MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
93


__ADS_3

Julia dan orang tuanya pamit pada semua orang dan khusus Shani, Julia menangis karena melihat sahabatnya sakit demam.


"Kenapa lu sakit?" tanya Julia.


"Gak papa," sahut Shani.


"Jangan bohong sama gue."


"Beneran Jul, gue gak papa kok."


Julia dan Shani saling diam, seketika kamar jadi hening.


Tiba-tiba pintu kamar Shani terbuka.


"Loh kok hening," ucap Shina.


"Tante," sahut Julia.


"Ada apa ini hemmm?" tanya Shina yang mau duduk tapi dibantu Julia karena perut Shina sudah sangat besar.


"Gak ada apa-apa Mi," sahut Shani.


"Yakin?"


"Itu ..." ucap Julia terjeda.


"Kenapa?" tanya Shina lagi.


"Julia sedih Tante."


"Kenapa sedih."


"Lihat Shani sakit seperti ini disaat Julia mau pindah."


"Gue sakit karena capek Jul," ucap Shani lagi.


"Bohong, kemarin-kemarin lu baik-baik aja sebelum gue kasih tau kenapa sekarang sakit setelah tau gue sama keluarga mau pindah."


"Kebetulan aja itu," ucap Shani lagi yang tidak ingin membuat Julia merasa berat saat pindah.


Julia memegang dahi Shani yang panas.


"Badan lu panas begini udah panggil dokter belum?"


"Udah pagi tadi."


"Sifa sama keluarganya juga mau kesini."


"Ouhh."


Shina paham betul perasaan Shani sekarang.


Tok tok ...


"Masuk aja," ucap Shina.


Ceklek ...


"Eh Sifa," ucap Julia.


"Julia," sahut Sifa.


"Ayo duduk sini," panggil Shina.


"Iya Tante," sahut Sifa.


"Kamu bawa apa itu?"


"Buah-buahan Tante buat Shani."


"Ya ampun terima kasih banyak yahh."


"Sama-sama Tante."


"Orang tua kamu juga kesini."


"Iya Tante."


"Ya sudah Tante juga mau ke bawah, sebaiknya kalian ngobrol aja dulu. Shani sayang, Mami mau ke bawah dulu ya Nak."


"Iya Mi."


Shina mencium kening Shani dan keluar.


Emmuahh ...


[][][]


Pertemuan keluarga Tuan Rayah dan Galih bersama Tuan Malik berjalan lancar, apalagi Citra dan suaminya datang diwaktu yang tepat.


"Citra sayang sini," ucap Ratna.


"Ada apa Ma?" tanya Citra heran.


"Darma kamu juga duduk sini," pinta Tuan Malik.


"Baik Pa," sahut Darma.


"Sudah Mbak duduk disini aja dulu," ucap Shina.


"Ya udah deh," sahut Citra.


Pertemuan ketiga keluarga ini untuk saling memaafkan jika ada kesalahan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Sifa dan Julia turun.


"Sudah sayang?" tanya Tuan Rayhan.


"Iya Pa," sahut Julia.


"Kamu juga sudah Fa?" tanya Galih.


"Sifa juga sudah," sahutnya dengan senyuman.


"Ya sudah kalau gitu kita pulang yahh," ucap Tuan Rayhan.


"Kami juga," ucap Galih.


Sita dan Sifa saling pamit karena mereka akan pergi ke bandara begitu juga dengan Tuan Rayhan dan Nyonya Flora, Julia cukup sedih meninggalkan sahabatnya disini sendirian.


Setelah kepergian keluarga Tuan Rayhan dan Galih, mereka kedatangan Kazio beserta keluarganya.


"Assalamualaikum," ucap Kazi.


"Wa' alaikumsalam," sahut Tuan Malik.


"Bagaimana keadaa Tuan Malik?" tanya Kazio.


Tuan Malik memeluk Kazio dengan hangat.


"Saya baik kalau kamu dan keluarga?"


"Kami sekeluarga juga baik Tuan."


"Syukurlah."


"Mari duduk," ucap Ratna.


Citra melihat Xavier bersama seorang perempuan.


"Xavier," ucap Citra.


"Iya Ma ada apa," sahut Xavier.


"Itu disamping kamu siapa?" tanya Citra.


Kazio dan Laras tersenyum, hal inilah mereka ke rumah Tuan Malik.


"Ada apa ini yahh tumben kesini," ucap Ratna.


"Begini Nyonya, kedatangan kami kesini ingin memberitahu kabar bahagia," ucap Laras.


"Kabar bahagia apa itu?" tanya Shina.


"Satu Minggu lagi Xavier akan menikah dengan Dara, perempuan yang kami bawa ini adalah calon mantu keluarga Arizaya." Laras menjelaskan semuanya.


Citra dan Darma cukup terkejut tapi mereka juga ikut senang.


"Wahh bagus sekali kamu sudah mau menikah Vier," ucap Citra.


"Pasti sayang."


"Selamat ya Vier, Papa doain acaranya nanti lancar." Darma juga ikut mendoakan.


"Terima kasih Pa," ucap Xavier bahagia sambil menggenggam erat tangan Dara.


Dara tampak malu dengan perlakuan Xavier.


Xavier tidak melihat Shani langsung bertanya. "Maaf kalau boleh Shani kemana yahh dari tadi gak lihat."


Citra langsung menjawab. "Shani sakit Vier, itu ada di kamarnya."


Xavier cukup terkejut dan langsung meminta izin untuk menjenguknya. "Kalau begitu Xavier izin jenguk Ma."


Citra mengangguk. "Boleh sayang, jenguklah."


Dara tidak ingin ditinggal juga minta izin ingin ikut. "Aku juga mau ikut."


Xavier menoleh dan tersenyum. "Ayo."


Kazio memijit pelipisnya karena kebucinan Xavier dan Dara. "Astaga ..."


Laras terkekeh. "Sabar Mas, namanya juga anak muda yang mau menikah."


Tuan Malik juga ikut menimpali. "Calon mantumu sepertinya sangat bucin, Kazio."


Kazio hanya tertawa pelan. "Makanya saya ingin mereka menikah secepat mungkin."


"Itu bagus Kazio, saya akan mendukungnya." Ratna mendukung pernikahan Xavier dan Dara.


"Xavier kenal sama perempuan itu dimana?" tanya Citra.


"Katanya di jalan," sahut Laras.


"Udah ketemu sama orang tuanya?"


"Dara yatim piatu."


"Ouh benarkah."


"Tapi aku lihat mereka cocok," tukas Shina.


"Alhamdulillah kalau mereka cocok," sambung Laras.


Bibi pun memberikan minuman untuk tamu.


"Silahkan di minum," ucap Tuan Malik.

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Kazio.


Shina pun pamit pergi ke atas karena sangat lelah.


"Semuanya pamit dulu yahh, udah capek."


"Tidak papa Shin, istirahatlah."


"Biar aku temani," tawar Citra.


"Iya Mbak."


Citra khawatir dengan Shina yang tengah hamil besar.


Ratna juga ikut masuk ke dalam dan mengajak Laras.


"Ras, bisa bantu Tante."


"Bisa Tante."


"Ayo."


Sekarang Tuan Malik hanya di temani Darma dan Kazio. Mereka berbicara tentang bisnis.


[][][]


Xavier dan Dara mengelus pucuk kepala Shani.


"Kamu kenapa Dek?" tanya Xavier cemas.


"Biasanya kamu gak sakit begini Dek," ucap Dara yang tampak lebih khawatir dari Xavier.


"Enggak papa Kak," sahut Shani.


"Badan kamu panas loh, ke rumah sakit yahh."


"Gak mau ..."


"Jangan gitu, lebih baik ke rumah sakit biar kamu cepat sembuh."


"Gak mau."


Xavier heran dengan Dara seperti sudah lama mengenal Shani.


"Aneh," ucap Xavier.


"Kenapa Mas?" tanya Dara.


"Kamu kayaknya udah kenal lama sama Shani," sahut Xavier.


"Ya iyalah, Shani itu adik angkat aku."


"Apa!"


"Iya Mas, yang biasa aku ceritakan itu."


"Jadi adik angkat yang biasa kamu ceritakan ke aku itu, Shani."


"Iyalah."


"Ya ampun kenapa gak kasih tahu aku sih."


"Sengaja."


"Dasar curang."


"Tapi Kak Dara perempuan baik, kan Kak."


"Iya Dek."


Shani tersenyum sesekali dia terbatuk.


Karena cemas, Dara mengompres dahi Shani dengan telaten.


Xavier memegang tangan Shani.


"Jangan sakit ya Dek ... Kakak jadi sedih."


"Kalian mau menikah?" tanya Shani sambil memejamkan matany.


"Iya Dek," sahut Xavier.


"Shani ikut senang, kapan acaranya."


"Satu minggu lagi Dek."


"Ouhh."


"Makanya kamu cepat sembuh Dek," ucap Dara sambil memijit lengan Shani. "Nanti bisa ikut foto sama kita."


"Iya Kak."


Kemudian Dada berbisik pada Shani. "Masa ketua Mafia sakit langsung keok."


Shani membelalakkan matanya. "Kak ..." rengek Shani.


"Kamu kenapa Dek?" tanya Dara tanpa dosa sama sekali.


Wajah Shani memerah menahan malu.


Sedangkan Xavier bingung dengan Dara dan Shani.


"Mereka kenapa sih," gumam Xavier.

__ADS_1


[][][]


NEXT


__ADS_2