
♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️
♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️
***
Nenek Sandra baru saja keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap dan itu tidak lepas dari pandangan Aevan.
'Mau kemana Nenek?' batin Aevan yang akhirnya mengikuti sang Nenek.
Sandra mengirim pesan pada Mila.
”Temui saya direstoran Bintang.”
"Sebaiknya aku harus cepat memindahkan anak itu," gumam Sandra.
Sedangkan Bu Mila hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Apa yang ingin Nyonya lakukan, astaga! sebaiknya aku hubungi Bu Sita dulu," kata Bu Mila.
“Halo Sita, saya akan bertemu dengan Bu Sandra sekarang!“
“Benarkah Bu, ok sekarang Ibu ikuti aja dulu nanti saya ikuti dari jauh.“
“Baik Bu Sita.“
Sifa bersiap ingin mengintip kediaman Bu Mila sebelum datangnya mantan mertuanya itu.
"Galih, bisa kamu temani saya."
"Bisa Bu," sahut Galih merupakan sopir pribadi Sita.
"Ayo, semoga saja aku tidak terlambat."
Bu Mila sampai di restoran Bintang, tidak lama kemudian Nenek Sandra sampai.
"Saya gak banyak omong," kata Sandra.
"Apa yang ingin Nyonya katakan!"
Sita berusaha duduk lebih dekat karena ingin mendengar pembicaraan mereka.
'Kali ini, aku tidak akan membiarkan Ibu memisahkan aku dengan anakku lagi!' batin Sita.
Aevan juga diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
'Nenek sama Ibu panti itu ngapain?' batin Aevan.
"Kamu harus pindah dari panti itu," kata Sandra.
"Kenapa?" tanya Mila.
"Kamu masih bertanya sama saya hah! saya tidak ingin anak itu bertemu dengan Ibunya, paham!"
"Saya tidak mau!"
"Kamu, kenapa kamu selalu membantah perintah saya!" kata Sandra dengan nada yang mulai meninggi.
"Karena saya bukan wanita jahat!" sahut Mila menekan kata jahat.
"Brengsek plak ..."
"Ahhh," ringis Mila.
"Saya tidak mau tahu, kamu harus pindah dari panti itu atau saya sendiri yang akan membawa anak itu!" ancam Sandra.
'Hah, anak maksudnya apa yahh?' batin Aevan.
"Maaf Nyonya, saya pulang dulu!" kata Mila karena sudah kesal.
Sita tidak menyangka mantan mertuanya sangat jahat.
Kemudian Sandra menelpon anak buahnya.
“Culik wanita yang bertemu dengan saya tadi,“ kata Sandra dalam telponnya.
Sita makin terkejut dengan ucapan mantan mertuanya ini.
"Dasar manusia jahat!" gumam Sita lalu lekas-lekas dia menelpon Bu Mila.
"Galih, kita kejar Ibu Mila."
"Baik Nyonya."
Tut ...
Tut ...
“Halo Bu Mila, akhirnya Bu Mila angkat telpon saya juga.“
“Emang ada apa Bu,“ sahut Mila.
“Ibu ada dimana, biar saya jemput.“
“Dekat pabrik tahu ini Bu,“ sahut Bu Mila.
“Ibu sembunyi sekarang-“
“Aaaaaa!“ teriak Bu Mila.
“Ibu Mila, halo ... Ibu ... astaga.“
__ADS_1
"Galih cepet," desak Sita.
"Baik Bu."
Bu Mila yang sudah diseret beberapa orang tiba-tiba terjatuh karena penjahatnya ada yang memukul.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Lepaskan wanita itu," ucap orang yang pakai topeng tak lain adalah Mafia The Meteor.
"Siapa kalian?" tanya penjahat itu.
"Tidak penting."
"Sombong, hajar!"
Bugh ...
Bugh ...
Mereka semua saling memukul dan memperlihatkan senjata tajam.
"Cyahhhhh!" teriak penjahat itu ingin menusuk Mafia.
Crshhh ...
"Akhhh," ringis penculik itu.
Krak ...
Leher penculik itu dipatahkan secara brutal.
"Aikhhh," ringis Bu Mila melihat perkelahian mereka.
Bu Sita dan Pak Galih jadi heboh melihat perkelahian itu.
"Bu Mila, sini!"
Bu Mila pun mendatangi Sita.
"Bu Mila gak papa?" tanya Sita.
"Gak papa, tapi mereka lagi yang nolong saya."
"Iya, mereka juga pernah nolong saya waktu itu tapi siapa yah mereka?"
"Saya tidak tahu Bu."
Mafia The Meteor langsung mengalahkan mereka dengan mudah.
"Baik."
Saat The Meteor ingin masuk ke mobil, Sita memanggilnya.
"Tunggu."
"Apa?"
"Kalian ini siapa?" tanya Sita.
"Nanti kalian juga akan tahu."
"Tapi-"
"Permisi."
Fyuhhhh ...
"Mereka pergi gitu aja," gumam Sita.
"Tidak masalah Bu Sita sebaiknya kita ke panti, pikirin ke depannya gimana?"
"Bu Mila benar."
***
Shani memiliki rencana malam ini.
"Malam ini aku ingin bermain sebentar dengan Laras," gumam Shani.
"Shani," panggil Shina.
"Iya Mi ada apa?" sahut Shani.
"Itu diruang tamu ada teman-teman kamu."
"Ouh bentar yah Mi, aku turun dulu."
"Iya."
Shani pun turun dan melihat ke empat sahabatnya.
"Kalian bolos?" tanya Shani.
"Enggak," sahut Sifa.
"Terus kenapa ada disini?" tanya Shani lagi.
"Nanti kita jawab, kita di izinin duduk gak nih!" seru Bima yang langsung digeplak Sifa.
__ADS_1
"Sifa ih," kata Bima.
"Makanya diam!"
Shani tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk.
"Ya gak papa, ayo duduk."
Para pelayan pun memberikan cemilan banyak di meja ruang tamu itu.
Julia sangat kagum dengan desain rumah Shani.
"Gila Shani, lu benar-benar sultan." Julia memuji Shani yang menurutnya sangat sultan.
"Biasa aj Jul tuh mata kek gak pernah lihat barang mewah aja lu," sindir Bima.
"Diem deh lu Bim," sahut Julia tak mau kalah.
"Apaan sih udah, dari tadi berantem mulu. Kamu juga Bim, udah diam." Sifa menegur Bima karena bawel.
"Ya ampun Sif, kamu ini."
"Eh tunggu, sejak kapan kalian ngomong aku kamu?" tanya Boy.
"Heheh, sejak kemarin kita jalan iya gak Yang." Bima malu-malu menyahut.
"Jiah panggil sayang lagi," ledek Boy.
"Ishh apaan sih diam gak kamu," ancam Sifa.
"Ampun Yang," takut Bima.
Bima sebenarnya sudah menembak Sifa tapi kali ini dia ingin lebih spesial menembak Sifa nantinya.
'Duhh, Boy kapan yah nembak gue.' Julia membatin.
'Gue harus cepet nembak Julia nih,' batin Boy.
"Eh Shani, lu gak sekolah dari kemarin kenapa?" tanya Sifa.
"Ummm ... gue kayaknya gak bakalan sekolah lagi deh."
"Hah kenapa!" kaget mereka semua.
"Kompak banget, tumben." Shani terperangah melihat kekompakan sahabatnya ini.
"Ya harus dong kita, kan sahabat. Iya gak?" senggol Julia pada Sifa.
"Iya dong," sahut Sifa juga.
"Kok lu gak sekolah lagi Shan?" tanya Bima.
"Gak tahu, bokap gue minta sekolah home schooling aja."
"Pasti ada sesuatu Shan, coba lu tanya deh sama bokap lu." Boy kembali menimpali.
"Iya sebaiknya lu tanya deh," tukas Sifa.
"Iya nanti gue tanyain," sahut Shani. 'Gue curiga aja banyak musuh Papi yang ingin nyelakain gue, karena itu Papi makin posesif sama gue. Apalagi sekarang kebusukan Nenek Cici makin tercium, gue harus hati-hati sebaiknya gue Batasin dulu pergerakan Meteor biar bisa susun rencana lagi.' Shani membatin sampai tidak sadar dilihatin oleh sahabatnya.
"Itu Shani kenapa yahh kok diam aja dari tadi," bisik Julia ke Sifa.
"Gue juga gak tahu Jul," sahut Sifa.
"Apalagi yang kamu pikirin Nak?" ucap Shina yang merasa sedih melihat Shani seperti itu.
"Mi, sudah. Ini demi kebaikan Shani, walaupun berat tapi ini yang terbaik."
"Mami dah seneng dia bisa senyum lagi Pi, tapi senyum itu kembali memudar karena masalah bisnis kita hiks ..."
"Papi akan berusaha melindungi kalian berdua."
"Makasih Pi."
***
Darma datang menggunakan surat Dokter.
"Nyonya, ada kabar gembira."
"Apa itu Dar."
"Ini Nyonya, baca."
Citra mengambil surat itu dan matanya hampir copot karena sangat terkejut.
"Darma, apa ini nyata."
"Iya Nyonya, ini nyata."
"Darma, ini beneran nyata?" tanya Citra sekali lagi.
Darma hanya mengangguk.
"Darmaaaa!" girang Citra sambil memeluk Darma.
Sedangkan yang dipeluk terdiam membisu.
'Astaga Nyonya Citra malah memeluk saya lagi,' batin Darma.
SURAT APAKAH ITU?
***
__ADS_1
NEXT