
() () ()
Citra yang sekarang tinggal dirumah orang tuanya Shina karena terus dipaksa oleh Malik dan Ratna.
Apalagi sekarang, Darma semakin melindungi Citra dan Shani.
Pagi ini Citra memasak untuk orang tua angkatnya.
"Hemmm bau-bau sedap ini, masak apa sih?" tanya Ratna.
"Citra masak seafood, Mama sama Papa suka atau enggak?" tanya Citra balik.
"Suka dong," sahut Malik yang baru saja turun dari tangga.
"Eh Papa," kata Citra dengan malu.
"Kenapa kamu sayang?" tanya Ratna.
"Gak papa kok Ma," sahut Ratna.
"Ya sudah kita makan yahh, Papa sudah lapar."
"Iya, ayo Cit kita makan."
"Baik Ma, Pa."
Disela makannya Malik bertanya pada Citra.
"Kamu sudah mengenal Darma, Cit?" tanya Malik.
"Dia teman masa kecilku Pa," sahut Citra.
Ratna minum susu sambil menyimak obrolan hangat keluarganya.
"Ouh benarkah, apa dia laki-laki baik?" tanya Malik lagi.
"Untuk itu Citra gak bisa jawab tapi selama dia kerja, dia laki-laki baik."
"Ouhh."
"Kenapa Papa tanya Darma?" tanya Citra.
"Hanya ingin tahu saja," sahut Malik.
"Ouh."
Tiba-tiba Shina datang membawa Shani ke rumah orang tuanya dengan koper.
"Shina," kaget Ratna.
"Maaaa hiks," tangis Shina pecah.
"Ada apa ini?" tanya Ratna balik.
"Hiks hiks."
"Kamu kenapa menangis Shin?" tanya Ratna panik lalu menuntun Shina untuk duduk dikursi.
Malik dan Citra penasaran lalu juga mendekatinya.
Sedangkan Shani langsung minta izin ke kamar.
"Kakek, Nenek, Tante Citra, Shani ke kamar dulu ya capek!"
"Iya sayang," sahut Ratna dan langsung meminta jawaban dari Shina.
Citra yang paham langsung mengelus pundak Shina dan bertanya dengan lembut.
"Shin, apa yang terjadi?" tanya Citra.
Shina berusaha menormalkan nafasnya itu.
"Aku sama Toni bertengkar," sahut Shina.
"Apa," kaget Ratna. "Kok bisa?" tanya Ratna lagi.
"Mas Toni nuduh aku selingkuh dan dia bilang anak yang ada dalam kandungan aku ini bukan anaknya."
"Lalu?" tanya Citra lagi padahal Malik dan Ratna sudah kebakar emosi tapi ditahan oleh Citra.
"Mama Cici datang, katanya dia lihat sendiri kalau aku sedang pelukan sama laki-laki lain."
"Cici lagi," kesal Ratna.
"Setelah itu?" tanya Citra dengan setia.
__ADS_1
"Aku jawab, kalau aku gak pernah selingkuh dan foto itu aku gak tahu karena selama sebulan ini aku gak pergi ke pantai. Saat aku menjawab seperti itu aku langsung di tampar sama Mama Cici, Shani gak terima dan langsung mendorong Mama Cici. Mas Toni marah karena Shani mendorong Mamanya dan langsung menampar Shani, aku yang lihat Shani ditampar jadi marah juga hiks aku ajak Shani pulang ke rumah Mama sama Papa hiks."
"Huuuuuhhh," hembus Malik akan nafasnya karena menahan emosi. / 'Awas kalian!'
"Ya sudah, Mama obatin luka kamu yahh."
"Iya Ma."
"Kalau gitu, aku obatin luka Shani."
"Iya Cit."
Citra langsung naik ke atas dan mengetuk pintunya.
Tok
Tok
"Sayang, Mama masuk yahh."
Tidak ada jawaban sama sekali.
"Masuk aja deh," gumam Citra.
Ceklek
Shani ternyata tertidur karena capek.
"Jadi kamu tidur lagi sayang hemmm," kata Citra lalu mengobati bibir yang berdarah.
Shani membuka matanya dan melihat Mama kandungnya sedang mengobati bibirnya yang terluka.
"Tante," kaget Shani.
"Tenang ya, kamu rebahan aja biar Mama yang obatin."
"Mama," ulang Shani. / 'Apa Mama sudah tahu kalau gue ...'
"Mama sudah tahu kamu itu amnesia, 'kan. Shani anak kandung Mama jadi mulai sekarang panggil Mama yah jangan Tante lagi."
'Apa ini cara agar gue bisa kumpul lagi sama Mama dan membiarkan semua orang percaya kalau gue ini amnesia.'
"Hey," kata Citra lagi.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Citra dengan lembut.
"Gak ada," sahut Shani. / 'Gue harus habisin itu nenek lampir.'
"Sayang," panggil Citra lagi.
"Hemmm," sahut Shani.
"Kamu ngantuk yah."
"Iya."
"Ya sudah kamu bobo lagi, mau Mama empok."
Shani sebenarnya sangat ingin tapi dia malu.
'Bisa jatuh harga diri gue kalau di empok.'
Citra langsung memeluk Shani dan merebahkan dirinya bersama Shani.
"Sudah jangan malu-malu, sini Mama empok-empok."
Selang beberapa menit, Shani sudah tidur karena Toni dan Shina bertengkar jam 2 pagi sampai subuh dan itu membuat Shani tidak bisa tidur.
"Akhirnya kamu tidur juga sayang dalam empok-empoknya Mama, hemmm terus begini ya Nak." Peluk Citra dengan erat dan rasanya sangat enggan untuk meninggalkan anaknya ini.
Begitu juga dengan Shina yang terlelap tidur dan Malik sendiri yang menggendongnya ke kamar.
"Kasihan Shina Pa," kata Ratna sambil menangis.
"Akan Papa hajar si Toni sialan itu!" geram Malik.
"Mama gak terima Shina di fitnah, ini pasti kerjaan nya Cici!"
"Kamu benar Ma."
"Ya sudah Pa, sebaiknya biarkan Shina istirahat dulu."
"Iya, ayo."
() () ()
__ADS_1
Brak!
Fini di dorong ke dalam rumahnya sendiri oleh anak buah Shani.
"Ingat, ini untuk terakhir kalinya!" ancam The Meteor.
"I-iya," sahut Fini dengan gugup.
"Ayo pergi!"
Fini bernafas dengan lega akhirnya dia di bebaskan.
"Gue gak mau temenan lagi sama Gea," kata Finni lalu masuk ke dalam kamarnya.
Tapi Finni tidak tahu kalau Vatha, Abangnya sudah dihabisi oleh Shani.
Atas perintah Shani sendiri, Finni di kendalikan mentalnya agar takut dan tak berani lagi, bahkan dengan sengaja The Meteor memperlihatkan tahanan mereka mati dihadapan Fini sebagai jaminan jika Finni mengingkarinya.
() () ()
Jhon akhirnya di eksikusi oleh Dara atas perintah Shani.
"Gimana Pak Tua, hemmm sakit!"
"Brengsek kalian, dasar biadab!"
Dara menyuruh anak buahnya untuk menghajar Jhon sampai tewas.
"Hajar dia!" titah Dara sambil bersedekap dada.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"Aaaaaa aaaaaa aaaaa." Jhon meringis kesakitan dan berteriak sangat nyaring.
Khek!
Jhon sudah tidak bergerak lagi karena pukulan anggota The Meteor mengenai bagian dalam yang rentan.
"Kita apakan mayatnya Nona?" tanya mereka.
"Buang ke kolam ikan piranha," sahut Dara.
"Baik!"
"Kali ini aku akan melindungi Dek Shani, apapun yang terjadi dan aku tidak mau lagi bodoh karena cinta."
() () ()
Kazio kini tidak lagi mengganggu Citra dia pindah dari rumah mewah dan besar ke bangunan yang sederhana.
Xavier yang melihat perubahan Papanya hanya tersenyum bahagia.
"Xavier harap Papa benar-benar berubah," katanya.
"Insya Allah Vier, Papa akan mendekatkan diri kepada Allah dan menebus semua dosa-dosa Papa."
"Syukurlah kalau begitu, Papa."
"Ya sudah, kamu kapan ke Jakarta lagi."
"Besok Pa."
"Papa titip Shani yah, sampaikan ke dia kalau Papa sangat menyesal dan jaga dia baik-baik!"
"Pasti itu Pa, biar bagaimana pun Shani adik Xavier walaupun beda Ibu."
"Papa harap Shani mau memaafkan Papa."
"Xavier yakin Shani pasti memaafkan Papa."
"Ouh iya semoga saja emmm ayo kita ke mesjid, sholat Dhuha itu baik Nak."
"Iya Pa."
Kazio memutuskan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
() () ()
NEXT
__ADS_1