
Shani memperingati Azka untuk tidak terus mengawasinya dengan memberikan sedikit tembakan lepas ke arah rumahnya.
Dorr ...
"Suara apa itu?" tanya Bima.
Tuan, tuan!" panggil anak buah yang berjaga di depan.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Ada yang kasih peringatan untuk kita, Tuan."
"Siapa?"
"Tidak tau tapi dia memberikan surat untuk kita."
"Mana suratnya?"
"Ini ..."
Bima mengambil surat itu dan membacanya dengan muka yang sulit di artikan.
Tuan Azkarino Heil, bisakah anda menghentikan tindakan gila itu dengan mengawasi seorang mahasiswi. Ini bisa ditindak pidana atau kita perang!
"Ini yang aku takutkan, Azkaaa!"
"Ada apa sih Pa," ucap Azka sambil menguap karena baru saja bangun tidur.
Kemudian Tuan Bima langsung melempar kertas itu ke wajah Azka.
"Kamu baca itu!"
"Apa sih Pa," ucap Azka yang masih bingung lalu membuka kertas tadi.
"Kamu hentikan, jangan sampai bisnis kita hancur."
"Azka mencintainya Pa."
"Tapi kamu tidak kenal dengannya."
"Iya Azka tau makanya berusaha mengorek informasi tentangnya."
"Sudahi saja itu berbahaya."
"Tapi Pa."
"Azka!"
"Emang kenapa sih Pa, seberbahaya apa Tuan Malik sampai Papa takut. Seorang Tuan Bima Heil takut, gak ada sejarahnya Pa. Keluarga Heil terkenal pemberani!"
Plak!
Tuan Bima menampar wajah Azka dengan kuat karena ucapannya yang angkuh.
"Kamu itu gak punya otak, Azka. Apa kamu pikir keluarga kita yang paling atas, keluarga Heil tidak punya pengaruh besar seperti keluarga Ralindra dan William, bahkan Arizaya. Kalau bertindak itu jangan sesukanya atau kamu yang celaka, berhenti menguntit gadis itu! mulai sekarang Papa tidak akan membiarkan kamu meminjam anak buah lagi kecuali sangat beresiko."
Azka hanya diam dan mengepalkan tangannya.
[][][]
Shani melakukan senam pagi di taman belakang seperti biasa agar tubuhnya tetap bugar dan segar.
"Shani, kamu gak kuliah sayang?" tanya Tuan Malik.
"Enggak Kek, agak siangan berangkatnya."
"Ouhhh."
"Habis ini Shani mau ke rumah Mama sama Papa, Kek."
"Mama kamu masih kerja, Shan."
"Enggak Kek, katanya udah berhenti dilarang sama Papa."
"Berarti dirumah aja dong."
"Iya makanya Shani disuruh tinggal disitu."
"Ya baguslah, biar Mama kamu ada temannya."
"Iya Kek."
"Kuliah kamu gimana, Shan?"
"Alhamdulillah baik Kek, ujian kemarin juga lancar."
"Apa ada yang ganggu kamu di kampus?"
"Gak ada sih Kek."
"Kalau ada yang ganggu kamu bilang aja sama Kakek."
"Iya Kek."
Ponsel Tuan Malik berbunyi. «Halo.»
«Maaf Tuan Malik, perusahaan Ksyara Next mengadakan pertemuan Ceo inti.»
«Baiklah, saya akan kesana.»
Shani melihat sang kakek yang ingin pergi. "Mau kemana Kek?"
"Kantor sayang."
__ADS_1
"Hati-hati ya Kek."
"Iya."
Kemudian Shani menyudahi olahraganya dan masuk.
"Ayo makan sayang," ucap Ratna.
"Iya Nek, Mami ngapain?"
"Netekin adik kamu lah."
"Ouh iya."
Tuan Malik sudah siap dengan jas kantornya. "Ma, Papa pergi dulu yahh."
"Loh Papa hari ini masuk kerja."
"Iya Ma, ada tamu dari London."
"Ouhhh." Ratna pun mencium tangan Malik.
Lalu Malik menyapa si kecil, Shiana. "Halo cucu Kakek yang cantik."
Kemudian Malik mencium pipi cucunya itu. "Emmuahhh wangi sekali cucu Kakek."
"Pasti dong Kek," ucap Shina.
"Kakek pergi dulu ya sayang emmuahh yang pinter dirumah."
"Shani juga mau pergi Nek, Mi."
"Mau kemana sayang?" tanya Shina.
"Ke rumah Mama sama Papa Mi," sahut Shani.
"Ya udah kalau gitu kamu makan dulu."
"Iya Mi, ehh ada omelet."
"Makan itu, Nenek masak banyak bawa juga buat Mamama sama Papa kamu."
"Siap Nek."
[][][]
Dijalan, Shani dihadang oleh Azka dan preman.
"Turun," ucap Azka.
"Ada apa ini?" tanya Shani.
"Sombong banget kamu jadi cewek, kamu yahh yang udah kirim ancaman ke bokap aku."
"Gak usah ngeles, jujur aja kamu juga, kan yang udah hajar anak buahku."
"Kamu punya bukti gak."
"Aku emang gak punya bukti tapi ini pasti kerjaan kamu."
"Ouh jadi selama ini kamu ngawasi aku, ok-ok ini tindakan kriminal berani banget kamu menguntit orang yang tidak di kenal."
"Bukan gitu maksudnya."
"Terus apa, kamu mau cari kesalahan hah!"
"Kamu tuh gak ngerti apa maksudku."
"Dasar cowok aneh, kenal enggak udah minggir sana."
Azka langsung mencekal tangan Shani. "Jangan pergi."
"Apaan sih."
Bughh! Bughh! Bughh!
Shani memukul Azka karena sudah mencengkeram tangannya.
"Dasar sakit jiwa!" sarkas Shani lalu pergi.
"Aduhhh," ringis Azka.
"Bos."
"Kenapa kalian diam saja saat aku dihajar, hah!"
"Loh bukannya tadi bos bilang diam aja."
"Bukan gitu maksudnya tapi ahh sudahlah rugi aku bayar kalian mahal-mahal tapi gak berguna."
"Ouh kamu ngatain kami gak berguna," ucap preman itu kesal.
"Iyalah, kalian gak bisa buat saya jadi pahlawan depan gadis yang sukai."
"Kurang ajar, dasar gak punya pendirian."
"Hajar aja bos, makin ngelunjak dia."
"Ayo."
"Ehh apa-apaan ini jangan berani kalian lukain saya, gak tau apa aku ini anak Tuan Bima Heil."
"Bodo amat, hajar aja!"
__ADS_1
Bughh! Bughh! Bugh!
[][][]
Shani memarkirkan motornya di garasi.
"Selamat datang, Nona muda."
"Hemm."
Ceklek!
"Assalamualaikum Ma ..."
"Wa' alaikumsalam eh anak mama udah datang."
"Ma, Shani capek."
"Ya sudah kamu istirahat gih mau Mama temenin."
"Mau ..."
"Ayo."
Shani langsung memeluk Mamanya saat ingin tidur sayang.
"Emmuahhh udah gede anak mama."
"Kan makan nasi Ma."
"Heheeh iya juga yahh."
"Papa Darma mana Ma."
"Biasa, kerja sayang."
"Ouhh."
"Gimana kuliah anak cantik Mama ini?"
"Baik kok Ma."
"Susah gak?"
"Gampang sih enggak tapi Shani maish bisa jawab kok."
"Itu artinya anak mama ini sangat cerdas, itu kampus paling elit loh sayang nilainya."
"Iya sih Ma."
"Nanti kalau udah jadi Dokter mau hadiah apa dari Mama."
"Rumah boleh kali yahh."
"Kamu mau memeras Mama."
"Ya gak papa meras ibu kandung sendiri."
"Utuuuu bisa banget, udah ah ayo cepat tidur."
"Iya Ma."
"Baca doa dulu."
"Udah dalam hati."
"Ada aja jawabannya kamu ini."
"Hehe ..."
[][][]
Malik merasa jika Bima Heil ini bukan orang baik jadi tidak langsung menandatangani berkas begitu juga dengan Darma yang curiga.
"Pak Malik, bagaimana?" tanya Tuan Bima.
"Sebenarnya ide proyeknya bagus tapi apa ada yang begitu pendapatannya, setau saya pemasaran yang dilakukan bukan ahlinya akan mengambil banyak dana dan tingkat keberhasilannya itu sangat minim, bahkan yang ahli pun jika membosankan maka akan rugi."
"Saya setuju dengan ucapan Tuan Malik," ucap Darma.
'Sial,' batin Bima.
"Ya alangkah baiknya proyek dari Tuan Darma Prasetia ini akan jadi ladang proyek perusahaan besar, dananya minim tapi tempatnya strategis," ucap Tuan Malik.
"Jadi maksud anda proyek yang saya bawakan ini merugikan," sahut Tuan Bima menahan amarahnya.
"Bukan begitu maksud saya tapi-"
"Sudah jelas anda tadi menolak!"
"Lalu kenapa anda marah bukankah ini bisnis," tukas Darma yang tidak suka jika Tuan Malik di bentak.
"Kamu Darma, kamu cuma pembisnis pemula yang baru gabung tapi sudah dapat sokongan secara langsung dari Tuan Malik. Menurut saya itu sangat tidak adil."
"Ini kantor dan bisnis saya, Tuan Bima!" tegas Malik.
"Sial, bicara sama kalian tidak ada gunanya. Sudahi saja rapat ini, tidak menghasilkan apapun!"
Bima langsung bangkit dan meninggalkan Tuan Malik dan Darma.
[][][]
NEXT
__ADS_1