MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
76


__ADS_3

Saat ini Citra sudah diperiksa Dokter dan untungnya tidak menginap.


"Tapi harus istirahat dirumah yahh," kata Dokter itu.


"Terima kasih Dok," sahut Citra.


Shina kemudian memegang tangan Citra dan tidak mau melepaskannya.


"Aku gak papa kok Shin," kata Citra.


"Gak papa apanya, punggung kamu sampai diperban seperti itu."


"Maaf ya aku ngerepotin lagi."


"Apaan sih kamu jangan ngomong kaya gitu."


"Iya."


"Ayo kita pulang," ucap Malik.


Shani akan ke markas malam ini karena ingin bertemu para Dajjal.


Didalam mobil, Shina sangat khawatir dengan Citra.


"Kamu beneran gak papa Cit?" tanya Shina memastikan.


"Aku gak papa Shin," sahut Citra menenangkan Shina. "Jangan cemas kaya gitu, ingat kamu lagi hamil."


"Iya," sahut Shina.


Tatapan Shani lurus ke depan dengan tajam, raganya memang bersama keluarga tapi hati pikirannya ada di markas.


Gue akan menguliti mereka hidup-hidup, pastikan itu!


Malik melihat wajah datar Shani.


Ada apa dengan anak itu, aku harus bertanya sejak kapan dia bisa beladiri.


Sesampainya di rumah, penjaga langsung membuka pintu mobil.


"Awas hati-hati Cit!" peringat Shina.


Ratna langsung menghampiri Citra dan Shina.


"Kalian tidak papa?" tanya Ratna dengan wajah panik.


"Kenapa dengan wajahmu itu, Ma?" tanya Malik.


"Gimana gak khawatir habis melihat baku tembak di tv," sahut Ratna.


"Jadi sudah tayang yahh," ucap Malik menghela nafasnya dengan kasar.


"Sebaiknya kita masuk, kasihan Citra, Shina dan Shani kalian harus istirahat ok!"


"Iya Ma," kata Shina.


"Iya Nek," sahut Shani.


Ratna kemudian mengantarkan Citra ke kamarnya.


"Duhh kamu ini ya ampun, ada-ada aja."


"Maaf Ma."


"Mama mengkhawatirkan kalian."


"Kita juga gak tahu Ma, tiba-tiba di serang."


"Udah jangan di ingat lagi yang penting kamu dan yang lainnya selamat."


"Iya Ma."


[] [] []


Toni yang melihat berita penyerangan mall bergengsi langsung terbelalak saat melihat Shina dan yang lainnya di kepung musuh.


"Astaga! Shina, Shani." Kemudian Toni langsung keluar dari ruang kerjanya dan tidak sengaja melihat Papanya yaitu Tuan Regan sedang bersama Tuan Endras. "Papa." / Kenapa Papa tampak akrab dengan Tuan Endras, apa dia tidak tahu kalau Tuan Endras itu sangat berbahaya. Ah sudahlah, lebih baik aku menjenguk Shina.


Toni langsung tancap gas ke rumah mertua.


"Semoga aja Papa Malik tidak marah dan mengusirku lagi," gumam Toni.


Tiba-tiba Toni dihadang oleh segerombolan preman di jalan.


"Mau apa mereka," monolog Toni.

__ADS_1


Preman itu turun dan menggendor pintu mobil Toni.


"Heh, turun sialan. Woy, turun lu!"


"Sial, mereka ternyata begal." Toni langsung tancap gas meskipun dihalangi beberapa preman. "Sial, mau apa sih mereka!"


"Woy, turun lu goblok!" teriak preman itu.


Toni kemudian keluar dan berkelahi dengan preman jalanan yang suka merampas.


"Jangan ganggu saya!" tekan Toni yang sudah menghajar habis preman tadi lalu kembali naik mobil.


"Menyusahkan saja," gumam Toni.


[][][]


Seorang kepala pelayan memberitahu Malik.


"Tuan Malik, ada yang mencari anda."


"Siapa?" tanya Malik sambil membaca majalah.


"Tuan Antoni."


Mendengar nama Antoni membuat Malik langsung berubah jadi sinis dan datar mukanya.


"Usir saja!"


"Baik Tuan."


Kepala pelayan itu langsung keluar dan menyampaikan apa kata majikannya tadi.


"Maaf Tuan Toni, sebaiknya anda pulang."


"Tidak bisakah saya masuk menemui istri saya."


"Saya hanya kepala pelayan hanya menjalankan apa yang dikatakan majikannya."


"Saya tidak akan pulang karena ingin bertemu istri, apa saya salah hah!"


"Maaf Tuan."


Tiba-tiba bodyguard langsung memegangi Toni dan menyeretnya keluar.


Tidak lama kemudian Malik datang.


"Papa, apa maksud Papa? Lepaskan saya Pa, lepaskan!"


"Bawa dia jauh-jauh dari sini, saya tidak ingin keluarga saya celaka!"


"Apa maksud Papa, aku tidak mungkin menyakiti keluargaku sendiri!"


"Kamu memang tidak menyakiti tapi orang tuamu!"


"Apa!"


"Percuma saya menjelaskan itu ke kamu karena tidak akan membuat kamu percaya!"


"Tolong Papa jelaskan."


"Regan dan Cici mencoba ingin mencelakai Shina dan Shani."


"Gak mungkin Pa."


"Sudah terbukti, kan kamu tidak percaya jadi hanya buang-buang waktu saja menjelaskan masalah ke kamu. Kalian, buang pria tak berguna ini!"


"Baik Tuan, ayo ikut kami!"


"Papa aku mohon, Pa!"


Malik hanya tersenyum tipis. "Selama kamu tidak tegas jangan harap bisa bertemu!"


[][][]


Bima sangat terkejut melihat berita itu.


"Kamu melihatnya Yang?" tanya Sifa.


"Iya dan ini sangat viral trending nomor satu di Indonesia," sahut Bima.


"Aku jadi kasihan dengan Shani, begitu banyak cobaan dia itu."


"Iya sayang kita hanya bisa bantu dia sedikit demi sedikit," kata Bima.


"Itu lebih baik daripada tidak sama sekali," sahut Sifa.

__ADS_1


"Oh ya Yang, malam ini kita jalan yuk."


"Kemana?"


"Kemana ajalah yang penting kita jalan-jalan biar gak bosen."


"Nanti aku tanya Mama dulu."


"Iya sayang."


Tidak lama kemudian Alya keluar dari kamar dan melihat Sifa bersama Bima.


"Duh, anak muda lagi pacaran."


"Eh Tante Alya," ucap Sifa.


"Iya ini Tante Alya kok," sahut Alya.


"Hahahaha," tawa gelak dari Sifa dan Bima.


"Kok kalian ketawa sih?" bingung Alya.


"Gak papa Tan, coba deh bercermin." Sifa memberikan cerminya pada Alya.


Saat Alya melihat wajahnya dicermin dia langsung berteriak histeris dan malu juga.


"Aaaaaaaaa!" teriak Alya langsung pergi ke kamar kembali.


Sifa dan Bima kembali tertawa sampai perut mereka sakit karena Tante Alya ileran dan liurnya membekas dipipinya yang mulus itu.


[][][]


Boy dan Julia lagi di kafe dan mereka juga melihat berita viral itu.


"Sayang, coba lihat." Boy memperlihatkan berita penyerangan mall paling elit.


"Astaga, terus keadaan Shani sama keluarganya gimana?" tanya Julia.


"Belum tahu," sahut Boy.


"Kita ke rumahnya aja yuk," kata Julia.


"Kamu, kan tahu Shani gak tinggal dirumah Papinya lagi." Boy mengambil kentang goreng.


"Ouh iya, emm mungkin tinggal sama Neneknya."


"Bisa, coba lu telpon."


Julia pun mencoba menelpon Shani tapi tidak di angkat.


"Gak di angkat Yang," cemas Julia.


"Udah jangan cemas gitu mending kita nyanyi."


"Iya juga yah."


"Ayo."


[][][]


Sedangkan Xavier dan Laras saling menangis dan meminta maaf.


"Maafin Mama, maafin!" ucap Laras sambil bersujud pada Xavier.


"Mama, sudah. Jangan kayak gini, please!" sahut Xavier berusaha mendirikan Laras.


"Mama menyesal sudah menyia-nyiakan anak sebaik kamu."


"Semuanya udah berlalu Ma, lupakan dan tata hidup kembali."


"Kamu memang anak yang baik, Vier."


"Jangan begitu, kita manusia harus saling menasehati dan masing-masing punya kesalahan."


"Anak Mama ini bijak banget sih ngomongnya," puji Laras karena ini pertemuan kedua mereka setelah janji kemarin.


"Makan lagi yuk, Ma yang banyak!"


"Iya sayang."


Xavier dan Laras lagi makan di restoran dengan lahap karena lapar.


[][][]


NEXT

__ADS_1


__ADS_2