
Shina sangat terkejut, apa hubungannya Citra dengan Shani memang selama ini Shina terus memperhatikan gerak-gerik Citra terhadap Shani yang begitu perhatian.
"Apa Citra itu ...?"
Tok tok ...
"Iya sebentar," ucap Shina.
Ceklek ...
"Ada apa?" tanya Shina. "Ehh Mama," ucap Shina lagi baru menyadari jika yang mengetuk pintu adalah Mamanya.
"Ishhh dasar kamu ini," jewer Ratna ditelinga Shina.
"Aduhh Mama, ampuuuun!" rengek Shina kesakitan.
"Makanya yang sopan sama orang tua," kesal Ratna.
"Iya, maaf."
"Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu Shin," kata Ratna lagi.
"Boleh Ma, ayo masuk."
Ratna langsung mengunci pintu dan mengaktifkan alat kedap suara.
Ratna dan Shina duduk disofa samping ranjang.
"Mama mau bicara apa?" tanya Shina.
"Ini soal mertua kamu," sahut Ratna.
"Mama Cici," kata Shina lagi.
"Iya, sebenarnya dari dulu Mama gak suka sama dia tapi kamu ingat gak waktu Shani kecelakaan dulu."
"Shina ingat Ma, tapi Shina gak mau terlalu mengingat kejadian itu takutnya nanti kebawa perasaan."
"Iya kamu benar tapi kita harus tetap hati-hati dengan Cici," kata Ratna lagi.
"Iya Ma," sahut Shina.
"Ya sudah Mama mau siapin makan malam dulu," kata Ratna.
"Biar Shina bantu Ma," sahut Shina.
"Gak usah Shin kamu istirahat aja," kata Ratna lagi.
"Makasih ya Ma," sahut Shina.
"Iya sayang, dah Mama turun dulu."
***
Makan malam pun sudah siap, semua anggota keluarga sudah duduk tinggal Citra dan Shani.
"Mama sama Papa duluan aja, Shina mau ke kamar Shani dulu."
"Bawain mereka makanan sayang," kata Malik.
"Iya Pa," sahut Shina.
Shina pun ke atas.
Tok tok ...
"Mami masuk ya Shin," kata Shina.
Ceklek ...
"Loh, Shani mana!" panik Shina.
Hufh ...
Shani baru saja keluar dari balkon.
"Mami," kaget Shani.
"Kamu darimana aja Shan, dari balkon."
"Iya Mi."
"Kamu lagi sakit jangan suka diluar itu berbahaya, Tante Citra mana?" tanya Shina.
"Tante Citra pulang Mi, katanya ada hal yang mendesak."
"Kok gak pamit sama Mami dan yang lainnya."
"Gak tahu Mi, tadi Shani lihat buru-buru."
"Ouh, ya sudah ayo makan mau Mami suapin."
"Boleh Mi."
"Uhh manjanya anak mami."
"Heheh ..."
Setelah selesai makan, Shina membantu Shani untuk gosok gigi dan membersihkan badannya.
"Nah sekarang udah bersih, harus bobo dulu yahh."
"Iya Mi."
Shani pun berbaring dan Shina menyelimutinya kemudian mencium kening Shani.
Cup ...
__ADS_1
"Bobo ya sayang, ini sudah malam Nak."
"Iya Mi."
***
Tepat jam 1 malam, Shani langsung pergi ke markas sesuai jemputan dan jadwal lewat balkon.
"Jalan," kata Shani yang sudah memakai jubah kebesarannya.
"Baik Queen," sahut anggota The Meteor.
Sesampainya di markas Shani langsung disambut anggotanya.
"Selamat datang Queen," sambut Arga.
"Hemm ..."
Hufh ...
"Queen, aku bahagia banget anda selamat!" ucap Dara.
"Iya, ini berkat doa kalian."
Shani kemudian duduk.
"Bagaimana dengan Ken kalian berhasil menangkapnya?" tanya Shani menyilangkan kaki.
"Kami sudah berhasil menangkapnya Queen," sahut Arga dengan bangga.
"Aku mau melihatnya," ucap Shani.
Deg ...
Jantung Dara dan Arga makin berdetak kencang karena Shani.
Shani menuruni tangga.
Melihat laki-laki yang begitu mengenakan karena sedang dipasung.
"Siapa dia," gumam Ken dengan lirih.
Byur ...
Shani menyiram Ken dengan bensin.
"Bangun pemalas," ucap Shani.
"Brengsek, siapa kau sialan!" maki Ken.
"Aku, Shani Arizaya yang dulu kau buang ke jurang!" sahut Shani lalu membuka topengnya.
Deg ...
"Kau ... Shani," kata Ken.
"Kamu ..."
"Iya, aku dikenal sebagai putri William. Kenapa?" tanya Shani.
"Cihh pantas saja wajahmu familiar tapi dengan bodohnya aku tidak menyadari itu," sahut Ken.
"Dan itu adalah kebodohan kamu sendiri dan aku minta kamu nyatakan didepan kamera ini kalau kamu bekerja sama dengan Laras untuk membunuhku," kata Shani.
"Hahaha ... jangan harap!"
"Ouh ya, bagaimana kalau kita beri hadiah dulu sebagai salam pertemuan."
"Mau apa kau."
Crash ...
"Akhhh!" teriak Ken saat belati itu menggores tubuhnya.
"Mau lagi?" tanya Shani.
"Bocah kurang ajar!"
Bugh ...
Bugh ...
"Akhhhh..." ringis Ken.
"Masih tidak mau mengaku yah," kata Shani lagi.
"Sialan, dasar bocah kurang ajar gak berguna!"
Crit ...
"Aekhhhh ..." ringis Ken makin menjadi ketika selet menempel di lengannya dengan dalam.
"Apa susahnya mengaku hemmm ..."
"Cihhh menyebalkan!"
"Mau mengaku atau tidak?" tanya Shani lagi.
"Tidak akan," sahut Ken.
Tessshhh ...
Shani melempar korek dengan santai ke arah tubuh Ken, api pun melahap tubuh Ken dengan cepat.
Hanya teriakan yang menyedihkan!
"Urus sisanya!" titah Shani.
__ADS_1
"Baik Queen."
Shani mengambil rokok dan mengisapnya agar lebih tenang.
Dara dan Arga hanya menunduk tidak berani mengangkat kepala mereka.
"Besok, culik Laras!"
"Baik Queen."
"Antar aku pulang."
"Siap!"
Tepat pukul setengah tiga, Shani sampai ke rumahnya.
"Jangan kalian pikir aku diam, kalian menang!" ucap Shani menatap langit-langit dan akhirnya tertidur.
***
Paginya, Boy menjemput Julia seperti biasa karena rutinitasnya akhir-akhir ini.
"Udah siap?" tanya Boy.
"Siap dong," sahut Julia.
Teeeet ...
"Aishhh dasar tuh anak," sungut Boy.
"Ayo bareng," ucap Bima yang sudah membonceng Sifa.
"Pa, Ma Julia berangkat dulu yah dahhh."
"Dahhh sayang," kata Tuan Rayhan dan Nyonya Flora.
"Kita mau kemana nih, ke sekolah dulu atau ke rumahnya Shani?" tanya Sifa.
"Ke rumah Shani aja dulu, gue denger dia udah sadar." Julia ikut menimpali.
"Tau darimana lu?" tanya Bima.
"Lu lupa yah, nyokap gue sahabatan sama Tante Shina."
"Ouh iya," sahut Bima.
"Udah yuk," ajak Sifa.
"Ok."
Brom brom ngeeeenggg ...
***
Gea dan Fini juga berangkat sekolah.
"Kita hari ini mau kemana Ge?" tanya Fini.
"Biasalah," sahut Gea yang suka membolos dan memilih nongkrong di basecamp.
Sedangkan Laras makin gelisah karena pertengkarannya dengan Ken kemarin.
"Duhh gimana nih," kata Laras sambil bolak-balik.
Jhon melihat Laras yang gelisah langsung bertanya karena tidak biasanya seperti ini.
"Kamu kenapa Ras?" tanya Jhon.
"Eh Jhon sejak kapan kamu ada disini," sahut Laras menutupi gugupnya dengan wajah datar.
"Baru aja tapi lihat kamu mondar-mandir dari tadi, emang kenapa sih?" tanya Jhon.
"Gak papa."
"Yakin."
"Iya."
"Ya sudah aku mau ke kantor dulu, kamu baik-baik yah dirumah."
"Iya."
Setelah Jhon pergi, Laras mencoba menghubungi Ken tapi tidak bisa.
Drrrt drrt ...
"Duhh kenapa sih gak di angkat," kesal Laras.
Ternyata kegiatan Laras sudah di awasi oleh Arga dan Dara.
"Mau sampai kiamat gak bakalan nyahut dia bodoh," kata Arga dibelakangnya Laras.
Laras sangat terkejut dan perlahan melirik ke belakang.
"Aaaaaaa!" teriak Laras.
Bugh ...
Arga langsung memukul leher Laras agar diam dan tak membuat masalah nantinya.
"Ikat tangan dan kakinya," titah Arga.
"Dara, rekaman cctv."
"Ok."
***
__ADS_1
NEXT