
Citra baru saja bangun dan melihat orang yang ada disampingnya.
"Syukurlah kamu sudah bangun, Citra!" ucap Shina.
"Terima kasih Shin, kalian sudah menolongku."
"Kita, 'kan keluarga!"
Citra terdiam.
"Shina, masalah Shani ..."
"Tidak masalah Cit, kami sebenarnya sudah mencurigai kamu yang begitu perhatian dengan Shani! Shani anak kamu, 'kan!" ucap Shina.
"Shina!"
"Ayo kita rawat Shani bersama-sama yahh," kata Shina sambil tersenyum hangat.
Tes ...
Air mata Citra jatuh karena terharu dengan kebaikan Shina dan keluarganya.
"Terima kasih."
"Ett jangan terima kasih dulu, jangan lupa nanti kamu ceritakan bagaimana Shani bisa terpisah dari kalian!"
"Ini cerita yang panjang Shin."
"Tidak masalah, aku akan mendengarkannya!"
"Hihihi kamu lucu."
"Dia memang lucu," pungkas Toni yang ada disamping Shina.
"Berbahagialah kamu punya istri seperti dia Ton," sahut Citra.
"Kalian jangan membicarakan aku!" rengek Shina.
"Hahaha ..." tawa yang lain.
”Dia seperti anak kecil saja,” batin Citra.
Ceklek ...
"Darma," ucap Citra.
"Nyonya, saya tadi mengurus administrasi!" sahut Darma.
"Terima kasih yah kamu selalu menolong saya," kata Citra.
"Ahh itu sudah tugas saya, Nyonya."
"Ya sudah kalian cocok nih," timpal Shina.
Darma dan Citra tampak canggung.
"Ya ampun Shin mulutnya itu loh," kata Ratna sambil tepuk jidat.
"Kebiasaan," keluh Malik.
"Hihihi ..." tawa Shina cengengesan.
Shina langsung ingat dengan Shani karena pagi tadi pamit keluar.
"Ouh iya Pi, Shani lagi tadi keluar sama Pak Dani."
"Ouh ya ngapain."
"Gak tau sih, coba Mami telpond dulu yah."
DRRT DRRRT ...
"Ikh sial, kenapa saat seperti ini Mami menelpon sih!" gerutu Shani sambil menatap layar ponselnya.
"Queen angkat saja dulu, kami akan melindungi anda."
"HALO," ANGKAT SHANI.
"HALO SAYANG KAMU DIMANA NAK?" TANYA SHANI.
"ADA DIRUMAH TEMEN KOK MI, ADA APA EMANG."
"INI, MAMI MAU KASIH TAHU KAMU AJA KALAU TANTE CITRA MASUK RUMAH SAKIT."
"APA, TANTE CITRA MASUK RUMAH SAKIT! KOK BISA?"
"PANJANG CERITANYA SAYANG, KAMU JANGAN LAMA-LAMA YAHH DILUAR."
"IYA MI."
"UDAH ITU AJA KOK YANG MAU MAMI KASIH TAHU," KATA SHINA LAGI.
"YA SUDAH MI," SAHUT SHANI.
"ETSS JANGAN LUPA NANTI KITA MAKAN MALAM YAHH," KATA SHINA LAGI.
"IYA MAMI."
"DAHH SAYANG."
"DAH JUGA."
"EMMUAHHH ..."
TUT ...
"Yah dimatiin gitu aja," kesal Shina.
"Ya kamu ngapain pakai cium kaya begitu," ledek Ratna.
__ADS_1
"Kan itu ciuman kasih sayang," sahut Shina.
"Hahaha ... ada-ada aja kamu Shin," sahut Citra sambil tertawa.
Tiba-tiba Shina mual-mual, rasanya ingin sekali muntah.
Bluekk ...
"Shina, kamu kenapa?" tanya Citra.
Bluek ...
"Sayang kamu kenapa?" tanya Toni khawatir.
Bluek ...
Shina langsung masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Bluek ...
Bluek ...
Ratna langsung mengelus punggungnya Shina sambil muntah.
Bluek ...
"Udah?" tanya Ratna.
"Sudah Mam," sahut Shina.
"Ada yang mau dimuntahkan lagi," kata Ratna lagi.
"Enggak ada Mam."
"Ya sudah, ayo!"
Toni langsung mendekat dan menyentuh wajah sekaligus jidatnya Shina.
"Kamu kenapa sayang, kita periksa yuk mumpung di rumah sakit."
"Iya Shin, periksa saja!" seru Citra.
"Tapi aku malas!"
"Kamu malas kenapa?" tanya Citra.
"Shina takut jarum suntik Cit," sahut Ratna.
"Oalah ..." kaget Citra.
"Mama," rengek Shina.
"Hihihi ... ya sudah Shin, periksa gih! siapa tahu kamu hamil," kata Citra.
"Hah," kaget Shina.
"Ya sudah sayang kita periksa aja dulu, berdoa aja siapa tahu apa yang dikatakan Citra benar. Lagian satu Minggu ini, 'kan aku gempur kamu terus!"
Ngeeet ...
"Akhhhh!" teriak Antoni karena dapat jeweran telinga dari Ratna.
"Bagus sekali yahhh ngomongin hal yang privasi depan umum!" kesal Ratna.
"Jewer aja Ma, bikin malu!" kompor Tuan Malik.
"Ikh Ma sakit," kata Toni memelas walaupun jeweran telinga Ratna tidak sakit.
"Banyak drama kamu," kata Ratna melepas tangannya.
"Ya sudah, Shina kamu periksa sama Toni sana mumpung dirumah sakit!" titah Tuan Malik.
"Iya Pa," sahut Shina.
"Ayo sayang," rangkul Toni di pinggang rampingnya Shina.
"Ishh dasar bucin," ledek Tuan Malik.
"Biarin," sahut Antoni.
"Sudah Pi," lerai Shina.
Darma hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah suami istri itu.
"Begitulah kelakuan mereka Cit, harap maklum yahh!" kata Ratna.
"Gak papa kok, Citra paham!"
Darma langsung pamit pulang. "Ya sudah Nyonya, kalau gitu saya harus pulang ada banyak kerjaan!"
"Ouh iya Darma, makasih yahh. Kamu istirahat dengan baik, jangan capek-capek."
"Baik Nyonya."
Setelah Darma keluar, tidak lama Tuan Malik izin keluar karena ada yang dibeli.
"Eee, Papa keluar dulu sebentar yahh ada yang mau dibeli."
"Ouh iya Pa, silahkan!" sahut Citra.
"Jangan lama ya Pa," kata Ratna.
"Iya Ma."
Saat Darma ingin naik motor ada yang menepuk pundaknya.
Puk ...
Darma langsung memelintir tangan itu ke belakang dan ternyata.
__ADS_1
"Akhh ini saya!" sahut Malik kesakitan.
"Astaga Tuan Malik," kaget Darma lalu minta maaf.
"Tidak papa, kepekaan kamu akan sekitar sangat tajam!" puji Malik.
"Terim kasih Tuan."
"Boleh saya bicara," pinta Malik.
"Boleh Tuan."
"Tapi tidak disini, ikut saya!"
Darma pun mengikuti Malik ke tempat sepi, belakang rumah sakit.
"Saya familiar dengan wajah kamu, siapa nama Ayah kamu?" tanya Malik.
"Kenapa anda ingin tahu nama Ayah saya," sahut Darma.
"Jawab saja, apa susahnya."
"Greno, nama Ayah saya Greno!"
Malik langsung menyipitkan matanya setelah mendengar nama Greno.
"Apa Tuan mengenal Ayah saya?" tanya Darma.
"Bukan hanya mengenal tapi sangat mengenal!" sahut Malik.
"Benarkah?"
"Bisa dikatakan kami adalah partner."
"Ouh, mengejutkan."
"Ada hal lain."
"Apa kamu mau bekerja sama dengan saya."
"Tergantung kompensasinya."
"Tenang saja, bayaran misi yang saya berikan sangat mahal!"
"Benarkah, misi apa yang akan saya selesaikan!"
"Awasi Tuan Regan dan Nyonya Cici!"
"Bukankah itu Besan anda."
"Benar."
"Tapi kenapa?"
"Saya ragu dengan mereka lagi pula kematian istri pertamanya sangat janggal dan mencurigakan!"
"Baiklah."
"Saya butuh nomor kamu."
"Ouh iya."
Mereka berdua bertukar nomor.
***
Shani menodongkan pistol tepat dibelakang kepala Jhon.
"Bocah sialan, kurang ajar!" maki Jhon.
Fini sangat ketakutan jadi dia terus bersembunyi dikolong bawah kasur.
”Gue gak mau mati,” batin Fini.
Shani melirik ke kolong bawah kasur itu dan tersenyum miring.
"Tidak hanya anda, bahkan seekor nyamuk yang sedang bersembunyi pun saya tahu!" ucap Shani.
"Jangan sombong kau bocah!" sahut Jhon dengan gemerutuk giginya.
Shani menekan ujung pistol ke kepal Jhon makin kuat dan Jhon menunjukkan wajah ketakutannya.
"Aku tidak main-main, apalagi dengan putramu si Vatha! akan aku selesaikan dengan caraku sendiri, selamat tinggal Jhon!"
Dor ...
Dor ...
Dor ...
Fini memejamkan matanya karena sangat takut bahkan pipis di celana.
Shani meniup pistolnya.
Fuuh ...
"Bersihkan tempat ini," titah Shani.
"Baik Queen," sahut anggota The Meteor.
Fini merasa hawa yang sangat hening dan tidak ada suara.
Saat membuka mata.
"Heyy," ucap Shani dibalik topengnya.
Degh ...
***
__ADS_1
NEXT