MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
85


__ADS_3

Cici menemui Shina dan langsung memberitahu jika Toni sudah punya anak.


"Anda pasti bohong," ucap Shina.


"Saya tidak bohong Shina," sahut Cici.


"Enggak!"


"Kalau begitu saya akan telpon Toni," ucap Cici lagi.


"Silahkan," sahut Shina.


Ratna dan Malik hanya mengawasi disamping Shina.


Sedangkan Shani dan Citra juga menyimak.


"Halo Ton, kamu bisa ke rumah Shina tidak?"


"Bisa."


"Kesini ya sayang."


"Hemmm jangan panggil aku sayang, jijik!"


Cici hanya menahan kekesalannya.


'Kurang ajar ini anak lihat saja nanti,' batin Cici.


Shani menatap Zevan dengan tatapan musuh.


'Mati Regan dan Endras, dia lagi yang muncul!' batin Shani.


"Ngapain lu lihatin gue kaya gitu," ucap Zevan.


"Jangan kepedean," sahut Shani singkat.


"Cihhh!"


Sifa dan Julia langsung ke rumah Shani karena tahu hal ini dari Shani.


"Shan," panggil Julia.


Shani langsung menyambut kedatangan dua temannya.


"Kalian, ayo masuk."


Zevan yang melihat Sifa dan Julia mengepalkan tangannya.


"Jangan tatap cucu saya seperti itu," ucap Malik.


"Jangan kepedean Kakek tua," sahut Zevan.


"Dasar bocah sialan!" sarkas Malik.


Ratna langsung mengelus punggung suaminya itu agar bisa menahan emosinya.


Shani membawa kedua temannya ke dalam kamar.


"Itu serius Shan?" tanya Julia.


"Gak tahu juga," sahut Shani.


"Parah banget sih kalau sampai beneran," cicit Sifa.


"Bener," sambung Julia lagi.


[][][]


Tidak lama kemudian Toni datang dan langsung memeluk Shina.


"Aku kangen banget sama kamu," ucap Toni tapi itu langsung di pisah oleh Malik.


"Lepaskan anak saya," ucap Malik.


"Papa, Toni mohon Pa."


"Duduk!"


"Pa ..."


"Duduk!" tegas Malik.


Toni kemudian duduk dan melihat ke sekelilingnya.


"Billa," ucap Toni.


"Kamu ingat Toni," sahut Cici.


Toni kemudian memandang Billa dan anak laki-laki disampingnya.


"Tidak mungkin ..." lirih Toni.


"Jawab dengan jujur," ucap Shina tiba-tiba.


"Aku jawab apa Shina," sahut Toni.


"Ada hubungan apa kamu sama Billa?" tanya Shina.


"Aku gak ada hubungan apa-apa sama Billa Shin," sahut Toni.


"Jangan munafik kamu lalu anak laki-laki itu kenapa mirip dengan kamu hahh!" bentak Shina.


Toni langsung diam dan itu sudah membuat Shina tersenyum sinis.


"Gak nyangka aku jadi dengan begini gak perlu ragu lagi buat pisah dari kamu," ucap Shina.


"Apa maksud kamu," sahut Toni.


"Kita cerai!"

__ADS_1


"Enggak, aku gak mau Shina. Kita bisa perbaiki hubungan kita lagi dan untuk masalah anak itu aku ..."


Zevan langsung berdiri dan mengutarakan kegelisahan hatinya selama ini.


"Papa bisa menyayangi Shani tapi kenapa tidak dengan Zevan."


"Diam kamu!"


"Dengerin Zevan Pa."


"Jangan panggil aku Papa."


"Tapi Zevan anak Papa."


"Dan itu tidak sengaja, kamu tahu itu!"


Plak!


Dengan sangat kencang Shina menampar wajah Toni.


"Cukup, lebih baik kamu akui anak itu daripada dia mengganggu Shani terus."


"Enggak Shin aku ..."


"Sudahlah Toni, nikahi anak saya Billa!"


"Kamu diam!"


"Jangan pernah membentak Nenek," ucap Zevan.


"Siapa kamu berani melarang saya hah," sahut Toni.


"Zevan anak Papa."


"Tidak akan pernah saya mengakui kamu, anak saya masih dalam perut istri saya!"


"Jangan ngaco kamu," seru Nenek Cici.


"Dan anda hanya seorang pembunuh!"


"Berani kamu sama Mama, Toni!"


"Untuk apa takut justru saya benci sama anda karena sudah membunuh Mama kandung saya!"


Billa sangat terkejut dan langsung menatap Mamanya.


"Mah, apa yang dikatakan Toni itu benar."


"Iya tapi gak hanya Mama, Papa Regan juga ikut justru dia yang membunuh."


Tuan Malik langsung menggebrak meja dengan keras.


"Brengsek kalian sudah berani mengacau di rumah saya, satpam ... Satpam!"


Dua satpam pun datang setelah dipanggil Tuan Malik.


"Ada apa Tuan?"


"Baik!"


"Dasar sombong anda, Tuan Malik!" ucap Nenek Cici.


"Saya bisa jalan sendiri," ucap Billa.


"Jangan dorong saya!" sarkas Zevan.


Toni memohon pada Shina untuk bicara dengannya.


"Shin, aku mohon."


"Pergi kamu Mas."


"Jangan suruh aku pergi."


"Kamu gak bisa dipercaya Mas, gimana nantinya jika aku kembali ke kamu dan kamu terhasut lagi."


Toni hanya diam memikirkan ucapan Shina.


"Dengan diamnya kamu berarti itu semua benar."


"Maafkan aku, seharusnya aku lebih tegas!"


"Itu benar tapi kamu sangat lembek," cibir Tuan Malik.


"Maaf, aku pamit dulu."


"Ya."


Toni kemudian keluar dari rumah Tuan Malik dengan perasaan sedih.


'Bagaimana aku tidak sedih, kamu mengandung anakku Shin tapi dengan bodohnya aku malah mencampakkan kamu.'


[][][]


Shani dan dua temannya merasa lega karena mereka semua sudah pulang.


"Gila yah itu cowok," ucap Sifa.


"Bener banget gak tahu malu," sahut Julia.


"Oh ya Shan, kita ke mall yuk." Sifa mengajak Shani.


"Ngapain ke mall," sahut Shani.


"Ya jalan-jalan dong," sambung Julia.


"Huhh, suntuk juga sih gue tapi bener yah cuma kita bertiga dan pacar kalian berdua gak boleh ikut!"


"Iya deh," sahut Julia.

__ADS_1


"Awas aja ngintilin kalian berdua," ucap Shani.


"Tenang aja Shan," sahut Sifa.


"Iyalah, gue siap-siap dulu."


"Ok," ucap Sifa dan Julia bersamaan.


[][][]


Akhirnya mereka bertiga pergi ke mall untuk hiburan biar gak suntuk di rumah.


"Kita beli tas yuk," ajak Julia.


"Enggak deh gue mau beli kacamata ala badai keren gitu," sahut Sifa.


"Tapi temenin gue dulu."


"Iya."


Sedangkan Shani melihat sepatu-sepatu yang keren.


"Kayaknya bagus deh," gumam Shani.


Setalah puas membeli barang yang mereka mau, Shani dan temannya langsung lanjut main.


"Kita main yuk."


"Ayo."


Mereka main dengan gembira dan itu cukup melelahkan.


"Haus tidak?" tanya Shani.


"Iya nih gue haus banget," sahut Julia.


"Ke kafe deh kita beli boba."


Mereka sampai di kafe dan membicarakan tentang sekolah.


"Kita sebentar lagi lulus, kan?" tanya Julia.


"Iya kita mau lulus," sahut Sifa.


"Kalian mau kuliah dimana?" tanya Shani.


"Ya gue sih kuliah di tempat umum aja," sahut Sifa.


"Kayaknya gue harus ikutin kemana nyokap gue deh," ucap Julia.


"Kemana?" tanya Sifa.


"Belanda," sahut Julia.


"Oh my good," kaget Sifa.


"Biasa aja keles," ucap Julia dengan malas.


"Yehh ... Eh Shan, lu mau lanjut kemana?" tanya Sifa.


"Masih belum tahu," sahut Shani.


"Kok gitu bukannya lu itu nanti bakalan mimpin perusahaan Nyokap lu yahh."


"Masih belum tahu, gue ke toilet dulu yahh."


Sifa dan Julia hanya memandang datar kepergian Shani.


Shani hanya mencuci muka di toilet.


"Mama, pengen gue kuliah asrama. Apa gue sanggup yahh," gumam Shani.


*Flashback On*


Citra mendatangi Shani ke kamarnya.


"Shani."


"Iya Ma ada apa?"


"Berapa sekarang umur kamu Nak."


"17."


"Wah udah besar aja anak mama."


"Terus."


"Nanti kalau kamu lulus mau kuliah dimana sayang."


"Maunya sih di gajah mada Ma."


"Tapi boleh tidak Mama minta kamu kuliah di tempat lain."


"Emangnya Mama mau Shani kuliah dimana?"


"Emm kuliah di Singapura dan kamu harus tinggal di asrama."


*Flashback off*


Shani menghembusian nafasnya dan memilih untuk keluar karena tidak ingin temannya lama menunggu.


"Apa yang harus gue putusin," gumam Shani.


Shani tidak melihat Julia dan Sifa.


"Loh mereka kemana?"


[][][]

__ADS_1


NEXT


__ADS_2