"Ouhh jangan begitu ... ok."


Shani makin mendekati Endras dan menginjak wajahnya.


"Kamu begitu lantang ingin mengambil janguku, kan."


"Dasar bocah psikopat!" umpat Endras.


"Houuuu ada suara lantangnya juga hemmmmm."


Bugh!


Sekali tendang ke wajah Endras lalu menonjol wajahnya berkali-kali.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Aaaaaaaa!" teriak Endras meringis kesakitan seperti ikan kehabisan nafas didarat.


Shani langsung mengambil palu dan memukul kepalanya dengan kuat.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Mata kamu cukup bagus," puji Shani lalu mencongkelnya.


Menancapkan kerambit di tenggorokan lalu menariknya ke bawah sampai perut.


Sreeeeeeeeet!


Keluarlah usus dan darah yang begitu banyak.


"Ekkkkk!" Endras tewas ditangan Shani yang kejam.


[][][]


Paginya Shani sengaja tidak bangun cepat karena hari ini tidak mungkin sekolah juga.


Sekolahnya juga masih ditutup jadi belajar lewat aplikasi aja.

__ADS_1


Shina sudah bangun dan langsung ke kamar Shani.


"Tumben anak ini belum bangun," gumam Shina.


Kemudian Shina membuka pintu kamar Shani.


"Shani anak mami bangun yuk."


Tiba-tiba ekspresi wajah Shina berubah.


"Shani!"


Shina langsung histeris karena melihat noda darah ditangan Shani.


"Aaaaaa!"


Malik dan Ratna terkejut dan langsung menghampiri sumber suara itu.


"Shina kenapa kamu teriak?" tanya Malik.


"Papa, coba Papa lihat. Tangan Shani!"


"Astaga," kaget Malik.


Ratna langsung melihat noda darah dilengan Shani yang ada perbannya.


"Sepertinya infeksi Pa," ucap Ratna.


Malik langsung memanggil Dokter untuk memeriksa tangan Shani.


Seketika Shani terbangun karena suara berisik.


"Emhhh berisik banget," ucap Shani.


Citra tiba-tiba masuk ke kamar Shani dan melihat tangan anaknya berdarah.


"Shani tangan kamu, kenapa bisa berdarah begini sayang?" tanya Citra.


Shani yang belum melihat tangannya merasa bingung.


"Maksudnya?" tanya Shani.


"Coba kamu lihat tangan kamu," sahut Malik


Shani sangat terkejut melihat tangannya berdarah.


'Sial, pasti ini noda darah tadi malam!' batin Shani.


"Kakek sudah memanggil Dokter," ucap Malik.


Untuk membuat semua percaya jika ini hanya infeksi, Shani harus melakukan hal yang ekstrim.


"Shani mau ke toilet," ucap Shani yang berusaha berdiri.


"Sini Mama bantu," sahut Citra.


"Mama jangan ikut ke dalam, malu tahu."


"Tapi tangan kamu-"


"Gak papa."


Shani langsung mengunci pintu kamar mandinya.


Shani langsung memukul tangannya dan menggosoknya biar makin berdarah.


Rasanya sangat perih dan menahan tangis.


Dokter pun datang tapi Shani masih dalam kamar mandi.


"Dokter sudah datang kenapa dia masih dalam kamar mandi," ucap Ratna.


"Ma, Citra khawatir."


"Coba panggil," ucap Malik.


"Shani ... Shani ... Shani ..."


Malik langsung mendobrak pintu kamar mandi.


"Shani," kaget mereka semua karena Shani tergeletak.


Malik langsung menggendong Shani.


"Periksa cucu saya," ucap Malik.


Dokter itu langsung membuka perban dan melihat bekas tembakan itu mulai mengeluarkan nanah.


"Infeksi ini," ucap Dokter lalu membersihkan lukanya dengan telaten.


[][][]


Sifa sangat bahagia karena memiliki Ibu yang baik seperti Sita.


"Bahagia aja nih," tegur Alya.

__ADS_1


"Ehh Tante," sahut Sifa salah tingkah.


"Emm Fa, boleh Tante tanya."


"Tanya apa Tante."


"Emmm Aevan kalau disekolah gimana?"


"Sifa gak tahu Tante karena gak terlalu dekat."


"Kalian, kan sepupu kenapa gak dekat."


"Huh, kan Sifa dulunya anak panti mana mau Aevan deket sama anak orang miskin!"


Alya terkejut mendengar pengakuan Sifa.


"Kamu serius, Aevan begitu di sekolah."


"Iya Tante, malahan temen pertama Sifa itu Shani."


"What, Shani anak Nyonya Shina."


"Iya."


"Kok Aevan begitu yahh."


"Maaf ya Tante itu emang fakta kok."


"Jangan dipikirkan Al, Aevan waktu itu masih tinggi egonya." Sita ikut bergabung dan menimpali ucapan Alya.


"Tapi Mbak, aku gak pernah ajarin Aevan buat ngerendahin sosial orang."


"Kamu memang benar tapi kita, kan gak tahu pergaulan anak."


Alya langsung bersedih dan merasa gagal jadi Ibu.


"Sudah Tan, yang penting sekarang Aevan sudah berubah."


Alya tersenyum dan membelai pipi Sifa.


"Makasih yahhh."


[][][]


Zaki sangat marah pada Ibunya sendiri karena sudah membuat dirinya sakit.


"Ibu keterlaluan, pergi!" teriak Zaki melempar bantal.


Sandra langsung menyergap Zaki dengan kuat dan memukul wajahnya.


"Apa kamu itu bisanya cuma melawan Ibu, hahh!"


"Lepaskan!"


"Tidak akan!"


"Ibu jahat!"


"Tapi ini demi kebaikan kamu, Ibu harus jemput Aevan."


"Jangan apa-apakan Aevan!"


"Terserah, dia cucu Ibu."


"Tapi dia anakku!"


"Karena itu Ibu ingin menjemput anak kamu sekaligus cucu Ibu."


"Bedebah!"


"Bagus sekali mulut kamu itu Zaki!"


Bughh!


Sandra menyetrum Zaki dengan alat alat yang khusus.


"Eaaaaaa!" teriak Zaki lalu pingsan.


Sandra langsung menangis dan memeluk Zaki.


"Maafin Ibu, tolong jangan benci Ibu ... Ibu melakukan ini karena sayang sama kamu dan tidak ingin dijahati oleh perempuan seperti kakak dan adik kamu."


Sandra membenarkan posisi Zaki agar rebahannya enak.


"Aku harus bisa menjemput Aevan dan membawa mereka berdua menjauh dari wanita iblis itu!" ucap Sandra penuh penekanan dan mata yang melotot.


[][][]


Cici memilih kabur dari rumah karena takut dengan anak buah Malik dan Toni.


Sekarang Toni tahu siapa Cici sebenarnya dan Ibu kandungnya adalah Feloa Ralindra, adik kandung dari Malik Ralindra.


[][][]


NEXT

__ADS_1


__ADS_2