
♥️DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️
♥️AKUN TIKTOK @Swahy17♥️
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️
***
Dua hari sudah Shani disuruh istirahat dan rasanya ingin sekali masuk sekolah.
"Kamu mau kemana Shan, kok pakai seragam?" tanya Shina.
"Aku mau sekolah Mi, kenapa emang."
"Bukannya Mami dan Papi sudah kasih tahu kamu kalau kamu home schooling."
"Mi, Shani gak papa kok lagian Shani gak sakit kenapa harus home schooling."
"Kamu tidak mengerti sayang, nurut sama Mami dan Papi kali ini aja."
"Tapi Mi-" kata Shani terpotong oleh Toni.
"Apa yang dikatakan Mami benar Shan, ini demi kebaikan kamu. Mulai sekarang kamu pergi juga harus pakai bodyguard."
Shani hanya terdiam dan menunduk lalu Shina memegang Shani dan memeluknya.
"Kita balik ke kamar yahhh," bujuk Shina dan menuntun Shani agar kembali ke kamarnya.
Shani dengan terpaksa mengikuti kemauan orang tua angkatnya itu.
Shina mendudukkan Shani dipinggiran kasur.
"Sayang, kamu harus paham ya Nak ini demi kebaikan kamu sini cium dulu cup ..."
"Iya Mi."
"Ya sudah Mami tutup dulu pintunya, nanti ada Mbok yang datang kalau kamu lapar sayang."
Shani mengangguk dan menghempaskan nafasnya dengan kasar.
Haaaaah Fyuuuuuhh ...
"Kenapa jadi begini," gumam Shani.
Kemudian ada suara pesan berbunyi dari ponsel Shani.
"Arga," kata Shani lalu membuka pesannya.
”Semua sudah selesai Queen, Bu Sita sudah tahu kalau Sifa itu anaknya.”
”Bagus, apa ada kendala saat menyelidikinya.”
”Kemarin Bu Sita diserang seseorang yang diperkirakan ada hubungannya dengan Bu Sita.”
”Suruh anak buah mengawasi mereka dan kamu Arga selidiki Blackmars, mereka sekarang makin dekat dan hampir ingin membunuhku.”
”Baiklah.”
Fyuhh ...
"Lagi dan lagi musuh berdatangan, Vatha, Jhon akhhh ... sepertinya mereka punya hubungan."
***
Tok ...
Tok ...
"Iya tunggu sebentar," kata Shina lalu membuka pintunya.
Ceklek ...
"Eh kok gak ada sih," bingung Shina yang ada hanya kotak. "Kotak apa itu," kata Shina lalu mengambil kota warna hitam yang dihias rapi.
Shina kemudian membuka kotak itu karena penasaran.
"Apa sih isinya."
Krihhh ...
"Haa!" teriak Shina lalu melempar kotak itu sehingga isinya keluar.
"Ada apa Nyonya?" tanya Penjaga yang mendengar teriakan Shina.
"Itu," tunjuk Shina dengan tangan gemetar.
"Astaga," kata penjaga itu lalu mengambil kepala monyet yang berdarah namun dibungkus oleh foto Shani.
"Kenapa harus pakai foto anak saya," kata Shina dengan lemah.
"Ini ancaman," kata penjaga itu.
"Gimana Robi?" tanya Shina.
"Ini teror Nyonya."
"Dia tulis apa difoto itu."
__ADS_1
"Dia bilang kalau kepala monyet ini akan terjadi pada anak kesayangan Nyonya."
Shina langsung menutup mulutnya tak percaya.
"Simpan kotak itu Robi, kasih Tuan Antoni."
"Baik Nyonya." Robi pun menyimpan kotak itu dan menghubungi Tuan Antoni.
"Siapa yang ingin membunuh anakku," kata Shina dengan mata yang sulit di artikan.
***
Bima dan Sifa disekolah uring-uringan.
"Kok Shani gak masuk yah," kata Sifa.
"Mana gue tahu," sahut Bima.
"Gue nanyak bego."
"Ish dasar!"
Boy dan Julia datang.
"Woy bro makan bae lu," kata Boy.
"Ahh elu ngapain sih kesini," rungut Bima.
"Ya elah gue kesini karena pacar gue mau nanyak sama Sifa," sahut Boy.
"Lu mau tanya apa Jul," kata Sifa.
"Gue mau tanya masalah Shani, kok dia gak masuk."
"Gue juga gak tahu, tapi seingat gue kemarin katanya mau ke rumah Shani deh," sahut Sifa.
"Ya itu masalahnya! kita kena musibah di jalan," kata Julia.
"Musibah," sahut Sifa.
"Musibah apaan Fa?" tanya Bima.
"Jawab gih Boy," tukas Julia.
"Aku lagi Yang disuruh jelasin," kata Boy.
"Jelasin aja napa bego, ribet banget sih!" kesal Bima.
"Gue sama Julia diserang sama orang," kata Boy.
"Hah, diserang orang terus!" seru Bima.
"Kok bisa sih, kalian diserang emang kalian punya musuh!" sambung Sifa.
"Ya setahu gue sih gak ada," sahut Boy.
"Siapa yah kira-kira," tebak Bima.
Tiba-tiba terdengar suara dorongan dari arah kantin.
Brak ...
"Hiks hiks," tangis seorang murid perempuan yang dibully oleh Gea dan Finni.
"Dasar sampah!" maki Gea lalu menendang perutnya.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Hahaha ... udah Ge kita lepas aja bajunya iya gak," kata Fini.
Semua murid perlahan pergi karena takut.
"Dia makin merajalela aja," kata Julia.
"Sebaiknya kita pergi dari sini," usul Bima yang di ikuti Boy, Sifa, dan Julia.
"Woy!" teriak Gea.
"Haha ..." tawa Finni lalu melangkah mau mendekati Bima dan yang lainnya.
"Wahh kayaknya kurang satu nih, iya gak Ge."
"Yoi, kemana yah anaknya. Woy, mana Shani hahh mati yahh."
"Brengsek lu!" maki Sifa yang ingin menyerang Gea tapi langsung ditahan oleh Bima dan Julia.
"Tahan Sifa, sebaiknya jangan!" kata Bima.
"Gue gak rela Shani digituin," sahut Sifa.
"Woahhh ... galak banget ihh takut," ledek Gea.
"Hahaha ... dia gak ada apa-apanya Ge," sahut Finni sambil tertawa.
__ADS_1
"Minggir, ganggu aja!" dengan sombongnya Gea mendorong Sifa dan yang lainnya.
"Dasar kuman!" maki Finni."
Mereka semua terdiam sampai Sifa bicara.
"Guys, kita ke rumah Shani siang ini yahh."
"Iya, nanti siang kita ke rumah Shani gimana?" sambung Julia.
"Gue setuju aja," seru Bima.
"Gue juga."
***
Citra dan Darma menemukan fakta baru karena menemukan gelang dipinggir jalan yang dulu dipakai Shani.
"Gelang ini punya Shani, iya aku ingat!" kata Citra.
"Dalam cctv itu Nona Shani jatuh ke jurang tapi kenapa gelangnya ada disini," bingung Darma.
"Kalau secara logika seharusnya gelang ini jatuh sebelum Shani dilempar tapi kenapa gelang ini ada diseberang."
"Nyonya apa ini artinya Nona Shani berhasil naik dari jurang lalu ditemukan orang."
Citra langsung berandai-andai dan tersenyum.
"Kemungkinan besar seperti itu Darma."
"Kalau begitu Nona Shani punya peluang besar untuk dikatakan masih hidup," kata Darma.
"Haha ... hahaha ... hahahahah ... kamu bener Dar, anak Shani hiks hiks ... aku punya kesempatan untuk ketemu Shani anakku Darma."
"Aku janji Nyonya akan mencari Nona Shani."
"Terima kasih Darma."
"Sebaiknya Nyonya pulang biar saya yang melanjutkan pencarian ini."
"Tapi saya masih ingin mencarinya Darma."
"Nyonya, saya mohon jangan."
"Kenapa?"
"Nyonya ini perempuan harus banyak istirahat dan juga ini pasti melelahkan."
"Tapi saya ingin-"
"Nyonya saya mohon kali ini aja dengarkan saya."
"Darma."
"Nyonya Citra Wijaya."
Citra langsung tertunduk dan kembali mendongak.
"Bener yah, kamu juga harus istirahat kalau dirasa capek."
"Iya Nyonya."
***
Sandra menelpon seseorang.
“Bagaimana apa berhasil mencelakai wanita itu?“ tanya Sandra dalam telponnya.
“Belum Bu, kemarin ada yang bantu.“
“Apa kok bisa sih, saya gak mau tahu kamu harus bisa buat wanita itu cacat, saya tidak ingin dia menemukan anaknya! kalau perlu Ibu panti itu juga kamu bikin cacat, saya ingin secepatnya dilakukan titik!“ maki Sandra lalu menutup telponnya.
"Akhh sial, kenapa Sita sangat beruntung. Dari dulu aku berusaha melenyapkannya tapi selalu gagal, akhhh ..." monolog Sandra.
Zaki dan Alya mendengarkan pembicaraan Nenek Sandra.
'Hah, Mama. Jadi selama ini-' batin Zaki.
Melihat suaminya tegang, Alya langsung menarik tangan Zaki ke kamar.
"Puas sekarang kamu Ki, puas!" bentak Alya.
"Alya, aku ..."
"Sebaiknya kita cerai," kata Alya.
"Apa yang kamu bicarakan Alya."
"Aku tidak ingin bernasib sama seperti Mbak Sita."
"Tapi Alya-"
"Kamu masih lemah Ki, masih dikendalikan sama Mama."
"Aku mohon tolong jangan kayak gini kita hadapi sama-sama," kata Zaki memohon pada Alya.
***
__ADS_1
NEXT